adipati pantai utara, saya adalah pemerhati sejarah RA Kartini.
Setahu saya, keluarga beliau adalah sangat Jawa,dan biasa dariu
kalangan ningrat, tak terlalu bersentuhan dengan masalah agama, juga
Islam.
Motivasi beliau adalah hal hal dibawah:
"Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-
ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-
werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar
Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan,
Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri
kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air)..."
Ketuhanan, bukan keagamaan, sebagaimana lazimnya masyarakat Jawa
priyayi kala itu.
Selamat membaca
DH
Pengantar
Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau
kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Sosroningrat, bupati Jepara.
Beliau putri R.M. Sosroningrat dari istri pertama, tetapi bukan
istri utama. Kala itu poligami adalah suatu hal yang biasa.
Kartini lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya, R.M.A.A
Sosroningrat, pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya
bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai
Haji Madirono, seorang guru agama di Teluwakur, Jepara. Peraturan
Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang
bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka
ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan
langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini
diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah
kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari
kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua.
Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran
Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak
Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang
bahasa.
Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS
(Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa
Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah
karena sudah bisa dipingit.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai
belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi
yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang
banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa,
Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul
keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi
sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang
rendah.
Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang
diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket
majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya
terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat,
juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun
kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De
Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa
saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-
kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa
kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi
wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan
wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum
sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang
dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan
Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah
dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya
Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya
Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya
Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta
Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya
berbahasa Belanda.
Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang,
Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri.
Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti
keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung
mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks
kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini
digunakan sebagai Gedung Pramuka.
Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada
tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September
1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di
Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh
Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya,
Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah
tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan
oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.
Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia
No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini
sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari
lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun
sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.
[sunting]
Surat-surat
Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan
membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para
teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri
Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi
judul Door Duisternis tot Licht yang artinya Habis Gelap Terbitlah
Terang. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku
ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat
tambahan surat Kartini. Dalam bahasa Inggris, surat-surat Kartini
juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers.
Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat
menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran
Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap
perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang
dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh
kebangkitan nasional Indonesia.
[sunting]
Pemikiran
Kartini, Kardinah, Roekmini © Collectie KITLV, LeidenPada surat-
surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial
saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar
surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut
budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan.
Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar.
Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-
ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-
werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar
Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan,
Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri
kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh
pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella"
Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti
kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat
kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah,
harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan
harus bersedia dimadu.
Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-
suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa
kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk
dipahami. Ia ungkapkan juga tentang pandangan: dunia akan lebih
damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk
berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga
kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat
orang atas nama agama itu..."
Kartini juga mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran
bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah
penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah
dan tersedia untuk dimadu pula. Pada bab awal ini.
Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang
harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih
maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah
menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12
tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup.
Kartini sangat mencintai sang ayah. Namun ternyata, cinta kasih
terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar
dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah, dalam surat, juga diungkapkan
begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini
untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak
mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk
masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi-terutama ke Eropa memang
diungkap dalam surat-surat. Beberapa sahabat penanya mendukung dan
berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Dan ketika akhirnya
Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut,
terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan
rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi
saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang
terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.
Kemudian, pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun,
niatan untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus.
Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak
berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek
saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi,
karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak departemen
pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan
Rukmini untuk belajar di Betawi.
Pada saat menjelang pernikahan, terdapat perubahan penilaian Kartini
soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan
akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan
mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam
surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya
mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah
bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini
dapat menulis sebuah buku.
[sunting]
Buku
Habis Gelap Terbitlah Terang
Pada 1922, oleh Empat Saudara, Door Duisternis Tot Licht disajikan
dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah
Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane, salah
seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru, tercatat sebagai salah
seorang penerjemah surat-surat Kartini ke dalam Habis Gelap
Terbitlah Terang. Ia pun juga disebut-sebut sebagai Empat Saudara.
Pada 1938, buku Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan kembali
dalam format yang berbeda dengan buku-buku terjemahan dari Door
Duisternis Tot Licht. Buku terjemahan Armijn Pane ini dicetak
sebanyak sebelas kali. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah
diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Armijn Pane
menyajikan surat-surat Kartini dalam format berbeda dengan buku-buku
sebelumnya. Ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima
bab pembahasan. Pembagian tersebut ia lakukan untuk menunjukkan
adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama
berkorespondensi. Pada buku versi baru tersebut, Armijn Pane juga
menciutkan jumlah surat Kartini. Hanya terdapat 87 surat Kartini
dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang". Penyebab tidak dimuatnya
keseluruhan surat yang ada dalam buku acuan Door Duisternis Tot
Licht, adalah terdapat kemiripan pada beberapa surat. Alasan lain
adalah untuk menjaga jalan cerita agar menjadi seperti roman.
Menurut Armijn Pane, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah
roman kehidupan perempuan. Ini pula yang menjadi salah satu
penjelasan mengapa surat-surat tersebut ia bagi ke dalam lima bab
pembahasan.
Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
Surat-surat Kartini juga diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno. Pada
mulanya Sulastin menerjemahkan Door Duisternis Tot Licht di
Universitas Leiden, Belanda, saat ia melanjutkan studi di bidang
sastra tahun 1972. Salah seorang dosen pembimbing di Leiden meminta
Sulastin untuk menerjemahkan buku kumpulan surat Kartini tersebut.
Tujuan sang dosen adalah agar Sulastin bisa menguasai bahasa Belanda
dengan cukup sempurna. Kemudian, pada 1979, sebuah buku berisi
terjemahan Sulastin Sutrisno versi lengkap Door Duisternis Tot Licht
pun terbit.
Buku kumpulan surat versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul
Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Menurut
Sulastin, judul terjemahan seharusnya menurut bahasa Belanda
adalah: "Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsa
Jawa". Sulastin menilai, meski tertulis Jawa, yang didamba
sesungguhnya oleh Kartini adalah kemajuan seluruh bangsa Indonesia.
Buku terjemahan Sulastin malah ingin menyajikan lengkap surat-surat
Kartini yang ada pada Door Duisternis Tot Licht. Selain diterbitkan
dalam Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya,
terjemahan Sulastin Sutrisno juga dipakai dalam buku Kartini, Surat-
surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya.
Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904
Buku lain yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah Letters
from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904. Penerjemahnya adalah
Joost Coté. Ia tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam
Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Joost Coté juga
menerjemahkan seluruh surat asli Kartini pada Nyonya Abendanon-
Mandri hasil temuan terakhir. Pada buku terjemahan Joost Coté, bisa
ditemukan surat-surat yang tergolong sensitif dan tidak ada dalam
Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Menurut Joost Coté,
seluruh pergulatan Kartini dan penghalangan pada dirinya sudah
saatnya untuk diungkap.
Buku Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904 memuat
108 surat-surat Kartini kepada Nyonya Rosa Manuela Abendanon-Mandri
dan suaminya JH Abendanon. Termasuk di dalamnya: 46 surat yang
dibuat Rukmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematrie.
Panggil Aku Kartini Saja
Selain berupa kumpulan surat, bacaan yang lebih memusatkan pada
pemikiran Kartini juga diterbitkan. Salah satunya adalah Panggil Aku
Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer. Buku Panggil Aku Kartini
Saja terlihat merupakan hasil dari pengumpulan data dari berbagai
sumber oleh Pramoedya.
Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya
Akhir tahun 1987, Sulastin Sutrisno memberi gambaran baru tentang
Kartini lewat buku Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri
dan suaminya. Gambaran sebelumnya lebih banyak dibentuk dari
kumpulan surat yang ditulis untuk Abendanon, diterbitkan dalam Door
Duisternis Tot Licht.
Kartini dihadirkan sebagai pejuang emansipasi. Dalam kumpulan itu,
surat-surat Kartini selalu dipotong bagian awal dan akhir. Padahal,
bagian itu menunjukkan kemesraan Kartini kepada Abendanon. Banyak
hal lain yang dimunculkan kembali oleh Sulastin Sutrisno.
Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada
Stella Zeehandelaar 1899-1903
Sebuah buku kumpulan surat kepada Stella Zeehandelaar periode 1899-
1903 diterbitkan untuk memperingati 100 tahun wafatnya. Isinya
memperlihatkan wajah lain Kartini. Koleksi surat Kartini itu
dikumpulkan Dr Joost Coté, diterjemahkan dengan judul Aku Mau ...
Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella
Zeehandelaar 1899-1903.
"Aku Mau ..." adalah moto Kartini. Sepenggal ungkapan itu mewakili
sosok yang selama ini tak pernah dilihat dan dijadikan bahan
perbincangan. Kartini berbicara tentang banyak hal: sosial, budaya,
agama, bahkan korupsi.
[sunting]
Kontroversi
Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada
dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat
itu, merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena
memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda
menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk
yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun
sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya.
Menurut almarhum Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon
pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.
Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak
diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar
tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya
sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka
adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita
Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak
kalah hebat dengan Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan
Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak
pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan
lainnya.
Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya
seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita
Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide
dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk
kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan
nasional.
--- In [email protected], Leo Imanov <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> bismi-lLah wa-lhamdu li-lLah wa-shshalatu wa-ssalamu 'ala rasuli-
lLah
> wa 'ala alihi wa ashhabihi wa ma-wwalah,
> amma ba'd, assalamu 'alaikum wa rahmatu-lLahi wa barakatuH.
> ada kiriman buaguuus dech, bagi2 yah, silah:
>
> DOOR DUITERNIS TOT LICHT
> (Habis Gelap Terbitlah Terang)
> Taken From: Permata, Bogor
>
> Tinta sejarah belum lagi kering menulis namanya, namun wanita-
wanita
> negerinya sdh terbata-bata membaca cita-citanya. Tujuh tahun yg
lalu
> namanya kembali mencuat ke permukaan setelah seorang sejarawan
> Indonesia mempermasalahkan gelar kepahlawanannya. Lepas dari kaitan
> itu, kita tak perlu mempermasalahkan dia benar atau salah atau
> pantaskah ia mendapat gelar pahlawan atau tdk, yg pasti sejarah hrs
> diungkapkan baik dan buruknya & terserah kpd pendengar sejarah utk
> menilai dan berinterpretsi thd sejarah tsb.
>
> Kartini tdk dapat diartikan lain kecuali sesuai dgn apa yg
tersirat dlm
> kumpulan suratnya; "DOOR DUISTERNIS TOT LICHT", yg terlanjur
diartikan
> oleh Armijn Pane sbg, "Habis Gelap Terbitlah Terang". Sedangkan
Prof.
> Dr. Haryati Soebadio, Dirjen Kebudayaan Depdikbud, yg notabene
cucu RA
> Kartini mengartikannya sbg "Dari gelap menuju cahaya", yg kalau
kita
> lihat dalam Al Qur'an akan tertulis sbg, "Minadz Dzulumaati Ilaan
> Nuur". Ini merupakan inti ajaran Islam yg membawa manusia dari
> kegelapan menuju cahaya (iman).
>
> Kartini ada dlm proses kegelapan menuju cahaya, tapi cahaya itu
belum
> sempurna menyinari krn terhalang oleh usaha westernisasi. Kartini
yg
> dikukung oleh adat dan dituntun oleh Barat telah mencoba meretas
jalan
> menuju ke tempat yg terang. Dan apakah yg kita lakukan kini
merupakan
> langkah-langkah maju ataukah surut ke belakang...?
>
> KARTINI: "IBU ADALAH SEKOLAH BAGI ANAK-ANAKNYA."
>
> Berapa banyak dewasa ini jabatan dan kedudukan penting yg pada
mulanya
> dipegang oleh kaum pria kini dipegang oleh kaum wanita? Berapa
banyak
> pula jumlah pekerjaan yg dimasuki oleh kaum wanita sehingga banyak
kaum
> pria yg hrs kehilangan pekerjaannya?
>
> Seorang wanita sekalipun tdk bekerja maka ia tdk akan kehilangan
> nafkahnya, krn ia hidup dari tanggungan hidup suaminya. Tapi apa
> artinya jika seorang pria kehilangan pekerjaannya? Maka mulut yg
ada
> dibelakangnya, yaitu mulut istri dan anak-anaknya akan tetap
menganga
> menanti kehadirannya, mengharapkan sesuatu yg dibawanya. Apa
jadinya
> negeri ini jika kaum prianya menganggur? Kalau bukan petaka, tentu
> paling tdk negeri ini menjadi "Lembah Amazone".
>
> Padahal wanita lebih diperlukan sbg "sekolah" bagi anak-anaknya.
Dan
> bukan sbg kuda beban atau ayam-ayam pengais yg tertatih-tatih dan
> tersuruk-suruk menanggalkan pribadinya yg asli. Kartini tdk pernah
> mengimpikan wanita-wanita sesudah generasinya menjadi bebas tanpa
> kendali atau merebut hak lelaki hingga mengingkari fitrahnya.
>
> SURAT KEPADA STELLA
> (tertanggal 18 Agustus 1899)
>
> "Sesungguhnya adat sopan santun kami orang Jawa amatlah rumit.
Adikku
> hrs merangkak, bila hendak berlalu di hadapanku. kalau adikku
duduk di
> kursi, saat aku lalu, hrslah ia turun duduk di tanah dengan
menundukkan
> kepala sampai aku tak terlihat lagi. Mereka hanya boleh menegurku
dgn
> bahasa kromo inggil. Tiap kalimat haruslah diakhiri dgn "sembah".
>
> Berdiri bulu kuduk, bila kita berada dlm lingkungan keluarga
Bumiputera
> yg ningrat. Bercakap-cakap dgn orang lain yg lebih tinggi
derajatnya
> haruslah perlahan-lahan, jalannya melangkah pendek-pendek,
gerakannya
> lambat-lambat spt siput. Bila berjalan cepat dicaci orang, disebut
sbg
> kuda liar. Peduli apa aku dgn segala tata cara itu... Segala
peraturan
> itu buatan manusia dan menyiksa diriku saja. Kamu tdk dapat
> membayangkan bagaimana rumitnya etiket keningratan di dunia Jawa
itu.
>
> Tapi sekarang mulai dgn aku, antara kami (Kartini, Roekmini dan
> Kardinah) tdk ada tatacara itu lagi. Perasaan kami sendirilah yg
akan
> menunjukkan atau menentukan sampai batas mana cara liberal itu
boleh
> dijalankan.
>
> Bagi saya hanya ada dua macam keningratan, keningratan pikiran
> (fikroh), dan keningratan budi (akhlaq). Tdk ada manusia yg lebih
gila
> dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat org membanggakan
asal
> keturunannya. Apakah berarti sdh beramal sholeh org yg bergelar
macam
> Graaf atau Baron..? Tidaklah dapat dimengerti oleh pikiranku yg
picik
> ini..."
>
> Sebelum kita melanjutkan surat-surat Kartini yg lain ada baiknya
kita
> melihat sahabat pena Kartini yg merupakan musuh-musuh dlm selimut
yg
> berusaha mempengaruhi Kartini dgn cara dan pahamnya masing-masing.
>
> Mereka itu adalah:
>
> 1. Mr. J.H Abendanon
> Datang ke Hindia tahun 1900. Diutus oleh pemerintah Belanda utk
> melaksanakan politik Ethis. Tugasnya adalah sbg Direktur Departemen
> Pendidikan, Agama dan Kerajinan. Karena masih baru, ia meminta
nasehat
> teman sehaluan politiknya yaitu Snouck Hurgronje. Snouck memiliki
> konsepsi politik Asosiasi, menurutnya memasukkan peradaban Barat
dlm
> masyarakat pribumi adalah cara yg paling ampuh utk membendung dan
> mengatasi Islam di Hindia Belanda. Tapi tdk mungkin mempengaruhi
rakyat
> sebelum kaum ningratnya dibaratkan. Sesudah itu akan semakin mudah
> membaratkan rakyat bumi putera. Untuk itu maka langkah pertama yg
hrs
> diambil adalah mencari orang-orang ningrat yg Islamnya tdk teguh
lalu
> dibaratkan. Dan pilihan pertama adalah Kartini.
>
> 2. Annie Glassor
> Seorang guru yg mempunyai akte bahasa dan mengajar secara privat
bahasa
> Perancis kpd Kartini. Annie Glasser dikirim oleh Abendanon utk
> memata-matai dan mengikuti perkembangan Kartini. Melalui Annie
> Glasser-lah Abendanon mendidik, mempengaruhi dan menjatuhkan
Kartini.
>
> 3. Stella (Estalle Zeehandelaar)
> Sewaktu dlm masa pingitan ( + 4 tahun ) Kartini banyak membaca utk
> menghabiskan waktunya. Tetapi Kartini tdk puas mengikuti
perkembangan
> pergerakan wanita di Eropa hanya melalui majalah & buku-buku. Krn
ingin
> mengetahui keadaan sesungguhnya maka Kartini memasang iklan di
sebuah
> majalah negeri Belanda, yaitu Hollandsche Lelie. Dgn segera iklan
itu
> disambut oleh Stella, wanita Yahudi anggota pergerakan Feminis di
> Belanda yg bersahabat karib dgn gembong Sosialis, Ir. H. Van Kol.
>
> 4. Ir. H. Van Kol
> Pernah tinggal di Hindia Belanda selama 16 tahun. Ia berkenalan dgn
> Kartini dan berusaha memperjuangkan Kartini agar dpt pergi ke
Belanda
> atas biaya pemerintah Tinggi Belanda. Tapi rupanya ada udang di
balik
> batu. Ia berharap dpt mengajak Kartini ke Belanda sbg saksi hidup
> tentang kebobrokan pemerintah Hindia Belanda di tanah jajahan.
Melalui
> Kartini, Van Kol ingin mengungkapkan penyelewengan yg dilakukan
para
> pejabat Hindia Belanda. Sehingga partai Sosialis, tempatnya
bercokol,
> dpt berkuasa di parlemen & menjatuhkan partai yg berkuasa.
>
> 5. Ny. Van Kol (Nellie Van Kol)
> Seorang penulis berpendirian humanis dan progresif. Org yg paling
> berperan mendangkalkan aqidah Islamiah Kartini. Pada mulanya ia
> bermaksud menjadikan Kartini sbg seorang Kristen tapi gagal.
Mulanya ia
> berbuat seolah-olah sbg penolong yg mengangkat Kartini dari
keadaan tdk
> mempedulikan agama menjadi penuh perhatian. Bahkan ia berhasil
> mengakhiri "Gerakan mogok sholat dan mogok ngaji" yang dilakukan
> Kartini.
>
> Kita buka kembali beberapa cuplikan surat Kartini yg sedikit
membuka
> siapa dan mau apa ia.
>
> "...Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik, orang baik-
baik
> itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi pula, dialah orang
Eropa "
> (kepada Stella, 25 Mei 1899)
>
> "Aku mau meneruskan pendidikan ke Holland, karena Holland akan
> menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yg telah aku pilih."
> (kepada Ny. Ovinksoer, 1900)
>
> "Sekarang kami merasakan badan kami lebih kokoh, segala sesuatu
tampak
> lain sekarang. Sudah lama cahaya itu tumbuh dalam hati kami. Kami
belum
> tahu waktu itu dan Ny Van Kol yg menyibak tabir yg tergantung di
> hadapan kami. Kami sangat berterimakasih kepadanya." (kepada Ny
> Ovinksoer, 12Juli 1902)
>
> "Ny Van Kol banyak bercerita kepada kami tentang Yesus yg Tuan
muliakan
> itu, tentang rasul-rasul Petrus dan Paulus, dan kami senang
mendengar
> itu semua." (kepada Dr Adriani, 5 Juli 1902)
>
> "Malaikat yg baik beterbangan di sekeliling saya dan Bapak yg ada
di
> langit membantu saya dlm perjuangan saya dengan bapakku yg ada di
dunia
> ini," (kepada Ny Ovink Soer, 12 Juli 1902)
>
> Itulah beberapa surat yg Kartini layangkan kpd orang-orang yang
menjadi
> "sahabat"nya, dan yg berkiblat kpd Kristen atau yg berusaha
> menggiringnya ke arah pemikiran Barat.
>
> BERUSAHA MENJADI MUSLIMAH SEJATI
>
> Kartini memiliki pengalaman yg tdk menyenangkan semasa belajar
mengaji.
> Ibu guru mengajinya memarahi dia dan menyuruhnya keluar karena
Kartini
> menanyakan makna ayat Al Qur'an yg dibacanya tadi.
>
> Inilah suratnya kepada Stella tertanggal 6 November 1899 dan kepada
> Abendanon tertanggal 15 Agustus 1902:
>
> "Mengenai agama Islam, Stella, aku hrs menceritakan apa. Agama
Islam
> melarang umatnya mendiskusikannya dgn umat agama lain. Bagaimana
aku
> dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tdk boleh
> memahaminya.
>
> Al Qur'an terlalu suci, tdk boleh diterjemahkan ke dlm bahasa
apapun.
> Di sini tdk ada yg mengerti bahasa Arab. Orang-orang disini
belajar
> membaca Al Qur'an tetapi tdk mengerti apa yg dibacanya. Kupikir,
> pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tdk mengerti
apa yg
> dibacanya. Sama saja halnya spt engkau mengajar aku membaca buku
> berbahasa Inggris, aku hrs menghafal kata demi kata, tetapi tdk
satupun
> kata yg kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi soleh pun tdk
> apa-apa asalkan jadi orang baik hati, bukankah begitu Stella..??
>
> "Dan waktu itu aku tdk mau lagi melakukan hal-hal yg aku tdk
mengerti
> sedikitpun. Aku tdk mau lagi melakukan hal-hal yg aku tdk tahu apa
> perlu dan manfaatnya. Aku tdk mau lagi membaca Al Qur'an, belajar
> menghafal perumpamaan-perumpamaan bahasa asing yg aku tdk mengerti
apa
> artinya, dan jangan-jangan ustadz-ustadzahku pun tdk mengerti
artinya.
> Katakanlah kepadaku apa artinya nanti aku akan mempelajari apa
saja.
>
> Aku berdosa. Kitab yang mulia itu terlalu suci sehingga kami tdk
boleh
> mengerti artinya."
>
> Sampai pada suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya,
seorang
> Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulan khusus
utk
> anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama
Raden Ayu
> yg lain dari balik Khitab (tabir). Kartini tertarik kpd materi yg
> sedang diberikan, tafsir Al Fatihah, oleh Kyai Saleh Darat, ulama
besar
> yg sering memberikan pengajian di beberapa kabupaten di sepanjang
> pesisir utara. Setelah selesai pengajian, Kartini mendesak pamannya
> agarbersedia menemaninya utk menemui Kyai Saleh Darat.
>
> "Kyai perkenankan saya menanyakan sesuatu, bagaimanakah hukumnya
> apabila seseorang yg berilmu namun menyembunyikan ilmunya?
>
> Tertegun sang Kyai mendengar pertanyaan Kartini yg diajukan secara
> diplomatis. Kyai Saleh Darat paham betul akan maksud pertanyaan yg
> diajukan Kartini krn sebelumnya pernah terlintas dalam
> pikirannya.(Dialog ini dicatat oleh Ny. Fadillah Bc. Hk Cucu Kyai
Saleh
> Darat)
>
> Singkat cerita tergugahlah sang Kyai utk menterjemahkan Al Qur'an
ke
> dlm bahasa Jawa. Dan ketika hari pernikahan Kartini tiba, Kyai
Saleh
> Darat memberikan kepadanya terjemahan Al Qur'an juz pertama.
Mulailah
> Kartini mempelajari Al Qur'an. Tapi sayang sebelum terjemahan itu
> rampung, Kyai Saleh Darat berpulang ke rahmatullah.
>
> Dalam surat Al Baqarah Ayat 257, Kartini menemukaan kata-kata yg
amat
> menyentuh nuraninya;
>
> "Orang-orang yg beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya
> (minadz dzulumaati ilaan nuur)".
>
> Kartini amat terkesan dgn ayat ini, krn ia merasakan sendiri proses
> perubahan dirinya, dari pemikiran jahiliyah kpd pemikiran
terbimbing
> oleh Nuur Ilahi. Dan sebelum wafatnya Kartini, dlm banyak suratnya
> mengulang kata-kata "dari gelap menuju cahaya", yg ditulis dalam
bahasa
> Belanda sbg "door duisternis toot licht".
>
> Yang kemudian dijadikan kumpulan surat Kartini oleh Abendanon yg
sama
> sekali tdk mengetahui bahwa kata-kata itu dikutip dari Al Qur'an.
> Ditambah lagi diterjemahkan sebagai "habis gelap terbitlah terang"
oleh
> Armijn Pane.
>
> Setelah pengajian tsb terjadilah perubahan besar dalam diri
Kartini.
> Kini ia mulai memahami Islam. Coba simak beberapa suratnya lagi:
>
> "Sudah lewat masanya, tadinya saya mengira bhw masyarakat Eropa itu
> benar-benar satu-satunya yg paling baik tiada taranya, maafkan
kami,
> tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu
sempurna..??
> Dapatkah Ibu menyangkal bhw di balik hal yg indah dlm masyarakat
Ibu
> terdapat banyak hal yg sama sekali tdk patut dinamakan peradaban??"
> (kepada Ny Abendanon, 27 October 1902)
>
> "Bagaimana pendapatmu tentang Zending, jika bermaksud berbuat baik
kpd
> rakyat Jawa semata-mata atas dasar cinta kasih, bukan dalam rangka
> Kristenisasi... bagi orang Islam, melepaskan kepercayaannya
sendiri dan
> memeluk agama lain merupakan dosa yg sebesar-besarnya... pendek
kata,
> boleh melakukan zending, tetapi janganlah meng-kristen-kan orang
lain.
> Mungkinkah itu dilakukan?" (kepada E.C Abendanon, 31 january 1903)
>
> Memang kumpulan surat-surat Kartini bukanlah kitab suci. Tapi kalau
> kita telaah kembali maka akan nampaklah apa cita-citanya yg luhur.
>
> Sayang itu semua sudah mengalami banyak deviasi sejak diluncurkan
> dahulu, setelah berlalu tiga generasi konsep Kartini tentang
emansipasi
> semakin hari semakin hari jauh meninggalkan makna pencetusnya.
Sekarang
> dgn mengatasnamakan Kartini para feminis justru berjalan di bawah
> bayang-bayang alam pemikiran Barat, suatu hal yg malah ditentang
oleh
> Kartini. Bagaimana tanggapanmu wahai para wanita..??
>
> wassalaamualaikum warahmatullaahi wabarakatuh,
> Hilal Achmad
>
> tak menyesal membacanya khan?
>
> wa-bi-lLahi-ttaufiq wal hidayah, subhanaka-lLahumma wa bihamdiKa
> asyhadu alla Ilaha illa Anta,astaghfiruKa wa atubu ilaiK.
wassalamu 'alaikum
>
> "Fa maadza ba'da-lhaqq, illa-dl_dlalaal"Leo ImanovAbdu-
lLahAllahsSlave
>
> Send instant messages to your online friends
http://uk.messenger.yahoo.com
>
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

