Baru tahu lho bahwa banyak muslim yang sontoloyo, yang backgroundnya pesantren ? Kalau karena seorang muslim lebih memilih belajar di pesantren bukan berarti ingin terkungkung dalam sangkar
tapi di pesantren memang lebih intensif. Apa orang yang belajar Islam di Chicago lebih pinter  dari orang yang belajar pesantren Tebu Ireng atau gontor ? Saya merasa tidak demikian. Orang pesantren
tidak Jumud seperti yang digambarkan BK. Tapi semuanya dikembalikan kepribadi masing-masing, kalau ada yang senang berkelahi itu bukan Islamnya tapi orangnya yang memang lebih mengedepankanhawa
nafsunya dibandingkan dengan kalbu dia.  
-----Original Message-----
From: "Alvin Daniel" <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Date: Mon, 22 May 2006 04:13:53 -0000
Subject: [ppiindia] Re: ISLAM (tidak segitu) SONTOLOYO

> AD: masih banyak yg sontoloyo, apalagi bagi mereka2 yg
> memang selalu membawa2 bendera agama sambil merusak
> fasilitas umum, mengancam orang2 yg berbeda pendapat, serta
> memaksakan orang lain agar setuju dengan filosofi
> agamanya...itu juga sontoloyo.
>
> banyak islam yg anti-sontoloyo, yaitu bagi mereka2 muslim yg
> bisa sekolah tinggi, banyak bergaul dgn orang lain (non islam),
> dan juga yg mau belajar banyak dari sejarah dunia...alias islam
> moderat/ reformis.
> sialnya, islam yg anti-sontoloyo ini sering kalah secara fisik oleh
> pihak yg sontoloyo, apa boleh buat memang si sintoloyo ini
> jumlahnya banyak dari desa sampai ke kota.
> dan juga si sontoloyo itu selalu memakai fisik untuk
> berargumen, bila sudah kalah beropini mereka pasti
> mengancam dan merusak...
>
> kalau mau jadi islam yg anti-sontoloyo, belajarlah dari Turki yg
> minggu lalu meperingati hari berdirinya Negara Sekular Islam
> Turki untuk kesekian tahunnya...
>
> ayo tinggalkan ke-sontoloyo-an...
>
>
>
> --- In [email protected], Robertus Budiarto
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > TEMPO edisi. 13/XXXV/22 - 28 Mei 2006
> >   Islam Sontoloyo  A. Suryana Sudrajat
> >   ·  Mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam pada Program
> Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
> >  
>
>
> >   Anda mungkin bertanya: sudah enam dasawarsa lebih
> sekarang sejak BK mewacanakan Islam sontoloyo. Bolehlah
> dipastikan sebagian dari aspek-aspek kesontoloyoan yang
> diungkap BK itu sudah menguap dari alam pikiran dan jiwa
> kaum muslimin. Anak-anak muda banyak yang berpikiran maju,
> pesantren sudah memodernisasi diri, para santri tidak melulu
> sibuk dengan ibadah ritual, melainkan menyebar ke segala
> lapang kehidupan, bahkan sempat ada yang jadi pre-siden,
> seperti BK, meskipun sebentar. Jadi, adakah kini yang disebut
> Islam sontoloyo itu?
>
> >   Kalaulah kita berpegang pada kamus bahwa sontoloyo
> berarti bodoh, konyol, atawa tidak beres, terus terang saja
> ja-wabnya ada dan banyak. Lihatlah bagaimana kaum birokrat,
> para elite militer, para pemimpin partai, atau para pedagang
> besar, yang berlindung di balik kedamaian agama, dan mencari
> penyelamatan diri melalui ritual, sementara tidak peduli, atau
> tidak mau tahu, bahwa mereka korup, suka merampas, atau
> mengompas kawan sendiri, atau tutup mata terhadap berbagai
> kejahatan dan keculasan di sekitar mereka.
> >   
> >   Mereka mengira sudah menjadi mukmin hanya dengan
> berzikir, salat, naik haji, sedekah, menangis-nangis di layar TV,
> atau merusak papan reklame bir dan tempat hiburan. Lalu, ada
> juga yang ingin mengembalikan tata pemerintahan ke zaman
> lampau, menerapkan syariat dengan hukum-hukum pada abad
> ke-7 Masehi, tanpa bersedia memahami keadaan sekeliling.
> Ada lagi yang memanipulasi simbol-simbol keagamaan untuk
> kepentingan politik, sementara antidemokrasi, tidak
> menghormati hak asasi manusia, berjihad secara ngawur. Ada
> yang memperdagangkan kegiatan keagamaan, ada yang
> dengan bangga main bom dan membunuhi orang-orang. Jadi,
> seperti kata BK dulu, insaflah bahwa "Islamnya kita masih Islam
> sontoloyo".
> >   
> >  
> http://www.tempointeraktif.com/hg/mbmtempo/arsip/2006/05/22/
> KL/mbm.20060522.kl2.id.html
> >   
> >
> >            
> > ---------------------------------
> > Ring'em or ping'em. Make  PC-to-phone calls as low as
> 1¢/min with Yahoo! Messenger with Voice.
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>
>
>
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

> Yahoo! Groups Links
>
>
>




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke