dari milis mediacare.

ada yang menanggapi satrio dengan bagus sekali.
dia masih menunggu jawaban satrio.



From: "idakhouw" <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject: [mediacare] Re: Ormas Islam Satukan Barisan (benar -benar mabok saya)
>Reply-To: [email protected]
>
>Tanggapan terhadap posting Mas Satrio Arismunandar di milis Pantau.
>Dicross-posted di sini, barangkali berguna.
>
>I.
>-----------------
>
>Re: Mencegah Sekularisasi Pancasila
>
>
>Sebetulnya saya curious juga, bagaimana pandangan Mas Satrio sebagai
>pemosting artikel di bawah?.
>
>Pendapat saya:
>Interpretasi bahwa Indonesia dibangun bukan sebagai negara sekuler,
>sebuah interpretasi yang sah-sah saja, sebab Pancasila yang diakui
>sebagai dasar negara pun terbuka untuk interpretasi.
>The Pancasila is nothing solid, an empty bowl, terbuka untuk
>kontestasi (Darmaputera 1988).
>
>Kalaupun bukan sekular, Indonesia pun tidak di-imagined-kan sebagai
>negara berdasar atas Islam (mohon tidak membaca 'imagine'nya Anderson
>sebagai mengkhayal. The Imaginary is a political field. It is a social
>practice [Appadurai 1996]. A collective fantasy landscape [-feminist-
>cultural studies).
>
>Buat saya, Indonesia terlalu beragam untuk didasarkan pada satu agama
>(mungkin para pengusung negara Islam itu harus kasih contoh satu
>negara yang sukses dengan ideologi itu, Islam yang betul2 SUDAH
>menjadi rahmat bagi semua. Saya duga yang bisa berhasil mungkin cuma
>masa ketika dipimpin langsung Nabi SAW. Adakah Muslim Indonesia bisa
>jadi pemimpin seperti Muhammad SAW?)
>
>Lalu, penulis di Republika tsb mengklaim seolah umat Islam Indonesia
>(maksudnya seluruh 80-90% itu?) menghendaki negara berdasar Islam? oh
>come on,,,, ia bersuara mewakili kelompok Muslim mana? saya kira orang
>Indonesia tidak terlalu bodoh dan mempercayai begitu saja klaim atas
>nama Muslim.
>
>Kita lupakan dulu janji2 perlindungan terhadap kelompok lain,
>
>1. Persoalannya di sini, Indonesia diperjuangkan bersama oleh seluruh
>kelompok agama, etnis, golongan dll. lalu kenapa tiba2 sekarang ada
>satu kelompok yang ingin jadi 'pelindung' dan yang lain menjadi 'yang
>dilindungi'? Jelas resistensi terhadap negara Islam menjadi sangat
>masuk akal.
>
>2. Bila kelompok itu terus menerus ingin menghadirkan negara Islam di
>Indonesia, pertanyaannya apa, bagaimana konsepnya tentang Indonesia
>yang demikian plural?
>
>3. Yang ini sedikit melenceng (tapi masih ada kaitannya dengan
>"nation-state" Indonesia), saya kutip komentar seorang Muslim di
>sebuah milis tentang Islam di negeri2 barat (lagi2, "benturan" Islam
>Kristen):
>
>"> Tenang saja... populasi muslim yang baru 1% saja mereka (maksudnya
>negara2 barat -Ida) sudah bingung
> > seperti itu. Jadi sudah pasti mereka tidak akan membiarkan populasi
>muslim
> > sampai sebesar 10% sebagaimana umat Kristiani di negara ini. Kalau
>sudah
> > mendekati angka 10% dapat dipastikan akan ada larangan pembangunan
>masjid
> > di sana."
>
>Komentar saya padanya kurang lebih:
>Sejarah Kristen di Indonesia tidak sama dengan Muslim di negeri2
>Barat. Orang Kristen Indonesia bersama2 memperjuangkan adanya
>Indonesia, berjuang buat kemerdekaan Indonesia.
>
>Kristen di Indonesia adalah AGAMA ORANG INDONESIA (walaupun hadirnya
>belakangan dan memang dibawa oleh Belanda -sebelumnya oleh Portugis
>dan mungkin lain2nya. Pun kalau dipikir2 yang seharusnya paling berhak
>mengklaim sebagai -agama- pribumi pun bukan Islam. Sebelum Islam kan
>orang2 di kepulauan Nusantara sudah beragama juga. Islam dan Kristen
>sama2 BUKAN PRIBUMI dalam konteks ini)
>
>Makanya saya sangat tidak setuju, ketika sekarang nation Indonesia
>sedang dalam proses kontestasi, ANGKA menjadi permainan politik (yang
>paling ekstrim adalah gerakan politik pembentukan negara Islam --mohon
>jangan sensitif, dalam hal ini saya bicara Islam sebagai political
>Islam, saya tidak mengutak-atik Islam sebagai agama).
>
>Tiba2 Kristen yang minoritas dicitrakan seolah2 bukan pribumi
>Indonesia. Apa hak mereka memperlakukan Kristen (dan agama2 lain
>diluar Islam) seperti tamu? Orang2 di kubu "islamist" as such, kadang
>tidak berpikir bahwa ada darah dan otak orang2 Kristen, Hindu,
>Buddhis, Penghayat, Ateis, dll. di atas tanah Indonesia yang mereka
>injak itu.
>
>Tidak ada persoalan mayoritas-minoritas dalam hal ini.
>Umat Islam dan umat Kristen sama2 punya andil menjadikan Indonesia
>ada!!
>
>Makanya terhadap aksi2 perusakan tempat ibadah, komentar saya "hey
>apa-apaan tuh tempat2 ibadah ditutup, dirusak? dihambat2 dengan
>berbagai alasan dicari-cari. Kamu (FPI and the gank) pikir kamu
>siapa?"
>
>Ida Khouw
>
>
>--- In [EMAIL PROTECTED], Satrio Arismunandar
><[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=252197&kat_id=16
> > Rabu, 14 Juni 2006
> >
> > Mencegah Sekularisasi Pancasila
> >
> > Oleh : KH Ma'ruf Amin, Ketua MUI
> >
> > Maklumat keindonesiaan yang digagas dalam simposium
> > nasional bertema ''Restorasi Pancasila'' di Fisip UI
> > pada 30-31 Mei 2006 dan dibacakan Todung Mulya Lubis
> > pada peringatan Hari Lahir Pancasila, menarik
> > dicermati.
> >
> > Maklumat itu menegaskan Pancasila bukanlah agama dan
> > tak satu agama pun berhak memonopoli kehidupan yang
> > dibangun berdasarkan Pancasila. Maklumat juga
> > menegaskan keluhuran sosialisme dan keberhasilan
> > material yang diraih kapitalisme.
> > Kita tidak tahu ada apa di balik penegasan itu. Di
> > satu sisi dinyatakan tak satu agama pun boleh
> > mendominasi kehidupan yang dibangun berdasarkan
> > Pancasila, sementara sosialisme --yang dibangun
> > berdasarkan ideologi materialisme dan antiagama, dan
> > karenanya bertentangan dengan nilai Pancasila---
> > justru diagungkan. Demikian juga dengan kapitalisme
> > yang dibangun berdasarkan sekularisme dan 'setengah'
> > antiagama, serta nyata-nyata melahirkan ketidakadilan
> > global --yang bertentangan dengan nilai Pancasila--
> > malah dipuja-puja.
> >
> > Vision of state
> >
> > Pancasila memang bukan agama, karena ia merupakan
> > kumpulan value (nilai) dan vision (visi) yang hendak
> > diraih dan diwujudkan bangsa Indonesia saat berikhtiar
> > mendirikan sebuah negara. Meski demikian, bukan
> > berarti Pancasila antiagama, atau agama harus
> > disingkirkan dari 'rahim' Pancasila. Karena agama
> > diakui, dilindungi, dan dijamin eksistensinya oleh
> > Pancasila. Masing-masing agama berhak hidup dan
> > pemeluknya bebas menjalankan syariat agamanya.
> > Dengan nilai dan visi ketuhanan, arah Indonesia
> > bukanlah negara sekuler, juga bukan sosialis-komunis
> > maupun kapitalis-liberal. Sangat ganjil dan aneh jika
> > agama --khususnya Islam-- hendak disingkirkan dan
> > dibuang jauh-jauh dari kehidupan, dengan logika tidak
> > boleh ada satu agama (kebenaran) yang mendominasi. Hak
> > umat Islam untuk menjalankan syariat agamanya selalu
> > saja dibenturkan dengan Pancasila dan UUD 1945.
> > Karena itu, maklumat atau logika-logika sejenisnya
> > hanyalah tafsiran nisbi, bahkan (maaf) sangat absurd.
> > Tapi selalu dipaksakan segelintir orang kepada
> > mayoritas rakyat di negeri ini. Aneh, memang, mereka
> > memaksakan tafsirannya atas kebenaran. Bahkan
> > memonopoli tafsiran itu dan dipaksakan kepada orang
> > lain.
> > Ini bentuk inkonsistensi cara berfikir. Tapi, bagi
> > mereka, justru ini merupakan bentuk konsistensi,
> > konsistensi menolak Islam. Karena itulah, hubungan
> > antara agama --khususnya Islam-- dengan negara tak
> > pernah solid karena adanya pihak yang terus-menerus
> > membenturkan agama dan negara.
> > Ketika bangsa yang mayoritas Muslim ini berhasil
> > menyelenggarakan pemilu, mereka berteriak lantang
> > bahwa demokrasi kompatibel dengan Islam.
> > Tapi giliran umat Islam menuntut syariatnya
> > diterapkan, mereka menolak dengan menggunakan tafsir
> > kebenaran sendiri yang (maaf) sudah klise.
> > Cara berpikir seperti ini tentu picik dan tidak
> > jujur. Picik, karena selalu menggunakan Pancasila dan
> > konstitusi sebagai pelarian. Tidak jujur, karena
> > orang-orang itu tidak mau menerima kenyataan, bahwa
> > demokrasi yang mereka agung-agungkan mengajarkan vox
> > populi, vox dei (suara rakyat suara tuhan). Jika
> > rakyat yang mayoritas menginginkan kehidupan
> > mereka diatur syariat, mengapa mereka harus menolak?
> > Kalau kepicikan dan ketidakjujuran ini terus
> > dipraktikkan, kalangan Muslim yang masih menerima
> > demokrasi pun pada akhirnya akan muak. Pada
> > akhirnya, umat Islam akan membuktikan sendiri bahwa
> > demokrasi hanyalah jargon kaum kapitalis-sekuler untuk
> > mempertahankan kepentingan mereka.
> >




------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
See what's inside the new Yahoo! Groups email.
http://us.click.yahoo.com/2pRQfA/bOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke