*Pertanyaan dari Nata, Bandung:*
Coba lihat kasus saya: saya jelas merasakan ketertarikan kepada
teman sejenis sejak puber. Lingkungan saya sendiri baik-baik saja,
di keluarga santri yang normal-normal saja, tidak tahu apa itu
homoseksualitas baik secara wacana mau pun prakteknya, tapi
kenyataanya saya mendapati diri saya merasakan ketertarikan kepada
perempuan. Tidak kepada laki-laki. Saya sendiri bergaul normal,
tidak pilih2 jenis kelamin untuk menentukan siapa yang akan jadi
kawan atau sahabat saya.
Saya tidak pernah punya hubungan sejenis, tidak pernah melakukan
aktivitas erotisme dengan sejenis, tidak terintimidasi dengan
keadaan ini, tapi saya tidak bisa mengelak dari ketertarikan
terhadap sesama jenis. Konflik batin, hehehe...dulu sih
banget...sekarang bisa apa saya untuk menghilangkannya? Apa saya
harus menyepi di mana tidak ada manusia lain di sekitar saya? tentu
tidak kan...life must go on...
Kalau saya dianggap berdosa dan bahkan dianggap sakit oleh mereka
yang straight (saleh pula), saya hanya bisa berharap: andai saja
saya bisa memiliki ketertarikan kepada laki-laki...
Begitu...
*Jawaban dari L.Meilany, Jakarta :*
Kalo di Islam Homoseksual itu berbahaya - perbuatan yang keji dan abnormal.
Sedangkan hewan saja tidak melakukannya.
Bisa di lihat di Al A'raaf :81, An Nahl :55, Al Ankabuut 29.
Qur'an ( bagi yg mengaku Islam) itu kan mutlak.
Jadi kalau seseorang itu mengaku Islam dan homo?
Pergilah ke psikolog-psikiater untuk minta nasehat.
Kalaupun masih nggak bisa juga, dengan cara 'menahan hawa nafsu'
Puasa, menyibukkan diri, memisahkan diri dari kehidupan maupun komunitas
homo.
Maaf, menurut saya nilai ibadah adalah meyakini suatu agama itu kan
pengorbanan.
Kalau mau menjadi Islam, ya harus mau nggak makan babi, nggak bermiras
ria....
Tapi kalaupun enggak bisa berlaku secara Islam, janganlah orang
Islam yang ngakunya bener 'menghujat'...mengejek......mencacimaki
Urusan ibadah kan urusan kita dengan Tuhan
*Tanggapan balik dari Nata, Bandung :*
Mbak Mei...
Sayangnya keluarga saya (dalam hal ini generasi tetua-nya, ya maklum
saja mereka kan konservatif dan fanatik dalam agama) tidak tahu
karena saya memang tidak menunjukkan gejala 'ekstrim', tapi teman,
sahabat, adik-adik, semuanya tahu...
Tapi, lagi-lagi karena saya tidak menunjukkannya dalam
porsi 'sensualitas', tetapi lebih kepada sikap 'platonis', mereka
terutama teman-teman saya yang cewek, tidak merasa terancam
akan 'kelainan' saya...
Lagipula, concern kehidupan saya bukan melulu pada mendapat
pasangan, pacar, atau apa punlah sebutannya, tetapi ada bagian lain
yang mengisi pikiran saya, seperti spiritualitas, aktualisasi,
dll...seperti yang telah saya sebut sebelumnya, saya baik-baik saja
dengan keadaan ini.
Saya anggap saja ini sebagai paket kehidupan, dan tidak perlu ambil
pusing. Artinya, secara alamiah telah ada mekanisme-psikis
tersendiri yang dapat meredam 'keabnormalan' ini saat bergesekan
dengan society. Jadinya, saya tidak pernah menjadi alien di
lingkungan saya. Tentu saja untuk berada di titik ini, saya telah
melewati sekian konflik batin...
Mengalir saja-lah mbak...
Tetapi saya tahu, teman-teman lain yang bernasib sama, tidak selalu
bisa 'cuek' kayak saya ... makanya, saya sering sebal dengan mereka
yang homofobic, padahal mereka nggak pernah tahu kesulitannya berada
di situasi sebagai homo...Kaum homofobic itu hanya melihat sisi
nafsunya saja, sebagai bentuk pembangkangan terhadap sunnah Tuhan ...
Kalau saja mereka mau melepas pemahaman dogmatisnya dan bersedia
melakukan pemahaman humanis, mungkin bakal dapat pencerahan bahwa
kasus homoseksualitas itu sangat kompleks...bukan soal nafsu an sich...
Siapa bilang seorang homo tidak bisa spiritualis ? Dan mohon
dicatat, itu tidak serta merta dengan membuang kehomoannya. Dia
dapat menjadi homo sekaligus spiritualis, seperti halnya seorang
hetero yang spiritualis.
*Jangan bergaul dengan orang lesbian*
*Tanggapan dari H.M. Nur Abdurrahman, Makassar:*
Hati-hati, jangan bergaul dengan orang lesbian,
percayalah anda akan jadi lesbian seperti kaum Luth
*Jawaban dari Nata, Bandung*
Lingkungan tumbuh saya tidak mengenal homoseksualitas.
Maaf saran anda tidak bisa saya turuti,
karena saya bukan pelaku apartheid, bukannya karena saya demen sama
mereka, tapi karena berlaku diskriminatif itu melanggar prinsip
saya... So, saya akan bergaul dengan siapa pun, lesbian, hetero,
orang saleh (kalau mereka nggak keberatan ya dekat-dekat dengan 'kuman'
aneh),
pencopet, copy writer, penyair, dll dsb ...toh tidak ada monopoli Tuhan
bukan?
*Mencoba bergaul dengan lawan jenis*
*Tanggapan dari Elank :*
Untuk bisa mencintai laki-laki yang menurut anda adalah sulit [setidaknya
saat ini ],anda paling enggak mencoba lah dikit demi sedikit untuk mengenal
lebih banyak laki-laki.apalagi di milis ini banyak bapak-bapak yang aduhai
cakepnya ..
Duo TaTu aja yang [kata orang atau memang] lesbian itu saja bertekad untuk
hidup normal dan bertekad untuk menikah dengan lawan jenis.
*Jawaban dari Nata, Bandung :*
Wah, mas...2 dari 3 sahabat saya adalah laki-laki. Yang cakep banyak,
pinter-pinter lagi, kalau mereka tidak tertarik itu karena masalahnya ada di
saya <--- tidak cakep, hehehe...
Konon, soal perasaan mah tidak bisa dipaksakan, harus ada chemistry,
butterfly in stomach, atau apalah namanya, yang pasti perasaan bukan logika
matematika jika dan hanya jika, kalau mau ngutip2 Rumi atau Gibran,
wah...posting saya bisa panjaaaaaaaaang banget, dan jangan-jangan ntar OOT.
t.A.T.u. bilang :
All the thing she said, running trough my head
When they stop and stare - don't worry me
'Cause I'm feeling for her what she's feeling for me
I can try to pretend, I can try to forget
But it's driving me mad, going out of my head
Hehehe...fans TATU??? sama dong, mungkin merasa disuarakan kali ya...
*Masalah Transeksual : apa bedanya dengan Homoseksualitas/Lesbianisme*
*Tanggapan dari Mia, Jakarta:*
Saya mikir pengalaman mbak obelix mengelola emosi dalam ranah yang
kontroversial ini bisa jadi pelajaran bagi kita semua.
*Jawaban dari Nata, Bandung :*
Wah mbak Mia...jadi kepengen malu saya.
Bukannya merendahkan diri meninggikan mutu ya, tapi masalahnya saya nih
belum nyebur ke got yang airnya butek bin item, karena saya berada di
lingkungan yang cukup 'steril', jadi belum apa-apa untuk dikatakan dengan
pujian di atas. Kalau saya udah bisa jadi mutiara di got baru deh layak ...
-just an ordinary-
*Tanggapan balik dari Mia, Jakarta:[EMAIL PROTECTED] :*
Oh maaf mbak, mudah-mudahan saya nggak bikin mbak jadi merasa kagok....:-)
Karena saya permasalahan homo/bi/trans itu amat sangat menarik
karena disitulah segalanya bertemu (dan mungkin bertabrakan),
seksualitas, gender, evolusi, agama, hukum, ilmu pengetahuan, dan
sebagainya.
Saya pikir, mungkin kelompok yang berorientasi seksual/gender
minoritas ini termasuk kelompok orang-orang yang banyak "berpikir",
maksudnya berpikir mengenai keberadaan dirinya. Saya bayangkan
mungkin mereka lebih kuat dalam kemampuan intrapersonalnya
dibandingkan yang interpersonal. Kalo bisa disharing kan lumayan
buat kita semua.
Dan nggak harus selalu mutiara, platina juga boleh....:-)
Oya saya baru mulai baca buku "Transeksualisme" oleh Yash
penerbit Aini, Semarang, 2004 - kelihatannya lumayan informatif,
apalagi buku-buku semacam ini jarang di Indonesia. (Hai mas Faiz,
dimanapun anda berada, nggak keberatan kan aku promosi dikit bukumu
ini...hehehe...mumpung lagi musim promosi buku...ntar bagi-bagi aku
ya royaltinya...:-)
Yang tidak lazim dipelihara maka akan menjadi perilaku/watak
*Tanggapan tambahan dari Mia*
Sabaaar, lha bukunya baru kudapat, nanti ada book review ala WM
deh...:-)
Kan udah sering dibilang bahwa riset tentang homoseksual sejauh ini
seputar level testosterone dan bagian otak yang bernama INAH (bukan
Inah dari Pekalongan), dan sudah ada riset pada kembar-kembar yang
dibesarkan dilingkungan berbeda. Riset kembar sangat berguna untuk
mengisolasikan faktor-faktor lain dan mengidentifikasikan yang
dihipotesakan.
Tapi riset atas lesbian itu masih relatif jarang, nggak tahu kenapa -
jenis perempuan memang sering low profile. Salah satu keistimewaan
buku "Transexualisme" ini adalah karena penulisnya FTM (Female to
Male) trans. Kan yang sudah agak dikenal dimasyarakat itu MTV (Male
to Vemale...:-)) kita kadang nyebutnya banci.
Marlene Zuk, feminis-biologis, bilang bahwa mustahil untuk memisah-
misahkan sebabnya apakah karena pembawaan atau lingkungan. Kita
bisa saja memilah-milah, namun pendekatan atau therapynya mesti
holistik, pengertian saya begitu. Ini artinya terapisnya sendiri
harus benar-benar berempati pada situasi kliennya itu, dan dari situ
memotivasikan klien untuk membangun jatidirinya ditengah masyarakat
beragam, dan bukannya memaksa standar mayoritas kepada jatidiri
kliennya itu.
Gitu dulu.
Salam
Mia
*Komentar dari Muiz, Bandung :*
Lho kan kata mbak Chae, gender bisa dipertukarkan sifat dan cirinya,
ternyata sexualitas (jenis kelamin) bisa dipertukarkan juga kan ??
Dorce Gamalama secara psikologis juga ingin tampil wanita feminin
gitu ??
Wassalam
Abdul Mu'iz
*Tanggapan tambahan dari Mia*
Lain loh transeksual dengan tranvestite. Transeksual MTF/FTM =
cowok/cewek yang merasa dirinya cewek/cowok. Transvestite/tomboi
cowok/cewek yang maunya tampil feminin/maskulin. Puyennnngg...
Salam
Mia
*Info dari L.Meilany, Jakarta :*
Setau saya :
Orang2 yg suka tampil/berpakaian lawan jenisnya kelaminnya adalah
:transvestit.
Orang2 yg bersifat kebalikan dari jenis kelaminnya adalah : Banci -
transeksual ?
Sedang homo lebih mengarah kepada kecenderungan perilaku seksualnya.
Sebagian homo memang transvestit, tetapi ada pula homo yg bukan transvestit.
dan orang2 transvestit ada juga yg tidak homo. Orang banci pastinya
transvestit.
:-)
Ivan Gunawan perancang mode, katanya disuntik steroid (?)
supaya badannya besar, kekar. Tapi penampilannya, tutur katanya lebih dari
perempuan.
Begitu juga penyanyi Boy George, suaranya , lagunya macho, tapi tampilannya
kayak perempuan. Mendiang Freddy Mercury, seorang, homo, mulanya, biseks
setelahnya, tampil dengan suara yg macho, berdandan seperti perempuan dan
mati karena AIDS
salam
l.meilany
*Tanggapan dari Muiz, Bandung.*
Lha bagaimana dengan operasi kelamin kayak artist Dorce Gamalama ??
Wassalam
Abdul Mu'iz
*Jawaban dari Chae, Bandung,*
Du..du duh.. Pak Muiz, kita musti menyamakan dulu arti dari sifat dan
ciri yang tidak bisa di pertukarkan itu yg bagaimana Pak Muiz udah
pernah lihat penis yg di operasi kelamin ?? mirip atau sama tidak sich
bentuknya dgn vagina??
Sifat reproduksi yaitu laki-laki dgn sperma nya dan wanita dengan ovum
nya bisa di pertukarkan?? bagimana dengan jakun, payudara, testis,
ovarium, rahim??
Ibarat ada yg punya pabrik, dirubah tampak luarnya agar terlihat
seperti rumah hunian. Tapi aktifitas di dalamnya tetap sebuah pabrik.
Menurut Bapa apakah bangunan itu tetap sebuah pabrik atau rumah hunian??
Secara seksualitas Mba Dorce itu adalah laki-laki, tapi tetap saya
panggil Mba karena sejatinya /jiwanya adalah perempuan . Coba Bapa
check pada Qs.24:31
Maka dari itu membagi-bagi manusia hanya berdasarkan seksualitas akan
membuat kesulitan dan kesukaran, kemudian akan timbul
ketidakseimbangan. dengan adanya FTM and MTF ini sebagai suatu
pembelajaran agar manusia tidak menilai dan memandang manusia hanya
dari sisi seksualitasnya tapi memandang manusia dari kadar yang di
usahakanya.
Saya salut sama Mba Dorce, bahwa di balik Garis hidup yang harus di
jalaninya, ternyata beliau telah membuktikan sejauh ini dari kaca mata
saya sebagai manusia bahwa Beliau ini manusia yg bermanfaat bagi orang
banyak makanya rezekinya Insya Allah lancar terus..
Chae
*Tanggapan dari Mia, Jakarta :*
Dorce kan kasus yang namanya transeksual male to female. Cowok yang
merasa dirinya perempuan. Nggak usah berkilah macem-macem deh sama
transeksual, pokoknya MTF merasa perempuan, FTM merasa laki-laki,
habis perkara!
Pernah saya tidur sekamar dengan kolega perempuan yang FTM.
Pantesan...tadinya dia nggak mau sekamar dengan saya, eh kupaksa
juga (habis nggak tau). Tidurnya balik badan jauuuh di ujung tempat
tidur, ditutupin selimut dari ujung ke ujung. Kalau saya buka baju
di depan dia, buru-buru dia melengos balik badan....
Boss barunya temen saya FTM, yang anak pengusaha terkenal. Temen
saya baru ngeh bahwa dia itu cewek setelah 2 minggu kemudian! Habis
namanya juga unisex. Pacarnya FTM ini ya..cewek, lha dia kan merasa
dirinya cowok. Pusing nggak sih...:-)
Paling seru emang ngomongin sex & gender...
Salam
Mia
*Pertanyaan dari Iva :*
Mbak, emang seru kalo ngomongi sex n gender
tapi klo ngomong masalah dorce aku jadi puyeng neh...
menurut mbak gimana dengan orang yang bisex?
*Jawaban dari Chae, Bandung,*
Mau kasih info sedikit saja,
Biseksual adalah wanita atau pria yang tertarik secara seksual kepada
lawan jenis dan sejenis. walau pada kenyataanya seorang biseksual bisa
saja menjalani hubungan seksual hanya pada satu jenis kelamin saja.
Dalam bahasa prokem mereka dikenal dengan istilah AC/DC.
Pada sebagian orang menjadi biseksual berawal dari eksperimen untuk
mencari suasana baru dari kejenuhan, sehingga bagi sebagian orang
aktivitas biseksual merupakan sebuah variasi seks.
Diperkirakan ada 3 penyebab yang mendorong seseorang ke arah biseksual.
1. Percobaan seksual
2. seks berkelompok
3. sebagai suatu refleksi dari tumbuhnya kepercayaan diri.
Misalnya, seorang wanita yang selama ini aktif dalam gerakan wanita
menemukan bahwa mereka menjadi dekat dengan wanita lain lewat
pengalaman dan menerjemahkan kedekatan ini ke dalam ekspresi seksual.
Para peneliti yang telah mempelajari seksualitas ganda wanita mencatat
bahwa beberapa wanita yang menyebut diri mereka biseksual berkata
bahwa mereka mempunyai beberapa kebutuhan emosional yang paling baik
dipenuhi oleh pria dan beberapa lainnya yang paling baik dipenuhi
wanita. Beberapa pria biseksual memberi alasan ini juga, tapi jauh
lebih sering pria biseksual menjelaskan gaya hidup seksualnya dalam
istilah kebutuhan akan variasi dan kreatifitas.
sumber: sp18
Chae
*Pertanyaan dari L.Meilany, Jakarta :*
Kata Frank Outlaw pakar kata-kata indah, hati-hatilah dengan kebiasaan
anda.....artinya 'hal yang tidak lazim' ini dipelihara maka akan jadi
perilaku/watak )
Kalau trus dipupuk, disirami .....akan subur.
*Jawaban dari Nata, Bandung :*
Lazim dan nggak lazim tuh kan society yang menentukan, saya sih akan
memilih tak lazim (dalam ukuran society) tapi jujur daripada
membohongi diri sendiri... dengan batasan: tidak mengganggu orang lain.
*Trauma dengan lelaki*
*Pertanyaan dari L.Meilany, Jakarta :*
Duh jgn gitu,,......;-(. Itu kan menyalahi fitrah. Kenapa sih, pernah
disakiti, atau dendam sama makhluk yg namanya laki-laki. Kita tidak pernah
tau , suatu ketika nanti kita akan merasakan bahwa punya pasangan yg
sifatnya 'soulmate' itu kita dambakan. Yang ringan-ringan aja film '30 hari
mencari cinta' juga kan mengetengahkan masalah ini... Kan di agama juga
dibilang, jangan membenci sesuatu boleh jadi kamu akan membutuhkan, dan jgn
pula terlalu sayang karena boleh jadi kamu akan membencinya. Kalau memiinjam
istilah lagu dangdut....yang sedang-sedang saja...yang wajar. Maaf ya )
*Jawaban dari Nata, Bandung :*
Nggak! Saya nggak pernah punya trauma hubungan apa pun. Dalam
pergaulan, saya orangnya luwes lo mbak, dan ini nih yang sebenarnya
suka bikin bingung... Kenapa sih setiap 'keabnormalan' selalu
diasosiasikan dengan trauma???. Selalu ada aliran alternatif diantara
mainstream... Kalau saya sih, suka kebingungan sendiri dengan
term 'fitrah' itu, sesuatu yang disepakati(yang artinya dia akan
berubah-ubah sesuai kondisi) atau sesuatu yang absolut?
Cuman ada satu 'fitrah' di dunia ini yang saya percayai, bahwa alam
semesta dan isinya berubah-ubah dalam suatu keteraturan yang
harmonis.
*Pengaruh lingkungan keluarga*
*Pertanyaan dari L.Meilany, Jakarta :*
Karena dirimu masih dilingkungi teman-teman karib,keluarga. Maka tampaknya
ini akan jadi masalah, bagi dirimu sutu saat....tapi semoga saja tidak.
*Jawaban dari Nata, Bandung :*
Well, biarpun mereka ada di sekitar saya, mereka bukan protector dari
masalah seperti yang mbak mei ramalkan akan terjadi kalau mereka
sudah tidak ada, maka itu...semoga semua yang sudah saya lewati sudah
cukup bisa membangun karakter saya tanpa harus memiliki
ketergantungan besar terhadap faktor eksternal
*Pertanyaan dari Anne, Bandung ([EMAIL PROTECTED]): *
Mba Nata, anak dari berapa bersaudara?? apakah dalam jumlah yg
berimbang antara laki-laki dan perempuanya??
*Jawaban dari Nata, Bandung :*
Saya anak kedua lima bersaudara, 3 perempuan(2 straight) dan 2 laki2
(straight juga). Waktu kecil main boneka-bonekaan iya, main layangan iya ...
Sekarang, suka masak, suka bunga-bunga, suka dijadikan teman curhat,
suka anak-anak, tapi suka juga naik gunung, memancing, begadang
nonton bola...
TIDAK pernah punya trauma seksual, pokoknya masa kecil saya cukup
manis untuk dikenang, dan saya tumbuh dalam asuhan kakek yang imam
mesjid dan nenek yang guru ngaji. Menyadari ketertarikan kepada
lawan jenis, saat kelas 2 SMP. Sampai sekarang ini. Tapi ya itu
tadi, semuanya 'hanya' berlangsung sampai taraf platonis saja, tidak
pernah ke tindakan.
*Pengaruh lingkungan keluarga*
*Pertanyaan dari L.Meilany, Jakarta :*
Homoseks di Indonesia itu bagaimana ?
*Jawaban dari Nata, Bandung :*
Kayaknya di Indonesia homo itu masih tidak PD, mereka membutuhkan pengakuan.
Yang bisa dilihat ya itu, segi 'nafsu' nya yg diperlihatkan. Karena kan di
Indonesia/Arab saja laki-laki berciuman pipi dianggap biasa. Perempuan
tinggal sekamar gak apa-apa.... Kalau di barat ( ini kerabat saya bilang),
yang semacam ini akan dianggap 'homo'. Jadi ya aktualisasinya dengan
bertindak 'mengumbar nafsu'. Supaya keliatan bahwa dia homo.( di Indonesia
). Sementara itu juga di Jakarta, ke-homo- an itu suka dianggap sebagai
'life style'. Nggak murni ( biseksual?). Ini yg suka bikin sebal kaum
homophobia
Makanya di kampung saya perempuan nakal masih dianggap biasa,
tapi kalau sudah gay, bisa dipermalukan....Jadi seolah-olah 'dosa/kesalahan'
orang homo itu berlipat-lipat.....)
*Spiritualitas dan seksualitas*
*Pertanyaan dari L.Meilany, Jakarta :*
Anda mengatakan bahwa ada justifikasi agama
Terhdap diskriminasi terhadap homoseksualitas, apa alasannya ?
*Jawaban dari Nata, Bandung :*
Memang butuh waktu agar masyarakat kita yang bermoral dan beragama
ini bisa melihat lebih ke dalam, tidak hanya permukaannya saja.
Ini memang soal konstruksi sosial saya rasa, yang juga mendapat
justifikasi agama, bahwa homoseksualitas itu dosa. Kita harus bisa
keluar dulu dari kerangka pikir mayoritas, baru akan bisa melihat
tanpa prasangka. Tapi, lagi-lagi, saya sih nggak ambil pusing apa kata
orang ... manusia kan biasa kayak gitu ... sering judge the book from
its cover ...
Urusan spiritual itu urusan kita dengan Tuhan..Urusan vertikal
Kalau terhadap sesama di NKRI, meski taruhlah dia haji, tapi ketauan
gay....tetap aja digunjingin. Tapi kalo haji, dia bikin masjid,
nyumbang anak yatim, istrinya 9, tapi pake uang hasil korup.....tetap
aja banyak yg bela... Itu maksud saya. Ada norma standar yang berlaku di
masyarakat, sedikit banyak berkaitan dengan 'agama', yang kita perlu tahu
kalo ternyata kita 'lain' dengan mereka
*Jawaban dari st sabri, Banjarmasin <[EMAIL PROTECTED]>*
Ini menarik, hampir semua agama memandang seksualitas dan orientasi seksual
sebagai HAL SUPER PENTING. Boleh jadi karena selama ini pemuka agama [dan
pemikir agama] didominasi Pria, sejak dari sononya [atau tertanam di genome]
pengalaman seksual. Pria senantiasa lebih tertarik denga seksualitas
dibanding perempuan. Perempuan sering mengalami konflik dengan seksualitas,
maklumlah Haid pertama bisa menjadi pengalaman yg menakutkan, disusul
catatan sejarah, dimana
perempuan lebih sering menjadi obyek seks daripada subyek.
Kacamata agama terhadap seks, lebih berwarna kacamata pria. Saya mulai
meragukan doktrin bahwa perempuan haid tidak boleh melaksanakan shalat.
Al-Gazhali sampai meriang 3 bulan memikirkan ketidak adilan ini, sayang
sekali beliau tidak juga pernah mengalami haid sehingga fikihnya belum
menelurkan sesuatu yg fundamental dalam soal haid ini. Perempuan haid bahkan
banyak dilarang memasuki tempat suci oleh beberapa agama.
Demikian pula dengan homoseksual dan lesbianisme.
Bila ditelusur, pandangan yg membedakan manusia dari tumbuhan dan binatang
mempengaruhi semua pandangan filosofis ini. Ketika Charles Darwin menuliskan
The Origin of Species ... salah satunya untuk mendobrak pandangan ini,
menempatkan manusia dalam keluarga tumbuhan dan hewan sungguh menyakitkan.
Hanya saja saya ndak tahu apakah ada hewan yg homoseks/lesbian, kalo
tumbuhan
mungkin ada
Regardsless variasinya, agama harus memandang makhluk hidup sebagai sebuah
kesatuan, hingga sanggup memandang homoseksual/lesbianisme sebagai sebuah
variasi dan bukan penyimpangan. Mungkin ada yg punya kenalan
ustadz/wali/ustadzah yg homoseks/lesbian.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

