hanya penjelasan secara "rasional".
Wassalam,
http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&task=view&id=991&Itemid=2
Pesantren Virtual Online
Musibah dalam Prespektif Teologi Islam
Ditulis oleh Dewan Asatidz
"Dan apapun musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri, ....". (QS. Asy-Syuaraa : 30)
Musibah demi musibah datang silih berganti. Musibah yang terjadi di
tengah-tengah kita, akhir-akhir ini, terjadi dalam "bentuk" yang
berbeda. Pertama, musibah kecelakaan, yang berupa kecelakaan pesawat
terbang komersial, helikopter militer, kereta api, dan sebagainya.
Bentuk yang lain, adalah musibah alam, baik itu gempa bumi, banjir
bandang dan sebagainya.
Kira-kira, manusia sekarang ini mengidentifikasi "musibah" sebagai
[segala hal dahsyat, yang terjadi "di luar" kehendak manusia dan
menyebabkan kematian dan kesengsaraan banyak manusia]. Pada saat
terjadinya "musibah" itu, manusia baru merasakan keprihatinan yang
mendalam. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi kebanyakan
menyerahkan kepada Yang Maha Tunggal. Sayangnya, "penyerahan" kepada
Sang Kuasa tersebut lebih bernuansa Su' udz-Dzan atau Negative
Thinking kepada-Nya.
Sejatinya, makna "musibah" dalam kacamata teologi Islam tidaklah
sesederhana dari yang selama ini kita pahami. Kalau kita mau
menyisakan perhatian kita kepada pemahaman sekelompok umat Islam, maka
kita akan tahu bahwa ada sebagian umat yang merasa bahwa pemberian
penghargaan, kenaikan jabatan, bagi mereka, itu pun sebuah "musibah".
Sudah tentu, hal tersebut "musibah" bagi yang bersangkutan. Biasanya,
orang yang berpedoman demikian akan semakin tunduk kepada Allah Swt
ketika mendapatkan penghargaan. Dari sinilah bisa dipahami bahwa sudah
sewajarnya jika Nabi Muhammad Saw bersabda bahwa manusia yang paling
sering mendapatkan musibah & cobaan berat adalah para nabi, kemudian
para wali, dan seterusnya (H.R. Bukhori). Karena musibah yang
di-"uji-coba"-kan kepada para nabi tersebut tentunya bukan saja berupa
fisik, melainkan mental dan keimanan. Dari pemahaman ini, Ibnu
Taymiyah-seperti dinukil Professor Ibrahim Khalifah dalam salah satu
kajian Tafsir-nya-berpendapat bahwa sangat mungkin para nabi itu
berkurang imannya bahkan murtad-walaupun pada kenyataannya hal
tersebut tidak pernah ada dalam sejarah. Perkembangan kehidupan
materialisme mampu menyingkirkan pemahaman-pemahaman "unik" tentang
musibah tadi.
Akhirnya, manusia sekarang ini pun telah lebih jauh menyederhanakan
makna dan "falsafah" atas pengertian "musibah". Manusia tidak lagi
berpengertian bahwa, sebenarnya, musibah tidak sesederhana "segala
bencana yang di luar kehendak manusia". Akibatnya, sepertinya ada dua
pilihan bagi kita : menerima sepenuhnya sebagai sebuah kecelakaan alam
murni, atau mengkaitkannya dengan kehendak Sang Kuasa. Pilihan pertama
sudah jelas, ia lebih banyak di-"imani" masyarakat Barat. Pilihan
kedua adalah pilihan yang hingga kini masih dipegang umat Islam.
Hanya saja, pilihan kedua ini masih berupa pemahaman yang global dan
masih banyak umat Islam yang belum dapat memahami
penjabaran-penjabaran dari teologi ini.
***
Penulis melihat, ketika beberapa musibah menimpa kita akhir-akhir ini,
banyak kolomnis dan penceramah yang menukil-nukil surat As-Syu'araa
ayat 30 tanpa penjelasan yang memadai. Realitas ini sangat berbahaya
karena dapat menimbulkan mis-understanding seperti yang selama ini
terjadi dalam pemahaman teologi Islam, khususnya yang berkenaan dengan
Sifat Iraadah. Bagaimana pun, yang utama untuk diyakini oleh umat
adalah bahwa Allah Swt tidak akan pernah berkehendak buruk kepada
hamba-hamba-Nya. Ada banyak hal yang perlu kita resapi ketika
menghadapi kenyataan yang, dalam pandangan kita nan pendek, pahit.
Pertama, tidak semua kejadian tersebut "pahit" dalam arti yang sesuai
dengan pemahaman kita. Seluruh manusia adalah milik Allah Swt, maka
Dia berhak mengambilnya sewaktu-waktu, dengan berbagai jalan, baik itu
bencana alam, tertabrak mobil, atau kejatuhan bom seperti yang sedang
melanda masyarakat Irak. Semua itu adalah bentuk "pemanggilan" Allah
Swt terhadap kita. Bentuk pemanggilan yang bermacam-macam itu sudah
tidak penting bagi kita, atau bagi-Nya. Bentuk-bentuk itu hanyalah hal
"profan" yang, sudah barang tentu, rasional. Karena rumusannya adalah
rasionalitas, maka segala macam manusia akan tunduk dalam hukum ini,
yakni hukum alam.
Walaupun segala bencana adalah rasional, namun Islam mensyariatkan
kepada umatnya untuk ber-istirjaa', yaitu ketika mendapatkan musibah
segera mengucapkan Innaa Lillaahi wa Innaa Ilayhi Raaji'uun, yang
berarti "Sesungguhnya kami adalah milik Allah Swt, dan hanya
kepada-Nya-lah kami kembali". Ucapan ini memang terlihat sederhana,
namun ia memiliki makna teologis yang sangat mendalam, yakni
mengingatkan kita untuk senantiasa ber-Tauhid, ber-Qadhaa dan
ber-Qadar. Yang kedua, mengenai hukum alam. Hukum alam adalah hukum
yang ditetapkan (Qadhaa) oleh Allah Swt yang berkenaan dengan
rumusan-rumusan dan teori-teori tentang alam. Hukum ini akan berlaku
bagi siapa saja yang melanggarnya, baik itu kaum theis maupun atheis,
orang saleh maupun durhaka, dan sebagainya.
Dari hukum inilah seluruh aktifitas alam semesta berlangsung, dari
yang terkecil-seperti adanya hukum bahwa air akan mendidih pada suhu
100 derajat celcius, siapapun yang memasaknya, baik atheis maupun
theis-atau bahkan yang lebih kecil dari kasus itu, hingga yang
peristiwa-peristiwa terbesar yang ada di jagad dunia. Itu semua
merupakan Qadhaa-secara etimologis berarti hukum atau ketetapan. Dan
ketika manusia telah melewati proses Qadhaa itu maka dia akan
mengalami apa yang sering disebut sebagai Qadar atau Takdir. Dengan
demikian, Takdir adalah suatu hasil proses dari hukum dan ketetapan
Allah Swt-yang berupa hukum alam-dengan realitas kehidupan yang
dijalani manusia.
***
Hukum alam yang diberlakukan oleh Allah Swt tersebut berbeda dengan
hukum Aqidah atau Syariat yang diturunkan oleh-Nya. Hukum alam yang
sedang kita hadapi sekarang adalah hukum yang hanya berlaku di dunia
fana. Sedangkan hukum Aqidah & Syariat berlaku di dunia dan (untuk
kepentingan) akhirat sekaligus. Dengan demikian, dalam hal tertentu,
hukum alam tersebut sama sekali tak memiliki kaitan "erat" dengan
hukum Aqidah & Syariat. Artinya, hukum alam akan menerkam siapa saja
yang melanggarnya, baik itu manusia-saleh, fasik & ateis-hewan dan
lainnya. Namun demikian, perlu diperhatikan, bahwasanya korban
keganasan hukum alam tak selamanya adalah pelaku dari pelanggaran atas
hukum alam tersebut. Bahkan juga bisa dikatakan bahwa proses yang
terjadi dalam hukum tak mesti melibatkan manusia. Sebagai contoh
adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar angkasa. Demikian pula
sebalikya, hukum Aqidah & Syariat tak berkaitan langsung dengan
kedatangan hukuman alam.
Lalu, bagaimana dengan adanya hukuman alam yang terjadi pada umat-umat
terdahulu, sebagaimana dikisahkan di dalam al-Qur'an? Allah Swt, dalam
memberikan kenikmatan, ujian, cobaan atau siksaan tidaklah melampaui
nalar kemanusiaan. Artinya, jika Allah Swt menyatakan telah memberikan
hukuman melalui hukum-hukum alam, maka hukuman alam itu terproses
melalui pelanggaran hukum Aqidah & Syariah yang-tanpa pernah
disadari-berakibat (juga) kepada pelanggaran atas hukum alam. Dari
sinilah hukuman berlaku, dan secara hakekat ia bukanlah hukuman atas
kedurhakaan kepada-Nya, karena semua hukuman (Jazaa', Hisaab) atas
kedurhakaan kepada-Nya telah di-setting pada Hari Pembalasan
(Yawmul-Jazaa') atau Hari Penghitungan (Yawmul-Hisaab) dimana
masing-masing manusia akan menghadapinya.
AllAAhu A' lam.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

