terimakasih atas tanggapan dari mbak fau:

        memang benar seperti yang di ungkapkan oleh mbak fau,
        soal bangunan tahan gempa sebetulnya sudah "terfikirkan"
        oleh kita, misalnya dari artikel ini:

    <http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/10/daerah/1471634.htm>

        ( juga di situs-2 Litbang Departemen Pranswil? / PU )

        tapi masalahnya memang susah di "enforcement" nya.
        Lha wong bangunan sekolah-2 SD saja banyak yang
        runtuh ( tanpa ada gempa pun ), apalagi mengharapkan
        penerapan standar tsb. untuk rumah-2 penduduk.

        Seperti kita ketahui, untuk mitigasi bencana gempa,
       
         - sumber bencana/gempa sudah tidak bisa kita apa-2
           kan lagi, karena sudah merupakan nature bumi.
           Dalam kasus bencana banjir, kita masih bisa
           melakukan "modifikiasi" DAS (Daerah Aliran Sungai)
           dalam batas-2 tertentu untuk mengurangi dampak banjir.

         - menghindari daerah gempa juga susah, otherwise
           separuh pulau Jawa (bag. selatan) dan separuh
           pulau Sumatera (pesisir pantai barat) harus kita
           kosongkan.

         - untuk bencana gempa, sebagian besar jatuhnya korban
           adalah karena tertimpa bangunan yang notabene
           adalah "artifak" buatan manusia sendiri (bukan
           "artifak alam/buatan NYA"), jadi seharusnya ada
           di dalam "kontrol" kita), yaitu dengan menerapkan
           desain bangunan yang lebih tahan terhadap gempa.

    Masalahnya apakah kita perlu menunggu lebih banyak
    "schock therapy" semacam ini (yaitu dengan jatuhnya
    ribuan korban) lagi sampai kita semua tergerak untuk
    memprioritaskan pembangunan rumah tahan gempa.

    Untuk kasus Iran misalnya, melihat begitu banyaknya
    korban gempa di Iran (dalam range 10.000 an atau lebih
    yang tewas) di tahun 1998-2000, itu seharusnya menjadi
    prioritas agenda pemerintah Iran. Saya berharap bencana
    semacam itu tidak akan terjadi lagi, tetapi seandainya
    hal yang sama persis terulang lagi di Iran dan dengan
    jumlah korban yang sama banyaknya, lalu pemerintah Iran
    kembali nanti baru "terkaget-kaget" lagi dan tergopoh-2
    lagi melakukan pertolongan (sambil meminta bantuan negara-2
    lain), maka saya khawatir, kebijakan pemerintahan Ahmadenijad
    ini tergolong "zalim", karena menaruh prioritas pembangunan
    di tempat yang "salah". Bencana gempa besar serupa juga
    menimpa Turki di tahun-2 yang sama dengan jumlah korban
    yang juga sangat besar.

    Kita bisa membandingkan bencana gempa yang besar yang
    pernah terjadi di kota sebesar Los Angeles, juga di
    Jepang; nyatanya jumlah korban nya relatif kecil waktu
    itu, padahal itu menimpa kota sebesar itu. Oki saya
    cenderung di sini ada faktor "kelalaian manusia"; dalam
    kasus Iran dan Turki: "kelalaian" pemerintah Iran dan
    Turki.

                            ***

    Kalau saya gunakan intuisi saya ( yang awam dalam soal
    teknik sipil/bangunan ): saya akan menganjurkan pemerintah
    dalam hal ini Departemen Prasarana Wilayah dan Pemukiman
    ( Dep Praswilkim? ) mencoba "memanfaatkan" momen ini sebagi
    "schock therapy" untuk memotivasi masyarakat agar mereka
    setelah ini siap untuk menerapkan aturan standar bangunan
    yang lebih baik.

    Mumpung saat ini bangunan-2 yang rusak "belum sempat"
    diperbaiki, kalau saya Menteri Praswilkim, saya akan
    manfaatkan momen ini untuk melakukan survey / pengamatan
    data lapangan ( yang mungkin sulit didapatkan di laboratorium )
    untuk meng-identifikasi:

       => bangunan-2 penduduk yang seperti apa yang
          secara statistik terbukti "tahan gempa"

       => bangunan-2 penduduk yang seperti apa yang
          secara statistik terbukti tidak tahan gempa

   Benar, bahwa ilmu & teknologi bangunan tahan gempa
   mrpk ilmu yang saat ini sudah cukup matang, litarturnya
   cukup banyak, contoh-2 desain/prototip yang bisa ditiru
   cukup banyak.

   Tetapi ini mrpk kesempatan untuk mengumpulkan sampel data
   yang benar-2 riil dari lapangan dan dalam konteks Indonesia
   ( dari segi lokasi/geografis/geologi, juga dari segi
     arsitektur & tingkat sosial-ekonomi nya ). Siapa tahu
   dari sini kita bisa "menemukan" struktur bangunan "typical"
   Indonesia (typical artinya bangunan tsb. bisa dianggap
   sesuai dengan tingkat rata-2 sosial ekonomi rakyat Indonesia)
   yang relatif "tahan gempa"; mungkin tinggal di modifikasi
   sedikit untuk menambah "margin keamanannya".

   Itu bisa dilakukan dengan mengumpulkan foto-2 sampel berbagai
   bangunan di daerah bencana, baik yang rusak dan yang tidak
   rusak. Dengan perangkat teknologi foto digital serta perangkat
   GPS, data-2 ini nanti akan bisa di integrasikan menjadi suatu
   GIS (Geographycal Information System) yang bisa di analisis
   secara komkprehensif oleh berbagai pakar untuk perumusan
   kebijakan.

    * Soal kabar yang direlay om Roy, mungkin coba kita
      tunggu saja konfirmasi dari sumber lain


    ----( IM )------------------------------------

--- In "fauziah swasono" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> --- In [email protected], "imuchtarom" <imuchtarom@> wrote:
> >
> > Jadi mengapa pemerintah & penduduk negeri-2 tersebut
> > tidak pernah berfikir untuk melakukan lanngkah-2
> > mitigasi terhadap resiko bencana gempa bumi:
> > dengan membuat bangunan rumah yang lebih tahan
> > gempa.
> >
> > Kesimpulan:  harusnya dalam soal standar bangunan
> >              tahan gempa ini kita bisa belajar banyak
> >              dari Jepang, negeri yang juga terletak
> >              di dekat patahan/fault dan punya frekuensi
> >              kejadian gempa yang juga tinggi.
> >
> >
>
> Bukan gak terpikir rasanya... kita ada BMG, PPGL, Litbang Geologi,
> LIPI, BPPT, dll...
> tapi ya gak prioritas, krn bencana datang tidak tiap minggu/bulan
> (terduga), kemudian perlu biaya besar (termasuk sosialisasi)..
setau
> saya ITB ada bikin konstruksi rumah murah "tahan gempa" tapi gak
> pernah denger follow-up nya.
> Dulu waktu masih banyak ngambil mata kuliah geologi (struktur dan
> mekanisme), dosen saya sering mengeluh, susah banget untuk meminta
> penduduk pindah dari daerah rawan longsor di bbrp kabupaten di
Jabar,
> meski dlm banyak kasus, tanah pengganti sudah disiapkan pemda
setempat.
>
> Gempa tektonik Jogja ini (6,2 RS kalau menurut USGS
> http://earthquake.usgs.gov/eqcenter/eqinthenews/2006/usneb6/)
> sebenarnya tidak sangat besar (kategori strong: 6-6,9, major:7-7.9,
> great: =>8). Di Jepang seringkali saya merasakan gempa.. antara 4-
6,9
> (moga2 nggak ada lagi yang berbahaya). Tp biasanya sedikit korban.
Krn
> struktur bangunan yang lentur thd gempa. Dan penduduk yang siap
> mengantisipasi sehingga meminimalkan damage (sepertinya setiap
orang
> disini sudah pernah melakukan latihan evakuasi dan fire-drill).
Tapi
> dulu Jepang pernah mencatat bbrp kali loss yg besar krn major/great
> earthquake (Tokyo, Kobe).
>
> Sedihnya lagi, di Indonesia suka banget orang menyebar isu... isu
> tsunami-lah.., si Om Roy Suryo kirim sms ke media massa kalau
korban
> mencapai 1,429 orang... apa maksudnya?
>
> Semoga pemerintah bisa lebih tanggap. Semoga Allah menolong
saudara2
> disana yg terkena musibah.
>
> salam duka,
>
> fau
>







***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke