1. Berkat Pram, Muncul "Maxist" & ML, Wawancara Radio Nederland
dengan Max Lane

2. Pram, Sebuah Puisi, Oleh Harry Seldadyo

====================================================================

Berkat Pram, muncul "Maxist" & "ML"

Saya mengenal dia di Amsterdam, dan belakangan di tengah demonstrasi
pro kemerdekaan Timor Timur di Manila pada 1994. Ternyata dia adalah
mantan diplomat Australia yang dipecat gara gara menerjemahkan empat
karya Pramoedya Ananta Toer. Dia sendiri, Max Lane, mengalami
perubahan revolusioner dalam dirinya berkat pendalaman dan
penerjemahan karya karya Pram itu. Belakangan, Max disebut "Mbah"nya
PRD. Sejak itu muncul banyak "Maxist"…

http://www.ranesi.nl/arsipaktua/Asia/max_lane060501

Max Lane Berubah karena Pram

Ranesi 01-05-2006

Karya-karya sastrawan besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer yang
berpulang Ahad lalu dikenal oleh dunia internasional. Itu jelas
berkat pekerjaan para penerjemah Pramoedya. Banyak orang
menerjemahkan karya Pramoedya ke dalam pelbagai bahasa dunia, salah
satunya adalah Max Lane, warga Australia yang menerjemahkan empat
karya Pramoedya ke dalam bahasa Inggris. Hidup Max Lane sendiri
mengalami perubahan besar karena Pramoedya Ananta Toer.
Tertarik karena kualitas

Berikut penuturan Max Lane kepada Radio Nederland Wereldomroep.

Max Lane [ML]: Saya sudah terjemahkan Bumi Manusia, Anak Semua
Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca dan juga sudah selesai
diterjemahkan Arok Dedes dan juga Hoakiau di Indonesia.

Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Bagaimana ada niat diri anda
untuk menerjemahkan buku-bukunya Pram itu?

ML: Ya saya baca Bumi Manusia sebelum terbit sebenarnya, dalam
bentuk naskah, tahun 1980. Siapa pun yang membaca buku yang sebagus
Bumi Manusia itu akan ingin supaya sebanyak mungkin orang
membacanya. Jadi saya berharap sekali sebanyak mungkin orang
Indonesia membacanya, tetapi juga sebanyak mungkin orang di dunia
bahasa Inggris. Jadi langsung berniat untuk menerjemahkannya ke
dalam bahasa Inggris.

Pada saat itu juga sehabis baca, saya pergi ke Pak Pram dan juga
kepada Pak Joesoef Isak untuk membicarakan kemungkinan diterjemahkan
ke dalam bahasa Inggris.

Suara revolusi bangsa

RNW: Jadi itu karena anda tertarik pada kualitasnya begitu?

ML: Kualitasnya dan isinya. Bukan hanya kualitasnya dalam semacam
ukuran sastra, tetapi sebagai suara dari revolusi bangsa Indonesia
itu, suara yang kental sekali dengan kerevolusionerannya dan dengan
kekayaan pengalaman revolusi nasional Indonesia. Padahal buku itu
hanya menggambarkan asal mulanya. Tapi dengan menggambarkan asal
mulanya revolusi Indonesia itu, kita bisa membayangkan betapa kaya
dan betapa membebaskan proses revolusi yang mulai pada abad 20 itu.
Sebenarnya ini revolusi nasional. Suatu proses di mana segala
sesuatu itu digulingkan, melahirkan sesuatu yang sama sekali
sebelumnya tidak ada. Yaitu Indonesia. Atau watak pribadi seperti
Tirto Adhisoerjo si Minke itu. Juga sebelumnya belum ada sama sekali
di atas bumi Indonesia. Jadi Pramoedya itu bisa menggambarkan proses
penciptaan sebuah makhluk baru. Dan ia menggambarkan proses itu
dengan sangat mengesankan sehingga kita itu tidak mau berhenti
membacanya.

RNW: Bagaimana anda bisa menceritakan pengalaman anda pada waktu
menerjemahkan keempat buku itu terutama?

ML: Kalau pengalaman menerjemahkannya itu sendiri, ya sebenarnya
pengalaman lebih tenggelam, dan lebih berhadapan sekaligus dengan
pikiran-pikiran dan ide-ide Pramoedya itu. Kalau proses terjemahan
sendiri, terus terang itu, pertama, itu 20 tahun yang lalu. Kedua
kalah, kalah sebagai satu pengalaman dengan harus menghadapi pikiran-
pikiran, ide-ide dan analisa Pramoedya tentang asal usul bangsa
Indonesia dan asal usul negeri Indonesia itu sendiri.

Sejarah Indonesia

RNW: Maksudnya kalah bagaimana?

ML: Memang dalam soal menghadapi bahasa Indonesia, bahasa Indonesia
Pramoedya cukup banyak yang memusingkan juga. Tapi tidak sebanding
dengan bagaimana pikiran kita diuji. Bukan oleh bahasanya Pram, tapi
oleh ide-idenya yang sebenarnya merupakan ide-ide yang sama sekali
baru dalam menghadapi sejarah Indonesia. Kalau tidak ada Pram, yang
namanya Tirto Adhisoerjo tidak akan pernah terungkapkan.
Kalau tidak ada Pramoedya bahwa Indonesia sebagai sebuah negeri
berasal mula dari kontradiksi di antara ide-ide dan nilai-nilai yang
diangkat oleh orang-orang seperti Kartini, Tirto Adhisoerjo, Mas
Marco Kartodikromio dan lain-lain dengan kenyataan kolonialisme, itu
tidak akan terungkapkan. Dan sejarah Indonesia tetap sejarah yang
ditulis oleh orang Barat, bahwa nasionalisme Indonesia mulai dengan
Boedi Oetomo, yang kemudian diteruskan oleh sejarawan-sejarawan
Indonesia sendiri yang nerima saja analisa Belanda itu dulu,
Saya kira Indonesia adalah satu-satunya negeri di seluruh dunia, di
mana kurikulum sejarah Indonesia untuk SD, untuk SMP dan untuk SMA
ditangani langsung oleh Pusat Sejarah ABRI. Untuk hampir semua tahun
1970an dan 1980an. Jadi tentara yang langsung mengurus kurikulum
sejarah, sehingga berbagai generasi anak Indonesia, dibesarkan
dengan sejarah yang penuh kebohongan.
Sebenarnya tahun 1981, waktu Bumi Manusia terbit, kemudian disusul
oleh buku-buku Pramoedya yang lain yang diterbitkan oleh kaum
pemberani Hasta Mitra itu, dimulaikan kembali kesadaran tentang
sejarah Indonesia yang sebenarnya.

Banyak penggemar

RNW: Berkat terjemahan anda ini, maka karya Pram sampai pada pentas
dunia. Orang akhirnya membaca Pramoedya. Anda merasa di situ anda
berperan?

ML: Yah kebetulan aja karena saya kebetulan ada di Jakarta pada
waktu itu dan sempat pernah punya kesempatan menerjemahkannya. Kalau
bukan saya pasti orang lain juga yang melakukan. Tapi saya senang
juga bahwa Pramoedya bisa dibaca di seluruh dunia. Saya baru kembali
dari Amerika, di mana saya juga memberi beberapa ceramah dan kuliah
tentang Pramoedya dan kemaknaan tulisan Pramoedya untuk dunia
sekarang. Dan ternyata di Amerika penggemarnya banyak sekali.
Dan saya lihat sebenarnya di dalam buku-buku Pramoedya itu, bukan
saja suara revolusi Indonesia yang terungkapkan nilai-nilainya dan
semangatnya, tetapi ternyata menyambung dengan orang-orang Amerika
yang rindu akan semangat revolusi Amerika sendiri. Revolusi dari
abad ke-18 dan 19. Itu yang sebenarnya masih ada gema-gemanya di
masyarakat Amerika, meskipun padam. Jadi mereka nyambung juga dengan
jiwa dan semangat pemberontakan, pembaharuan dan jiwa kritis yang
ada pada figur-figur yang berperan besar dalam karya-karya Bumi
Manusia, Anak Semua Bangsa.
Banyak sekali orang Amerika justru cinta sekali pada Nyai Ontosoroh,
cinta sekali pada Minke, ternyata.

Diusir

RNW: Saya mendapat kesan anda berusaha mengecilkan peran anda
sendiri nih. Waktu anda menerjemahkan buku-buku Pramoedya itu, anda
kan bekerja di Indonesia sebagai diplomat Australia?

ML: Betul, betul.

RN: lalu Anda diusir kan itu?

ML: Bukan disuir tapi dipecat oleh duta besar Australia. Disuruh
pulang oleh duta besar Australia. Karena dianggap menerjemahkan buku
itu bukan sesuatu yang bersifat diplomatis. Karena pada waktu itu
dianggap menerjemahkan buku terlarang. Tidak pantas untuk dilakukan
oleh seorang diplomat katanya.

RNW: Jadi duta besar Australia menjadi kepanjangan tangan Soeharto
begitu?

ML: Rupanya. Rupanya Tapi pemerintah Indonesia sebenarnya pada waktu
itu, saya belum pernah dengar ada apa-apa. Jadi ini adalah duta
besar Australia atas pikirannya sendiri bertindak dulu.

RNW: Tapi anda sudah sadar itu, bahwa resikonya ada?

ML: Sebenarnya saya tidak menduga akan secepat itu. Aku ketemu
dengan duta besar, waktu dia sudah mengetahui itu dia
mengatakan "Oke kamu pulang besok!". Aku tidak menduga bahwa akan
sebiadab itu. Sebarbar itu duta besar Australia. Tapi ternyata
begitulah para pejabat kementrian luar negeri di banyak negeri.

RNW: Anda tidak kasih tahu dia, atau bagaimana, dia tahunya
belakangan saja?

ML: Aku memberi tahu dia sesudah selesai. Bahwa hobi waktu akhir
pekan aku, dalam rangka menyumbang hubungan yang lebih baik di
bidang kebudayaan di antara rakyat Australia dan rakyat Indonesia,
saya menerjemahkan Bumi Manusia.

Sama dengan sebelumnya saya sudah terjemahkan sandiwara W.S Rendra
Kisah Perjuangan Suku Naga yang sebenarnya langsung kritik terhadap
pemerintahan Soeharto. Tapi ternyata mungkin karena Pramoedya
dianggap komunis atau apa oleh duta besar Australia. Goblok seperti
itu.

Sangat Berpengaruh

RNW: Jadi sebenarnya perjalanan hidup anda ditentukan oleh Pramoedya
ini, sedikit banyak?

ML: Sangat-sangat berpengaruh. Sebenarnya bukan hanya dipulangkan
dari kedutaan Australia, tapi ide-idenya, pikiran-pikirannya sangat
mempengaruhi hidup saya. Sesudah membaca buku Pramoedya, sesudah
kembali ke Australia saya memang terjun dan tenggelam di gerakan
aktivis demokrasi dan sosialis Australia sejak saat itu.
Bahkan bisa dikatakan, yang merekrut aku kepada gerakan  progresif
di Australia dan di Indonesia ini adalah Pramoedya Ananta Toer,
melalui karya-karyanya. Seluruh hidup saya berubah akibat membaca
buku-buku dia.

Berubah

RNW: Max Lane yang sebelum membaca buku Pramoedya seperti apa dan
Max lane sesudah baca Pramoedya seperti apa?

ML: Yah, Max Lane sebelum baca Pramoedya orang baik-baik saja yang
mau jadi diplomat. Max Lane yang sesudah membaca buku-buku Pramoedya
full time jadi aktivis politik, ikut gerakan progresif, menjadi
aktivis full time yang prioritas utamanya adalah bagaimana membantu
pergerakan mencari keadilan sosial. Sebelumnya orang baik-baik yang
mau menjadi diplomat. Aduuh, malu juga.

RNW: Hahaha, gitu yah rasanya?

ML: Tapi di lain sisi sampai sekarangpun aku masih menerima surat
dari pembaca, yang berterima kasih. Mereka tulis, "Sdr. Max Lane
trims ya sudah menerjemahkan buku ini. Saya mulai bacanya dari awal
sampai akhir dalam satu malam suntuk dan saya menjadi fans Pramoedya
untuk selama-lamanya."
Jadi selama masih dapat cukup banyak surat seperti itu saya merasa
cukup puas dengan pekerjaan itu.
Tapi ada satu dosa besar yang sedang terjadi di masyarakat
Indonesia. Yaitu bahwa karya-karya sastra hebat Pramoedya ini sama
sekali tidak dipelajari di sekolah. Itu satu dosa besar. Sama
seperti Shakespeare atau Dickens tidak dipelajari di sekolah
Inggris. Atau sama dengan Steinbeck atau Hemmingway tidak dipelajari
di sekolah-sekolah Amerika. Itu satu kejahatan besar.
Jadi tantangan sekarang adalah bagaimana pencinta-pencinta Pramoedya
dan pencinta-pencinta revolusi Indonesia bisa bergerak, bisa
berkampanye, bisa menuntut supaya buku-buku Pramoedya ini menjadi
bacaan wajib di semua sekolah Indonesia. Dan kalau masyarakat
Indonesia diam dan tidak menuntut itu, itu namanya mengkhianati Bung
Pramoedya ini.

Harus jadi bacaan wajib

RNW: Mungkin juga mengkhianati keindonesiaan mereka sendiri?

ML: Betul juga. Terutama buku-buku Pramoedya harus jadi bacaan
wajib. Orang-orang Indonesia harus bersuara. Saya berharap acara
bung nanti kalau disiarkan ke Indonesia juga pesannya itu.
Bangkitlah dan menuntut buku-buku Pramoedya jadi bacaan wajib. Akan
mulailah sebuah revolusi kebudayaan Indonesia yang akan menghidupkan
kembali semangat revolusi Indonesia.

Berapa juta anak Indonesia dicuri kesempatannya belajar melalui
sastra Pramoedya ini? Jutaan anak menunggu buku ini. Adam Malik dulu
waktu wakil presiden, ketemu dengan Pramoedya, Pak Joesoef Isak,
Hasjim Rachman, juga berseru bahwa buku ini harus jadi bacaan wajib
di sekolah. Sudah waktunya itu direalisir.

Dan pemeritah Indonesia tidak akan melakukan itu secara suka rela.
Masyarakat harus menuntut dan memaksa. Jangan menunggu pemerintah
bertindak. Menunggu seribu tahun enggak jadi-jadi.

===============================================================

http://www.ranesi.nl/tema/budaya/pram_060502

Pram

Sebuah Puisi

Harry Seldadyo 02-05-2006

Pram
Kenalpun aku tak berharap
Tapi kudengar kau dari riuh gegap
Dulu, kucari penamu dalam bisik dan endap
Sembunyi kubaca di sudut sepi nan senyap
                        … takut tertangkap

Ketika bebas menyergap
Namamu lagi disebut dalam cakap
Ini soal ampun dan maap
Pada apa yang pernah kau buat
... sengaja atau khilap

Ya! Celaka harus diungkap
Tidak! Yang lewat biar hilang-lenyap
Kumandang puja dan cela lalu berderap
Tapi jarimu terus menulis gerlap
                       ... tanpa rehat

Kini kau dalam abadi lelap
Ke Sang Khalik, pergi kau menghadap
Aku di sini saja, menatap
Hingga waktuku tiba genap
                       ... ke hadirat

Ah, Pram ...

Groningen, hari ini 1 Mei 2006







***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke