JAMBI EKSPRESS
Wednesday, 14 June 2006
ZEK dan Industri Manufaktur
Oleh: Bambang Heru
AKHIR-akhir ini, muncul gagasan untuk membentuk zona ekonomi khusus (ZEK) di
berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Jawa Timur. Gagasan tersebut ditujukan
untuk meningkatkan ekonomi daerah maupun nasional. Namun, sebelum ZEK
diterapkan, perlu ada masukan sebanyak-banyaknya karena kurang mengakomodasi
kekuatan ekonomi lokal.
Salah satu tujuan ZEK adalah mengundang investor asing. Sebab, investasi
(asing maupun domestik) diperlukan untuk mendongkrak perekonomian. Peningkatan
ekonomi dicerminkan oleh peningkatan volume gross domestic product (GDP) yang
merupakan totalitas nilai tambah (value added) perekonomian suatu wilayah
tertentu dalam kurun waktu tertentu. Nilai tambah merupakan balas jasa faktor
produksi (tenaga kerja, tanah, modal, dan entrepreneur) yang dioperasikan di
suatu wilayah.
Naiknya investasi akan mendorong bertambahnya faktor produksi, demikian
juga besaran balas jasanya (nilai tambah). Peningkatan nilai tambah lebih
populer dengan istilah pertumbuhan ekonomi. Namun, pertumbuhan GDP tersebut
belum berarti pasti menyejahterakan masyarakat lokal karena sebagian besar
tentu milik investor.
Bayangan menguntungkan dari ZEK secara nyata juga dibarengi bayangan
berpotensi merugikan. Pertama, Tiongkok sebagai acuan ZEK memaknai investor
asing sebagai orang-orang Tiongkok perantauan (overseas Chinese). Apakah
Indonesia punya overseas Indonesian yang cukup signifikan untuk mendongkrak
investasi?
Kedua, untuk memperlancar kerja ZEK, pemerintah juga harus memberikan
insentif pajak. Aspek tersebut mengandung makna potensi pengurangan pemasukan
APBN.
Ketiga, kalau bertujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mungkin itu bisa
tercapai. Namun, masalahnya adalah "pertumbuhan" milik siapa? Investor di ZEK
tentu paling banyak menikmati nilai tambah yang tercipta, sedangkan orang
Indonesia (Jawa Timur) dan pemerintah hanya menikmati pajak yang sudah dipotong
insentif. Dengan demikian, masuk akal kalau ada pakar yang berpendapat bahwa
sebagian (besar) nilai tambah yang tercipta "terbang" kembali ke negara
investor.
Keempat, kalau tujuannya mengurangi pengangguran, muncul pertanyaan, apakah
investor asing cukup peduli terhadap pengangguran di negara lain? Investor
asing lebih memilih investasi ke usaha padat modal dan padat teknologi yang
lebih profitable.
Kelima, sebuah industri yang didirikan dari modal asing sangat mungkin
memprioritaskan bahan bakunya juga dari negara investor. Contohnya, industri
pakan ternak (asing) yang harus mengimpor jagung dari negaranya dengan alasan
produk lokal tidak memenuhi standar internasional atau dengan alasan pasokan
tidak memenuhi jadwal kebutuhan secara teratur.
Keenam, dari sebab yang pertama sampai kelima, impor akan membengkak dan
mengganggu neraca pembayaran dan menurunkan potensi GDP. Dengan demikian,
gagasan ZEK jangan-jangan merupakan bentuk kolonialisme ekonomi gaya baru
dengan baju globalisasi.
Mahathir Mohamad, mantan Perdana Menteri Malaysia, menyatakan bahwa
globalisasi perlu dihadapi dengan semangat nasionalisme yang sama kuat seperti
saat negara-negara lemah melawan penjajahan zaman dulu. Pernyataan tersebut
sangat relevan dengan perjuangan bangsa Indonesia dalam memasuki era global
saat pemerintah berencana mengimplementasikan ZEK.
Sesuatu yang lebih penting dicoba, suasana interdependensi ekonomi
antarprovinsi dan antarkabupaten/kota dalam provinsi di Indonesia perlu
diperkuat. Rencana menggapai tingkat pertumbuhan tinggi demi peningkatan
kesejahteraan rakyat perlu mengacu pada pernyataan Mahathir tersebut.
Potensi ZEK
Berdasar kajian data industri besar dan sedang di Jawa Timur, 38
kabupaten/kota bisa dipilah menjadi tiga kawasan, yakni kawasan barat, tengah,
dan timur. Kawasan tengah terdiri atas Surabaya, Gersik, Sidoarjo, Mojokerto
(kab/kota), Malang (kab/kota), Batu, dan Pasuruan (kab/kota). Kawasan barat
terdiri atas 17 kabupaten/kota di sebelah barat kawasan tengah. Dan, kawasan
timur adalah 11 kab/kota di sebelah timur kawasan tengah.
Industri di kawasan barat dan timur lebih bersifat resource-based industry,
sedangkan kawasan tengah bersifat import-based industry. Interdependensi
antarkawasan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan ekonomi yang lebih
berpotensi memberikan keuntungan yang sebenarnya bagi ekonomi Jawa Timur.
Kawasan barat dan timur memproduksi barang/jasa yang merupakan input antara
(intermediate input) bagi industri di kawasan tengah.
Dengan demikian, impor bahan baku bisa ditekan. Kondisi tersebut bisa
dicapai karena data membuktikan bahwa produk industri Jawa Timur lebih banyak
digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Interdependensi antarkawasan tersebut mungkin lebih menguntungkan
dibandingkan ZEK. Interdependensi juga bisa bermakna penyerapan tenaga kerja di
samping captive market produk-produk industri berbasis sumber daya alam.
Interdependensi bisa pula berarti pengurangan impor, terutama bahan baku.
(Bambang Heru, praktisi data makro, memperoleh doktor ilmu ekonomi di Unair,
kini bekerja di Badan Pusat Statistik (BPS) di Jakarta
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/