DJ Oko - Duka Jogja Duka Indonesia
Thank you for add
<http://www.friendster.com/login.php?aff_id=15175964&link_id=2&count=cli
ck> [EMAIL PROTECTED] On friendster
Direct Line 021.88.32.068 After Hour 021.93.102.213
 

 Menikah Membuatku Jadi Kaya

Oleh Azimah Rahayu
13 Jun 2006 06:59 WIB
Pada hari-hari pertama pernikahan kami, suami bertanya, "Ke mana saja
uangmu selama ini?" Pertanyaan itu sungguh menggedor dadaku. Ya, ke mana
saja uangku selama ini? Buku tabunganku tak pernah berisi angka belasan
hingga puluhan juta. Selalu hanya satu digit. Itu pun biasanya selalu
habis lagi untuk kepentingan yang agak besar seperti untuk bayar kuliah
(ketika aku kuliah) dan untuk kepentingan keluarga besarku di kampung.
Padahal, kalau dihitung-hitung, gajiku tidaklah terlalu kecil-kecil
amat. Belum lagi pendapatan lain-lain yang kudapat sebagai penulis,
instruktur pelatihan menulis, pembicara di berbagai acara, guru privat,
honor anggota tim audit ataupun tim studi. Lalu, ke mana saja uangku
selama ini? Kepada suamiku, waktu itu aku membeberkan bahwa biaya
operasional untuk keaktifanku cukup besar. Ongkos jalan, pulsa telepon,
nombok biaya kegiatan, makan dan traktiran. Intinya, aku mencari apologi
atas aliran uangku yang tidak jelas.
Namun diam-diam aku malu padanya. Sesaat sebelum pernikahan kami, dia
berkata, "Gajiku jauh di bawah gajimu...". Kata-kata suamiku -ketika
masih calon- itu membuatku terperangah. "Yang benar saja?" sambutku
heran. Dengan panjang kali lebar kemudian dia menjelaskan kondisi
perusahaan plat merah tempatnya bekerja serta bagaimana tingkat
numerasinya. Yang membuatku lebih malu lagi adalah karena dengan gajinya
yang kecil itu, setelah empat tahun hidup di Jakarta, ia telah mampu
membeli sebuah sepeda motor baru dan sebuah rumah -walaupun bertipe RSS-
di dalam kota Jakarta. Padahal, ia tidak memiliki sumber penghasilan
lain, dan dikantornya dikenal sebagai seorang yang bersih, bahkan "tak
kenal kompromi untuk urusan uang tak jelas." Fakta bahwa gajinya kecil
membuatku tahu bahwa suamiku adalah seorang yang hemat dan pandai
mengatur penghasilan. Sedang aku? 
***
Hari-hari pertama kami pindahan. 
Aku menata baju-baju kami di lemari. "Mana lagi baju, Mas?" tanyaku pada
suami yang tengah berbenah. "Udah, itu aja!" Aku mengernyit. "Itu aja?
Katanya kemarin baju Mas banyak?" tanyaku lebih lanjut. "Iya, banyak
kan?" tegasnya lagi tanpa menoleh. Aku kemudian menghitung dengan suara
keras. Tiga kemeja lengan pendek, satu baju koko, satu celana panjang
baru, tiga pasang baju seragam. Itu untuk baju yang dipakai keluar
rumah. Sedang untuk baju rumah, tiga potong kaos oblong dengan gambar
sablon sebuah pesantren, dua celana pendek sedengkul dan tiga pasang
pakaian dalam. Ketika kuletakkan dalam lemari, semua itu tak sampai
memenuhi satu sisi pintu sebuah lemari. Namun dua lemari besar itu
penuh. Itu artinya pakaianku lebih dari tiga kali lipat lebih banyak
dibanding jumlah baju suamiku. Kata orang, kaum wanita biasanya memang
memiliki baju lebih banyak dibanding kaum laki-laki. Tapi isi lemari
baju itu memberikan jawaban atas banyak hal padaku. Terutama,
pertanyaannya di hari-hari pertama pernikahan kami tentang ke mana saja
uangku. Isi lemari itu memberi petunjuk bahwa selain untuk keluarga dan
organisasi, ternyata aku menghabiskan cukup banyak uang untuk belanja
pakaian. Oo!
Pekan-pekan pertama aku hidup bersamanya. 
Aku mencoba mencatat semua pengeluaran kami. Dan aku sudah mulai memasak
untuk makan sehari-hari. Cukup pusing memang. Apalagi jika melihat
harga-harga yang terus melonjak. Tapi coba lihat...! Untuk makan
seminggu, pengeluaran belanjaku tak pernah lebih dari seratus ribu.
Padahal menu makanan kami tidaklah terlalu sederhana: dalam seminggu
selalu terselip ikan, daging atau ayam meski tidak tiap hari.
Buah-makanan -kesukaanku- dan susu -minuman favorit suamiku- selalu
tersedia di kulkas. Itu artinya, dalam sebulan kami berdua hanya
menghabiskan kurang dari lima ratus ribu untuk makan dan belanja
bulanan. Aku jadi berhitung, berapa besar uang yang kuhabiskan untuk
makan ketika melajang? Aku tak ingat, karena dulu aku tak pernah
mencatat pengeluaranku dan aku tidak memasak. Tapi yang pasti, makan
siang dan malamku rata-rata seharga sepuluh hingga belasan ribu. Belum
lagi jika aku jalan-jalan atau makan di luar bersama teman. Bisa
dipastikan puluhan ribu melayang. Itu artinya, dulu aku menghabiskan
lebih dari 500ribu sebulan hanya untuk makan? Ups!
Baru sebulan menikah. 
"De, kulihat pembelian pulsamu cukup banyak? Bisa lebih diatur lagi?" 
"Mas, untuk pulsa, sepertinya aku tidak bisa menekan. Karena itu adalah
saranaku mengerjakan amanah di organisasi." Si mas pun mengangguk. Tapi
ternyata, kuhitung dalam sebulan ini, pengeluaran pulsaku hanya 300
ribu, itu pun sudah termasuk pulsa untuk hp si Mas, lumayan berkurang
dibanding dulu yang nyaris selalu di atas 500 ribu rupiah.
Masih bulan awal perkawinan kami. 
Seminggu pertama, aku diantar jemput untuk berangkat ke kantor. Tapi
berikutnya, untuk berangkat aku nebeng motor suamiku hingga ke jalan
raya dan meneruskan perjalanan dengan angkutan umum sekali jalan. Dua
ribu rupiah saja. Pulangnya, aku naik angkutan umum. Dua kali,
masing-masing dua ribu rupiah. Sebelum menikah, tempat tinggalku hanya
berjarak tiga kiloan dari kantor. Bisa ditempuh dengan sekali naik
angkot plus jalan kaki lima belas menit. Ongkosnya dua ribu rupiah saja
sekali jalan. Tapi dulu aku malas jalan kaki. Kuingat-ingat, karena
waktu mepet, aku sering naik bajaj. Sekali naik enam ribu rupiah.
Kadang-kadang aku naik dua kali angkot, tujuh ribu rupiah pulang pergi.
Hei, besar juga ya ternyata ongkos jalanku dulu? Belum lagi jika hari
Sabtu Ahad. Kegiatanku yang banyak membuat pengeluaran ongkos dan makan
Sabtu Ahadku berlipat.
Belum lagi tiga bulan menikah. 
"Ke ITC, yuk, Mas?" Kataku suatu hari. Sejak menikah, rasanya aku belum
lagi menginjak ITC, mall, dan sejenisnya. Paling pasar tradisional.
"Oke, tapi buat daftar belanja, ya?" kata Masku. Aku mengangguk. Di ITC,
aku melihat ke sana ke mari. Dan tiap kali melihat yang menarik, aku
berhenti. Tapi si Mas selalu langsung menarik tanganku dan berkata,"Kita
selesaikan yang ada dalam daftar dulu?" Aku mengangguk malu. Dan aku
kembali teringat, dulu nyaris setiap ada kesempatan atau pas lewat, aku
mampir ke ITC, mall dan sejenisnya. Sekalipun tanpa rencana, pasti ada
sesuatu yang kubeli. Berapa ya dulu kuhabiskan untuk belanja tak terduga
itu?
Masih tiga bulan pernikahan "Kita beli oleh-oleh sebentar ya, untuk
Bude?" Masku meminggirkan motor. Kios-kios buah berjejer di pinggir
jalan. Kami dalam perjalanan silaturahmi ke rumah salah satu kerabat.
Dan membawakan oleh-oleh adalah bagian dari tradisi itu. 
"Sekalian, Mas. Ambil uang ke ATM itu..." Aku ingat, tadi pagi seorang
tetangga ke rumah untuk meminjam uang. Ini adalah kesekian kali, ada
tetangga meminjam kepada kami dengan berbagai alasan. Dan selama masih
ada si Mas selalu mengizinkanku untuk memberi pinzaman(meski tidak
langsung saat itu juga). Semua itu membuatku tahu, meskipun hemat, si
Mas tidaklah pelit. Bersikaplah pertengahan, begitu katanya. Jangan
menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak jelas, tapi jangan
lantas menjadi pelit! 
*** 
Semester pertama pernikahan.
Mengkilat. Elegan. Kokoh. Masih baru. Gress. Begitu sedap dipandang
mata. Benda itu, sudah sekian lama kuinginkan. Sebuah laptop baru kelas
menengah (meski masih termasuk kategori low end). Namun selama ini,
setiap kali melihatnya di pameran atau di toko-toko komputer, aku hanya
bisa memandanginya dan bermimpi. Tak pernah berani merencanakan,
mengingat duitku yang tak pernah cukup. Tapi rasanya, dalam waktu dekat
benda di etalase itu akan kumiliki. Rasanya sungguh indah, memiliki
sebuah benda berharga yang kubeli dengan uangku sendiri, uang yang
kukumpulkan dari gajiku.
Sejak menikah, aku tak pernah lagi membeli baju untuk diriku sendiri.
Pakaian dan jilbabku masih dapat di-rolling untuk sebulan. Sejak
menikah, aku memilih membawa makan siang dari rumah ke kantor. Aku juga
jarang ke mall lagi. Dan kini, setiap kali akan membeli sesuatu, aku
selalu bertanya: perlukah aku membeli barang itu? Indahnya, aku
menikmati semua itu. Dan kini, aku bisa menggunakan tabunganku untuk
sesuatu yang lebih berharga dan tentu saja bermanfaat bagi aktifitasku
saat ini, lingkunganku dan masa depanku nanti.
Aku bersyukur kepada Allah. Semua ini, bisa dikatakan sebagai berkah
pernikahan. Bukan berkah yang datang tiba-tiba begitu saja dari langit.
Tapi berkah yang dikaruniakan Allah melalui pelajaran berhemat yang
dicontohkan oleh suamiku. Rabb, terima kasih atas berkahMu...
DIKUTIP DARI www.eramuslim.com
 
  


[Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
At VolunteerMatch, any nonprofit can recruit enthusiastic volunteers right away!
http://us.click.yahoo.com/DnDZbC/8OaOAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke