Dear All,
  Entahlah...saya tersentuh dengan tulisan ini....,Seorang tua dan sepuh yang hanya  punya keyakinan.. melawan negara adidaya.....
  salam,
  aris
  ------------------------
  http://hidayatullah.com/content/view/3066/59/
          Menjenguk Ustadz Abu"               Jumat, 28 April 2006 - 16:11:51 WIB       Amerika mengumumkan telah memblokir aset dan semua rekening Abu Bakar Ba’asyir. Tapi ia tak pernah berurusan dengan bank. Asetnya hanya kopiah, baju koko, sarung, buku dan sandal

  
  
  oleh Dzikrullah*
  
  Orang yang dipenjara biasanya disebut pesakitan. Ustadz Abu Bakar Ba’asyir tidak seperti seorang pesakitan, malah setiap kali saya menjenguknya (3 kali ketika di Rumah Tahanan Salemba, 1 kali di Penjara Cipinang) air mukanya selalu kelihatan cerah. Suaranya selalu bersemangat. Tertawanya menular ke orang-orang di sekitarnya. Badannya memang langsing sejak muda, tapi di usia 67 tahun jalannya tetap tegak, sama sekali tidak terlihat seperti seorang pesakitan. Beliau malah kelihatan jauh lebih sehat daripada kebanyakan orang yang saya kenal di luar penjara, yang usianya lebih muda.

Ustadz Abu bergamis putih semata kaki dan berkopiah putih bercerita, “Minggu lalu, ada yang memberi tahu saya, Departemen Keuangan Amerika Serikat mengumumkan, menjelang bebasnya saya (pertengahan Juni mendatang) mereka telah membekukan rekening dan aset-aset saya.”

“Karena sudah lama saya tidak berurusan dengan uang, saya bertanya, rekening itu apa tho? Saya sungguh-sungguh lupa waktu itu.”

“Katanya, itu lho Ustadz, yang untuk ngirim uang dari bank ke bank..”

“Ooh, iya ya, rekening... kalau itu saya tahu..”

Ruang tamu penjara Cipinang itu tiba-tiba seperti meledak oleh suara tawa kami.

“Aset saya itu ya kopiah, baju koko, sarung, celana, dan sandal..” Kami tergelak-gelak lagi mendengarnya. Bagi mereka yang pernah berkunjung ke rumah pinjaman Ustadz di dekat Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo, niscaya pernah merasakan karpet merah lusuh atau tikar tempat beliau menerima tamu. Perabotan utama rumah itu buku dan rak-raknya. Maka pengumuman pembekuan aset itu sungguh sebuah lelucon konyol. Seorang murid beliau yang datang menjenguk bersama saya, membawa buah tangan berupa minyak goreng, sabun, diterjen, gula, dan bahan makanan lain dalam beberapa kantong plastik. Lumayan untuk menambah ‘aset’ Ustadz.

Tidak seperti di Rutan Salemba, di Cipinang, beliau dilarang memberi pengajian. Hanya boleh mengimami shalat di mushalla blok-nya dan di masjid penjara. “Saya mengerti, kepala lapas (lembaga pemasyarakatannya) sebenarnya orang baik, tapi dia ditekan dari atas. Soalnya banyak yang salah faham tentang pengajian itu. Padahal yang dibicarakan biasanya soal-soal fiqh sehari-hari..” Meskipun begitu, Ustadz Abu menyebut Kalapas Cipinang sebagai “orang yang baik”.

Beberapa bulan silam, Ustadz Abu menemui Kalapas di ruangannya untuk minta diberi hak yang biasa diberikan kepada seorang narapidana menjelang bebas, yaitu cuti menjelang bebas (CMB). Semacam masa adaptasi dengan masyarakat sebelum napi sepenuhnya bebas. “Bukan saya mau buru-buru keluar, Pak, tapi saya mau bilang ke dunia internasional bahwa penjara Indonesia punya aturan sendiri yang tidak bisa didikte,” katanya. Sayangnya, Kalapas mengaku tidak berani. Maka Ustadz Abu tidak mendapatkan haknya itu, dan tak satu LSM HAM-pun bersuara membelanya.

Tak lama kemudian Kalapas itu menunaikan ibadah haji, dan pulangnya memanggil Ustadz khusus ke ruangannya, lalu bercerita panjang lebar tentang perjalanannya ke tanah suci. Sesudah itu Kalapas tersebut jatuh sakit. Kena stroke. Lumpuh sebelah. Begitu agak sehat, Kalapas datang ke kantornya dan kembali memanggil Ustadz Abu. Dia bilang begini, “Wah, ini mungkin saya berdosa karena menolak memberikan hak Ustadz yang waktu itu..” Ustadz Abu menggeleng, “Ndak begitu, Pak. Sakit itu ujian. Ndak ada hubungannya dengan saya.”

Yang sering dilupakan orang, empat tahun Ustadz Abu dipenjara bukan karena vonis kasus terorisme. Sebab tidak ada bukti apapun di pengadilan yang mengaitkan beliau dengan berbagai aksi teror yang terjadi. Beliau dipenjara karena kasus pemalsuan dokumen-dokumen imigrasi. Sesuatu yang dilakukan oleh ribuan orang yang lari ke luar negeri akibat penindasan rezim-rezim lama, juga para tenaga kerja migran. “Sebenarnya,” kata Ustadz, “Amerika itu tidak takut pada bom-bom. Makin banyak bom di Indonesia mereka makin senang karena bisa lebih menekan negeri ini. Yang mereka takut, jika pemahaman tentang Islam yang benar itu tegak di Indonesia sehingga bangsa ini tidak bisa lagi disuruh-suruh seenaknya.”

Beberapa waktu lalu, Ustadz Abu diminta memberi kata pengantar lewat rekaman kaset, untuk membuka pertemuan ulama se-Sumatera. Dalam rekaman itu, beliau mengatakan, pangkal masalah negeri ini adalah niat dan dasar berdirinya yang sudah salah sejak awal. “Syariat Allah yang maha tinggi untuk keselamatan manusia, disisihkan oleh pikiran bernama Pancasila yang oleh Soekarno dicampur dari peradaban Eropa, Cina, India dan dari tradisi syirik Indonesia,” katanya. Akibatnya, masih kata beliau, bangsa ini makin hari makin jauh dari jalan yang benar. “Ya, sudah pasti tidak akan selamat, berbagai bencana ndak berhenti-berhenti.”

Kaset rekaman kata sambutan itu batal diperdengarkan kepada hadirin musyawarah ulama se-Sumatera. Lha yang lucunya juga, sambung Ustadz Abu, di akhir acara itu beberapa ulama menolak mendatangani hasil rekomendasi musyawarah, hanya karena salah satu poin-nya menuntut pemerintah segera membebaskan beliau.

Bandingkan sikap sebagian ulama itu dengan tamu-tamu Ustadz Abu, serombongan biksu Budha dari Thailand Selatan. Lengkap dengan seragam oranye dan kepala tercukur bersih, para biksu itu datang jauh-jauh menjenguk Ustadz Abu ke Cipinang, beberapa bulan silam. Mereka bilang, “Ustadz, kami mendukung perjuangan Anda menegakkan syariat Islam di Indonesia.” Tentu saja Ustadz Abu keheranan, “Lho, ini aneh, Anda kan bukan Muslim kok mendukung saya?” Kata mereka, “Soalnya kami pernah bermukim di Kelantan (negara bagian Malaysia). Waktu partai Islam berkuasa dan syariat diberlakukan, kami banyak merasakan manfaatnya.”

Penjara bagi Ustadz Abu dan belasan muridnya seperti tempat istirahat. Seorang pemuda bernama Bagus alias ‘Urwah yang didakwa bersalah karena ikut menyembunyikan tersangka teroris Nordin M. Top, malah nyengir-nyengir waktu saya temui. “Alhamdulillah, kalau tidak dipenjara mungkin sekarang saya belum menikah,” katanya. Ia menikah 5 bulan yang lalu di penjara Cipinang. Isterinya tetap tinggal di luar dan secara rutin menjenguknya. Seorang da’i muda yang lain juga dikabarkan menikah di penjara. Beberapa lainnya sedang diproses.

Salah seorang murid Ustadz Abu menimpali, “Ini kok seperti jadi tren, banyak orang tua yang malah minta menantu da’i yang sedang dipenjara hehehe....”

Zainuddin Paru, SH, seorang pengacara PAHAM (Pusat Advokasi Hukum dan Hak Azasi Manusia) pernah mengatakan mengatakan kepada saya, dari berbagai dakwaan yang terasa dipaksakan mengait ke kasus-kasus pemboman, nampaknya sasaran utama penangkapan dan pemenjaraan ini adalah para da’i yang pernah terlibat perang atau berlatih jihad di Afghanistan dan Mindanao. Firdaus, salah seorang dari mereka yang telah dilepaskan bercerita kepada saya, “Kami disiksa, digebukin, diinjak-injak, dibanting, ada yang dicabut kukunya, rumah kami diobrak-abrik, keluarga kami diancam-ancam. Saya disiksa 9 hari di sebuah hotel mesum. Saya dipaksa mengaku terlibat membom pertokoan Atrium Senen. Karena tak tahan disiksa saya akhirnya bikin aja BAP (berita acara pemeriksaan) asal-asalan.. Eeh, saya dilepas. Soalnya belakangan saya dengar yang ngebom Atrium menantu seorang bekas pejabat tinggi. Sampai hari ini kasus dia malah nggak terdengar..”

Pertengahan Juni ini, jika mengikuti keputusan pengadilan, Ustadz Abu akan dibebaskan. Alhamdulillah. Namun, selain pengumuman konyol Departemen Keuangan AS tadi, beredar juga desas-desus bahwa begitu bebas Ustadz akan diculik CIA untuk dibawa ke Guantanamo. Ustadz Abu hanya tersenyum mendengar hal itu. Ia mendoakan kami agar tetap istiqamah. Lha? Malah terbalik.

Kami bersalaman erat, berpelukan. Lalu Ustadz Abu menghilang dari balik pintu besi, menuju masjid untuk mengimami shalat berjama’ah. Adzan dari masjid penjara sudah berhenti dari tadi. Getaran merdunya sama dengan adzan di masjid-masjid di luar penjara.

  “..Sesungguhnya
Aku tidak menyia-nyiakan
‘amal orang-orang yang beramal
diantara kamu, baik laki-laki atau perempuan.
Maka orang-orang yang berhijrah,
yang diusir dari kampung halamannya,
yang disakiti pada jalan-Ku,
yang berperang dan dibunuh,
pasti akan Kuhapuskan kesalahan-kesalahan
mereka dan pasti Aku masukkan mereka
ke dalam syurga yang mengalir sungai-sungai
di bawahnya...”

  (Aali-‘Imraan: 195)

  
  * penulis seorang wartawan dan guru madrasah




pustaka tani
  nuraulia

           
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke