Memang hidup ini enak untuk dijalani bagi yang punya 'modal' lebih dibandingkan orang lain yang belum seberuntung mereka. Mau beli ini, ada uang.. mau beli itu tinggal gesek kartu kredit.. Dari tulisan di bawah, pengeluaran sebelum menikah:
* > Rp 500 ribu untuk pulsa * > Rp 500 ribu untuk makan * (?) untuk belanja di Mol. Mereka yang masih mendapat penghasilan di atas Rp 1 juta harus banyak bersyukur. Buktinya UMR DKI gak sampai Rp 800 ribuan toh.. apalagi yang di daerah. Dan kalau disurvey, tidak sedikit yang mendapat penghasilan kurang dari batas UMR tersebut. Apalagi mereka harus menanggung anak (yang bisa lebih dari 1). Menikah menjadikan kaya? Jangan berlebihan-lah.. Bukan gak percaya 'kata Ustadz'.. Biasa aja gitu loh.. Konon teoritisnya gitu.. waktu satu orang berarti rejekinya untuk 1 orang.. waktu nikah (2 orang) berarti jatah rejekinya untuk 2 orang.. begitu seterusnya setelah anak lahir.. tapi kan prakteknya (sekarang) gak bisa saklek kaya' gitu toh.. IMHO, kalau emang gak mampu gak usah sok-sok-an punya banyak anak lah.. nyusah"in diri sendiri aja.. belum lagi tanggung jawabnya kan gede, untuk ngasih makan, nyekolahin.. hehehe.. sorry bahasanya asal.. lagi males nulis pake bahasa 'formal'. :-p ------- Biar lebih gampang nyambungnya lebih enak pake contoh aje kali ye.. :-) Kalau dihitung" (pengalaman pribadi), pengeluaran untuk makan/masak (di rumah), rata" bisa sampai 10-15 ribu sehari atau 70-105 ribu seminggu. Kita ambil tengahnya: 90 ribu. Plus jajan anak yang bisa sampai 6-10 ribu sehari (2 anak). Jadi udah cepek dalam seminggu atau 400 ribu-an sebulan. Belum untuk uang sekolah anak.. Gak usah yang mahal/bonafid banget.. TK 50-60 ribu, SD swasta cepek sebulan (yang gak bisa masuk SDN karena umur anaknya kurang). Ongkos bensin (motor), 2 hari ceban, seminggu bisa 30-35 ribuan, sebulan bisa 120-150ribuan. Untuk makan siang yang minimal goceng (hari gene), makan di warteg. Praktis perlu tambahan minimal cepek lagi. Belum tagihan listrik (dan telepon kalau ada). Artinya minimal harus ada dana 400+150+100+60 (atau 100)+tagihan listrik+telepon. Belum utang" yang harus dibayar (hm.. hutang KTA, kartu kredit).. hehehe.. Itulah sebabnya kenapa saya menentang kenaikan harga BBM tempo hari. Karena meskipun saya Alhamdulillah mendapat penghasilan bulanan di atas UMR, (sementara masih banyak yang hanya sebatas itu atau bahkan di bawahnya) akan merasakan dampak dari kenaikan harga BBM tersebut. Bahkan mereka jauh lebih merasakannya dibanding kita" yang lebih beruntung ini.. :-( Ongkos transportasi dan harga" barang akan ikut latah (naik) mau tidak mau --> memaksa meningkatnya penggunaan sepeda motor di jalan --> menambah kemacetan --> meningkatkan (pemborosan) penggunaan BBM. Saya memang tidak bisa membantu orang lain seperti orang lain, setidaknya (mudah"an) masih ada empati yang saya punya.. CMIIW.. Wassalam, Irwan.K On 6/14/06, Jimmy Okberto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > DJ Oko - Duka Jogja Duka Indonesia > Thank you for add > <http://www.friendster.com/login.php?aff_id=15175964&link_id=2&count=cli > ck> [EMAIL PROTECTED] On friendster > Direct Line 021.88.32.068 After Hour 021.93.102.213 > > Menikah Membuatku Jadi Kaya > > Oleh Azimah Rahayu > 13 Jun 2006 06:59 WIB > Pada hari-hari pertama pernikahan kami, suami bertanya, "Ke mana saja > uangmu selama ini?" Pertanyaan itu sungguh menggedor dadaku. Ya, ke mana > saja uangku selama ini? Buku tabunganku tak pernah berisi angka belasan > hingga puluhan juta. Selalu hanya satu digit. Itu pun biasanya selalu > habis lagi untuk kepentingan yang agak besar seperti untuk bayar kuliah > (ketika aku kuliah) dan untuk kepentingan keluarga besarku di kampung. > Padahal, kalau dihitung-hitung, gajiku tidaklah terlalu kecil-kecil > amat. Belum lagi pendapatan lain-lain yang kudapat sebagai penulis, > instruktur pelatihan menulis, pembicara di berbagai acara, guru privat, > honor anggota tim audit ataupun tim studi. Lalu, ke mana saja uangku > selama ini? Kepada suamiku, waktu itu aku membeberkan bahwa biaya > operasional untuk keaktifanku cukup besar. Ongkos jalan, pulsa telepon, > nombok biaya kegiatan, makan dan traktiran. Intinya, aku mencari apologi > atas aliran uangku yang tidak jelas. > Namun diam-diam aku malu padanya. Sesaat sebelum pernikahan kami, dia > berkata, "Gajiku jauh di bawah gajimu...". Kata-kata suamiku -ketika > masih calon- itu membuatku terperangah. "Yang benar saja?" sambutku > heran. Dengan panjang kali lebar kemudian dia menjelaskan kondisi > perusahaan plat merah tempatnya bekerja serta bagaimana tingkat > numerasinya. Yang membuatku lebih malu lagi adalah karena dengan gajinya > yang kecil itu, setelah empat tahun hidup di Jakarta, ia telah mampu > membeli sebuah sepeda motor baru dan sebuah rumah -walaupun bertipe RSS- > di dalam kota Jakarta. Padahal, ia tidak memiliki sumber penghasilan > lain, dan dikantornya dikenal sebagai seorang yang bersih, bahkan "tak > kenal kompromi untuk urusan uang tak jelas." Fakta bahwa gajinya kecil > membuatku tahu bahwa suamiku adalah seorang yang hemat dan pandai > mengatur penghasilan. Sedang aku? > *** > Hari-hari pertama kami pindahan. > Aku menata baju-baju kami di lemari. "Mana lagi baju, Mas?" tanyaku pada > suami yang tengah berbenah. "Udah, itu aja!" Aku mengernyit. "Itu aja? > Katanya kemarin baju Mas banyak?" tanyaku lebih lanjut. "Iya, banyak > kan?" tegasnya lagi tanpa menoleh. Aku kemudian menghitung dengan suara > keras. Tiga kemeja lengan pendek, satu baju koko, satu celana panjang > baru, tiga pasang baju seragam. Itu untuk baju yang dipakai keluar > rumah. Sedang untuk baju rumah, tiga potong kaos oblong dengan gambar > sablon sebuah pesantren, dua celana pendek sedengkul dan tiga pasang > pakaian dalam. Ketika kuletakkan dalam lemari, semua itu tak sampai > memenuhi satu sisi pintu sebuah lemari. Namun dua lemari besar itu > penuh. Itu artinya pakaianku lebih dari tiga kali lipat lebih banyak > dibanding jumlah baju suamiku. Kata orang, kaum wanita biasanya memang > memiliki baju lebih banyak dibanding kaum laki-laki. Tapi isi lemari > baju itu memberikan jawaban atas banyak hal padaku. Terutama, > pertanyaannya di hari-hari pertama pernikahan kami tentang ke mana saja > uangku. Isi lemari itu memberi petunjuk bahwa selain untuk keluarga dan > organisasi, ternyata aku menghabiskan cukup banyak uang untuk belanja > pakaian. Oo! > Pekan-pekan pertama aku hidup bersamanya. > Aku mencoba mencatat semua pengeluaran kami. Dan aku sudah mulai memasak > untuk makan sehari-hari. Cukup pusing memang. Apalagi jika melihat > harga-harga yang terus melonjak. Tapi coba lihat...! Untuk makan > seminggu, pengeluaran belanjaku tak pernah lebih dari seratus ribu. > Padahal menu makanan kami tidaklah terlalu sederhana: dalam seminggu > selalu terselip ikan, daging atau ayam meski tidak tiap hari. > Buah-makanan -kesukaanku- dan susu -minuman favorit suamiku- selalu > tersedia di kulkas. Itu artinya, dalam sebulan kami berdua hanya > menghabiskan kurang dari lima ratus ribu untuk makan dan belanja > bulanan. Aku jadi berhitung, berapa besar uang yang kuhabiskan untuk > makan ketika melajang? Aku tak ingat, karena dulu aku tak pernah > mencatat pengeluaranku dan aku tidak memasak. Tapi yang pasti, makan > siang dan malamku rata-rata seharga sepuluh hingga belasan ribu. Belum > lagi jika aku jalan-jalan atau makan di luar bersama teman. Bisa > dipastikan puluhan ribu melayang. Itu artinya, dulu aku menghabiskan > lebih dari 500ribu sebulan hanya untuk makan? Ups! > Baru sebulan menikah. > "De, kulihat pembelian pulsamu cukup banyak? Bisa lebih diatur lagi?" > "Mas, untuk pulsa, sepertinya aku tidak bisa menekan. Karena itu adalah > saranaku mengerjakan amanah di organisasi." Si mas pun mengangguk. Tapi > ternyata, kuhitung dalam sebulan ini, pengeluaran pulsaku hanya 300 > ribu, itu pun sudah termasuk pulsa untuk hp si Mas, lumayan berkurang > dibanding dulu yang nyaris selalu di atas 500 ribu rupiah. > Masih bulan awal perkawinan kami. > Seminggu pertama, aku diantar jemput untuk berangkat ke kantor. Tapi > berikutnya, untuk berangkat aku nebeng motor suamiku hingga ke jalan > raya dan meneruskan perjalanan dengan angkutan umum sekali jalan. Dua > ribu rupiah saja. Pulangnya, aku naik angkutan umum. Dua kali, > masing-masing dua ribu rupiah. Sebelum menikah, tempat tinggalku hanya > berjarak tiga kiloan dari kantor. Bisa ditempuh dengan sekali naik > angkot plus jalan kaki lima belas menit. Ongkosnya dua ribu rupiah saja > sekali jalan. Tapi dulu aku malas jalan kaki. Kuingat-ingat, karena > waktu mepet, aku sering naik bajaj. Sekali naik enam ribu rupiah. > Kadang-kadang aku naik dua kali angkot, tujuh ribu rupiah pulang pergi. > Hei, besar juga ya ternyata ongkos jalanku dulu? Belum lagi jika hari > Sabtu Ahad. Kegiatanku yang banyak membuat pengeluaran ongkos dan makan > Sabtu Ahadku berlipat. > Belum lagi tiga bulan menikah. > "Ke ITC, yuk, Mas?" Kataku suatu hari. Sejak menikah, rasanya aku belum > lagi menginjak ITC, mall, dan sejenisnya. Paling pasar tradisional. > "Oke, tapi buat daftar belanja, ya?" kata Masku. Aku mengangguk. Di ITC, > aku melihat ke sana ke mari. Dan tiap kali melihat yang menarik, aku > berhenti. Tapi si Mas selalu langsung menarik tanganku dan berkata,"Kita > selesaikan yang ada dalam daftar dulu?" Aku mengangguk malu. Dan aku > kembali teringat, dulu nyaris setiap ada kesempatan atau pas lewat, aku > mampir ke ITC, mall dan sejenisnya. Sekalipun tanpa rencana, pasti ada > sesuatu yang kubeli. Berapa ya dulu kuhabiskan untuk belanja tak terduga > itu? > Masih tiga bulan pernikahan "Kita beli oleh-oleh sebentar ya, untuk > Bude?" Masku meminggirkan motor. Kios-kios buah berjejer di pinggir > jalan. Kami dalam perjalanan silaturahmi ke rumah salah satu kerabat. > Dan membawakan oleh-oleh adalah bagian dari tradisi itu. > "Sekalian, Mas. Ambil uang ke ATM itu..." Aku ingat, tadi pagi seorang > tetangga ke rumah untuk meminjam uang. Ini adalah kesekian kali, ada > tetangga meminjam kepada kami dengan berbagai alasan. Dan selama masih > ada si Mas selalu mengizinkanku untuk memberi pinzaman(meski tidak > langsung saat itu juga). Semua itu membuatku tahu, meskipun hemat, si > Mas tidaklah pelit. Bersikaplah pertengahan, begitu katanya. Jangan > menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak jelas, tapi jangan > lantas menjadi pelit! > *** > Semester pertama pernikahan. > Mengkilat. Elegan. Kokoh. Masih baru. Gress. Begitu sedap dipandang > mata. Benda itu, sudah sekian lama kuinginkan. Sebuah laptop baru kelas > menengah (meski masih termasuk kategori low end). Namun selama ini, > setiap kali melihatnya di pameran atau di toko-toko komputer, aku hanya > bisa memandanginya dan bermimpi. Tak pernah berani merencanakan, > mengingat duitku yang tak pernah cukup. Tapi rasanya, dalam waktu dekat > benda di etalase itu akan kumiliki. Rasanya sungguh indah, memiliki > sebuah benda berharga yang kubeli dengan uangku sendiri, uang yang > kukumpulkan dari gajiku. > Sejak menikah, aku tak pernah lagi membeli baju untuk diriku sendiri. > Pakaian dan jilbabku masih dapat di-rolling untuk sebulan. Sejak > menikah, aku memilih membawa makan siang dari rumah ke kantor. Aku juga > jarang ke mall lagi. Dan kini, setiap kali akan membeli sesuatu, aku > selalu bertanya: perlukah aku membeli barang itu? Indahnya, aku > menikmati semua itu. Dan kini, aku bisa menggunakan tabunganku untuk > sesuatu yang lebih berharga dan tentu saja bermanfaat bagi aktifitasku > saat ini, lingkunganku dan masa depanku nanti. > Aku bersyukur kepada Allah. Semua ini, bisa dikatakan sebagai berkah > pernikahan. Bukan berkah yang datang tiba-tiba begitu saja dari langit. > Tapi berkah yang dikaruniakan Allah melalui pelajaran berhemat yang > dicontohkan oleh suamiku. Rabb, terima kasih atas berkahMu... > DIKUTIP DARI www.eramuslim.com [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> See what's inside the new Yahoo! Groups email. http://us.click.yahoo.com/B6DZeC/bOaOAA/E2hLAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

