amma ba'd, assalamu 'alaikum wa rahmatu-lLahi wa barakatuH
bagi2 kiriman buagusss dech.
wa bi-lLahi-ttaufiq wa-lhidayah, subhanaka-lLahumma wa bihamdiKa asyhadu alla Ilaha illa Anta, astaghfiruKa wa atubu ilaiK.
wassalamu 'alaikum
Tarekat Terjun Bebas dan Jamu Air Gamping
oleh Emha Ainun Nadjib
Waktu yang diminta oleh Saridin untuk mempersiapkan diri telah
dipenuhi. Dan kini ia harus membuktikan diri. Semua santri, tentu saja
juga Sunan Kudus, berkumpul di halaman masjid.
Dalam hati para santri sebenarnya Saridin setengah diremehkan. Tapi
setengah yang lain memendam kekhawatiran dan rasa penasaran
jangan-jangan Saridin ternyata memang hebat.
Sebenarnya soalnya di sekitar suara, kefasihan dan kemampuan berlagu.
Kaum santri berlomba-lomba melaksanakan anjuran Allah Zayyinul Qur'an
ana biashwatikum - hiasilah Qur'an dengan suaramu. Membaca syahadat
pun mesti seindah mungkin.
Di pesantren Sunan Kudus, hal ini termasuk diprioritaskan. Soalnya,
ini manusia Jawa Tengah: lidah mereja Jawa medhok dan susah dibongkar.
Kalau orang Jawa Timur lebih luwes. Terutama orang Madura atau Bugis,
kalau menyesuaikan diri dengan lafal Qur'an, lidah mereka lincah
banget.
Lha, siapa tahu Saridin ini malah melagukan syahadat dengan laras
slendro atau pelog Jawa.
Tapi semuanya kemudian ternyata berlangsung di luar dugaan semua yang
hadir. Tentu saja kecuali Sunan Kudus, yang menyaksikan semua kejadian
dengan senyum-senyum ditahan.
Ketika tiba saatnya Saridin harus menjalani tes baca syahadat, ia
berdiri tegap. Berkonsentrasi. Tangannya bersedekap di depan dada.
Matanya menatap ke depan. Ia menarik napas sangat panjang beberapa
kali. Bibirnya umik-umik [komat-kamit] entah membaca aji-aji apa, atau
itu mungkin latihan terakhir baca syahadat.
Kemudian semua santri terhenyak. Saridin melepas kedua tangannya.
Mendadak ia berlari kencang. Menuju salah satu pohon kelapa, dan ia
pilih yang paling tinggi. Ia meloncat. Memanjat ke atas dengan cepat,
dengan kedua tangan dan kedua kakinya, tanpa perut atau dadanya
menyentuh batang kelapa.
Para santri masih terkesima sampai ketika akhirnya Saridin tiba di
bawah blarak-blarak [daun kelapa kering] di puncak batang kelapa. Ia
menyibak lebih naik lagi. Melewati gerumbulan bebuahan. Ia terus naik
dan menginjakkan kaki di tempat teratas. Kemudian tak disangka-sangka
Saridin berteriak dan melompat tinggi melampaui pucuk kelapa, kemudian
badannya terjatuh sangat cepat ke bumi.
Semua yang hadir berteriak. Banyak di antara mereka yang memalingkan
muka, atau setidaknya menutupi wajah mereka dengan kedua telapak
tangan.
Badan Saridin menimpa bumi. Ia terkapar. Tapi anehnya tidak ada bunyi
gemuruduk sebagaimana seharusnya benda padat sebesar itu menimpa
tanah. Sebagian santri spontan berlari menghampiri badan Saridin yang
tergeletak. Mencoba menolongnya. Tapi ternyata itu tidak perlu.
Saridin membuka matanya. Wajahnya tetap kosong seperti tidak ada
apa-apa. Dan akhirnya ia bangkit berdiri. Berjalan pelan-pelan ke arah
Sunan Kudus. Membungkuk di hadapan beliau. Takzim dan mengucapkan
sami'na wa atha'na - aku telah mendengarkan, dan aku telah
mematuhi.
Gemparlah seluruh pesantren. Bahkan para penduduk di sekitar datang
berduyun-duyun. Berkumpul dalam ketidakmengertian dan kekaguman.
Mereka saling bertanya dan bergumam satu sama lain, namun tidak
menghasilkan pengertian apa pun.
Akhirnya Sunan Kudus masuk masjid dan mengumpulkan seluruh santri,
termasuk para penduduk yang datang, untuk berkumpul. Saridin
didudukkan di sisi Sunan. Saridin tidak menunjukkan gelagat apa-apa.
Ia datar-datar saja.
"Apakah sukar bagi kalian memahami hal ini?" Sunan Kudus membuka
pembicaraan sambil tetap tersenyum. "Saridin telah bersyahadat. Ia
bukan membaca syahadat, melainkan bersyahadat. Kalau membaca syahadat,
bisa dilakukan oleh bayi umur satu setengah tahun. Tapi bersyahadat
hanya bisa dilakukan oleh manusia dewasa yang matang dan siap menjadi
pejuang dari nilai-nilai yang diikrarkannya."
Para santri mulai sedikit ngeh, tapi belum sadar benar.
"Membaca syahadat adalah mengatur dan mengendalikan lidah untuk
mengeluarkan suara dan sejumlah kata-kata. Bersyahadat adalah
keberanian membuktikan bahwa ia benar-benar meyakini apa yang
disyahadatkannya. Dan Saridin memilih satu jenis keberanian untuk mati
demi menunjukkan keyakinannya, yaitu menjatuhkan diri dari puncak
pohon kelapa."
Di hadapan para santri, Sunan Kudus kemudian mewawancarai Saridin:
"Katamu tidak takut badanmu hancur, sakit parah atau mati karena
perbuatanmu itu?"
"Takut sekali, Sunan."
"Kenapa kamu melakukannya?"
"Karena syahadat adalah mempersembahkan seluruh diri dan hidupku."
"Kamu tidak menggunakan otakmu bahwa dengan menjatuhkan diri dari
puncak pohon kelapa itu kamu bisa cacat atau meninggal?"
"Aku tahu persis itu, Sunan."
"Kenapa kau langgar akal sehatmu?"
"Karena aku patuh kepada akal sehat yang lebih tinggi. Yakni bahwa aku
mati atau tetap hidup itu semata-mata karena Allah menghendaki
demikian, bukan karena aku jatuh dari pohon kelapa atau karena aku
sedang tidur. Kalau Allah menghendaki aku mati, sekarang ini pun tanpa
sebab apa-apa yang nalar, aku bisa mendadak mati."
"Bagaimana kalau sekarang aku beri kau minum jamu air gamping yang
panas dan membakar tenggorakan dan perutmu?"
"Aku akan meminumnya demi kepatuhanku kepada guru yang aku percaya.
Tapi kalau kemudian aku mati, itu bukan karena air gamping, melainkan
karena Allah memang menghendaki aku mati."
Sunan Kudus melanjutkan: "Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa
tindakan yang kau pilih itu memang tidak membahayakan dirimu, insya
Allah, tetapi bisa membahayakan orang lain?"
"Maksud Sunan?"
"Bagaimana kalau karena kagum kepadamu lantas kelak banyak santri
menirumu dengan melakukan tarekat terjun bebas semacam yang kau
lakukan?"
"Kalau itu terjadi, yang membahayakan bukanlah aku, Sunan, melainkan
kebodohan para peniru itu sendiri," jawab Saridin, "Setiap manusia
memiliki latar belakang, sejarah, kondisi, situasi, irama dan
metabolismenya sendiri-sendiri. Maka Tuhan melarang taqlid, peniruan
yang buta. Setiap orang harus mandiri untuk memperhitungkan kalkulasi
antara kondisi badannya dengan mentalnya, dengan keyaknannya, dengan
tempat ia berpijak, serta dengan berbagai kemungkinan sunatullah atau
hukum alam permanen. Kadal jangan meniru kodok, gajah jangan
memperkembangkan diri seperti ular, dan ikan tak usah ikut balapan
kuda."
"Orang memang tak akan menyebutmu kadal, kuda, atau kodok, melainkan
bunglon. Apa katamu?"
"Kalau syarat untuk terhindar dari mati atau kelaparan bagi mereka
adalah dengan menyebutku bunglon, aku mengikhlaskannya. Bahkan kalau
Allah memang memerintahkanku agar menjadi bunglon, aku rela. Sebab
diriku bukanlah bunglon, diriku adalah kepatuhanku kepadaNya."
"Fa maadza ba'da-lhaqq, illa-dl_dlalaal"
Leo Imanov
Abdu-lLah
AllahsSlave
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
SPONSORED LINKS
| Cultural diversity | Indonesian languages | Indonesian language learn |
| Indonesian language course |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "ppiindia" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

