samiaji <[EMAIL PROTECTED]> wrote:  To: <[EMAIL PROTECTED]>
From: "samiaji" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Mon, 1 May 2006 20:27:33 +0200
Subject: [nasional-list] Fwd: Ingin Hidup Setahun Lagi

        Senin, 01 Mei 2006,
Ingin Hidup Setahun Lagi
 
Pram Dimakamkan di TPU Karet
JAKARTA - Setelah empat hari berjuang melawan komplikasi sakit paru-paru, ginjal, diabetes, dan jantung, Pramoedya Ananta Toer, kemarin berpulang. Tepat pukul 08.55, satsrawan berusia 81 tahun yang biasa disapa Bung Pram itu mengembuskan napas terakhir di rumah dukanya, Jalan Multikarya II/26, Utan Kayu, Jakarta Timur. Pram meninggalkan seorang istri, delapan anak, 16 cucu, dua cicit, dan ribuan penggemar.

Diiringi lagu The Internationale, jenazah mantan aktivis Lekra tersebut dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta, pada pukul 14.00. Lagu itu dinyanyikan sejumlah pelayat untuk mengiringi jasad penerima Anugerah Le Chevalier de lÂ’ordre des Arts et des Letters dari Prancis pada 2000 itu menuju tempat peristirahatan terakhirnya. Mereka mengepalkan tangan sambil melantunkan lagu tersebut.

Selain lagu gubahan Eughene Pottier itu, para pengiring juga menyanyikan lagu Darah Juang. Ini lagu yang sering diperdengarkan ketika demonstrasi untuk menggambarkan perjuangan membela keadilan.

Istri Pram, Maemunah Thamrin, terlihat tabah mengiringi jasad suaminya dimasukkan ke liang kubur. Justru, Astuti, putri keempat, yang tampak masih terpukul oleh kepergian sang ayah. Astuti sempat menolak diajak pulang meski penguburan jenazah ayahnya telah rampung. "Nanti saja, saya masih ingin di sini," ujarnya.

Selama ini, Astuti memang yang paling dekat dengan Pram. Dia pula yang mendampingi pendiri penerbit Hasta Mitra -antara lain menerbitkan karya-karya Pram- itu di berbagai kesempatan. Astuti bertahan di samping makam Pram hingga seluruh keluarga meninggalkan TPU Karet Bivak.

Setelah dibujuk berkali-kali, wanita yang kerap disapa Mbak Titik itu baru menyerah. "Saya sudah ikhlas, tapi saya masih ingin di sini,"ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Hujan yang mulai mengguyur TPU Karet tak menyurutkan tekad Astuti untuk merenung di pusara ayahnya. Sambil menyalami para pelayat, dia juga berpesan agar mereka tetap melakukan rutinitasnya mampir ke kediaman Pram. "Jangan sampai nggak datang ya walau Papi (begitu Astuti memanggail ayahnya, Red) sudah nggak ada," pintanya.

Maemunah mengaku tidak mendapatkan firasat apa pun sebelum Pram meninggal. "Saya nggak punya firasat karena dia bilang mau hidup satu tahun lagi," ujarnya sesuai pemakaman.

Sakit diabetes menginggapi Pram sejak 1981. Namun, belakangan Pram mengidap komplikasi paru-paru, ginjal, dan prostat.

Pram tidak meninggalkan pesan terakhir untuk Maemunah ataupun anak-anaknya. Ketika ditanyai, peraih Ramon Magsaysay dari Filipina pada 1995 itu memilih diam. "Saya memang jarang ngomong sama dia. Saya nggak pernah mengganggu dia kalau sedang menulis. Paling ketemu hanya untuk makan," ungkapnya.

Hanya, sebelum terbaring sakit, Pram sering mengajak wanita yang telah memberinya delapan anak itu berjalan-jalan. "Kami sering keluarin mobil, bolak-balik Jakarta-Bojong. Nginep di sini (Jakarta, Red) sehari, lalu pulang lagi (ke Bojong, Red). Tiap hari begitu, suatu kebahagiaan bagi dia naik mobil," tuturnya.

Kenangan itulah yang diberikan Pram sebelum meninggal kepadanya. "Saat jalan-jalan itulah kenangan terindah saya," tandasnya.

Hadir dalam pemakaman kemarin sejumlah seniman, seperti Goenawan Mohamad, Sitor Situmorang, Nurul Arifin dan suami, Ratna Sarumpaet, Putu Wijaya, dan Solahuddin Wahid (Gus Solah). Tampak pula Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, aktivis Yenny Rosa Damayanti, Koordinator Kontras Usman Hamid, Budiman Sudjatmiko, dan Wakil Ketua KPK Erry Ryana Hardjapamekas. Teman-teman Pram yang pernah ditahan di Pulau Buru juga ada, seperti Oey Hay Djoen, Oei Him Hwie, dan Hersri.



Selalu Gelisah

Tidak ada yang tidak kagum pada karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Tak terkecuali para sastrawan dan seniman, yang bahkan tidak sempat mengenal Pram secara pribadi. "Saya koleksi buku-buku Pak Pram, saya penggemarnya. Tapi, saya tidak kenal langsung dengan beliau," jelas Putu Wijaya.

Putu mengungkapkan, sosok seperti Pram belum tentu ada dalam kurun waktu seratus tahun ke depan. Menurut dia, Pram adalah seroang tokoh prosa terbaik yang pernah dimiliki Indonesia saat ini. "Dia sangat lihai menggunakan bahasa Indonesia. Nggak klise, cantik, tapi langsung pada tujuan," lanjutnya.

Kemampuan Pram mengolah bahasa menjadikan setiap tulisannya mengandung filosofi yang ekspresif. Sehingga mampu menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. Seperti dirinya sendiri yang terinspirasi untuk mementaskan salah satu karya Pram. "Saya baru kepikiran tentang ini tadi pagi waktu dikabari Pak Pram nggak ada," ujarnya.

Penulis Eka Budianta juga mendapat kesan mendalam tentang almarhum. Persis di hari ulang tahun Pram yang jatuh pada 1 Februari 2006, Eka mendapat kesempatan untuk menginap di rumahnya di Bojong Gede, Bogor. "Ini cita-cita saya sejak dulu, ingin merayakan ulang tahun di rumahnya. Tapi baru kesampaian kemarin itu," paparnya.

Selama satu hari bersama Pram, Eka banyak bertukar pikiran dengannya. "Dia itu orangnya selalu gelisah. Maunya banyak," ungkapnya. Bahkan, dalam tidur pun, Pram tidak bisa berdiam di satu tempat. Di rumah berlantai 5 tersebut, dalam semalam, Pram bisa berpindah tidur tiga hingga lima kali. "Saya ngikuti dia. Pertama tidur di lantai tiga. Tengah malam bangun, pindah tidur di lantai dua, dan seterusnya. Cuma mengikuti dia tidur saja saya nggak bisa," tambahnya.

Salah satu PR Pram yang belum selesai saat ini adalah rencananya membuat ensiklopedia Indonesia. Eka berharap, karya terakhir Pram ini tetap dapat terwujud walau tanpa Pram. "Masih ada Pramoedya Institute, saya yakin nanti bisa selesai," katanya.

Sastrawan Budi Darma juga punya pandangan senada. "Dia itu sosok yang memihak mereka yang tertindas. Baik tertindas oleh ideologi, sistem, tradisi, atau feodalisme," kata guru besar Universitas Negeri Surabaya itu.

"Ideologi" Pram yang memihak orang-orang tertindas itu, salah satunya, tecermin pada buku Pramoedya Ananta Toer: Realisme Sosial. Buku itu diluncurkan 31 Desember 2003 di Universitas Islam Jakarta.

Budi Darma juga menyebut Pram sebagai orang yang sangat peka pada realitas sosial dan kemanusiaan. Ini sudah tampak lewat novelnya, Midah si Manis Bergigi Emas, yang terbit pada 1950-an. Begitu juga pada kumpulan cerpen Cerita-Cerita dari Blora yang juga terbit pada kurun itu. "Tetapi, isinya masih cerita kemanusiaan biasa," ujar mantan rektor IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya, Red) itu.

Sikap anti penindasan Pram semakin terasa saat dia aktif di Lekra. "Tetapi, waktu itu tulisannya lebih banyak slogan-slogan sehingga kurang mempertimbangkan estetika," ujar pria kelahiran Rembang pada 25 April 1937 tersebut.

Estetika justru digarap Pram dengan apik saat dia dijebloskan ke Pulau Buru. "Novel-novelnya, misalnya Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, yang lahir di sana memang masih memihak realisme sosialis. Tetapi, estetikanya sudah menonjol," kata Budi Darma.

Salah satu kekuatan Pram adalah kemampuannya bercerita. Dia piawai menyusun plot yang apik. Selain itu, dia juga mampu menggali sejarah Indonesia secara detail.

Itulah, kata Budi Darma, yang harus diteladani sastrawan-sastrawan masa kini. "Kemampuan bercerita, alur yang kuat, serta cerita yang membumi," kata Budi Darma.

Kesan yang sama diungkapkan Romo Mudji Sutrisno. "Sejak dulu Pram dikenal sebagai penulis sastra yang mendidik, bagaimana dapat lepas dari penindasan," katanya saat ditemui Jawa Pos di sela-sela pemakaman.

Berbeda dengan Dita Indah Sari. Bagi Dita, Pram adalah sosok yang mau berkorban bagi nasib kelompoknya. Pram pernah membela para aktivis yang ditahan karena peristiwa 27 Juli 1996."Pram mengeluarkan pernyataan yang isinya meminta agar Megawati dan PDIP membela para aktivis tersebut," tegasnya.

Hal yang membanggakan Dita adalah dirinya dan Pram pernah menerima Ramon Magsasay Award. Dita menerima pada 2001 dan Pram pada 1997. "Kami punya kebanggaan yang sama. Apresiasi dunia internasional lebih besar daripada dalam negeri," katanya.

Sementara itu, Budiman Sudjamitko menyebut Pram adalah penjuang sejati. Pram masih tetap ingin berjuang sampai akhir hayatnya.

Tak kurang 20 penghargaan dunia internasional diberikan kepada Pram. Tapi, hingga akhir hayatnya, belum satu pun penghargaan yang diberikan oleh Indonesia kepada putra asal Blora itu. Tak mau dianggap telat, pemerintah saat ini tengah mengkaji karya-karya Pram untuk memberikan beberapa anugerah.

"Karya-karyanya masih kita telaah. Nanti ada beberapa yang akan kita berikan anugerah," ujar Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik. (nik/yog/dos)


           
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke