Refleksi: Rupanya kalau reformasi  tidak dibusukan berarti petinggi partai politik dan negara di semua tingkat tidak dianugerahi berkat Illahi.

http://www.suarapembaruan.com/News/2006/05/22/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY
Pembusukan Reformasi Terus Dilakukan
[JAKARTA] Tepat satu windu reformasi bergulir, namun sejumlah agenda besar reformasi yang menjadi cita-cita masyarakat dan bangsa Indonesia yang rindu akan perubahan, ditegakkannya demokrasi dan dijunjung tingginya nilai hak asasi manusia masih jauh panggang dari api. Ironisnya, penyelewangan, pengingkaran, dan pembusukan terhadap agenda reformasi terus dilakukan sekelompok orang yang tidak ingin kemapanannya terusik.
Demikian benang merah pokok pembicaraan Pembaruan dengan sejumlah tokoh dibalik gerakan reformasi seperti Rektor Universitas Diponegoro dan Sekretaris Eksekutif Forum Rektor Indonesia, Prof Drs Eko Budihardjo, pengamat hukum dan politik Universitas Indonesia, Dr Arief Susanto, aktivis mahasiswa 98, Taufik Riyadi dan Donato Hario.

"Untuk mengembalikan cita-cita dan semangat reformasi kembali pada track atau jalannya, saya memberi resep TITS to u. T untuk trust atau mengembalikan rasa kepercayaan rakyat yang terlanjur buruk kepada pemerintah, atau kembalikan rasa kepercayaan buruh kepada majikan. I itu saya terjemahkan integrity atau integritas pemimpin harus benar-benar amanah dan bebas korupsi, kolusi dan nepotisme. T berikutnya saya terjemahkan menjadi toleransi karena sekarang ini semua orang ingin menang sendiri dan pluralisme serta kemajemukan semakin jauh," ujar Prof Eko.

Sedangkan S, ujarnya diterjemahkan dengan kata spirit atau semangat. "Saya mengajak seluruh komponen bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan dan membangun kembali sendi-sendi kehidupan berbangsa serta bernegara," katanya.

Sedangkan pengamat politik, Dr Arief Susanto menegaskan dalam waktu delapan tahun ini, reformasi di sektor peradilan masih dalam tahap wacana. Karena itu, mimpi bangsa ini untuk memiliki lembaga peradilan yang independen dan berkeadilan pun masih sekadar isapan jempol.

"Di sektor politik dan ekonomi tidak dapat dipungkiri telah terjadi beberapa perubahan, meski sekarang ini angka pengangguran terus bergerak naik dan lebih 40 juta anak bangsa ini tidak memiliki pekerjaan alias menganggur. Langkah mundur itu ditandai oleh terbongkarnya rangkaian aib yang melibatkan semua unsur dalam sebuah proses peradilan," katanya.

Dan, yang sangat menakutkan, tampak dengan jelas adanya upaya yang sangat kuat untuk memetieskan aib-aib itu, dengan argumen hukum tentang hakikat bukti untuk menjerat hakim, jaksa dan panitera pemakan suap. Inilah yang membuat masyarakat pesimistis terhadap penegakan hukum dan reformasi peradilan.


Ikut Terseret

Dikatakan sejumlah orang "terhormat" dari kalangan akademisi dengan gelar profesor atau doktor yang diandalkan melakukan reformasi peradilan bagi tegaknya hukum, justru ikut terseret-seret dalam serangkaian tindak korupsi dan pemerasan. Permintaan pertanggungjawaban kepada mereka, digugurkan dengan kalimat cukup pendek, Belum lama ini, sejumlah hakim agung memilih kembali Ketua MA, Bagir Manan sebagai komandannya. Padahal, baru-baru ini, Bagir terindikasi menerima suap dalam kasus Probosutedjo. Bagir juga dikecam karena banyak perkara di MA yang tak selesai. Bahkan dia pun tidak merespons panggilan KPK.

Sedangkan aktivis 98, Taufik Riyadi menegaskan agenda tuntutan pembersihan KKN yang menjadi amanat reformasi merupakan pekerjaan rumah yang belum berhasil diselesaikan. Perilaku korupsi kini bahkan kian luas di berbagai wilayah akibat kebijakan desentralisasi kekuasaan.

"Pemberantasan KKN yang terlihat sungguh-sungguh dilaksanakan pemerintahan saat ini memang cukup menyiratkan harapan, dengan membuka borok-borok korupsi yang bahkan menimpa semua lembaga-lembaga terhormat di negeri ini. Namun dengan begitu, kita jadi tahu, betapa parahnya gurita korupsi itu. Dan pemerintah jangan melakukan tindakan KKN dengan pola tebang pilih," ujarnya

Senada dengan itu aktivis 98 yang lain, Donato Hario menilai kondisi paling dikeluhkan ditujukan pada tuntutan reformasi yang terkait dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dalam bidang mikro ekonomi, harapan agar reformasi membawa perubahan ke arah perbaikan hanya berbuah harapan yang sia-sia. Perbaikan ekonomi jauh tertinggal di belakang kebebasan politik. Kondisi paling terpuruk terletak pada beban biaya hidup dan perekonomian sehari- hari yang dirasakan kian berat oleh masyarakat.

Delapan puluh dua persen responden memandang jalannya reformasi saat ini belum mampu memenuhi amanat agar harga sembako lebih murah dan terjangkau rakyat banyak.

Sementara itu, sulitnya memperoleh pekerjaan membuat masyarakat menilai reformasi belum mampu memberikan jaminan perbaikan hidup masyarakat sebagaimana diharapkan semula. [E-5]


Last modified: 22/5/06

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke