SURAT “TELANJANG” UNTUK FPI DAN KAUM-KAUM “REAKSIONER AGAMA” ( II )
  
  Kenapa negara (pemerintahan, birokrasi, militer, kepolisian, dan aparat hukum), sistem pasar, ataupun ide yang membidani secara konstruktif terhadap realitas kemaksiatan, pornografi, dan pornoaksi; tidak dijadikan sasaran “kebrutalitasan” sektarian-agama? Dan kenapa kejahatan negara kepada masyarakatnya yang dilakukan secara sistemik dan terstruktur, malah tidak direspons secara obyektif oleh kaum reaksioner yang ambigu? Karena ini merupakan realita yang telah dibentuk oleh kekuasaan itu sendiri, dan dikondisikan secara permanen, yang menjadikan agama sebagai salah satu alat legitimasi yang “sulit” untuk dibantah secara emosional. Adanya tempat-tempat kemaksiatan yang menyajikan hiburan seksualitas dan pengeksploitasian terhadap kaum perempuan, merupakan ide dan praksis yang mana pemerintah bersama dengan aparaturnya telah mengondisikan hal tersebut menjadi ada dan berpraksis secara terbuka di tengah-tengah masyarakat. 
  
  Dan kemaksiatan, pornografi, juga pornoaksi; adalah ekses (akibat) dari sebagian kecil realita yang telah hadir secara kronis di tengah masyarakat. Lalu, beberapa praksis “pembodohan-radikalistik agama” telah mendekonstruksinya sebagai hal utama yang “merusak” moralitas masyarakat, terlebih dari itu, ketika agama tersebut harus dihadapkan secara sporadis terhadap “beberapa akibat” yang terjadi pada ruang sosial. Ada suatu tanda tanya besar tentang “apa yang ada dibalik itu semua”, karena pemerintahan dan ideologi liberalisme pasar merupakan agen terbesar bagi terbentuknya hal-hal yang bertentangan dengan kaidah agama tersebut, itu yang sejatinya! Jadi seharusnya bentuk perlawanan bukan kepada “korban” eksploitasi dan pengondisian tersebut, tetapi harusnya kepada ide dan sistem yang telah membidaninya.
  
  Fanatisme dan praksis yang selalu mengatasnamakan “agama-moral” tersebut, tentunya tidak lebih merupakan suatu keabsurditasan bagi proses berpikir; secara vulgar dapat dikatakan sebagai “kebodohan” yang diselubungi oleh nilai-nilai keilahian. Tak lain dari itu! Karena, memarginalkan sebuah kesadaran rasionalitas merupakan suatu kejahatan terhadap kemanusiaan, yang telah menjelaskan praksis pembodohan itu sendiri. Dan ini merupakan realitas dimana negara harus mampu mempertanggung-jawabkannya, karena kekacauan pada proses berpikir untuk menyelesaikan setiap realita permasalahan sosial, harus dilakukan dengan cara-cara yang merekondisi logika berpikir masyarakatnya kepada bentuk-bentuk kekerasan ambigu. Bentuk kekerasan yang tidak terpola pada relasi masyarakat-negara-sistem, tetapi antar sesama masyarakat yang merupakan korban dari liberalisme pasar, globalisasi, dan kemiskinan sistemik.
  
  Dan jika kita hendak melakukan beberapa praksis radikal untuk merekonstruksi moralitas masyarakat, tentunya kita harus banyak belajar dari beberapa kelompok “bersenjata” di republik ini dan di beberapa negara belahan dunia lainnya, untuk membangun masyarakatnya dari keterpurukan yang kronis dan ancaman kehancuran bagi generasi selanjutnya secara lebih kejam. Bukan dengan cara membawa pentungan, benda-benda tajam dan tumpul, melempar dengan batu, melakukan teror psikologis, ataupun akhirnya mengerahkan massa untuk melakukan praksis konflik horizontal antar sesama kaum tertindas. Pada dasarnya, merupakan sesama kaum tertindas! Ataukah mungkin kita undang kembali Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad, untuk memberikan kuliah politiknya tentang kejahatan sistem imperium global terhadap seluruh negara dan masyarakat dunia? Renungkanlah itu secara bijak! “Salam bagi setiap orang yang selalu berjuang untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan, demokrasi, pembebasan, dan kesetaraan…!”
*** (selesai)  
  
  Mei 2006, Leonowens SP
  

           
---------------------------------
Feel free to call! Free PC-to-PC calls. Low rates on PC-to-Phone.  Get Yahoo! Messenger with Voice

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS
Cultural diversity Indonesian languages Indonesian language learn
Indonesian language course


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke