emang ada yang pikirin? ngoceh mah gampang..



--- In [email protected], "Yap Hong Gie" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Keynote Speech
> Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional RI
> Pada Seminar Reinvesi Keindonesiaan
> "Menemukan Kembali Hakekat dan Jati Diri Indonesia"
> Bandung, Kamis 8 Juni 2006
> 
> Assalamu'alaikum Wr. Wb
> Salam sejahtera bagi kita semua
> YTH. Para Sesepuh Pejuang 45
> Tokoh-tokoh Masyarakat dan Agama
> Jajaran Pemerintah Jawa Barat
> Jajaran TNI dan Polri Jawa Barat
> Pimpinan Parpol dan Organisasi Kepemudaan
> Pimpinan LSM dan Media Massa Di Jawa Barat
> 
> 
>     Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat 
TUHAN YME yang 
> pada kesempatan kali ini saya diminta untuk berbicara 
tentang "reinvensi 
> keindonesiaan menemukan kembali hakikat dan jati diri Indonesia" 
> Mudah-mudahan apa yang akan saya sampaikan bermanfaat bagi bangsa 
dan 
> mendapat ridho dari Allah SWT, amin.
> 
>     Para peserta seminar yang terhormat,
> 
>     Sebagai permulaan sambutan saya, saya ingin mengajak anda 
untuk 
> melakukan "flashback" berupa potret keadaan pada peralihan tahun 
1997-1998.
> 
>     Sebelum gerakan reformasi/demokratisasi merebak pada tahun 
1998, 
> persoalan persatuan dan kesatuan bangsa sangat intensif dilakukan 
dan 
> dipelihara. Namun sayangnya modal sosial yang sangat kuat dan 
tumbuh 
> bersama-sama dengan kebangkitan nasional bangsa tsb, dikelola 
secara 
> simultan dengan aspek-aspek kehidupan yang lain dengan pendekatan 
politik 
> yang relatif represif dan mengedepankan stabilitas politik dengan 
demikian 
> persoalan persatuan dan kesatuan bangsa juga menerima imbas 
negatif di era 
> reformasi.
> 
>     Persoalan-persoalan yang bernuansa separatisme kedaerahan yang 
sempit 
> pada saat itu dapat diredam dengan pendekatan stabilitas politik 
dengan 
> nuansa pembangunan pertumbuhan ekonomi yang secara artifisial 
cukup 
> memuaskan, unutk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) rakyat 
disertai 
> dengan sistem pemerintahan yang sentralistik.
> 
>     Pada saat terjadinya krisis ekonomi yang dashat pada akhir 
tahun 1337 
> yang pada akhirnya tidak dapat diatasi dan kemudian disusul oleh 
krisis 
> multidimensional akibat sinergi negatif antara krisis ekonomi dan 
keadaan 
> sosial politik yang tidak sehat yang sebenarnya merupakan "api 
dalam sekam" 
> maka meledaklah ketidakpercayaan pada penguasa pada waktu itu 
sehingga orde 
> baru jatuh dan digantikan oleh orde reformasi.
> 
>     Salah satu "side effect" runtuhnya orde baru sangat 
menyedihkan adalah 
> berkembangnya sikap skeptis tehadap ideologi pancasila akibat 
trauma atas 
> pendekatan doktriner P4 (eka prasetya pancakarsa) yang menjadikan 
pancasila 
> kurang mencerminkan keseimbangan antara moralitas institusional, 
moralitas 
> sosial dan moralitas sipil dan bahkan menjadikan pancasila sebegai 
ideologi 
> tertutup di luar penafsiran nilai-nilai yang diformalkan.
> 
>     Kegamangan tehadap ideologi pancasila tsb menyurutkan makna 
ideologi 
> baik secara perekat persatuan bangsa maupun sebagai sarana untuk 
menumbuhkan 
> kepercayaan bangsa lain yang akan berhubungan dengan Indonesia 
(The 
> predictability function of ideology)
> 
>     Terkait dengan nilai atau sila persatuan bangsa kondisi 
negatif tsb 
> nampak dari pelbagai indikator sebagai berikut :
> 
>     * Rasa tidak aman/tidak tentram bagi minoritas
>     * Munculnya gerakanradikalisme yang tidak jarang disertai 
dengan 
> langkah-langkah anarkhir, kekerasan dan amuk massa
>     * Munculnya terorisme, yang dipicu oleh radikalisme dengan 
memanfaatkan 
> melemahnya ideologi
>        Pancasila
>     * Toleransi terhadap perbedaan pendapat sangat lemah
>     * Munculnya elemen-elemen separatisme dan 
kedaerahan/primordialisme 
> dengan menafsirkan otonomi daerah sebagai federalisme
>     * Pendekatan fragmentatif dalam menghadapi persoalan-persoalan 
bangsa
>     * Ketiadaan atau kelangkaan tokoh panutan
>     * Perasaan gotong royong, solidaritas dan kemitraan yang lemah
>     * Ketidaksepahaman dalam mensikapi proses globalisasi
>     * Iklim investasi yang buruk dan larinya modal asing (FDI) 
sebagai "the 
> final aftermath"
>     * DLL
> 
>     Dalam kondisi semacam itu bangsa Indonesia sebenarnya tetap 
yakin bahwa 
> persatuan dan kesatuan nasional baik yang bernuansa struktural 
maupun 
> kultural (solidaritas sosial) tetap bisa dipertahankan di negri 
ini, sebab 
> bangsa ini memang didirikan atas dasar falsafah non-
primordialisme, 
> melainkan atas dasar rasa penderitaan yang sama (sense of common 
suffering) 
> akibat penjajahan asing ratusan tahun. Dengan demikian fondasi 
berdirinya 
> bangsa ini adalah pluralisme dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika 
(unity in 
> diversity/pluribus unum).
> 
>     Semboyan tsb sangat bermakna, karena di dalamnya terkandung 
> elemen-elemen : "diversity, unity, harmony, tolerance and peace" 
hal ini 
> tidak hanya bernuansa domestik tetapi juga mondil mengingat 
pengaruh 
> globalisasi yang menjadikan dunia ini sebagai "the global village" 
yang anti 
> tehadap segala perilaku diskriminatif.
> 
>     Berbicara tentang membangun jati diri adalah suatu proses 
penumbuhan dan 
> pengembangan nilai-nilai luhur yang terpancar dari hati nurani 
melalui mata 
> hati kita, dan direfleksikan melalui sikap, pemikiran dan perilaku.
> 
>     Mungkin kita selama ini hanya menggunakan cipta dan karsa 
serta karya 
> atau tangan saja, tetapi kedepan kita sudah saat menampilkan olah 
rasa dalam 
> membangun jati diri bangsa.
>     Pada dasarnya jati diri bangsa dipengaruhi  oleh perkembangan 
sistem 
> nilai yang dianut dan dipahami , yang senantiasa berubah secara 
dinamis 
> mengikuti paradigma yang berlaku. Kuhn (1996) menjelaskan 
pengertian 
> paradigma aebagai berikut : Paradigma sebagai suatu himpunan 
pengertian atau 
> pendapat yang dapat memberikan penjelasan atau jawaban pada suatu 
pertanyaan 
> ilmiah; atau pendefinisian dari suatu anggapan untuk berbagai 
masalah dan 
> metode yang absah; Atau suatu kriteria untuk menetukan 
permasalahan yang 
> dipertanyakan.
> 
>     Pergantian suatu paradigma dengan paradigma yang baru adalah 
merupakan 
> kejadian ilmiah yang diakibatkan oleh perkembangan/pertumbuhan 
ilmu 
> pengetahuan. DAlam proses perubahan paradigma tsb seringkali 
terjadi tidak 
> berlangsung mulus, kerena selalu terdapat masyarakat pendukung 
paradigma 
> lama dan pendukung paradigma baru.Keadaan ini  secara jujur kita 
rasakan 
> dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini yang apabila 
tidak 
> diwaspadai akan mengancam kekokohan persatuan dan keastuan bangsa.
> 
>     Pada kesempatan yang baik di pagi hari ini, saya ingin 
mengajak seluruh 
> komponen bangsa untuk mau menengok kebali semangat kesatuan dan 
persatuan 
> bangsa. Kita menyadari bahwa semangat persatuan dan kesatuan itu 
memang 
> pernah disalahgunakan untuk mengendalikan negara secara otokratik. 
Karenanya 
> mari kita kembalikan makna luhur kedua kata itu menjadi niat untuk 
menjaga 
> keutuhan bangunan negara yang kita cintai bersama.
> 
>     Mengelola kebhinekaan, jangan diartikan sebagai mencabik-cabik 
dan 
> meruntuhkan bangunan negara kesatuan republik Indonesia. Kini 
saatnya kita 
> mengibarkan kembali semangat dan tekad untuk bersatu dari sabang 
sampai 
> merauke kita harus jaga keutuhannya, isinyalah yang kita tata 
dengan 
> menempatkan keanekaragaman yang ada secara proporsional. Jangan 
pernah kita 
> biarkan negri ini terpecah berkeping-keping hanya karena 
menonjolnya 
> kepentingan sektorial, kedaerahan dan juga kepentingan kelompok.
> 
>     Setelah reformasi bergulir delapan tahun yang lalu, baru kita 
memahami 
> bahwa aemua yang dilakukan dulu,  sekarang ini menibulkan dampak 
dikalangan 
> masyarakat. Rasa ketidakpuasan, ketidaksenangan dan akhirnya 
menimbulkan 
> dendam adalah fenomena yang kita temukan dikalangna masyarakat 
saat ini.
> 
>     Reformasi bukanlah revolusi, bukan pula suatu evolusi. 
Reformasi adlah 
> suatu perubahan yang dilakukan krena kita melihat ada hal-hal 
dimansa lalu 
> yang tidak baik, hal-hal dimasa lalu itu yang tidak benar, hal-hal 
dimasa 
> lalu yang perlu disempurnakan dan harus diperbaiki. Jadi tidak 
benar kalau 
> reformasi adalah penghancuran total secara emosional terhadap 
hasil-hasil di 
> waktu yang lalu untuk kemudian dibangunsuatu sistem yang betul-
betul tidak 
> lagi berbau masa lalu.
> Kalau ini yang dilakkukan maka ini namanya revolusi dan kita akan 
kembali 
> sekian tahun kebelakang dan tentunya akan merugikan kita semua 
disegala 
> aspek kehidupan. Kita mensyukuri sekarang ini masyarakat menyadari 
perubahan 
> itu tidak boleh dilakukan dengan emosional, kepentingan sesaat dan 
bals 
> dendam, tetapi lebih pada perubahan yang harus dilakukan secara 
konsesional 
> melalui suatu tatanan yang berlandaskan pada suatu rasionalitas 
sesuai 
> dengan kebutuhan dan juga menatap masa depan bangsa Indonesia.
> 
>     Peserta seminar yang terhormat,
> 
>     Sebagai bangsa yang merdeka, maka bangsa Indonesia mempunyai 
cita-cita 
> dan tujuan seperti termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yakni adnya 
kehidupan 
> yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur.
> 
>     Kebhinekaan budaya masyarakat Indonesia merupakan rahmat dari 
Tuhan YME 
> yang harus diterima sebagai kekayaan bangsa. Sejarah menunjukkan 
bahwa 
> suku-suku bangsa yang mendiami wilayah nusantara ini, dengan 
keanekaragaman 
> budayanya masing-masing, sejak dulu telah saling berhubungan dan 
> berinteraksi.
> Berdasarkan mengenai visi mengenai masa depan, maka para pemuda 
dari 
> suku-suku bangsa tsb pada tahun 1928 telah mengikrarkan sumpah 
untuk menjadi 
> suatu bangsa dengan menggunakan bahasa persatuan dan bersama-sama 
hidup di 
> satu tanah air.
> 
> Dari peristiwa ini terlihat bahwa kebhinekaan budaya  bukan 
manjadi halangan 
> untuk mewujudkan persatuan bangsa. Justru budaya yang beraneka 
ragam tsb 
> justru amapu berhubungan dan berinteraksi satu dengan yang lainnya 
secara 
> selaras dan serasi. oleh sebab itu perlu selalu disadari dan 
dipahami 
> bersama bahwa bangsa Indonesia ini memang bentuk dari suku-suku 
bangsa yang 
> memiliki budaya yang beraneka ragam. Maka langkah utama yang perlu 
ditempuh 
> dalam rangka membangun kehidupan baru bagi bangsa Indonesia di 
masa depan 
> adalah menggunakan salah satu asa dalam konsepsi kemandirian 
lokal, yaitu 
> "pendekatan kebudayaan" sebagai bagian utama dari strategi 
pembangunan 
> masyarakat dan bangsa. Implementasi pendekatan kebudayaan dalam 
pembangunan 
> bangsa diyakini akan dapat menumbuhkan kebanggan pada setiap anak 
bangsa 
> terhadap diri dan budayanya dan pada gilirannya akan menumbuhkan 
pula 
> toleransi dan pengertian akan keberadaan budaya lainnya.
> Hal ini merupakan faktor utama perekat persatuan bangsa.
> 
>     Para peserta seminar yang terhormat,
> 
>     Pada proses reformasi, penyaluran aspirasi politik masyarakat 
telah 
> dapat diakomodasi dalam 48 partai dengan berbagai kebebasan untuk 
menentukan 
> asasnya masing-masing. Pada satu sisi hal ini dapat mencerminkan 
perwujudan 
> demokrasi, akan tetapi pada sisi lain dapat mengarah pada 
pelanggaran 
> terhadap nilai-nilai pancasila. Hal tsb pada akhirnya dapat 
diselewengkan 
> dengnan pembentukan kekuatan-kekuatan dengan memobilisasi kekuatan 
> berdasarkan asas masing-masing. Hal ini dapat bermuara pada 
berkembangnya 
> primordialisme sempit berdasarkan agama, etnis ataupun ras san 
aspek 
> kedaerahan lainnya.
> 
>     Faktor kemajemukan serta adanya kesenjangan antar daerah yang 
makin 
> menajam, dapat berdampak pada permasalahan di bidang politik, 
ekonomi, 
> sosial budaya dan hankam. Keadaan negara yang berbentuk kepulauan 
dengan 
> berbagai ragam permasalahan akan semakin berbahaya bila faktor 
luar ikut 
> campur tangan memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang ada. Tuntutan 
pemisahan 
> diri daerah tertentu menunjukkan terjadinya benturan kepentingan 
daerah 
> dengan pusat. Disamping itu patut diperhatikan karena 
> permasalahan-permasalahan daerah tsb di atas tenyata terjadi 
disepanjang 
> alur laut kepulauan Indonesia (ALKI), yang apabila tidak 
diwaspadai akan 
> mengancam ketahanan nasional kita.
> 
>     Ketahanan nasional (national resilience) pada hakikatnya 
merupakan 
> tingkat peradaban (the level of civilition) suatu bangsa yang 
tidak dapat 
> hanya diukur ata dasar parameter kemampuan defence and security, 
pertumbuhan 
> ekonomi dan jumlah pendapatan perkapita suatu bangsa, tetapi juga 
ditentukan 
> oleh kondisi stabilitas politik dan perlindungan HAM, tingkat 
demokrasi, 
> tingkat kemiskinan, kemampuan suatu bangsa untuk memiliki 
keunggulan 
> kompetitif di era globalisasi, kemajuan pendidikan dan sain serta 
teknologi 
> dan sebagainya, yang semuanya sebenernya merupakan jumlah 
keseluruhan dari 
> human and national capabilities.
> 
>     Ketahanan (Resilience) harus diartikan dalam 
kerangka "competency" yang 
> mengandung makna menurut Schultz (2005) yaitu makna deals 
effectively with 
> pressure, maintains focus and intensity and remains optimistic and 
> persistenteven under adversity, recovers quickly from setback 
effectively 
> balance personal life and work.
> 
>     Disamping itu, wawasan nusantara sebagai suatu pendangan 
geopolitik 
> yaitu cara pandang (out look) yang berlingkup nasional untuk 
memberi arah 
> bagi setiap warga negara Indonesia dan segenap komponen bangsa 
Indonesia. 
> Umtuk senantiasa menjaga dan memelihara persatuan bangsa dan 
kesatuan 
> wilayah dari sabang sampai merauke dalam rangka terwujudnya cita-
cita 
> nasional, sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan UUD negara 
republik 
> Indonesia tahun 1945.
> Tantangan, hambatan, ancaman dan gangguan baik yang berasal dari 
dalam negri 
> maupun luar negri yang berpotensi memecah dan merusak persatuan 
dan kesatuan 
> bangsa yang menjurus kepada diintegrasi bangsa perlu segera 
diatasi.
> Kita harus mengatasi hal ini secara profesional dan proporsional 
dengan 
> menngedepankan persatuan dan kesatuan bangsa serta memposisikan 
rakyat 
> sebagai penikmat kedaulatan rakyat.
> 
>     Profesionalisme tidak hanya mengandung nuansa expertise yang 
memadai 
> dari seseorang yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan 
oleh lembaga 
> yang hebat. Tetapi harus disertai karakter semangat altruistik 
atau 
> pengabdian sosial yang tinggi (sense of social responsibility) dan 
rasa 
> kesejawatan (corporateness) dan ketaatan kepada kode etik yang 
berlaku dalam 
> profesinya yang pada akhirnya berlaku positif yang secara teratur 
diterapkan 
> akan menumbuhkan kebiasaan dan karakter yang kondusif untuk 
mencapai tujuan 
> nasional seperti yang diamanatkan.
> 
>     Rasa percaya diri (self confidence) seorang pemimpin akan 
sangat 
> dibutuhkan untuk membangun ketahanan nasional masyarakatnya. 
kehebatan 
> seorang pemimpin seperti motivasi untuk maju,bijak, profesional 
tidak 
> sombong, hidup sederhana, jujur (honesty is the first chapter of 
wisdom), 
> sadar akan pentingnya team work, suka bekerja keras (every great 
achievement 
> is the story of flamming heart), berani mengambil resiko secara 
terukur 
> (calculated risk), penuh dengan imajinasi dan selalu menjaga 
kualitas 
> kerjamya serta kesediaan untuk keunggulan seseorang termasuk 
keunggulan anak 
> buahnya, tidak dapat hanya diperoleh melalui pendidikan formal, 
tetapi juga 
> melalui proses penghayatan yang empiris mulai dari tahap-tahap 
(stages); 
> mengnenal (acquaintance), menyadari lebih dalam (awareness) 
kemampuan 
> menilai (attitude) dan membentuk perilaku (behaviour).
> 
>     Para peserta seminar yang terhormat,
> 
>     Selain permasalahan diatas telah terjadi masalah lokal yang 
dapt mencuat 
> keluar dan juga dapat dimanfaatkan oleh kepentingan2 nasional 
negara lain 
> adalah dampak dari permasalahan lama yang belum terselesaikan 
secara tuntas, 
> antara lain manyangkut warisan benturan antara 
> spitualisme-feodalisme-sosialisme, latar belakang sejarah dari 
kelompok2 
> sosial dalam masyarakat majemuk serta proses sosial dalam 
masyarakat majemuk 
> serta proses komitmen nasional yang belum disepakati secara 
menyeluruh, 
> seperti benturan etnis yang terjadi di Kalbar, Maluku, mataram 
serta masalah 
> tanah ulayat di timika, sumatra barat dll.
> 
>     Bertolak dari pokok2 permasalahan diatas kedepan perlu adanya 
konsepsi 
> untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang sedang kita hadapi 
antara 
> lain melalui :
> 
>     a. Pemerataan dan keadilan dibidang sosial dan ekonomi
>         Kebutuhan dan tuntuan fundamental pertama yang harus 
dipenuhi dalam 
> menemukan kembali jati diri bangsa adalah masalah pemerataan dan 
keadilan 
> sosial serta ekonomi. untuk itu diharapkan kebijakan pemerintah 
pusat sampai 
> ke pemerintah daerah memerlukan adanya pemerataan pembangunan dan 
keadilan 
> di bidang sosial dan ekonomi.
> 
>     b. menciptakan sistem budaya nasional yang mantap
>         Jati diri bangsa agar terwujud, membutuhkan filter diri 
bangsa untuk 
> menolak pengaruh budaya negatif baik yang bersumber dari nilai-
nilai asing 
> maupun dari perkembangan kehidupan bangsa Indonesia sendiri. 
Diharapkan 
> adnya wadah filter budaya, mampu menyaring nilai-nilai universal 
mana yang 
> dapat diadopsi dan memisahkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan 
> kepribadian bangsa yang akan merusak budaya dan jatidiri bangsa.
> 
>     Untuk menggugahnya sosialisasi jati diri bangsa diharuskan 
menjadi 
> sebuah "gerakan nasional" dengan melibatkan pemerintah dan seluruh 
komponen 
> bangsa. Mengkampanyekan dan menggugah kesadaran masyarakat akan 
jati diri 
> bangsa yang luhur dengan mengedepankan dan menanamkan nilai-nilai 
> nasionalisme dan wawasan nusantara merupakan salah satu pintu 
sebagai 
> fundamental yang penting dan strategis. Dalam pembentukan jati 
diri bangsa 
> ke depan jalur non formal yaitu pendidikan individu dalam keluarga 
dan 
> kelompok merupakan cara efektif selain cara-cara formal dalam 
lingkungan 
> pendidikan nasional. Diharapkan pendidikan nasional Indonesia 
dapat 
> mengenalkan ulang dan memberikan pencerahan mengenai sejarah 
bangsa 
> Indonesia, kebesaran nama pahlawan bangsa, makna pentingnya bela 
negara dan 
> bangsa sebagai bangsa Indonesia.
> 
>     c. Kepastian dan rasa keadilan dalam hukum dan pemerintahan
>         Hal mendasar yang menjadi kelemahan bangsa Indonesia 
adalah 
> ketiadaan kepastian hukum dan rasa keadilan dalam hukum dan 
pemerintahan. 
> Selama perjalanan reformasi telah banyak hadir UU yang mengatur 
> penyelenggaraan pemerintahan dalam upaya untuk membangun bangsa 
antara alin 
> UU nomor 32/2004 tentang pemerintahan daerah. Kondisi obyektif 
dalam 
> implementasinya di lapangan mengalamibanyak hambatan antara lain 
aturan 
> turunan dari UU berupa PP belumwadahi budaya, adat istiadat lokal 
sehingga 
> daerah merasa kebutuhan dan kepentingan masyarakatnya dirasakan 
sebelum 
> terakomodasi.
>     Oleh sebab itu dimasa yang akan datang turunan dari UU berupa 
PP atau 
> yang lainnya harus terlebih dulu dilakukan uji materi dengan 
daerah-daerah 
> agar sesuai dengan aspirasi dan kepentingan masyarakat.
> 
>     d. Adanya moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat 
berbangsa dan 
> bernegara
>         Sebagai masyarakatnya yang masih berbudaya paternalistik 
maka 
> kedaulatan setiap pemimpin dalam setiap berfikir, bersikap dan 
bertindak 
> tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan 
bernegara 
> diharapkan mampu menjadi tauldan dan panutan yang baik yang mengcu 
kepada 
> nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sebagaimana yangn telah 
tertuang dalam 
> pancasila dan UUD 1945.
> 
>     Disamping itu sebagai seorang pemimpin yang memadai di era 
yang penuh 
> tubulemsi perubahan dan globalisasi saat ini paling tidak harus 
memenuhi 
> standard2 sebagai berikut :
> 
> *. "change leadership" yang dapat melakukan sinergi positif antara 
> "enthusiasism, energy and hope" yang slalu menjaga optimisme, 
pantang 
> menyerah dalam mengejar tujuan, disertai rasa percaya diri di satu 
pihak 
> dengan "moral pupose" understanding change. coherence making, 
relationship 
> building and knowledge creation and sharing" di lain pihak . 
dalam "culture 
> of change" seorang pemimpin akan mengalami atau menikmati 
ketegangan yang 
> merupakan kesatuan dalam beratnya memecahkan masalah. Disitulah 
sebenarnya 
> kebersihan tersebar terletak. "effective leaders make people feel 
that even 
> the most dificult problems can be tackled productively"
> 
> *. "global leadership" yangn konsepnya dilandasi oleh keyakinan 
sosila yang 
> komplek dan bersifat global, tifak ada model khusu (singel  model) 
yang 
> cocok terhadap situasi yangs sangat laus mengahdapi seorang 
pemimpin apapun 
> juga. Dalam hal ini paling tidak terdapat 5 karakterisrik yang 
muncul dalam 
> kerangka keopemimpinan global yaitu ;
> 
>     a) Thingking globally, yang mengnandung pesan agar pemimpin 
selalu 
> berusaha untuk memahami keaneka ragaman sistem ekonomi budaya 
hukum dan 
> politik sebagai bagian dari warga negara dunia dengan visi dan 
nilai-nilai 
> yang open ended. a home centric view will not be torated. gobal 
leaders need 
> to have a global level when making decisions (think globaly adt 
locally)
> 
>     b) appreciating cultutral diversity diversitas dalam hal ini 
diartikan 
> sebagai diversity of leadership style, indutries style, individual 
behaviors 
> and values race, religion and sex " Hal ini akan merupakan "a key 
to 
> competing successfully in the furure'
> 
>     c) developing technologycal savy tanpa hal in mas a depan 
kemitraan dan 
> jaringan global yang terpadu tidak mungkin terjadi
> 
>     d) building partnerhip and alliances kepemimpinaan di masa 
depan akan 
> mensyaratkan tim2 kepemimpinan yang kolaboratif setiap tim 
menguiasai 
> pelbagai ketrampilan yang diisyaratkan oleh kepemimpinan global.
> 
>     e) Sharing leadership untuk membuat kepitusan2 yang efektif. 
tidak 
> seperti kepemimpinanan individual saat ini seorang pemimpin yang 
berhasil di 
> masa depan akan bergerak secara terintegrasi
> 
> Hadirin peserta seminar yang berbahagia.
> 
>     Demikianlah sambutan saya semoga dari seminar kita semua dapat 
memetim 
> dan menyerap manfaat hakiki dalam upaya menggugah ulang bahwa kita 
adalha 
> bangsa yang memiliki jati diri.
> 
> 
>     Wabillahi Taifikwal Hidayah
>     Wassalamu'alaikum WR.WB
>     Salam sejahtera bagi kita semua.
> 
> 
> Jakarta 8 juni 2006
> Gubernur Lembaga ketahanan nasional RI
> Prof. DR. Muladi. SH
> 
> 
> 
>  
> 
> 
> -- 
> ----------------------------------------
> I am using the free version of SPAMfighter for private users.
> It has removed 738 spam emails to date.
> Paying users do not have this message in their emails.
> Get the free SPAMfighter here: http://www.spamfighter.com/len
>









------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke