dulu ketika referomasi bergulir ada statement tembak ditempat bagi 
pembalak kayu tapi tidak tahu kenapa hilang seiring dengan waktu. Ya 
biasanya pejabat lebih senang mencari sensasi bila pertama kali naik tapi 
sesudah menjabat, emang gue pikirin , kasian bangsa ini. 
Kalau kata pa Bas benar bahwa hukum dikita nothing, semuanya harus 
berawal dari perangkat hukumnya, bisa dibersihkan atau tidak, banyak 
jaksa yang bisa disogok ko, banyak polisi yang  kaya buldozer ko dari 
atas sampai bawah semuanya idem, banyak hakim yang nolak didepan tapi 
dibelakang telpon minta uang DP. pekerjaan rumah yang sangat berat. Harus 
ada pemimpin yang diktator untuk memberantas hal seperti ini tapi dia 
mencintai rakyatnya. Tapi kapan, saat ini saja pres sama wapresnya edan 
eling mengurusi negeri ini. PILIH LAH PEMIMPIN YANG GA GENDENG SAMA 
KEKUASAAAN DI PEMILU NANTI

-----Original Message-----
From: "Ambon" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <Undisclosed-Recipient:;>
Date: Thu, 29 Jun 2006 09:53:22 +0200
Subject: [ppiindia] Hutan Kita Gawat dan Nyaris Punah

> http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/29/1101.htm
> 
> 
> Hutan Kita Gawat dan Nyaris Punah 
> Pengantar: 
> 
> PERSATUAN Wartawan Indonesia (PWI) Pusat bekerja sama dengan Departemen
> Kehutanan Sabtu 17 Juni 2006 laludi Jakarta menyelenggarakan Dialog
> Terbuka "Evaluasi Pemberantasan "Illegal Logging" dan Kebijakan
> Revitalisasi Departemen Kehutanan". Rangkuman materi dialog tersebut
> setelah diperkaya bahan-bahan yang relevan dari lapangan di daerah Jawa
> Barat, diturunkan dalam tiga tulisan di halaman ini. Tulisan digarap
> bersama Wartawan "PR" Widodo Asmowiyoto dan Kodar Solihat. Semoga
> bermanfaat. 
> 
> AKIBAT illegal loging (penebangan liar) yang telah berlangsung puluhan
> tahun, situasi kehutanan Indonesia saat ini sudah mencapai fase yang
> gawat. Laju deforestasi (penggundulan hutan) mencapai 2 juta hektare
> per tahun. Dengan laju deforestasi seperti itu, menurut M. Yayat
> Afianto dari Lembaga Swadaya Masyarakat Telapak (LSM) diperkirakan
> hutan alam di Sumatra punah pada 2005, hutan alam di Kalimantan akan
> punah pada 2010, dan hutan alam di Papua Barat akan punah pada 2015.
> 
> Yayat menyodorkan catatan bahwa pembalakan liar sudah terjadi sejak
> awal pengelolaan hutan oleh swasta pada akhir dekade 1960-an (1967).
> Pada saat itu nyaris seluruh hutan produksi di Indonesia habis
> dibagi-bagi kepada perusahaan-perusahaan besar kehutanan. 
> 
> "Hutan Indonesia paling menderita di bawah rezim Soeharto," kata
> Yayat. Mantan presiden tersebut beserta keluarga terdekatnya dan para
> kroni menguasai 7,14 juta ha hutan melalui 27 perusahaan kayu dan
> pengelolaan hutan. "Kerajaan" Bob Hasan, kroni yang paling dekat
> dengan Soeharto, menguasai paling tidak 3 juta ha. Kroni lainnya yaitu
> Prajogo Pangestu mampu menguasai 3,5 juta ha hutan melalui kelompoknya
> Barito Pacific Timber Group.
> 
> Direktur V/Tipiter Bareskrim Polri, Brigjen Pol. Drs. SuhartoM.Hum,
> mencatat bahwa sejak 1997 ketika krisis perekonomian melanda
> negara-negara Asia termasuk Indonesia, kuantitas, kualitas, dan
> intensitas penebangan liar di Indonesia meningkat tajam.
> 
> Para pelaku pembalakan liar itu melakukan aksinya dengan memanfaatkan
> peluang-peluang yang ada. Yaitu, pertama, permintaan kayu di dalam dan
> di luar negeri yang melebihi pasokannya secara lestari dan tidak
> memerhatikan legalitasnya; kedua, kemiskinan penduduk di sekitar hutan,
> ketiga, masih belum baiknya sistem pemerintahan Indonesia.
> 
> Menurut data pemetaan kehutanan terbaru, sekurang-kurangnya 2 juta ha
> ditebang setiap tahun. Berarti Indonesia kehilangan hutan seluas Pulau
> Bali setiap tahun.
> 
> **
> 
> Semua ini tak lepas dari industrialisasi kehutanan yang pesat. Tiap
> industri kehutanan memerlukan pasokan bahan baku secara rutin dalam
> jumlah yang semakin membengkak jauh melampaui kemampuan sumber kayu
> remsi. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, dicarilah sumber-sumber lain.
> 
> Yayat mengutip perkiraan yang bisa dipercaya bahwa dewasa ini 70% kayu
> yang dipasok ke sektor industri kehutanan di Indonesia berasal dari
> penebangan liar. Ini berarti 70% dari industri itu menghindar dari
> pajak dan tarif dan bersamaan dengan itu telah terjadi penggundulan
> hutan besar-besaran. 
> 
> Konsumsi kayu gelondongan di Indonesia saat ini, jauh melebihi
> persediaan dari sumber-sumber resmi. Pada tahun 1997, selisih antara
> konsumsi dan pasokan adalah 41 juta m3, tetapi pada tahun 1998 selisih
> tersebut membengkak menjadi 56 juta m3. Bahkan dua tahun terakhir
> selisihnya menjadi begitu besar yaitu 68 juta m3.
> 
> Industri pengolahan kayu bisa membutuhkan hampir 80 juta m3 setiap
> tahun, sedangkan suplai resmi hanya mampu menyediakan 12 juta m3 kayu
> per tahun.
> 
> Defisit ini berusaha ditutupi oleh penebangan liar. Sampai-sampai,
> menurut Yayat, total kapasitas sawmill kayu liar dan tak berizin adalah
> dua kali lipat dibandingkan sawmill kayu resmi. Sebagai contoh, untuk
> satu perusahaan pulp & paper di Riau, satu tahunnya membutuhkan 20 juta
> m3 kayu, lebih besar dibanding suplai resmi nasional yang hanya 12 juta
> m3 tadi.
> 
> "Sumber-sumber lain mengonfirmasikan kenaikan luar biasa dalam
> penebangan liar di Pulau Jawa. Pada 1998, nilai kayu jati yang dicuri
> di Jawa adalah tujuh kali lebih besar daripada tahun sebelumnya,"
> katanya.
> 
> Dari sejumlah penyebab maraknya pembalakan liar, menurut Yayat, salah
> satunya karena permintaan yang tinggi dari negara-negara pengimpor
> kayu, terutama AS, Eropa, Cina, dan Jepang. Pelarian kayu liar ke
> negara tetangga Malaysia dan Singapura, misalnya, terjadi setiap hari.
> Dalam sebuah investigasi yang dilakukan baru-baru ini, ungkap Yayat,
> hanya dalam waktu 2 jam, minimal 8 truk trailer sarat kayu gelondongan
> melewati sebuah perbatasan antara Kalimantan dan Sarawak dari sebuah
> taman nasional. Di perbatasan itu terdapat 33 pintu masuk tidak resmi
> dan kegiatan ini berlangsung 24 jam.
> 
> Senada dengan itu, Barnabas Suebu, S.H., gubernur teripilih Provinsi
> Papua mengakui, kayu-kayu dari Papua mengalir ke luar negeri terutama
> Cina. "Jangan heran bila di salah satu industri kayu di Shanghai saja
> terdapat sedikitnya 1 juta m3 kayu merbau asal Papua dan itu saya lihat
> dengan mata kepala saya sendiri. Jika penyelundupnya jual 200 dolar AS
> sampai 250 dolar AS per m3, maka setelah jadi furniture harganya naik
> berlipat di atas USD 1.000," ujarnya (Sinar Harapan, 7/6/2005).
> 
> Para pelaku pembalakan liar itu, kata Barnabas tidak pernah menganggap
> ada hukum di Indonesia. "Saya punya pengalaman yang sangat menyedihkan
> ketika saya berkunjung ke Shanghai, Cina. Saat itu saya bertemu dengan
> salah seorang importir kayu ilegal. Saya tanya mengapa mereka mengimpor
> kayu ilegal meskipun hal itu sudah dilarang dengan tegas oleh
> Pemerintah Indonesia. Pengusaha itu menjawab, yang larang siapa? Di
> negeri kamu ada polisi, tapi di negara kamu tidak ada hukum, semua bisa
> dibeli. Kecil ...! (Barnabas Suebu menjentikkan ujung kukunya,
> menirukan pengusah Cina itu). Saya hanya diam membayangkan sampai
> sebegitu rendahnya martabat bangsa kita di mata mereka. Masalah ini
> adalah masalah etika dan moral," tutur Barnabas dalam wawancara dengan
> koran Jakarta tersebut.
> 
> Begitulah sekilas kisah di balik kegawatan situasi kehutanan kita, dan
> yang akan menderita kerugian bukan hanya generasi yang hidup kini
> tetapi juga anak cucu kita kelak. Menurut Yayat, masyarakat lokal yang
> hidup di dalam dan di sekitar hutan alam tercatat tidak kurang dari 60
> juta orang. Hutan alam adalah kehidupan bagi masyarakat lokal. Bila
> sumber kehidupan ini lenyap tidak terbayangkan akibat langsungnya bagi
> masyarakat lokal. Masyarakat akan kehilangan daya dukung jangka panjang
> mereka dari hutan.
> 
> Praktik penebangan liar selama ini juga telah merugikan negara puluhan
> triliun rupiah, karena minimal 60 juta m3 kayu ditebang secara liar dan
> dijual melalui pasar gelap setiap tahunnya. Artinya negara kehilangan
> aset dan juga penghasilan dari pajak setiap tahunnya.
> 
> Kerugian lain adalah berupa punahnya keanekaragaman hayati kita.
> Indonesia sebetulnya memiliki 17% dari spesies burung di seluruh dunia,
> 16% reptilia, 12% mamalia dan 10% tanaman. Namun cepatnya proses
> deforestasi itu menyebabkan daftar spesies yang terancam punah akan
> semakin panjang, yang berarti keseimbangan ekosistem akan semakin
> labil. Oleh karena itu jangan kaget kalau banjir dan longsor telah
> menjadi langganan di beberapa tempat yang hutannya sudah semakin
> terekspolitasi. (Widodo Asmowiyoto/"PR")***
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Something is new at Yahoo! Groups.  Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke