Sehubungan dengan kutipan fakta-fakta sejarah yang ditulis oleh teman lama saya 
Tossi Abu Prajitno, saya sampaikan beberapa catatan terutama mengenai BKR/TKR 
dan Re-Ra, yang antara lain saya peroleh dari almarhum ayah saya, Letkol TNI 
(Purn.) dr. W. Hutagalung (10.03.1910 - 29.04.2002). Jabatan beliau terakhir 
pada Januari 1950, ketika mengundurkan diri dari TNI adalah Kepala Staf "Q" TNI 
("Kwartiermeestergeneraal Staf "Q"). Beliau adalah salah satu wakil Kementerian 
Pertahanan RI dalam Panitia Reorganisasi dan Rasionalisasi (Re-Ra) TNI tahun 
1948.
  Mengenai masuknya tentara Belanda kembali ke Indonesia, saya kutip a.l. dari 
J.A. de Moor, "Westerlings Oorlog", Willy Meelhuijsen, "Revolutie in Soerabaja. 
17 Agustus - 1 December 1945", Laurens van der Post, "The Admiral's Bab" dan 
beberapa sumber lain.
  Semoga catatan ini bermanfaat dalam diskusi ini.
  Salam hangat,
  Batara R. Hutagalung
  --------------------------------------------------------------------
  > 1) Kutipan sebagian dari tulisan tsb:
>
> "Di Indonesia tahun 1950an juga terjadi krisis menyusul rencana Wakil 
> Presiden Mohammad
> Hatta untuk merasionalisasi BKR, tentara pejuang kemerdekaan Indonesia."
>


Catatan Batara Hutagalung:
  Pada 22 Agustus 1945, dibentuk suatu badan yang dinamakan Badan Penolong 
Keluarga Korban Perang (BPKKP), dan di dalam tubuh BPKKP dibentuk organisasi 
yang dipersenjatai, yang dinamakan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Memang sesuatu 
yang unik, yaitu organisasi bersenjata berada di dalam tubuh suatu organisasi 
sosial. Hal ini dilakukan untuk menghindari konflik dengan Tentara Sekutu yang 
akan melucuti tentara Jepang, bahwa Republik Indonesia yang baru 
diproklamasikan, telah membentuk Angkatan Bersenjata.
  Pada 5 Oktober 1945, Presiden Sukarno mengumumkan berdirinya TKR (Tentara 
Keamanan Rakyat) sebagai kelanjutan dari BKR. Nama Tentara Keamanan Rakyat 
tanggal 7 Januari 1946 berubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat, kemudian 
tanggal 26 Januari 1946 diganti lagi menjadi TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan 
akhirnya tanggal 3 Juli 1947 menjadi TNI -Tentara Nasional Indonesia. Setelah 
“penyerahan kedaulatan” (soevereniteitsoverdracht) dari Pemerintah Belanda 
kepada Pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) di Palais op de Dam, 
Amsterdam pada 27 Desember 1949, TNI yang menjadi inti tentara RIS dinamakan 
Angkatan Perang RIS (APRIS), di mana mantan tentara KNIL diterima ke dalamnya. 
Setelah RIS dibubarkan pada 16 Agustus 1950, maka APRIS berubah menjadi TNI 
kembali. Di masa Orde Baru, TNI menjadi ABRI, dan setelah Suharto lengser, maka 
ABRI berubah lagi menjadi TNI. Entah sampai kapan …
  Selain dibentuk BKR/TKR, juga berbagai kelompok pemuda dan elemen masyarakat 
membentuk laskar, barisan dan mempersenjatai diri dengan senjata hasil rampasan 
dari tentara Jepang. Dalam perebutan senjata di Surabaya dan sekitarnya 
tercatat korban di pihak Jepang: 240 tewas terbunuh, 18 orang hilang dan 36 
orang luka-luka. Korban di pihak Indonesia juga sangat besar, beberapa sumber 
menyebutkan, diperkirakan sekitar 500 orang Indonesia tewas dalam perebutan 
senjata di Surabaya dan sekitarnya. Namun hasilnya, seluruh persenjataan yang 
dimiliki tentara Jepang jatuh ke tangan rakyat Indonesia di Surabaya dan 
sekitarnya.
  Pada bulan Oktober 1945 di Surabaya dan sekitarnya, selain BKR/TKR yang 
menjadi cikalbakal TNI, juga tercatat sekitar 60 pasukan dan laskar yang 
didirikan oleh para pemuda atau karyawan berbagai profesi, seperti Pasukan 
Pelajar (TRIP), Pasukan BKR Kereta Api, Pasukan BKR Pekerjaan Umum, Pasukan 
Buruh Laut, Barisan Hizbullah, Lasykar Minyak, Pasukan Jarot Subiantoro, 
Pasukan Magenda Bondowoso, bahkan ada juga Pasukan Narapidana Kalisosok 
(penjara di Surabaya), dll. Kelompok pemuda yang berasal dari suku tertentu 
membentuk pasukan sendiri, seperti Pasukan KRIS (Kebaktian Rakyat Indonesia 
Sulawesi), Pasukan Pemuda Kalimantan, Pemuda Ponorogo, dan juga ada Pasukan 
Sriwijaya, yang sebagian terbesar terdiri dari pemuda mantan Gyugun (sebutan 
Heiho di Sumatera) dari Batak dan ada juga yang dari Aceh. Pasukan Sriwijaya 
ini telah mempunyai pengalaman bertempur melawan tentara Sekutu di Morotai, 
Halmahera Utara, dan setelah Perang Dunia II selesai, dalam perjalanan pulang ke
 Sumatera Utara mereka “terdampar” di Surabaya.
  Mereka yang memiliki anak buah, menentukan pangkatnya sendiri; bahkan tidak 
tanggung-tanggung, banyak yang mengangkat dirinya langsung menjadi Mayor 
Jenderal atau Laksamana. Pengangkatan seseorang untuk menjadi perwira, tidak 
memerlukan prosedur panjang lebar, dan kadang-kadang hanya dalam hitungan 
menit, seseorang dapat menjadi perwira, dan bahkan 10 menit kemudian langsung 
naik pangkat.
  Untuk mendapat gambaran mengenai pengangkatan perwira dan kepangkatan di 
tahun 1945, ada beberapa ceritera yang menarik, antara lain dari Ruslan 
Abdulgani, Kol. TNI (Purn.) Alex Evert Kawilarang dan Letkol TNI (Purn) dr. W. 
Hutagalung. 
  Ruslan Abdulgani menuturkan, setelah selesai pertempuran dahsyat tanggal 28 – 
30 Oktober 1945 di Surabaya, sebagai hasil perundingan Presiden Sukarno dengan 
Mayor Jenderal Hawthorn, disepakati untuk  membentuk suatu joint committee 
(komisi bersama) yang terdiri dari wakil-wakil tentara Republik dan tentara 
Sekutu. Ruslan Abdulgani ditunjuk sebagai salah seorang yang mewakili Republik 
di badan tersebut. Karena counterpartnya adalah seorang Kapten, Ruslan 
Abdulgani menuturkan bagaimana “lahirnya” seorang Kapten di pihak RI (hal ini 
disampaikan dalam seminar internasional yang diselenggarakan oleh Komite 
Pembela Hak Asasi Rakyat Surabaya Korban Pemboman November ’45 di LEMHANNAS RI, 
dengan judul “The Battle of Surabaya November 1945. Back Ground and 
Consequences”): 
  “… Akhirnya, sebelum pulang diadakan satu pembicaraan dan satu persetujuan, 
bahwa sekarang ada truce agreement dan bahwa di dalam truce agreement itu akan 
diadakan satu joint committee dan di dalam joint committee dari Inggris adalah 
Brigadir Jenderal Mallaby, Kolonel Pugh, Mayor Hudson, Kapten Shaw, Wing 
Commander Groom. Dari pihak Indonesia adalah Residen Sudirman, Dul Arnowo, 
Atmaji, Muhamad, Sungkono, Suyono, Kusnandar, Ruslan Abdulgani, Kundan.  Saya 
sekretaris, sana Kapten Shaw. Kapten, sekretaris juga. Des Alwi sama lain lain 
itu masuk: 
  “Eh, Cak (panggilan khas etnis Madura – pen.), kamu itu berunding dengan 
siapa?”, 
  “Itu Kapten Shaw”, 
  “Lha  pangkatmu opo?”, (pangkatmu apa?)
  “Ndak duwé opo-opo”, (Nggak punya apa-apa)
  “Ayo jadi Kapten. Because Shaw is a Captain, I should also be a Captain. 
Terus lapor nanggoné Mustopo.” [karena Shaw adalah Kapten, saya harus jadi 
Kapten juga. Terus melapor ke tempat Mustopo (drg. Musotpo, waktu itu 
berpangkat Mayor Jenderal, setelah Re-Ra turun menjadi Kolonel – pen.)]
  “Mus!”, 
  “Opo!”, (apa)
  “Ruslan dadékno kapten!”, (Ruslan kamu jadikan kapten!)
  “Kenopo!”, (mengapa)
  “Ngadepi Kapten!”, (menghadapi kapten!)
  “Dadékno kono!” (jadikan sana!)
  Terus pergi ke Sungkono (Mayor Jenderal, setelah Re-Ra turun menjadi Kolonel. 
Kemudian menjadi Panglima Divisi Jawa Timur menggantikan Mayor Jenderal Jono 
Sewoyo –pen.) saya dapat pakaian dengan bintang tiga. Baru saya ngerti kalau 
kapten itu bintang tiga. 
  Terus dibisiki: “Cak, engko né ono letnan, kon ojo ngéné (maksudnya 
hormat-red), letnané kudu ngéné”, [Cak, nanti kalau ada letnan, kamu jangan 
gini (beri hormat- pen.), letnannya yang harus begini]
  “Oh, ya” 
  “Itu nék kolonel kon sing ngéné”, (itu kalau kolonel, kamu yang harus gini)
  “Nék podo kapten?”, (kalau sama-sama kapten?)
  “Menengo waé!” (Ya diam saja!)
  Maafkan saudara, a Captain is born. (seorang kapten telah lahir)
   
  Demikian tutur Ruslan Abdulgani. 
  Ceritera lain yang juga “unik” mengenai kepangkatan disampaikan oleh Alex 
Evert Kawilarang, yang sebagai orang sipil langsung “mendapat” pangkat kapten, 
dan 10 menit kemudian naik pangkat menjadi mayor. Pada bulan November 1945, 
Kawilarang dan Akhmad Yunus Mokoginta serta Kusno Utomo telah bertugas di 
lingkungan ketentaraan, namun belum mempunyai pangkat. Pada suatu hari, ketika 
mereka menghadap Mayor Jenderal Didi Kartasasmita, mereka dibawa ke Menteri 
Pertahanan Mr. Amir Syarifuddin Harahap. Dalam Otobiografinya Kawilarang 
menuturkan (lihat: Alex Evert Kawilarang, Untuk Sang Merah Putih, Pustaka Sinar 
Harapan, Jakarta, 1988, hlm. 56 – 58):
  … “Sudah waktunya you dapat pangkat, Kapten,” kata Jenderal Didi tiba-tiba.
  Lalu beliau mengetuk pintu kamar kerja Menteri Amir Syarifuddin dan 
membukanya.
  “Minister,” kata Jenderal Didi memulai pembicaraan. Seperti biasa, percakapan 
dilakukan dalam bahasa Belanda. “Vindt U goed dat ik hem Kapitein maak? Hij 
heeft nog geen rang.” (Apakah Anda setuju saya jadikan dia Kapten? Ia belum 
mempunyai pangkat.)
  “O zeker, zeker,” (O, tentu saja, tentu saja) kata Menteri Amir. Beliau cuma 
manggut-manggut saja. Tak sedikit pun mengangkatkan dagunya. Apalagi melihat 
kepada sayapun, tidak.
  “Wel gefeliciteerd!” (Selamat!) katanya. Lalu meneruskan dengan tugasnya: 
membaca apa yang dipegangnya, sehelai kertas, entah apa isinya.
  “Panggil Mokoginta dan Kusno Utomo,” kata Jenderal Didi kemudian, di luar 
kamar kerja Menteri.
  Saya pergi, menyeberangi jalan dan menyampaikan panggilan Jenderal Didi. 
Mokoginta dan Kusno Utomo kelihatan kaget.
  “Apakah Pak Didi masih marah?” tanya salah seorang di antara mereka.
  “Tidak,” jawab saya. “Saya rasa, kalian akan diberi pangkat.”
  Ternyata memang benar begitu. Pak Didi mengantarkan mereka ke kamar Menteri 
dan masuk.
  “Minister, vindt U goed dat ik hen beiden Kapitein maak?” (Bapak Menteri, 
apakah Anda setuju saya jadikan mereka berdua Kapten?)
  Menteri menjawab lagi, “Zeker-zeker, wel gefeliciteerd.” (Tentu, tentu, 
selamat).
  Mereka lalu keluar dari kamar kerja Menteri. Lalu Jenderal Didi berkata, 
“Dulu, kalian bertiga satu kelas di KMA (KMA = Koninklijke Militaire Academie 
-Akademi Militer Kerajaan).atau di CORO (CORO = Corps Opleiding Reserve 
Officieren (Korps Pendidikan Perwira Cadangan)?”
  “Bukan,” jawab Mokoginta dan Kusno Utomo hampir berbarengan. “Kusno di CORO, 
Mokoginta di KMA. Dan Kawilarang satu kelas lebih tinggi di KMA.”
  “Kalau begitu, panggil lagi Kawilarang!” kata Jenderal Didi.
  Saya, yang sudah tidak di gedung itu, dipanggilnya lagi.
  Waktu sudah ada di depan Jenderal Didi, saya harus mendengarkan Jenderal itu 
berkata, “Jij was een klas hoger. Je wordt majoor. Kom mee naar de Menteri!” 
(Kamu dulu satu kelas lebih tinggi. Kamu jadi Mayor. Mari ikut saya ke Menteri).
  Maka saya dibawa lagi ke kamar kerja Menteri Amir. Jenderal Didi mengetuk 
pintu kamar kerja Menteri dan kami masuk.
  “Minister, hij was een klas hoger. Vindt U goed dat ik hem majoor maak?” 
(Bapak Menteri, dia ini dulu satu kelas lebih tinggi. Apakah Anda setuju saya 
jadikan dia mayor?).
  Menteri Amir menjawab:”Zeker, zeker. Wel gefeliciteerd!” (Tentu, tentu. 
Selamat!).
  Sesudah sepuluh menit berpangkat kapten, saya “dipromosikan” atau diubah 
pangkat saya menjadi mayor. Memang begitulah di zaman revolusi …
   
  Demikian penuturan Kawilarang.
  Di Surabaya para tokoh masyarakat dan kaum intelektual Indonesia ikut 
berperan dalam pembentukan BKR pada bulan September 1945. Salah satunya adalah 
dr. Wiliater Hutagalung, yang langsung diberi pangkat Kolonel (setelah Re-Ra, 
turun menjadi Letkol). Kol. Hutagalung ditugaskan membentuk BKR/TKR di Gresik, 
Jombang, Mojokerto dan Sidoarjo. BKR/TKR ini menjadi cikalbakal Divisi 
Brawijaya. Karena seorang Kolonel harus mempunyai ajudan, maka diangkatlah 
seorang pemuda berusia 17 tahun bernama Wijoyo Suyono menjadi ajudannya, dengan 
pangkat Kapten. Sang ajudan tersebut di kemudian hari menjadi Jenderal bintang 
empat, sedangkan Hutagalung sendiri pada Januari 1950, ketika menjabat sebagai 
Kepala Staf “Q” (Kwartiermeestergeneraal Staf “Q”), mengundurkan diri dari TNI 
sebagai protes atas pembentukan RIS dan diterimanya ex KNIL ke tubuh TNI.
  Rivalitas antara mantan perwira KNIL dan mantan perwira Peta, telah terlihat 
sejak awal pembentukan TKR, terutama dalam pemilihan komandan dan pimpinan. 
Walaupun jumlah keseluruhan mantan perwira KNIL jauh di bawah mantan perwira 
Peta, namun dalam jabatan pimpinan, jumlah mantan tentara KNIL yang kemudian 
menjadi pimpinan di tubuh TNI cukup menonjol. Tanggal 12 November 1945 di 
Yogyakarta, diadakan rapat pimpinan tertinggi militer, yang dihadiri oleh 
hampir seluruh komandan Divisi, kecuali pimpinan militer dari Jawa Timur, yang 
sedang bertempur melawan tentara Inggris. Secara demokratis –yang pertama dan 
terakhir- diadakan pemilihan Panglima Besar Angkatan Perang. Kolonel Sudirman, 
Komandan Divisi V (Kedu-Banyumas, mantan Daidancho (komandan batalyon) Peta di 
Kroya, menang suara tipis atas Urip Sumoharjo, pensiunan Mayor KNIL. Dengan 
demikian Sudirman menjadi Panglima Besar Angkatan Perang RI yang pertama. 
Sudirman, waktu itu berumur 30 tahun dan pangkatnya menjadi Letnan
 Jenderal, sedangkan Urip Sumoharjo diangkat menjadi Kepala Staf dengan pangkat 
Mayor Jenderal.
  Setelah perundingan Renville (delegasi Belanda dipimpin oleh Kolonel KNIL 
Raden Abdulkadir Wijoyoatmojo) dan krisis di kabinet Mr. Amir Syarifuddin 
Harahap, pada 29 Januari 1948 Wakil Presiden Hatta dilantik sebagai Perdana 
Menteri, menggantikan Amir Syarifuddin. Hatta juga merangkap sebagai Menteri 
Pertahanan. Hatta melaksanakan Re-Ra (Rasionalisasi dan Reorganisasi) di 
kekuatan bersenjata RI, yang telah dirancang di masa kabinet Amir Syarifuddin. 
  Pada waktu itu di wilayah kekuasaan Republik Indonesia yang de facto diakui 
oleh Belanda, yaitu Sumatera dan Jawa, terdapat banyak laskar rakyat/pemuda dan 
berbagai barisan serta kelompok bersenjata yang tidak terorganisir dengan baik, 
dan bahkan liar. Juga banyak kelompok bersenjata tujuannya hanya merampok dan 
membunuh penduduk desa. Banyak pasukan yang hanya memiliki sedikit senjata. 
Diperkirakan, pada waktu itu terdapat sekitar 500.000 orang yang tergabung 
dalam berbagai kekuatan/kelompok bersenjata, termasuk TNI, sedangkan jumlah 
persenjataan yang dimiliki, diperkirakan tidak mencapai 100.000 pucuk, itupun 
semuanya yang ditinggalkan atau direbut dari tentara Jepang.
  Kol. dr. W. Hutagalung ditunjuk sebagai salah satu wakil dari kementerian 
pertahanan untuk duduk di panitia Re-Ra.
  Tujuan utama Re-Ra sebenarnya adalah:
    
   Melebur seluruh laskar dan kelompok bersenjata ke dalam TNI, sehingga semua 
kekuatan bersenjata Republik Indonesia berada di bawah satu komando, yaitu TNI. 
 
   Menyusun struktur dan hirarki di tubuh TNI setelah peleburan semua kelompok 
bersenjata ke dalam TNI.  
   Menyesuaikan kepangkatan dengan jabatan, sehingga semua pangkat turun paling 
sedikit satu tingkat, dan bahkan ada yang turun sampai tiga tingkat.  
   Ratio senjata-prajurit ditetapkan 1 berbanding 4, artinya satu senjata untuk 
4 prajurit.  
   Menyusun struktur komando dan wilayah pertahanan (Wehrkreise) di Jawa dan 
Sumatera, dalam bentuk dan susunan yang efektif, karena sudah diperkirakan, 
Belanda akan segera melancarkan agresi militer kedua, yang terbukti dilancarkan 
oleh Belanda pada 19 Desember 1948.  
   Mereka yang tidak dapat ditampung di TNI, harus kembali menjadi warga sipil.
   
  Namun, dalam pelaksanaannya banyak kalangan yang tidak puas dan menuduh Hatta 
menggunakan kesempatan untuk menyingkirkan perwira-perwira yang berafiliasi 
kepada lawan-lawan politiknya. Konflik internal di kalangan Republik –baik 
politik maupun militer- yang telah berlangsung sejak tahun 1945, mencapai 
puncaknya pada September 1948, yang kemudian dikenal sebagai “Peristiwa Madiun” 
(Madiun Affairs), dan waktu itu tidak disebut sebagai “Pemberontakan PKI.” 
“Perang Dingin” antara kubu kapitalis dipimpin oleh Amerika Serikat dengan kubu 
komunis dipimpin oleh Uni sovyet telah dimulai sejak pertengahan tahun 1947, 
dan perebutan pengaruh dan kekuasaan kedua kubu tersebut juga terjadi di 
Indonesia. Kelompok kiri di Indonesia yang berafiliasi ke Moskow, dihancurkan 
oleh kelompok nasionalis dan kelompok kanan lain yang didukung oleh Amerika 
Serikat. Di masa Orde baru, “Peristiwa Madiun” disebut sebagai “Pemberontakan 
PKI.”
  Pelaksanaan Re-Ra sempat terhalang selama agresi militer Belanda antara 19 
Desember 1948 – Agustus 1949. Setelah Jenderal Sudirman meninggal pada 29 
Januari 1950, TNI, yang sebelum Re-Ra memiliki sekitar 60-an perwira tinggi 
dengan pangkat Jenderal/Laksamana AL, tidak memiliki seorangpun perwira dengan 
pangkat Jenderal/Laksamana. Pangkat tertinggi adalah Kolonel. Kepala Staf AP 
Kolonel T.B. Simatupang. Kepala Staf AD Kolonel A.H. Nasution. Para panglima 
Divisi juga berpangkat Kolonel.
  Pada waktu itu, TNI mengikuti sistim kepangkatan Belanda, yang tidak mengenal 
pangkat brigadir jenderal. Setelah TNI mengadopsi sistim kepangkatan Inggris, 
baru ada pangkat brigadir jenderal.
   
  Yang disebut sebagai "Peristiwa 17 Oktober 1952", bukanlah kudeta terhadap 
pemerintahan Sukarno, melainkan ketidak senangan pimpinan TNI terhadap 
intervensi yang kuat dari politisi, terutama dari parlemen peninggalan dari 
Republik Indonesia Serikat (RIS), yang masih dikuasai oleh wakil-wakil dari 14 
negara bagian bentukan van Mook. TNI menuntut pembubaran parlemen yang dinilai 
ingin memecahbelah TNI, dan mengembalikan kekuasaan mantan perwira KNIL yang 
telah diterima TNI, sebagai hasil keputusan Konferensi Meja Bundar (KMB). 
Beberapa mantan tentara KNIL yang hingga akhir tahun 1949 masih bertempur di 
pihak Belanda melawan Republik Indonesia dan TNI, di tahun 70-an telah menjadi 
perwira tinggi TNI.
  -------------------------------------------------------------------------
   > 2) Kutipan sebagian dari tulisan tsb:
>
> "Sama seperti rakyat Indonesia traumatik dengan kedatangan tentara 
> Belanda tahun 47, . . "
>


Catatan Batara R. Hutagalung:
  Tahun 1942 jumlah tentara Belanda –termasuk pribumi yang menjadi serdadu KNIL 
seperti Raden Abdul Kadir Wijoyoatmojo- yang berhasil melarikan diri ke 
Australia hanya sekitar 1000 orang. Mereka kemudian dapat merekrut orang dari 
Suriname dan Curacao untuk menjadi tentara, sehingga saat Jepang menyerah pada 
bulan Agustus 1945, jumlah tentara Belanda yang berada di Australia sudah 
mencapai sekitar 5000 orang.
  Tanggal 27 Agustus 1945, Letnan C.A.M. Brondgeest dari Angkatan Laut Kerajaan 
Belanda memimpin 11 orang yang diterjunkan di Pangkalanbrandan, Sumatera Utara. 
Brondgeest ditugaskan untuk mengkoordinasi pemulihan tawanan serta interniran 
Sekutu yang berada di Sumatera Utara. Pada 6 September 1945 Brondgeest mulai 
merekrut semua orang mantan tentara KNIL yang berada di kota Medan dan 
sekitarnya. Dalam waktu singkat dia dapat mengumpulkan ratusan orang dan untuk 
mengelabui pihak Republik Indonesia, mereka direkrut menjadi polisi yang 
membantu Brondgeest.
  Pada 1 September 1945, van Mook bersama van der Plas menemui Mountbatten di 
Kandy, Ceylon (Sri Lanka), untuk menindak-lanjuti hasil perundingan CAA (Civil 
Affairs Agreement) 24 Agustus 1945 di Chequers dekat London, antara Belanda dan 
Inggris, serta tindaklanjut hasil keputusan konferensi Yalta dan Deklarasi 
Potsdam. Nampaknya, misi van Mook dan van der Plas berhasil, karena setelah 
pertemuan tersebut, Mountbatten mengeluarkan perintah tertanggal 2 September 
1945 kepada pada komandan Divisi, termasuk komandan Divisi 5, dengan kalimat 
yang kemudian berakibat fatal bagi rakyat Indonesia, terutama di Surabaya:
  Headquarters, S.E.Asia Command
  2 Sept. 1945.
  From   : Supreme Commander S.E.Asia
  To        : G.O.C. Imperial Forces.
  Re. Directive ASD4743S.
              You are instructed to proceed with all speed to the island of 
Java in the East Indies to accept the surrender of Japanese Imperial Forces on 
that island, and to release Allied prisoners of war and civilian internees.
              In keeping with the provisions of the Yalta Conference you will 
re-establish civilians rule and return the colony to the Dutch Administration, 
when it is in a position to maintain services.
              The main landing will be by the British Indian Army 5th Division, 
who have shown themselves to be most reliable since the battle of El Alamein.
              Intelligence reports indicate that the landing should be at 
Surabaya, a location which affords a deep anchorage and repair facilities.
              As you are no doubt aware, the local natives have declared a 
Republic, but we are bound to maintain the status quo which existed before the 
Japanese Invasion.
        I wish you God speed and a sucessful campaign.
  (signed)
  Mountbatten
  Vice Admiral.
  Supreme Commander S.E.Asia.
  Pada 14 September 1945, Letnan II (Cadangan) Raymond Paul Pierre Westerling 
dengan pesawat udara mendarat di Medan memimpin rombongan dengan nama sandi 
Status Blue, yang terdiri dari Sersan B. de Leeuw, Sersan J. Quinten, Liaison 
Officer Inggris Kapten Turkhaud dan Prajurit Sariwating asal Ambon. Westerling 
membawa seragam dan persenjataan untuk 175 orang. Mereka diperbantukan kepada 
Brondgeest.
  Westerling, yang dijuluki “si Turki” karena lahir di Istambul, Turki, pada 31 
Agustus 1919 adalah anak kedua dari Paul Westerling dan Sophia Moutzou, yang 
berasal dari Yunani. Dia masuk dinas militer pada 26 Agustus 1941 di Kanada. 
Pada 27 Desember 1941 dia tiba di Inggris dan bertugas di Brigade Prinses Irene 
di Wolferhampton, dekat Birmingham. Westerling termasuk 48 orang Belanda 
sebagai angkatan pertama yang memperoleh latihan khusus di Commando Basic 
Training Centre di Achnacarry, di Pantai Skotlandia yang tandus, dingin dan tak 
berpenghuni. 
  Tanggal 25 Juni 1945 dia masuk ke dinas KNIL dengan pangkat (reserve) tweede 
luitenant (Letnan II Cadangan) dan ditugaskan di Sri Lanka pada Anglo-Dutch 
Country Section yang di kalangan Belanda disebut Korps Insulinde (KI). 
  Sejak kedatangannya di Indonesia pada bulan Desember 1945, Kapten KNIL W.J. 
Schneepens mengembangkan gagasan untuk membentuk suatu “speciaale troepen” 
(pasukan khusus) dalam KNIL (Ayahnya, Lekol W.B.J.A. Scheepens adalah perwira 
Korps Marechaussee –marsose- yang bertugas di  Aceh, dan tewas tahun 1913 
akibat tusukan rencong). Gagasan ini kemudian mendapat persetujuan pimpinannya. 
Pada 15 Juni 1946 dia mendirikan pusat pelatihan yang dinamakan Depot Speciale 
Troepen – DST (Depot Pasukan Khusus) yang ditempatkan langsung di bawah 
Directoraat Centrale Opleidingen - DCO (Direktorat Pusat Pelatihan) yang 
dipimpin oleh Mayor Jenderal KNIL E. Engles. Direktorat ini baru dibentuk 
setelah Perang Dunia II untuk menangani pelatihan pasukan yang akan dibentuk di 
India Belanda. Kamp dan pelatihan DST pertama ditempatkan di Polonia, Jakarta 
Timur. 
  Pada 20 Juli 1946, Westerling diangkat menjadi Komandan pasukan khusus ini. 
Awalnya, penunjukkan Westerling memimpin DST ini hanya untuk sementara sampai 
diperoleh komandan yang lebih tepat, dan pangkatnya pun tidak dinaikkan, tetap 
Letnan II (Cadangan). Namun dia berhasil meningkatkan mutu pasukan menjelang 
penugasan ke Sulawesi Selatan, dan setelah “berhasil” menumpas perlawanan 
rakyat pendukung Republik di Sulawesi Selatan, dia dianggap sebagai pahlawan 
namanya membumbung tinggi dan pangkatnya naik menjadi kapten.
  Salah satu butir perjanjian CAA adalah, tentara Inggris –dibantu oleh 2 
Divisi tentara Australia- “membersihkan” kekuatan bersenjata pendukung Republik 
Indonesia, dan wilayah yang telah “dibersihkan”, diserahkan kepada NICA 
(Netherlands-Indies Civil Administration), yang tak lain adalah KNIL.
  Sejak September 1945, secara diam-diam pasukan-pasukan Belanda masuk ke 
Indonesia, sebagian dengan kedok NICA dan petugas RAPWI (Recovery of Allied 
Prisoners of War and Internees - Pemulihan Tahanan Perang dan Interniran 
Sekutu).
  3 Divisi tentara Inggris di bawah Letnan Jenderal Philip Christison 
“membersihkan” kekuatan bersenjata RI di Jawa dan Sumatera, dan 2 Divisi 
tentara Australia di bawah Letnan Jenderal Leslie “Ming the Merciless” 
Morshead, membersihkan pendukung bersenjata RI di wilayah Indonesia timur.
  Ternyata Jenderal “Ming the Merciless” (Ming – tokoh kejam dalam fiksi “Flash 
Gordon- yang Tak Kenal Ampun) bekerja lebih cepat dari Christison, dan awal 
Juli 1946, berhasil “membersihkan” kekuatan bersenjata pendukung RI di wilayah 
Indonesia timur, dan pada 13 Juli 1946, secara resmi seluruh wilayah Indonesia 
timur “diserahkan” kepada NICA. Pada 15 Juli 1946, van Mook menggelar 
Konferensi Malino, dekat Makassar, untuk meletekkan dasar pembentukan Negara 
Indonesia Timur.
  Pada 3 Maret 1946, 60 orang serdadu Belanda tiba di Indonesia dan langsung 
dibawa ke Bandung, di mana mereka memperoleh pelatihan dari mantan perwira 
Belanda mantan anggota Korps Insulinde. Setelah itu, realisasi untuk 
pembentukan pasukan parasutis berjalan dengan cepat. Pada 12 Maret 1946, Letnan 
KNIL Jhr. M.W.C. de Jonge, Letnan KNIL Sisselaar dan Letnan KNIL A.L. Cox (dari 
Angkatan Udara) ditugaskan ke Eropa untuk melakukan penelitian serta meminta 
bantuan dari unit parasutis Inggris dan melakukan segala sesuatu yang 
memungkinkan pelatihan parasutis di Hindia Belanda.
  Pada 13 Maret 1946, Letnan de Koning dan Letnan van Beek, dua perwira Belanda 
yang pernah bertugas di Korps Insulinde, dipanggil dari Sri Lanka ke Jakarta 
untuk menjadi pelatih calon pasukan para. Pada 15 Maret 1946 secara resmi 
School voor Opleiding van Parachutisten – SOP (Sekolah Pelatihan Parasutis) 
didirikan dan Kapten C. Sisselaar menjadi komandan pertamanya. Pasukan jebolan 
SOP inilah yang kemudian digunakan dalam agresi militer Belanda kedua pada 19 
Desember 1948 untuk menduduki Yogyakarta, Ibukota Republik Indonesia waktu itu.
  Agar supaya tidak dapat diketahui oleh pihak Republik, kamp pelatihan dipilih 
sangat jauh, yaitu di Papua Barat. Semula dipilih Biak, di mana terdapat bekas 
pangkalan udara tentara Amerika yang masih utuh. Kemudian pada bulan April 
tempat pelatihan dipindahkan ke Hollandia, juga di Papua Barat, yang arealnya 
dinilai lebih tepat untuk dijadikan kamp pelatihan.
  Yang dapat diterima menjadi anggota pasukan para tidak boleh melebihi tinggi 
1,85 m dan berat badan tidak lebih dari 86 kg. Selain tentara yang berasal dari 
Belanda, orang Eropa dan Indo-Eropa juga pribumi yang menjadi tentara KNIL ikut 
dilatih di sini. Mereka berasal dari suku Jawa, Sunda, Ambon, Menado, Timor, 
Melayu, Toraja, Aceh dan beberapa orang Cina. Pelatihan yang dimulai sejak 
bulan April 1946 sangat keras, sehingga banyak yang tidak lulus pelatihan 
tersebut. Sekitar 40% pribumi, 20% orang Eropa dan 15% orang Indo-Eropa 
dinyatakan tidak lulus menjalani pelatihan.
  Pada 1 Mei 1947 telah terbentuk Pasukan Para I (1e para-compagnie) yang 
beranggota 240 orang di bawah pimpinan C. Sisselaar, yang pangkatnya naik 
menjadi Kapten. Pada 1 Juni 1947, pasukan para tersebut dibawa ke lapangan 
udara militer Belanda, Andir (sekarang bandara Hussein Sastranegara), di 
Bandung. Dengan demikian pasukan ini berada tidak jauh dari kamp pelatihan 
tentara KNIL di Cimahi. 
  Spoor, yang lahir di Amsterdam pada 12 Januari 1902 mencatat karir yang 
sangat pesat. Tahun 1945 dia berpangkat Kolonel, dan kemudian tahun 1946 dia 
menggantikan Letnan Jenderal van Oyen menjadi Panglima Tertinggi Tentara 
Belanda di Indonesia.
  Akhir November 1946, seluruh pasukan 15th British Army Corps, yang merupakan 
tentara Sekutu, ditarik dari Indonesia, dan secara resmi, posisinya diambil 
alih oleh KNIL (Koninklijke Nederlands Indische Leger - AD Kerajaan 
India-Belanda) dan KL (Koninklijke Landmacht - Angkatan Darat Kerajaan). Hampir 
seluruh persenjataan tentara sekutu, terutama senjata beratnya, “diwariskan” 
kepada KNIL dan KL, yang pada saat itu telah berbekuatan sekitar 80.000 
personal.
  Kekejaman tentara Belanda pada waktu itu telah diketahui oleh pihak sekutu, 
sebagaimana digambarkan oleh Gilbert MacKereth, The British Minister in 
Indonesia. Di akhir masa tugasnya di Indonesia dia membuat laporan kepada 
Pemerinrah Inggris, di mana dia memberikan catatan, bahwa keganasan perilaku 
Belanda dan para serdadunya terhadap rakyat Indonesia  telah membuat syok 
serdadu Inggris. Mengenai laporan Mackereth, van der Post menulis (lihat: 
Laurens van der Post, “The Admiral’s Baby”, hlm. 173):
  “… Gilberth MacKereth, in his own report to the Secretary of State at the end 
of his mission, was to remark how the brutal behaviour of the Dutch and their 
soldiery towards the Indonesians had schocked the ordinary British soldiers.”
   
  Dengan demikian, tentara Belanda masuk kembali ke Indonesia bukan tahun 1947, 
melainkan sudah mulai 27 Agustus 1945. Selain itu, setelah Jepang menyatakan 
menyerah pada 15 Agustus 1945, ribuan tentara Belanda yang diinternir oleh 
Jepang, dibebaskan kembali, dan sebagian dari mereka -yang kondisi kesehatannya 
memungkinkan- direkrut kembali, mula-mula dengan kedok sebagai polisi, kemudian 
resmi menjadi anggota KNIL.
    =====================================================
  

"I. Bramijn" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  
> IBRAHIM ISA dari BIJLMER
> --------------------------------------
> 08 Juni 2006.
>
> MENGUTIP FAKTA-FAKTA SEJARAH ---- USAHAKAN SEKOREK MUNGKIN.
> ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------
>  
>
>
> Belum lama Radio Nederland > 2006> menyiarkan sebuah tulisan berjudul "Krisis 
> Timor Leste . . ." 
> Yang menganalisa situasi Timor Leste dewasa ini, khususnya sehubungan 
> dengan pergolakan dan konflik intern di negeri tsb.
>
> Tulisan tsb informatif dan berusaha analitis.
> Namun, ada dikemukakan fakta-fakta sejarah yang menurut catatan yang 
> diketahui selama ini, tidak sesuai dengan kenyataan.
> Maka Penulis (I.I.) berusaha memberikan gambaran yang lebih sesuai.
>
> * * *
>
> Di bawah ini dikutip bagian-bagian tertentu yang relevan dari tulisan 
> Radio Nederland tsb., kemudian dikomentari seperlunya:
>
> 1) Kutipan sebagian dari tulisan tsb:
>
> "Di Indonesia tahun 1950an juga terjadi krisis menyusul rencana Wakil 
> Presiden Mohammad
> Hatta untuk merasionalisasi BKR, tentara pejuang kemerdekaan Indonesia."
>
> Komentar:
> Di Indonesia akhir tahun 1950-an tak ada krisis yang menyangkut suatu 
> rencana merasionalisasi BKR, Badan Keamanan Rakyat. Satu kenyataan: 
> Pada akhir tahun 1950-an BKR sudah lama tak ada, sudah 
> berkembang/berubah/dilebur menjadi, TKR, lalu TRI, selanjutnya TNI, 
> menjadi APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesi Serikat, lalu 
> ABRI/TNI lagi.
> Kenyataan lainnya, pada akhir tahun 1950-an, Wapres Hatta tak lagi 
> duduk dalam lembaga eksekutif langsung.
>
> Yang dimaksudkan dengan "krisis dalam tentara nasional Indonesia" pada 
> periode pemerintahan Moh. Hatta tsb , kiranya adalah konsep 
> "rasionalisasi" Wapres / PM Moh Hatta yang dilaksanakannya sebagai 
> kepala pemerintahan presidensil, setelah jatuhnya kabinet Amir 
> Syarifuddin (Pertengahan 1948). Salah satu kelanjutan dari 
> "rasionalisasi" Hatta, adalah meletusnya "Peristiwa Madiun".
> Mr. Amir Syarifuddin adalah tokoh pimpinan PKI, pernah menjabat 
> Menteri Pertahanan RI, kemudian Perdana Menteri RI. Setelah Peristiwa 
> Madiun (1948) tanpa proses pengadilan yang wajar kemudian dieksekusi 
> di desa Ngalihan, Jawa Tengah oleh kekuasaan militer TNI di bawah 
> Gubernur Militer Gatot Subroto, yang berada di bawah pemerintahan 
> presidensil Wapres Moh. Hatta..
>
> Mr Amir Syaifuddin terlibat dalam pembangunan dan pembentukan tentara 
> nasional Indonesia sejak Revolusi Agustus 1945. Tidak heran, bahwa di 
> dalam tentara nasional Indonesia tidak sedikit terdapat
> pengaruh PKI dan Kiri. Selain itu sejak revolusi 1945 terbentuk 
> kekuatan Kiri bersenjata yang merupakan bagian dari Pesindo 
> Sosialis Indonesia>.
>
> Mengenai BKR (Badan Keamanan Rakyat).: -- BKR adalah badan kekuatan 
> bersenjata utama yang terbentuk sejak permulaan Revolusi Agustu 1945. 
> Kekuatan bersenjata ini, termasuk kekuatan-kekuatan bersenjata dan 
> lasykar-lasykar lainnya, kemudian berkembang menjadi
> Tentara Keamanan Rakyat (TKR), lalu menjadi Tentara Republik Indonesia 
> (TRI). Selanjutnya berkembang menjadi TNI. Perubahan dan perkembangan 
> itu berlangsung selagi parpol PKI dan kekuatan Kiri lainnya masih 
> punya pengaruh penting di dalam kekuatan bersenjata revolusi. Amir 
> Syarifuddin sebagai salah seorang Menteri Pertahanan RI punya peranan 
> dalam pembentukan dan pembangunan Tentara Republik Indonesia sejak BKR 
> (Badan Keamanan Rakyat) didirikan dalam tahun 1945. Dengan demikian, 
> yang dirasionalisasi oleh Hatta bukan BKR tetapi TRI/TNI.
>
> * * *
>
> 2) Kutipan sebagian dari tulisan tsb:
>
> "Sama seperti rakyat Indonesia traumatik dengan kedatangan tentara 
> Belanda tahun 47, . . "
>
> Komentar :
> Tentara Belanda datang di Indonesia sudah sejak 1945/46. Membonceng di 
> belakang tentara Sekutu/Inggris, Australia. Kedatangan tentara 
> Belanda, bukan baru terjadi dalam tahun 1947. Tahun 1947 kekuatan 
> militer Belanda sudah siap untuk berperang, maka secara 
> terang-terangan melakukan dua kali agresi terhadap Republik Indonesia 
> (1947 kemudian 1948). Agresi Belanda itu dilakukan atas nama "aksi 
> kepolisian".
>
> Sekadar kutipan dari Ensiklopedia WIKIPEDIA:
>
> "De Eerste Divisie "7 December" werd in 1946 als expeditionaire macht 
> (EM) naar de Oost gezonden om in Indië, 'rust, orde en veiligheid' te 
> herstellen. Nederland was van plan om Indië langs geleidelijke weg een 
> grotere zelfstandigheid te geven, echter het uitroepen van de 
> onafhankelijke Republiek Indonesia twee dagen na de Japanse 
> capitulatie versnelde deze gebeurtenissen."
>
> * * *
>
> 3) Kutipan sebagian dari tulisan tsb:
>
> "Impunitas bagi anggota TNI dalam bertugas menjaga negara kesatuanNKRI 
> merupakan doktrin negara warisan Orde Baru yang dipelihara rapi oleh 
> negara pasça-Soeharto – bahkan, ironisnya, juga oleh sebagian oposisi 
> kiri dan kanan di dalam dan di luar negeri."
>
> Komentar:
> Sulit mencari contoh: -- Dalam kesempatan apa, dimana dan kapan bisa 
> disaksikan bahwa oposisi Kiri di dalam dan luar negeri, yang membela 
> "impunitas bagi TNI" sebagai doktrin negara. Kekuatan Kiri di luar 
> maupun di dalam negeri jelas diketahui adalah korban impunitas TNI.
> PRD, Partai Rakyat Demokratik (Indonesia) yang di dalam negeri adalah 
> suatu parpol Kiri. Sebagai kekuatan Kiri juga dengan tegas mengutuk 
> "impunitas" TNI baik secara umum maupun dalam hubungannya dengan 
> kebijakan pemulihan keamanan di Aceh.
>
> Di dalam dan luarnegeri, identitas kaum Kiri Indonesia yang penting 
> a.l. adalah melakukan oposisi dan protes terhadap impunitas TNI, tidak 
> perduli demi apapun doktrin tsb diberlakukan.
>
> Lain halnya dengan kasus pemberontakan bersenjata kaum separatis 
> melawan Republik Indonesia. Tidak perduli apakah itu DI, TII, Angkatan 
> Perang Ratu Adil di bahwah Kapten (KNIL) Westerling, 
> pemberontakan PRRI/Permesta, RMS, OPM maupun GAM, ----- oposisi Kiri 
> pada pokoknya menentangnya dan membela keutuhan wilayah dan kedaulatan 
> Republik Indonesia, sesuai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 
> Agustus 1945.
>
> "Impunitas" TNI, "ketiadan hukum" bagi TNI, adalah suatu pelanggaran 
> besar terhadap HAM, yang menurut catatan yang dikenal, dilakukan oleh 
> ABRI di bawah Orba, juga hingga kini. Oleh karena itu selalu ditentang 
> dan dilawan oleh kaum oposisi Kiri di dalam maupun di luar negeri.
>
> Komentar selesai.
>
> * * * *
>
>



 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
You can search right from your browser? It's easy and it's free.  See how.
http://us.click.yahoo.com/_7bhrC/NGxNAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke