JAMBI EKSPRESS
Melepaskan Ketergantungan pada BBM
Wednesday, 14 June 2006
Oleh: Tony Wardoyo
INDONESIA memasuki krisis penyediaan bahan bakar minyak (BBM) yang
semakin mengkhawatirkan dengan meluasnya kelangkaan BBM di hampir seluruh
pelosok tanah air.
Sebenarnya, pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono telah berusaha
mengatasinya dengan beberapa cara. Misalnya, peningkatan suplai BBM ke SPBU
sampai imbauan penghematan pemakaian BBM. Tetapi selain langkah-langkah itu,
pemerintah perlu mendorong inovasi dan kampanye energi alternatif selain BBM.
Dalam anggaran pendapatan belanja negara (APBN) diasumsikan produksi
migas mencapai 1,2 juta barel per hari (bph). Tapi, realitasnya mungkin tidak
sampai 1 juta bph.
Sudah beberapa saat terakhir ini Indonesia masuk kategori
net-importer. Produksi minyak bumi rata-rata Mei 2004 tercatat di bawah 900.000
bph, sedangkan konsumsinya setara dengan 1 juta bph. Dari produksi minyak
tersebut, bagian pemerintah (termasuk pajak) sekitar 600.000 bph.
Bukti penurunan produksi minyak itu adalah penyediaan BBM yang
cenderung labil. Bahkan, sering terjadi kelangkaan karena kemampuan produksi
kita tidak mencukupi kebutuhan domestik. Untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri,
kita justru mengimpor. Sementara itu, harga minyak di pasar internasional sudah
sangat tinggi sehingga membebani APBN karena harga tersebut disubsidi
pemerintah.
Anehnya, hal itu terkesan kurang ditanggapi serius oleh pemerintah.
Sehingga, produksi migas Indonesia terus turun dan saat harga minyak melambung,
kita kehilangan peluang untuk meraih windfall profit.
Bahkan, Indonesia dirugikan oleh naiknya harga minyak karena
Pertamina harus mencari pasokan dolar Amerika untuk memenuhi kebutuhan impor
BBM. Setiap bulan, Pertamina harus menyiapkan dana USD1 miliar untuk memenuhi
kebutuhan BBM.
Salah satu penyebab menurunnya produksi minyak Pertamina adalah
hilangnya kontrol perusahaan BUMN itu terhadap perusahaan-perusahaan minyak
asing di Indonesia. Akibatnya, jumlah minyak mentah yang dikirim ke kilang
Pertamina terus berkurang.
Impor menjadi semakin meningkat, sedangkan kapasitas kilang Pertamina
tidak bertambah sejak 1994. Kilang-kilang yang sudah ada mulai rusak, misalnya
di Dumai.
Produksi kilang Pertamina hanya mampu mencukupi sekitar 70 persen
dari total kebutuhan. Sisanya harus diimpor. Dengan kenaikan harga minyak
mentah yang terus melambung, bahkan hingga USD80 per barel, dibutuhkan lebih
banyak dana dan tentu saja subsidi untuk impor BBM.
Energi Alternatif
Krisis BBM saat ini tak cukup diatasi dengan cara-cara konvensional,
namun harus diubah secara komprehensif. Momentum krisis BBM yang semakin luas
ini harus dijadikan starting untuk memulai perubahan.
Caranya, melepaskan diri dari ketergantungan pada BBM. Minyak sebagai
energi fosil, bukan sumber energi yang kekal dan terbarui. Cepat atau lambat
akan habis juga. Di Indonesia, minyak dieksploitasi sejak 1885 oleh Royal Dutch
atau Shell Group. Kini kandungan minyak kita makin berkurang dan akan habis
pada waktunya. Karena itu, dibutuhkan pemanfaatan energi alternatif.
Program pertama yang bisa dilakukan adalah mengurangi ketergantungan
PLN dari BBM. Kebutuhan pasokan minyak PLN kini mencapai 13 juta kiloliter atau
20 persen kebutuhan minyak nasional. Tersedia alternatif energi pengganti,
yaitu pembangkit listrik tenaga angin (kincir angin), tenaga air, tenaga panas
bumi, dan panas matahari.
Penggunaan mobil tenaga surya telah lama dipopulerkan di Jepang. Di
Indonesia, inovasi mobil tenaga surya telah dilakukan sejak Orde Baru. Tapi
tidak ada upaya yang terus-menerus diintensifkan pemasyarakatannya.
Laut merupakan sumber energi yang berlimpah. Energi listrik bisa
dihasilkan dari tenaga arus laut, tenaga gelombang laut, serta tenaga yang
dihasilkan oleh perbedaan suhu antara permukaan dan kedalaman laut.
Laut Selatan Jawa merupakan sumber tenaga gelombang laut dan sumber
tenaga perbedaan suhu laut. Selain tenaga ombaknya besar, dua kilometer dari
garis pantai merupakan palung laut yang bisa diambil tenaganya dari perbedaan
suhunya. Energi yang dihasilkan laut memiliki kelebihan, antara lain, karena
tidak akan habis.
Nuklir
Sumber energi yang lain adalah pembangkit tenaga nuklir. Namun, isu
ini sangat sensitif dan kotroversial. Ketika menjadi Menteri Riset dan
Teknologi, Habibie pada 1980-an merencanakan pembangunan reaktor nuklir di
Jepara untuk mengatasi krisis listrik di Jawa.
Namun, hal itu ditentang karena masyarakat tidak percaya pada SDM
yang akan mengelola reaktor tersebut, mengingat risiko teknologinya yang tinggi.
Bagaimanapun, dengan pembangunan reaktor nuklir untuk tujuan damai,
ketergantungan terhadap minyak bisa diatasi. Masalahnya, apakah masyarakat bisa
menerima pembangunan reaktor nuklir?
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah lama
mengembangkan berbagai teknologi yang mampu menyubstitusi BBM dari kebun
energi. BPPT sudah mengembangkan biodiesel dari kelapa sawit. Namun karena
tidak ada kebijakan energi yang radikal untuk pemanfaatan secara masal, harga
bahan bakar tersebut lebih mahal dibandingkan solar.
Harga biodiesel tersebut mencapai Rp4 ribu per liter, bandingkan
dengan solar yang Rp2.700 per liter. Dengan produksi masal, harga biodiesel
bisa lebih murah. Kebutuhan solar saat ini berkisar 27 juta kiloliter per tahun
dan 30 persennya diimpor. Padahal, kemampuan produksi CPO nasional 9 juta ton
per tahun. Dengan begitu, biodiesel bisa menggantikan ketergantungan pada
solar. Untuk memproduksi satu liter biodiesel dibutuhkan satu kilogram CPO.
Selain minyak sawit, sedikitnya ada 40 jenis minyak lain yang dapat
dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku biodiesel. Di antaranya, minyak kelapa,
jarak pagar, dan kapuk. Selain biodiesel, bioetanol bisa dimanfaatkan untuk
energi alternatif.
Jadi, sudah saatnya dibuat UU energi yang baru yang dapat mengubah
arah politik energi nasional agar tidak bergantung terlalu besar pada BBM.
Sebelum UU itu, pemerintah bisa mengeluarkan PP yang mengatur penggunaan energi
alternatif dari kebun energi atau penggunaan batu bara yang lebih luas.
(Penulis adalah anggota DPR RI
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Great things are happening at Yahoo! Groups. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/TISQkA/hOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/