Minggu, 14 Mei 2006
BURAS
Sewindu Reformasi!
H. Bambang Eka Wijaya -
"ORANG Jakarta bulan Mei ini bicara sewindu reformasi!" ujar Umar. "Di daerah, dimensi apanya yang penting?"
"Perubahan dari pemerintahan sentralistis ke desentralisasi kekuasaan dengan otonomi daerah!" jawab Amir. "Tapi harus tetap diingat, dasar perubahan itu Tap MPR tentang Pemerintahan yang Bersih dari KKN--korupsi, kolusi, dan nepotisme!"
"Setelah sewindu, bagaimana hasil reformasi dalam otonomi daerah?" kejar Umar.
"Spektakuler!" tegas Amir. "Justru setelah sewindu reformasi, anak seorang pejabat teras di podium resepsi ormas yang dia pimpin bicara lantang pada publik tamu undangan: 'Saya ini anak pejabat, jadi wajar dong kalau saya bisa mengatur proyek!'."
"Huahaha...!" Umar terbahak. "Jika sebelum reformasi orang korupsi di bawah meja, setelah reformasi bukan saja KKN di atas meja, tapi malah disombongkan di podium!"
"Itulah realitas otonomi daerah!" tukas Amir. "Daerah berubah menjadi kerajaan-kerajaan kecil tanpa sistem kontrol demokrasi atau hukum yang memadai! KKN lebih kasar dan terbuka dari era sebelumnya!"
"Sistem kontrol demokrasi di daerah lumpuh karena kebanyakan legislatornya menjadikan DPRD sebagai lahan memenuhi kepentingan pribadi!" timpal Umar. "Tapi sistem kontrol hukum, bukankah kini disebut-sebut sangat agresif hingga banyak aparat pemerintah daerah menolak jadi pimpro?"
"Mereka menolak jadi pimpro karena itu tadi, harus mau dipaksa menyalahi atau bahkan melanggar prosedur untuk memenuhi kehendak keluarga pejabat teras yang mengatur proyek!" tegas Amir. "Ketika pelanggaran itu tercium aparat hukum, dia harus bertanggung jawab sendiri!"
"Kan dia bisa bicara terus terang siapa yang mengatur dan menikmatinya!" timpal Umar.
"Kau pikir bawahan berani mengungkap itu? Sudahlah dia celaka, keluarganya di luar bisa lebih menderita lagi kalau ia melakukan itu!" sambut Amir. "Sebab itu, bawahan bisa seketika pingsan dan jatuh sakit fatal--ada yang sampai pura-pura gila--saat dipaksa menyebut yang mengatur atau atasannya!"
"Sebaliknya kalau dia bisa terus menutupi keterlibatan kekuasaan di atasnya, selain keluarganya tetap aman selama ia ditahan, perkaranya juga diam-diam diurus atasan!" tukas Umar.
"Kira-kira begitu!" timpal Amir. "Kasusnya pun tak kunjung naik ke pengadilan, kalaupun diadili ada peluang untuk divonis bebas!"
"Divonis bebas?" entak Umar.
"Wajar kan, karena memang bukan dia yang harus bertanggung jawab! Sedang yang seharusnya bertanggung jawab, untouchable--tak tersentuh!" tegas Amir. "Bawahan yang mampu melindungi atasan dalam kasus hukum, mendapat kredit poin, setelah kasus selesai, dia diberi jabatan!"
"Contoh buat koleganya, melindungi atasan dalam kasus KKN merupakan loyalitas tertinggi!" timpal Umar. "Akibatnya, KKN kian melembaga pada era otonomi yang berlabel pemerintahan bersih amaran reformasi!" **
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

