OBITUARI

Pramoedya, Jejak Langkah itu

Pujangga itu wafat pada usia 81 tahun. Meninggalkan 50-an buku yang
diterjemahkan ke lebih dari 41 bahasa.

-------

JAKARTA tak menentu, Sabtu malam itu. Hujan turun sebercak-sebercak,
gerimis di sini, lebat di sana. Dari telepon seluler ke telepon
seluler bersimpang-siur pesan kisruh: "Pramoedya Ananta Toer
berpulang…. Maaf, Pram masih segar-bugar…. Kritis, memang, bernapas
pakai oksigen, tapi malah minta rokok…." Akhirnya, pada……..,
Pramoedya, "pujangga" itu, berangkat menghadap Khaliknya.

Sampai saat wafatnya, Pram, pengarang sekitar 50 buku yang sudah
diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa, seperti memilih tidak
menempuh "cara biasa". Beberapa hari sebelumnya ayah sembilan anak dan
kakek 16 cucu itu terjatuh di rumahnya yang jembar di Desa Waringin
Jaya, Bojong Gede, Bogor, sekitar 50 kilometer dari Jakarta arah ke
selatan. Ia dilarikan ke Rumah Sakit St. Carolus di Jakarta Pusat.

Tapi, siapa pun di antara orang dekatnya pasti tahu: Pram tak pernah
suka pada rumah sakit. "Saya sudah lelah dirawat di rumah sakit,"
katanya, dua tahun lalu. Ketika itu, selain gangguan jantung dan
diabetes, ia mulai mengalami masalah ginjal. Pram lebih percaya pada
"pengobatan" yang ditekuninya dengan cara sendiri: menyantap bawang
putih tak putus-putusnya.

Dilahirkan di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925, anak sulung dari
sembilan bersaudara ini seperti memang ditakdirkan untuk menjadi
pengarang. Dari ayahnya, Moh. Toer, seorang guru-nasionalis, Pram
diperkenalkan dengan dunia pustaka. Sejak usia delapan tahun ia sudah
biasa membaca koran dalam bahasa Belanda, Melayu, dan Jawa. "Orang tua
saya mempunyai perpustakaan yang cukup besar untuk ukuran kota kecil,"
kata Pram sekali waktu.

Menurut pengakuannya, Pramoedya sudah menulis sejak di bangku SD Boedi
Oetomo di Blora. Tapi, cerita pendeknya yang pertama, Kemana, baru
tersiar melalui majalah Pantjaraja, pada 1947. Pada tahun yang sama
pula terbit novelnya, Krandji-Bekasi Djatuh. Dari judul ini mudah
ditebak: Pram terlibat dalam perang kemerdekaan. Ia bertugas sebagai
perwira perhubungan di Divisi Siliwangi.

Pram kemudian ditahan Belanda, 1947-1949. Ia mendekam di penjara Bukit
Duri, Jakarta, dan pernah menghuni Pulau Onrust di Kepulauan Seribu.
Pada masa inilah ia menulis kumpulan cerita pendek Pertjikan Revolusi
dan novel Perburuan--yang kelak memenangi Hadiah Balai Pustaka. Keluar
dari penjara, Pram menulis Mereka Jang Dilumpuhkan, Tjerita dari Blora
(memenangi Hadiah Badan Musjawarah Kebudajaan Nasional 1952-1953), dan
Bukan Pasar Malam.

Sejak itu Pramoedya Ananta Toer tercatat di antara sastrawan garda
depan negeri ini. Pada 1953, atas undangan Lembaga Kerja Sama
Kebudayaan Indonesia-Belanda, Sticusa, ia bermukim di Negeri Belanda
bersama istrinya, Maemunah Thamrin. Tapi, tahun-tahun yang menyusul
kemudian merupakan masa gemuruh tak kunjung teduh dalam kehidupan Pram.

Lewat Kongres Nasional I Lembaga Kebudayaan Rakyat di Solo, Jawa
Tengah, pada 1959, Pramoedya Ananta Toer mengumumkan pergabungannya
dengan Lekra. Pram kemudian mengasuh ruangan kebudayaan Lentera di
harian Bintang Timur, Jakarta, yang berhadap-hadapan dengan para
penanda tangan Manifes Kebudayaan.

Gempa politik 1965 membawa akibat panjang pada kehidupan Pram dan
keluarganya. Rumahnya dirampas, perpustakaannya dijarah dan dibakar,
dia sendiri kemudian ditangkap, dan pada 1969 dibuang ke Pulau Buru,
Maluku. Di sinilah ia sekali lagi membuktikan: ia memang dilahirkan
untuk menjadi pengarang.

Di atas kertas-kertas bekas yang dijilid serupa buku tulis, ia mulai
mengarang tanpa rujukan, tanpa kepustakaan, hanya mengandalkan
ingatan. Ia juga menyusun semacam komik tentang masuknya agama Hindu
Hinayana ke Tanah Jawa, Oroh Sanagara namanya. Entah ke mana gerangan
naskah ini terselip.

Buku-buku tulisan tangan itu beredar dari unit ke unit, dibaca bersama
di bawah lampu minyak setelah kerja panjang yang melelahkan. Banyak
sekali tahanan, orang-orang muda dari pedalaman Jawa, yang baru
mengenal nama Pramoedya Ananta Toer justru di Pulau Buru.

Setelah kedatangan Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan
Ketertiban, Jenderal Sumitro, ke Pulau Buru, pada 1973, Pramoedya
dipindahkan dari Unit III ke Markas Komando, dan diberi mesin tik
untuk menulis. Ketika itulah ia mulai menyusun bagian awal
tetraloginya yang kelak termasyhur, Bumi Manusia.

Setelah dibebaskan, Desember 1979, Pram tak lagi terbendung. Bersama
penerbit Hasta Mitra, Pram menerbitkan berjudul-judul buku, kendati
seluruhnya dibredel pemerintahan Soeharto. Setelah reformasi, tak ada
lagi hambatan penerbitan bukunya, dan Pramoedya kemudian menerima
sejumlah penghargaan internasional. Berkali-kali namanya disebut
sebagai calon penerima Hadiah Nobel kesusastraan. Tapi, ternyata,
"jejak langkah" sang pujangga sampai di situ.

Amarzan Loebis

(Sumber: Tempo, 1 Mei 2006)

           
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke