Republika, Selasa, 09 Mei 2006

Asrori

Oleh : Ahmad Syafii Maarif



Di suatu sore di Perumahan Nogotirto tanggal 25 April
2006, seorang lelaki separuh baya menawarkan tali
plastik kepada saya. Karena saya mau beli, meteran
lalu dikeluarkannya untuk mengukur tali itu.
Penampilannya yang lugu dan polos telah menggoda saya
untuk mewawancarainya. Bicaranya yang agak kurang
jelas dalam bahasa Jawa, bisa saya tangkap 100 persen.
Sambil mengeluarkan SIM C-nya, ia menyebut namanya
Asrori (45). Berasal dari Mlangi, desa yang banyak
pesantrennya, tidak jauh dari perumahan.

Saya tanyakan, mana sepeda motornya? Dijawab, sudah
dijual untuk ongkos anak sekolah. Anak nomor 1 dan 2
rampung SMP langsung masuk pesantren yang tidak jauh
dari rumahnya dengan biaya all in dua beradik hanya Rp
125 ribu. Luar biasa bukan? Anak nomor 3 masih SD,
sedangkan yang nomor 4 baru berusia dua tahun.

Istrinya yang pernah dua kali ke Saudi kini menerima
pesanan jahitan dengan pendapatan yang tidak seberapa.
Di Saudi, istrinya hampir saja diperkosa oleh orang
Arab, tetapi diselamatkan Tuhan. Kita tidak tahu sudah
berapa banyak TKW kita yang menjadi korban kenekatan
jahanam ini di berbagai belahan bumi. Menurut Asrori,
penghasilan mereka sekarang hanyalah sekadar untuk
menyambung hidup dari hari ke hari.

Sudah sejak 1975 Asrori mengelilingi Yogya dengan tali
plastiknya bersama sepeda tua yang dikayuhnya ke sana
ke mari. Di samping plastik, ada juga obat tikus, dan
lain-lain. Ditaruhnya dalam sebuah kotak kayu kecil.
Jika dagangannya laku sampai Rp 75 ribu sehari, untung
bersihnya hanyalah sekitar 25 persen.

Ketika nama saya ditanyakannya, saya jawab Syafii
Maarif. ''Sama dengan Maarif yang mengurus masalah
pendidikan itu,'' komentarnya. Mlangi memang dikenal
sebagai salah satu benteng NU dengan para kiainya.
Asrori tampaknya adalah warga NU yang mudah sekali
akrab dengan orang lain yang baru dikenalnya.

Dari pembicaraan kami sore itu, sadarlah saya bahwa
manusia Asrori adalah tipe manusia yang penuh tawakal
dalam mencari rezeki. Filosofinya sederhana: Asal
bergerak, Allah pasti memberi imbangan. Dikatakannya,
malam ia biasa shalat Tahajud, pagi hari shalat Dhuha
sambil memohon kepada Allah agar senantiasa dilindungi
dan diberi rezeki yang halal. Perkataan halal ini
diulang-ulangnya. Mungkin ia tahu sebagian masyarakat
sudah tidak hirau lagi dengan masalah halal-haram.
Asal dapat, jangan ditanya lagi dari mana sumbernya.
Asrori punya kepekaan batin untuk tidak terjebak pada
yang haram.

Sekalipun hidupnya sangat sederhana, di wajahnya tidak
terbayang tanda kegelisahan dan kemuraman. Ia pasrah,
tetapi harus bergerak terus tanpa henti saban hari.
Dengan caranya sendiri, Asrori mengayuh bahtera hidup
ini tanpa grusa-grusu (tergopoh-gopoh). Ia tenang,
setenang sepeda tuannya yang setia. Bila lewat
perumahan, sepedanya biasa dituntun sambil menawarkan
barang dagangannya. Saya tidak tahu mengapa baru
sekarang ini berjumpa Asrori, padahal saya sekeluarga
telah tinggal di perumahan ini sejak 1985.

Mungkin ketika lewat perumahan, saya kurang
memperhatikannya selama ini. Saya teringat dalam salah
satu karya Hamka yang menggambarkan bahwa boleh jadi
di rumah-rumah besar dan mewah air mata lebih banyak
tertumpah karena kebahagiaan tidak kunjung datang,
dibandingkan dengan rumah-rumah sederhana dan kecil.
Tentu kita tidak perlu mengidolakan seorang Asrori.
Tetapi, ketabahannya dalam melangsungkan hidup secara
halal selama 31 tahun, patut dicatat. Tidak mustahil
manusia seperti Asrori ini akan lebih dulu masuk surga
dibandingkan dengan penulis Resonansi ini yang
kadang-kadang masih juga gelisah tanpa suatu sebab
yang jelas.

Tampaknya Asrori punya rasa tawakal melebihi saya.
Berkali-kali saya pandang wajahnya sambil ia terus
saja berbicara. Kepasrahannya yang tulus adalah modal
utamanya dalam menghadapi serba kesulitan hidup yang
sedang menerpa jutaan anak bangsa ini.

Untuk membiayai rumah tangga, Asrori berbagi tanggung
jawab dengan istrinya. Masalah beras adalah bagian
istrinya, lauk pauk dan biaya anak menjadi tanggung
jawabnya. Mungkin pendapatannya bergerak antara Rp 600
ribu dan Rp 700 ribu per bulan dengan jumlah enam
mulut yang harus diberi makan. Dua anaknya yang
belajar di pesantren mengunjungi orang tuanya sekali
dalam satu minggu. Kata Asrori, di rumah mereka
dibiarkan makan secukupnya, tetapi tidak boleh sambat
(mengeluh) jika lauk pauknya tidak memadai. Yang
sedikit memprihatinkannya adalah anaknya yang kedua
suka merokok murahan. Sudah ditegur berkali-kali,
tetapi belum berhasil. Tentu dibandingkan dengan
penghisap narkoba, kebiasaan merokok bocah ini tidak
ada apa-apanya, tetapi tokh orang tuanya tetap tidak
rela.

Bagi saya, Asrori adalah simbol rakyat kecil yang
tetap menjaga cara hidup halal, sekalipun ia harus
menggenjot sepeda tuanya dalam jarak sekitar 30 km
setiap hari selama 31 tahun. Ia pantang menyerah.
Keluguannya dalam berbicara adalah pertanda bahwa
batinnya bersih. Hidup yang begini ganas disikapinya
dengan cara yang sangat elegan (halus). Itulah sosok
Asrori, sahabat kita semua.




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke