http://www.suarapembaruan.com/News/2006/05/22/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY
Kebangkitan Memperjuangkan Kepentingan Bangsa
Oleh Putera Manuaba

Dari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) yang jatuh setiap tanggal 20 Mei, sejak dulu sudah menjadi satu materi sejarah bangsa yang paten, karena sudah dihafal sejak sekolah dasar. Siapa pun yang mengaku sebagai bangsa Indonesia pasti sudah tahu bahwa Harkitnas adalah hari yang memiliki nilai penting bagi bangsa kita.

Namun, ironisnya, amat sedikit yang mau menghayati nilai historis dari hari bersejarah itu. Akibatnya, sekarang ini, begitu banyak orang yang justru melakukan tindakan yang justru tak mendukung spirit kebangkitan nasional itu.

Dalam momen peringatan Harkitnas pada tahun ini kita seharusnya benar-benar mau bangkit kembali untuk memperjuangkan kepentingan nasional bangsa kita. Selama ini kita terlalu asyik dengan hanya mengurus kepentingan diri sendiri. Kita seperti melupakan apa sebenarnya tanggung jawab kita sebagai warga bangsa.

Harkitnas, yang jatuh setiap tahun, hendaknya senantiasa dapat kita pakai sebagai pengingat dan sekaligus pembangkit kesadaran pada arti pentingnya sebagai warga negara untuk turut memikirkan dan membangun bangsa, negara, dan Tanah Air.

Saat ini kita lihat betapa bangsa Indonesia begitu tertatih-tatih berjalan. Negara, bangsa, dan Tanah Air kita seperti tak terurus dan tak terpelihara. Negara, bangsa, dan Tanah Air diposisikan hanya jadi objek bagi mereka yang memiliki kesempatan untuk mengurasnya. Konsekuensinya, negara kita makin jelas di mata dunia sebagai negara miskin, terkebelakang, dan penuh utang.

Bangsa kita juga seperti tak ada yang mengurus, sehingga masih banyak anak-anak bangsa yang telantar, entah dalam pendidikan, kesehatan, nasib, dan seterusnya. Tanah Air kita tampak juga makin hancur, yang dapat kita lihat dari banyaknya hutan yang gundul, banjir bandang, pencemaran sungai, dan lingkungan yang kotor.

Selain itu, sebagai sebuah bangsa yang harusnya beradab dan berbudaya, kita makin mengalami krisis mentalitas. Akibatnya, terjadi korupsi terus-menerus yang merajalela tanpa ada ujungnya. Di mana ada kesempatan di sana orang korupsi. Orang berduyun-duyun meniti karier, dan ketika sudah sampai di puncak karier atau memiliki kekuasaan dalam jabatannya kemudian melakukan korupsi besar- besaran.


Politik Hitam

Nilai-nilai kejujuran, kesantunan, dan persahabatan tergilas bersama ganasnya dunia politik hitam (black politics). Dan kini politik di negeri ini nampak tak dimaknakan seperti tujuan awalnya yakni sebagai keahlian atau strategi mengatur negara agar rakyat makin tersejahterakan.

Sekarang ini, yang ada hanya politik kepentingan untuk diri sendiri dan kelompok. Negara, bangsa, dan Tanah Air, hanya menjadi objek dan yang tak pernah dipikirkan nasibnya.

Rakyat yang seharusnya sebagai pemilik sah bangsa, negara, dan Tanah Air ini tetap telantar, kurang mendapat perlindungan, keadilan, serta jaminan kesehatan dan pendidikan yang memadai.

Di tengah budaya yang makin kapitalistik dan materialistik ini, rakyat mencari jalannya sendiri, memecahkan masalahnya sendiri, dan menghidupi dirinya sendiri semampu mungkin.

Rakyat tetap melarat di tengah isu demokratisasi, reformasi, debirokratisasi, dan globalisasi. Kesejahteraan yang dijanjikan kepada rakyat tak kunjung tiba, kesejahteraan hanya ada pada para pejabat.

Kita belum tahu siapa yang harus melindungi rakyat dari persoalan-persoalannya sendiri. Apa pun yang dilakukan oleh para penguasa, sepertinya memang kurang mempertimbangkan keberadaan rakyat miskin.

Rakyat selalu termarginalkan dan tetap tak berdaya. Usaha kecil rakyat juga banyak yang pada akhirnya tergilas, karena penguasa memang lebih berpihak pada kaum kapitalis. Sementara itu, kaum kapitalis hanya merangkul usaha-usaha besar. Mal-mal dan pertokoan-pertokoan supermodern yang tumbuh merata di seantero Tanah Air, telah membuat usaha kecil tak berkutik sama sekali.

Model pertokoan dan mal-mal ini membuat setiap daerah kehilangan identitasnya, kehilangan kekhasannya. Setiap kota sama saja di mana-mana. Ini bertentangan dengan pengembangan multikulturalisme.

Di samping itu, bangsa kita sekarang ini juga begitu mudah melakukan amuk massa dan amarah. Aksi demontrasi selalu diakhiri dengan kekerasan, kalau tidak dengan pembakaran.

Kekerasan hampir menjadi menu setiap hari, sebagaimana yang kita saksikan di mana-mana di seluruh Indonesia.

Angin demokrasi pun seperti kemudian berubah fungsi, yakni sebagai kebebasan untuk melakukan kekerasan. Arogansi DPR dalam membuat undang-undang, seperti UU Pornografi dan Perburuhan, seperti tak berangkat dari bawah (grassroot) tapi dari atas, mengakibatkan terjadinya kekisruhan pada strata masyarakat lapisan bawah dan rakyat morat-marit.

Banyaknya masalah bangsa yang tak terselesaikan atau menumpuk, membuat masalah-masalah itu makin tak mendapat pencerahan. Kasus mantan Presiden Soeharto kemudian dibekukan atau dipetieskan oleh pemerintah karena tak kunjung mampu terselesaikan. Keputusan ini tentu saja menimbulkan pro-kontra.


Ancaman Kehancuran

Ada yang menerima dan tentu banyak yang menolaknya. Hal ini tentu menyimpan pertanyaan jika dilihat dari sisi keadilan. Sebab, seakan-akan orang besar lebih mendapat keadilan ketimbang orang kecil.

Melihat realitas bangsa itu, kita seharusnya melakukan kebangkitan nasional lagi, agar bangsa kita dapat diselamatkan dari ancaman kehancuran. Kita harus bangkit dari ketaksadaran dan keterlenaan yang kurang menguntungkan negara, bangsa, dan Tanah Air.

Untuk itu, kita harus mampu memupuk rasa dan semangat keindonesiaan kita. Kita harus bangga dan kembali mau mengabdi kepada negara, bangsa, dan Tanah Air.

Kata-kata yang dianggap sudah tak berguna atau idealis seperti pengabdian, pengorbanan, dan kerja keras hendaknya kita pergunakan kembali sebagai landasan dalam menyelamatkan bangsa, negara, dan Tanah Air ini dari segala bentuk peme- rasan.


Semangat Keindonesiaan

Harkitnas, sekarang ini, harus dapat kita maknai sebagai satu kesadaran kembali bagaimana memulihkan kembali jiwa dan semangat keindonesiaan kita untuk berjuang memperbaiki negara, bangsa, dan Tanah Air.

Kita harus sadar bahwa selama ini kita sudah terlampau banyak menelantarkannya. Kini kita harus kembali bersedia bahu-membahu membangun bangsa, negara, dan Tanah Air demi masa depan generasi kita nanti.

Melalui momen Harkitnas ini, kita masing-masing perlu mulai bangkitkan diri sendiri agar kita sadar betul apa sesungguhnya tanggung jawab moral sebagai warga negara dan bangsa Indonesia.

Kita harus berusaha, bekerja, dan berjuang tak hanya bagi diri kita sendiri atau keluarga, tetapi juga bagi masyarakat, negara, dan Tanah Air.

Jika kesadaran itu dapat tumbuh pada masing-masing warga negara, niscaya kita akan mampu bangkit kembali menjadi bangsa yang kuat, percaya diri, dan memiliki masa depan yang cerah.

Untuk itu, kita harus mampu menekuni profesi kita masing-masing dengan berlandaskan kejujuran, keikhlasan, dan kebijakan. Negara, bangsa, dan Tanah Air tak akan pernah mampu kita bangun dengan baik selama setiap warga bangsa tak mendukungnya. Indonesia, akan menjelma menjadi negara kuat jika ia didukung dengan kesadaran setiap warga bangsa.

Kini kita harus bangkit kembali, agar negara, bangsa, dan Tanah Air kita benar-benar menjadi rumah idaman bersama untuk menggapai segala keberhasilan dan kemajuan. Kita harus mampu dan bertekad untuk melepas segala tindakan yang berdampak buruk bagi bangsa, negara, dan Tanah Air.

Kita harus mengedepankan tindakan-tindakan terpuji, yang nantinya dapat menjadikan bangsa, negara, dan Tanah Air kita menjadi lebih maju dan makmur.


Penulis adalah dosen Universitas Airlangga, Surabaya


Last modified: 21/5/06

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke