Catatan Mawar Merah Café Bandar:

MALAM BELASUNGKAWA PARIS MENGENANG MENGHORMATI PRAMOEDYA

2.

Acara pemutaran dimulai tepat pada waktunya.Tidak terjadi apa yang disebut  'jam karet"  ,  kebiasaan  yang sangat membosankan dan membuat jengkel.  Pertunjukkan dibuka oleh sambutan  Johanna Lederer sebagai Presiden Lembaga Persahabatan Franco-Indonesia "Pasar Malam". Seperti biasanya Johanna hanya menjelaskan maksud penyelenggaraan kegiatan secara singkat yaitu untuk menyatakan belasungkawa, mengenang dan menghormati Pram yang meninggal 30 April 2006 lalu. Johanna kemudian mempersilahkan sutradara filem "Indonésie, sur les chemins de la démocratie",  Allan Wisniewski untuk berbicara.  Dalam pembicaraan singkatnya, Allan menjelaskan proses pembuatan filem dan di mana saja filem ini telah diputar di berbagai terus tivi Perancis.

Seusai pemutaran filem, Patrice de Beer,  wartawan kawakan Harian Le Monde yang pernah menjadi perwakilan harian terkemuka Paris ini di Beijing, Washington,  dan Asia Tenggara, menyatakan kesannya pada saya: "Agak sedih ya" [Un peu triste]. Pernyataan Patrice yang saya kenal sejak puluhan tahun ini, saya pahami sebagai masih beratnya perjalanan Indonesia di jalan demokrasi. Secara pribadi ucapan Patrice ini kupahami pula sebagai tanda empati tahu betapa masih panjangnya jalan kembara masih harus kutempuh.

Sedangkan Johanna Lederer, secara khusus kepadaku melalui surat listrik [sulis] meringkaskan kesan-kesan hadirin, sebagai berikut:

"Des nombreuses appréciations reçues, voici celle qui les résume toutes :

Beaucoup apprécié le film. L'essentiel sur l'Indonésie en 50 mn.
Bravo pour la réalisation.

Evidemment le portrait de Pramoedya Ananta Toer qui nous apparaît plein de jeunesse encore.
C'était bien de le quitter sur cette image.
Amitiés,
Elisabeth Monod"

"[Kami telah menerima banyak apresiasi atas filem. Berikut adalah ikhtisarnya:

Sangat menghargai filem ini.  Selama 50 menit kita melihat hal-hal hakiki tentang Indonesia. Bravo untuk penyutradaraan.

Yang lebih mengesankan lagi tentu saja adalah potret Pramoedya Ananta Toer yang nampak masih penuh keremajaan. Sungguh baik mengekalkan hal ini di filem.  Dengan rasa persahabatan: Elisabeth Monod]. "

Tanpa mengulang apa yang sudah disarikan oleh Johanna melalui sulis Elisabeth Monod, saya hanya mau menambahkan bahwa filem ini diakhiri dengan lagu-lagu rock dengan lirik politis oleh sebuah grup rock muslim Indonesia, meninggalkan kesan dalam pada diri saya. Mereka tampil telanjang dada dengan ekpresi orang meronta-ronta kesakitan. Pada ekspresi anak-anak muda ini di panggung, saya melihat sosok tanahairku yang meronta-ronta sambil dengan susah payah menggunakan sisa tenaga yang masih ada mempertahankan mimpi dan harapan akan esok. Masih mempercayai Indonesia sebagai konsep agung dan indah. "Melalui lagu-lagu rock, kami ingin menjelaskan kepada Indonesia keadaan yang sedang dihadapi dan bahwa esok itu masih ada" sebagaimana pernah dikatakan oleh alm. Mochtar Loebis.  Pernyataan ini membanggakan, karena sebagai seniman, anak-anak muda itu tahu dan sadar akan misi kesenimanan mereka. Saya menggarisbawahi arti  penting kesadaran keseniman, karena tindakan berawal dari kesadaran dan wawasan. Pada cara pengungkapan rockers Muslim ini saya sekaligus menyaksikan tokoh Sun Wu Kung si raja kera putih yang menyerbu sorga dan mengobrak-abriknya. Tokoh idola saya. Adalah syah dan harus untuk memberontaki ketidakadilan serta menunaikan misi sang raja kera, atau si anak enggang putera-puteri naga. Indonesia adalah milik kita, bukan hanya kau atau aku, yang patut direbut kembali dan di reformat secara tanggap.  Filem Allan jadinya dibuat atas dasar suatu konsepsi matang serta keberpihakan yang manusiawi tanpa tedeng aling-aling. Rockers muda ini terasa membakarku seperti halnya Allan telah membuatku terbakar.

Sesuai rencana, seusai pemutaran filem, hadirin berbondong ke Restoran Indonesia 12 rue de Vaugirard, 75006 Paris yang terletak tidak jauh dari bioskop Accattone untuk melanjutkan diskusi, menyatakan belasungkawa, mengenang dan menghormati Pram.


Paris, Mei 2006.
--------------
JJ. Kusni

[Bersambung...]

Catatan:
Pada foto nampak Patricve de Beer dari Harian Le Monde, Allan Wisniewski sutradara filem "Indonésie, sur les chemins de la démocratie",  dan Dr.Sawitri Scherer, yang menulis tesis tentang  Pramoedya Ananta Toer.[Dari :Dokumen JJK]

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke