http://skmbulaksumur.ugm.ac.id/edisi.html?edisi=2&rubrik=poepl

Jalan Pembuktian
Ini bukan keinginannya, bukan pula mimpi yang semenjak kecil didambakannya.
Mungkin ini hanya sepenggal jalan hidup yang harus ia lewati.

Parasnya ayu. Tidak ada tanda-tanda kalau wanita ini adalah satu dari sekian
banyak penyandang predikat transeksual. Jilbabnya rapi menjuntai menambah
yakin bahwa sosok ini memanglah wanita seutuhnya. Namun kenyataannya, dialah
Shuniyya. Waria itu.

Usai seharian meladeni keingintahuan para wartawan mengenai keberadaannya,
Shuniyya memanjakan diri dengan beristirahat sejenak sembari melumurkan
masker di mukanya yang sedari pagi sudah kaku karena kelelahan. Meskipun
begitu sikapnya tetap saja ramah dan tak secuilpun letih tergambar di
wajahnya. Sambil asyik membenahi jilbab, pemilik nama lengkap Shuniyya
Ruhama Habliballah ini tetap ramah meladeni pertanyaan tim Bulpos yang
datang sore itu.

Merasa Berbeda

Cerita dimulai saat Shuniyya masih kecil. "Kata bapakku, sejak usia 2 tahun
aku sudah tidak mau pakai celana. Bahkan menginjak empat tahun aku
*nggak*mau berangkat ke sekolah kalau tidak memakai bedak.
*Bayangin aja*," kenangnya santai. Mulai saat itu banyak teman-teman
Shuniyya yang mengatakan dia banci. Hal ini membuat Shuniyya membuka mata,
menyadari keadaannya yang berbeda dengan anak seusianya.

Menginjak usia remaja perbedaan itu semakin dirasakan Shuniyya. "Aku tidak
bisa menampiknya, mungkin ini jalan hidupku," katanya. Mulanya orang tua
Shuniyya mengira Shuniyya hanya mencari perhatian. Tapi semakin dirasakannya
perbedaan itu membuat Shuniyya berani menceritakan keadaannya yang
sebenarnya kepada keluarganya. "Awalnya *sih* Bapak marah, tapi aku coba
berdiskusi, menjelaskan dengan logika. Akhirnya mereka mau menerimaku,"
tutur waria yang juga dekat dengan kedua adik perempuannya itu.

Shuniyya terlihat amat bangga menuturkan rangkaian peristiwa yang mungkin
bagi sebagian orang menyedihkan. Misalnya, dia pernah hampir berkelahi
karena ada yang mengatakan Shuniyya mengalami kelainan jiwa. Sempat pula dia
dipaksa membuka jilbabnya ketika pengembalian formulir UMPTN karena di
dalamnya menyatakan bahwa dia laki-laki. Namun sekali lagi berkat keramahan
dan keuletannya Shuniyya berhasil mendapat tempat di sekitar teman-temannya,
bahkan tempat itu istimewa karena dia berbeda.

Ekspresi lewat buku

Shuniyya dalam hati kecilnya selalu berharap semua waria mendapatkan hak
yang sama baik itu di bidang politik, ekonomi, hingga hukum.

Salah satu cara yang digunakannya untuk mengekspresikan aspirasi dan
perasaan kaumnya tersebut adalah dengan menulis buku. Di awal tahun 2005
kemarin, Shunniya meluncurkan sebuah buku yang berjudul "Jangan Lepas
Jilbabku". Lewat buku itu Shunniya berusaha menggambarkan suka duka
kehidupan kaum waria di tengah budaya masyarakat yang menganggapnya berbeda.

Dengan buku itu ia juga berharap masyarakat mau melihat lebih dekat bahwa
selama ini anggapan bahwa waria itu *oversex* seutuhnya tidak benar, justru
kebanyakan dari mereka mengalami kekerasan seks dan tidak ada hukum yang
melindungi mereka. Sebagian waria (seperti dirinya) tidak terobsesi untuk
menjajakan diri, Masih ada waria yang hidup baik-baik, bahkan lebih baik
dari orang yang normal.

"Pernah sesekali aku ditawar orang. Aku sakit hati, tapi aku
*nggak*membenci mereka, justru aku tersenyum kuharap mereka sadar
bahwa waria yang
dihadapinya ini berbeda," ujar penyandang cumlaude dengan IPK 3,56 dengan
masa kelulusan hanya 3 tahun 2 bulan ini.

Kini buku yang bertajuk "Jangan Lepas Jilbabku" ini sedang gencar-gencarnya
dipromosikan dan hal itu menambah kesibukan Shuniyya selain pekerjaan
sehari-harinya, menulis. Dengan ini Shuniyya telah membuktikan bahwa tidak
semua waria negatif seperti yang orang pikirkan.
Prima


On 5/24/06, Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Seorang Ustadz, yang memberi ceramah subuh di mesjid
> komplek rumah saya (Depok II), mengatakan, ia mendapat
> kabar bahwa kelompok kajian mahasiswa Syariah IAIN
> (UIN?) Semarang telah membuat "penelitian" dan membuat
> kesimpulan yang mengejutkan.
>
> Mereka telah menghalalkan homoseks, berdasarkan dalil/
> pendekatan "hermeneutika" dan "sosiologis" terhadap
> isi Al-Quran. Kata mereka (masih menurut penuturan
> Ustadz), selama ini ada salah penafsiran terhadap ayat
> Al-Quran tentang kaum Nabi Luth, yang disalahkan
> karena melakukan praktik homoseksual.
>
> Kata mereka, sebetulnya homoseksual itu diharamkan
> oleh Nabi Luth karena Nabi Luth marah. Sebab
> putri-putri Nabi Luth "tidak laku," akibat meluasnya
> praktik homoseks di kalangan umatnya waktu itu.
>
> Saya tak tahu, apakah kabar dari Ustadz ini akurat,
> sebab kata beliau, ia juga menerima kabar itu dari
> kiriman e-mail. Mungkin teman-teman di milis, yang
> kebetulan punya info lebih akurat, bisa memberi
> tambahan informasi. Jika info ini benar, saya cuma
> bisa bilang Astagfirullah dan Naudzubilah min
> dzalik.....
>
> (Jika info itu benar, membanjirnya dana kajian dan
> penelitian dari lembaga-lembaga funding asing ke
> kalangan UIN/IAIN, kok menghasilkan hasil-hasil kajian
> semacam ini ya? Saya heran dan cuma bertanya-tanya.
> Ada apa sebenarnya?)
>
>
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
>
>
>
> ***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
> yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
> http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
> ***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke