http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail&id=6721

Minggu, 30 Apr 2006,


Protes Pilkada, Tuban Lautan Api




Incumbent Menang, Dianggap Curang


TUBAN - Pemilihan bupati Tuban, Jatim, yang sementara dimenangkan Haeny Relawati Rini Widyastuti-Lilik Soeharjono (HeLi) berbuntut anarkis. Ribuan pendukung pasangan yang kalah, Noor Nahar Hussein-Go Tjong Ping (NonsTop), mengamuk. Tuban pun membara sehingga diberlakukan jam malam.

Mereka memorak-porandakan gedung Komisi Pemilihan Umum Kabupaten (KPUK) Tuban, Pendapa Kridomanunggal (kompleks rumah dinas bupati), gedung DPD Partai Golkar, sejumlah tempat usaha Ali Hasan (suami Haeny), dan dua rumah pribadi Haeny.

Massa juga menyerbu Hotel Mustika di Jalan Teuku Umar, gudang CV Sembilan-Sembilan di Jalan Tuban-Semarang, SPBU Karangsari, dan SPBU Manunggal. Dua rumah yang dirusak dan dibakar terletak di Jalan KH Agus Salim dan rumah yang masih dibangun di Kelurahan Perbon.

Amuk massa itu merupakan rangkaian protes terhadap pilkada yang dilaksanakan Kamis, 27 April lalu. Sampai sebelum aksi massa, pilkada dimenangkan calon incumbent, HeLi dengan 327.784 suara (51,74 persen). NonsTop kalah tipis dengan mendulang 305.709 suara (48,26 persen). Pendukung NonsTop menuding adanya kecurangan.

Dalam aksi kemarin sempat terjadi bentrok antara aparat kepolisian dan massa yang mengakibatkan korban luka dari kedua pihak. Dua perwira menengah yang memimpin operasi pengamanan terluka. Mereka adalah Kompol Lamat Wiyoko dari Polwil Bojonegoro dan Wakapolres Tuban Kompol Marsudianto.

Kondisi keamanan baru bisa dikendalikan sekitar pukul 13.30 setelah aparat dalmas dari Polwil Bojonegoro, Polres Bojonegoro, Polres Jombang, Polres Lamongan, dan Polres Tuban diturunkan serentak.

Untuk menangkal terulangnya aksi itu, tadi malam diberlakukan jam malam. Warga tidak diperbolehkan keluar rumah mulai pukul 19.00 - 04.30. Jalan-jalan di Kota Tuban dijaga polisi. Setiap saat juga terlihat patroli aparat keamanan.

Kapolda Jatim Irjen Herman S. Sumawirejo mengeluarkan perintah tembak di tempat terhadap massa yang masih melakukan aksi anarkis. "Bila ada indikasi gerakan pembakaran, saya perintahkan untuk langsung tembak di tempat," tegasnya saat jumpa pers di pringgitan (rumah dinas bupati Tuban, Red) kemarin petang.

Kapolda tidak menyebutkan sampai kapan kebijakan jam malam tersebut diberlakukan. "Mulai malam ini (tadi malam, Red) ditetapkan jam malam sampai batas waktu nanti kita cabut. Kecuali untuk kegiatan ibadah, ziarah, dan keadaan darurat lain," ungkap perwira asal Sunda itu.

Sore kemarin situasi di Bumi Ronggolawe sudah bisa dikendalikan. Personel kepolisian yang diterjunkan untuk mengamankan situasi di Tuban sebanyak 10 satuan setingkat kompi (SSK) yang berasal dari Polda, jajaran Polwil Bojonegoro, dan Polwil Madiun. Selain itu, mereka dibantu 3 SSK pasukan TNI. "Situasi sepenuhnya bisa dikendalikan," ujar Herman.



Tahapan Pilkada Jalan Terus
Gubernur Jatim Imam Utomo menyesalkan amuk massa di Tuban. "Saya prihatin atas kejadian ini," katanya di kompleks Pendapa Kridhamanunggal Tuban pukul 15.30.
Di salah satu ruang di rumah dinas bupati Tuban, gubernur bertemu Kapolda Jatim, Kasdam V/Brawijaya, Danrem 081/CPYJ Mojokerto Kolonel Sentot Makarim, Kapolwil Bojonegoro Kombes Imam Wahyudi, Kapolres Tuban AKBP Sigit Triharjanto, Dandim 0811 Tuban Letkol (Art) Nuruddin Tantawijaya, Sekkab Tuban Soekarman, serta Ketua KPUK Soemito Karmani dan anggotanya.
Menurut gubernur, aksi massa itu merupakan bentuk pembelajaran politik yang tidak bagus. Kedewasaan politik mereka kurang. "Ini berarti tidak siap kalah dan tidak siap menang. Kita kok tidak dewasa-dewasa. Ini kan merusak persatuan dan kesatuan," ujar pejabat kelahiran Jombang itu.
Gubernur juga menegaskan, aksi pembakaran dan perusakan tersebut merupakan tindakan kriminal. Karena itu, dia meminta Kapolda Jatim mengusut tuntas kejadian tersebut. Termasuk, siapa yang menjadi dalang dan provokatornya.
Meski semua dokumen pilkada dibakar, gubernur memastikan tahapan pilkada selanjutnya tetap jalan. Dia meminta KPUK Tuban tetap melakukan kegiatan tanpa terpengaruh aksi massa. Untuk sementara, operasional KPUK dipindahkan ke Mapolres Tuban. "Tidak ada penundaan atau pun pembatalan," tegas mantan Pangdam V/Brawijaya itu.


Gubernur sangat menyayangkan amuk massa yang dipicu ketidakpuasan atas kekalahan jagonya dalam pilkada 27 April lalu. "Kalau merasa dicurangi, kan ada jalur hukum. Mestinya itu kan bisa dilakukan. Tidak main hantam kromo seperti ini," kata pejabat asal Jombang itu.


Aksi massa dimulai di halaman Kantor DPC PKB Tuban, Jalan Wahidin Sudirohusodo. Sekitar pukul 09.15 mereka berjalan kaki menuju gedung KPUK Tuban yang hanya berjarak sekitar 300 meter.


Pasukan dalmas yang disiagakan sejak pagi sudah membuat pagar betis serta memasang pagar kawat berduri di ujung Jalan Pramuka yang bersimpangan dengan Jalan Wahidin Sudirohusodo. Satu rangkaian pagar kawat berduri lainnya dipasang di selatan Jalan Pramuka, sekitar 300 meter dari kantor KPUK. Di belakang pagar kawat berduri inilah pasukan dalmas berlapis tiga bersenjata tameng, pentungan, dan berhelm.


Ribuan massa di Jalan Wahidin, depan Kantor DPC PKB Tuban, merangsek ke pagar betis selatan. Mereka menyerang polisi dengan batu dan kayu. Tapi, polisi tetap bertahan.


Pertahanan polisi baru jebol setelah pagar betis ini diterobos truk yang ditumpangi massa. Pasukan dalmas yang melindungi tubuhnya dengan tameng mundur dan masuk gedung KPUK. Massa pun mengejar sambil menghujani batu.
Pasukan keamanan yang terdesak akhirnya mengamankan diri melalui pintu yang jebol akibat lemparan batu. Namun, massa semakin beringas. Mereka juga melempari kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Tuban sehingga sejumlah kacanya pecah.


Kapolres Tuban AKBP Sigit Tri Hardjanto berusaha menenangkan massa. Namun, imbauannya tidak digubris. Massa yang menguasai kantor penyelenggara pilkada ini mengeluarkan sebagian besar perabot ke halaman. Dokumen pilkada dibakar di halaman.


Massa kemudian menuju Pendapa Kridomanunggal dengan truk. Di perjalanan mereka merusak dua mesin pengisian solar. Di Kridomanunggal, massa membakar bangunan utama dan enam bangunan lain, seperti gedung Korpri, gedung PKK, guest house, gedung Darma Pertiwi, dan gedung Gerakan Organisasi Wanita (GOW). Aksi itu berlanjut ke tempat-tempat lain.(ds/wid


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke