emang ada yang pikirin? ngoceh mah gampang..
--- In [email protected], "Yap Hong Gie" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Keynote Speech > Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional RI > Pada Seminar Reinvesi Keindonesiaan > "Menemukan Kembali Hakekat dan Jati Diri Indonesia" > Bandung, Kamis 8 Juni 2006 > > Assalamu'alaikum Wr. Wb > Salam sejahtera bagi kita semua > YTH. Para Sesepuh Pejuang 45 > Tokoh-tokoh Masyarakat dan Agama > Jajaran Pemerintah Jawa Barat > Jajaran TNI dan Polri Jawa Barat > Pimpinan Parpol dan Organisasi Kepemudaan > Pimpinan LSM dan Media Massa Di Jawa Barat > > > Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat TUHAN YME yang > pada kesempatan kali ini saya diminta untuk berbicara tentang "reinvensi > keindonesiaan menemukan kembali hakikat dan jati diri Indonesia" > Mudah-mudahan apa yang akan saya sampaikan bermanfaat bagi bangsa dan > mendapat ridho dari Allah SWT, amin. > > Para peserta seminar yang terhormat, > > Sebagai permulaan sambutan saya, saya ingin mengajak anda untuk > melakukan "flashback" berupa potret keadaan pada peralihan tahun 1997-1998. > > Sebelum gerakan reformasi/demokratisasi merebak pada tahun 1998, > persoalan persatuan dan kesatuan bangsa sangat intensif dilakukan dan > dipelihara. Namun sayangnya modal sosial yang sangat kuat dan tumbuh > bersama-sama dengan kebangkitan nasional bangsa tsb, dikelola secara > simultan dengan aspek-aspek kehidupan yang lain dengan pendekatan politik > yang relatif represif dan mengedepankan stabilitas politik dengan demikian > persoalan persatuan dan kesatuan bangsa juga menerima imbas negatif di era > reformasi. > > Persoalan-persoalan yang bernuansa separatisme kedaerahan yang sempit > pada saat itu dapat diredam dengan pendekatan stabilitas politik dengan > nuansa pembangunan pertumbuhan ekonomi yang secara artifisial cukup > memuaskan, unutk memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) rakyat disertai > dengan sistem pemerintahan yang sentralistik. > > Pada saat terjadinya krisis ekonomi yang dashat pada akhir tahun 1337 > yang pada akhirnya tidak dapat diatasi dan kemudian disusul oleh krisis > multidimensional akibat sinergi negatif antara krisis ekonomi dan keadaan > sosial politik yang tidak sehat yang sebenarnya merupakan "api dalam sekam" > maka meledaklah ketidakpercayaan pada penguasa pada waktu itu sehingga orde > baru jatuh dan digantikan oleh orde reformasi. > > Salah satu "side effect" runtuhnya orde baru sangat menyedihkan adalah > berkembangnya sikap skeptis tehadap ideologi pancasila akibat trauma atas > pendekatan doktriner P4 (eka prasetya pancakarsa) yang menjadikan pancasila > kurang mencerminkan keseimbangan antara moralitas institusional, moralitas > sosial dan moralitas sipil dan bahkan menjadikan pancasila sebegai ideologi > tertutup di luar penafsiran nilai-nilai yang diformalkan. > > Kegamangan tehadap ideologi pancasila tsb menyurutkan makna ideologi > baik secara perekat persatuan bangsa maupun sebagai sarana untuk menumbuhkan > kepercayaan bangsa lain yang akan berhubungan dengan Indonesia (The > predictability function of ideology) > > Terkait dengan nilai atau sila persatuan bangsa kondisi negatif tsb > nampak dari pelbagai indikator sebagai berikut : > > * Rasa tidak aman/tidak tentram bagi minoritas > * Munculnya gerakanradikalisme yang tidak jarang disertai dengan > langkah-langkah anarkhir, kekerasan dan amuk massa > * Munculnya terorisme, yang dipicu oleh radikalisme dengan memanfaatkan > melemahnya ideologi > Pancasila > * Toleransi terhadap perbedaan pendapat sangat lemah > * Munculnya elemen-elemen separatisme dan kedaerahan/primordialisme > dengan menafsirkan otonomi daerah sebagai federalisme > * Pendekatan fragmentatif dalam menghadapi persoalan-persoalan bangsa > * Ketiadaan atau kelangkaan tokoh panutan > * Perasaan gotong royong, solidaritas dan kemitraan yang lemah > * Ketidaksepahaman dalam mensikapi proses globalisasi > * Iklim investasi yang buruk dan larinya modal asing (FDI) sebagai "the > final aftermath" > * DLL > > Dalam kondisi semacam itu bangsa Indonesia sebenarnya tetap yakin bahwa > persatuan dan kesatuan nasional baik yang bernuansa struktural maupun > kultural (solidaritas sosial) tetap bisa dipertahankan di negri ini, sebab > bangsa ini memang didirikan atas dasar falsafah non- primordialisme, > melainkan atas dasar rasa penderitaan yang sama (sense of common suffering) > akibat penjajahan asing ratusan tahun. Dengan demikian fondasi berdirinya > bangsa ini adalah pluralisme dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika (unity in > diversity/pluribus unum). > > Semboyan tsb sangat bermakna, karena di dalamnya terkandung > elemen-elemen : "diversity, unity, harmony, tolerance and peace" hal ini > tidak hanya bernuansa domestik tetapi juga mondil mengingat pengaruh > globalisasi yang menjadikan dunia ini sebagai "the global village" yang anti > tehadap segala perilaku diskriminatif. > > Berbicara tentang membangun jati diri adalah suatu proses penumbuhan dan > pengembangan nilai-nilai luhur yang terpancar dari hati nurani melalui mata > hati kita, dan direfleksikan melalui sikap, pemikiran dan perilaku. > > Mungkin kita selama ini hanya menggunakan cipta dan karsa serta karya > atau tangan saja, tetapi kedepan kita sudah saat menampilkan olah rasa dalam > membangun jati diri bangsa. > Pada dasarnya jati diri bangsa dipengaruhi oleh perkembangan sistem > nilai yang dianut dan dipahami , yang senantiasa berubah secara dinamis > mengikuti paradigma yang berlaku. Kuhn (1996) menjelaskan pengertian > paradigma aebagai berikut : Paradigma sebagai suatu himpunan pengertian atau > pendapat yang dapat memberikan penjelasan atau jawaban pada suatu pertanyaan > ilmiah; atau pendefinisian dari suatu anggapan untuk berbagai masalah dan > metode yang absah; Atau suatu kriteria untuk menetukan permasalahan yang > dipertanyakan. > > Pergantian suatu paradigma dengan paradigma yang baru adalah merupakan > kejadian ilmiah yang diakibatkan oleh perkembangan/pertumbuhan ilmu > pengetahuan. DAlam proses perubahan paradigma tsb seringkali terjadi tidak > berlangsung mulus, kerena selalu terdapat masyarakat pendukung paradigma > lama dan pendukung paradigma baru.Keadaan ini secara jujur kita rasakan > dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini yang apabila tidak > diwaspadai akan mengancam kekokohan persatuan dan keastuan bangsa. > > Pada kesempatan yang baik di pagi hari ini, saya ingin mengajak seluruh > komponen bangsa untuk mau menengok kebali semangat kesatuan dan persatuan > bangsa. Kita menyadari bahwa semangat persatuan dan kesatuan itu memang > pernah disalahgunakan untuk mengendalikan negara secara otokratik. Karenanya > mari kita kembalikan makna luhur kedua kata itu menjadi niat untuk menjaga > keutuhan bangunan negara yang kita cintai bersama. > > Mengelola kebhinekaan, jangan diartikan sebagai mencabik-cabik dan > meruntuhkan bangunan negara kesatuan republik Indonesia. Kini saatnya kita > mengibarkan kembali semangat dan tekad untuk bersatu dari sabang sampai > merauke kita harus jaga keutuhannya, isinyalah yang kita tata dengan > menempatkan keanekaragaman yang ada secara proporsional. Jangan pernah kita > biarkan negri ini terpecah berkeping-keping hanya karena menonjolnya > kepentingan sektorial, kedaerahan dan juga kepentingan kelompok. > > Setelah reformasi bergulir delapan tahun yang lalu, baru kita memahami > bahwa aemua yang dilakukan dulu, sekarang ini menibulkan dampak dikalangan > masyarakat. Rasa ketidakpuasan, ketidaksenangan dan akhirnya menimbulkan > dendam adalah fenomena yang kita temukan dikalangna masyarakat saat ini. > > Reformasi bukanlah revolusi, bukan pula suatu evolusi. Reformasi adlah > suatu perubahan yang dilakukan krena kita melihat ada hal-hal dimansa lalu > yang tidak baik, hal-hal dimasa lalu itu yang tidak benar, hal-hal dimasa > lalu yang perlu disempurnakan dan harus diperbaiki. Jadi tidak benar kalau > reformasi adalah penghancuran total secara emosional terhadap hasil-hasil di > waktu yang lalu untuk kemudian dibangunsuatu sistem yang betul- betul tidak > lagi berbau masa lalu. > Kalau ini yang dilakkukan maka ini namanya revolusi dan kita akan kembali > sekian tahun kebelakang dan tentunya akan merugikan kita semua disegala > aspek kehidupan. Kita mensyukuri sekarang ini masyarakat menyadari perubahan > itu tidak boleh dilakukan dengan emosional, kepentingan sesaat dan bals > dendam, tetapi lebih pada perubahan yang harus dilakukan secara konsesional > melalui suatu tatanan yang berlandaskan pada suatu rasionalitas sesuai > dengan kebutuhan dan juga menatap masa depan bangsa Indonesia. > > Peserta seminar yang terhormat, > > Sebagai bangsa yang merdeka, maka bangsa Indonesia mempunyai cita-cita > dan tujuan seperti termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yakni adnya kehidupan > yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur. > > Kebhinekaan budaya masyarakat Indonesia merupakan rahmat dari Tuhan YME > yang harus diterima sebagai kekayaan bangsa. Sejarah menunjukkan bahwa > suku-suku bangsa yang mendiami wilayah nusantara ini, dengan keanekaragaman > budayanya masing-masing, sejak dulu telah saling berhubungan dan > berinteraksi. > Berdasarkan mengenai visi mengenai masa depan, maka para pemuda dari > suku-suku bangsa tsb pada tahun 1928 telah mengikrarkan sumpah untuk menjadi > suatu bangsa dengan menggunakan bahasa persatuan dan bersama-sama hidup di > satu tanah air. > > Dari peristiwa ini terlihat bahwa kebhinekaan budaya bukan manjadi halangan > untuk mewujudkan persatuan bangsa. Justru budaya yang beraneka ragam tsb > justru amapu berhubungan dan berinteraksi satu dengan yang lainnya secara > selaras dan serasi. oleh sebab itu perlu selalu disadari dan dipahami > bersama bahwa bangsa Indonesia ini memang bentuk dari suku-suku bangsa yang > memiliki budaya yang beraneka ragam. Maka langkah utama yang perlu ditempuh > dalam rangka membangun kehidupan baru bagi bangsa Indonesia di masa depan > adalah menggunakan salah satu asa dalam konsepsi kemandirian lokal, yaitu > "pendekatan kebudayaan" sebagai bagian utama dari strategi pembangunan > masyarakat dan bangsa. Implementasi pendekatan kebudayaan dalam pembangunan > bangsa diyakini akan dapat menumbuhkan kebanggan pada setiap anak bangsa > terhadap diri dan budayanya dan pada gilirannya akan menumbuhkan pula > toleransi dan pengertian akan keberadaan budaya lainnya. > Hal ini merupakan faktor utama perekat persatuan bangsa. > > Para peserta seminar yang terhormat, > > Pada proses reformasi, penyaluran aspirasi politik masyarakat telah > dapat diakomodasi dalam 48 partai dengan berbagai kebebasan untuk menentukan > asasnya masing-masing. Pada satu sisi hal ini dapat mencerminkan perwujudan > demokrasi, akan tetapi pada sisi lain dapat mengarah pada pelanggaran > terhadap nilai-nilai pancasila. Hal tsb pada akhirnya dapat diselewengkan > dengnan pembentukan kekuatan-kekuatan dengan memobilisasi kekuatan > berdasarkan asas masing-masing. Hal ini dapat bermuara pada berkembangnya > primordialisme sempit berdasarkan agama, etnis ataupun ras san aspek > kedaerahan lainnya. > > Faktor kemajemukan serta adanya kesenjangan antar daerah yang makin > menajam, dapat berdampak pada permasalahan di bidang politik, ekonomi, > sosial budaya dan hankam. Keadaan negara yang berbentuk kepulauan dengan > berbagai ragam permasalahan akan semakin berbahaya bila faktor luar ikut > campur tangan memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang ada. Tuntutan pemisahan > diri daerah tertentu menunjukkan terjadinya benturan kepentingan daerah > dengan pusat. Disamping itu patut diperhatikan karena > permasalahan-permasalahan daerah tsb di atas tenyata terjadi disepanjang > alur laut kepulauan Indonesia (ALKI), yang apabila tidak diwaspadai akan > mengancam ketahanan nasional kita. > > Ketahanan nasional (national resilience) pada hakikatnya merupakan > tingkat peradaban (the level of civilition) suatu bangsa yang tidak dapat > hanya diukur ata dasar parameter kemampuan defence and security, pertumbuhan > ekonomi dan jumlah pendapatan perkapita suatu bangsa, tetapi juga ditentukan > oleh kondisi stabilitas politik dan perlindungan HAM, tingkat demokrasi, > tingkat kemiskinan, kemampuan suatu bangsa untuk memiliki keunggulan > kompetitif di era globalisasi, kemajuan pendidikan dan sain serta teknologi > dan sebagainya, yang semuanya sebenernya merupakan jumlah keseluruhan dari > human and national capabilities. > > Ketahanan (Resilience) harus diartikan dalam kerangka "competency" yang > mengandung makna menurut Schultz (2005) yaitu makna deals effectively with > pressure, maintains focus and intensity and remains optimistic and > persistenteven under adversity, recovers quickly from setback effectively > balance personal life and work. > > Disamping itu, wawasan nusantara sebagai suatu pendangan geopolitik > yaitu cara pandang (out look) yang berlingkup nasional untuk memberi arah > bagi setiap warga negara Indonesia dan segenap komponen bangsa Indonesia. > Umtuk senantiasa menjaga dan memelihara persatuan bangsa dan kesatuan > wilayah dari sabang sampai merauke dalam rangka terwujudnya cita- cita > nasional, sebagaimana diamanatkan dalam pembukaan UUD negara republik > Indonesia tahun 1945. > Tantangan, hambatan, ancaman dan gangguan baik yang berasal dari dalam negri > maupun luar negri yang berpotensi memecah dan merusak persatuan dan kesatuan > bangsa yang menjurus kepada diintegrasi bangsa perlu segera diatasi. > Kita harus mengatasi hal ini secara profesional dan proporsional dengan > menngedepankan persatuan dan kesatuan bangsa serta memposisikan rakyat > sebagai penikmat kedaulatan rakyat. > > Profesionalisme tidak hanya mengandung nuansa expertise yang memadai > dari seseorang yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan oleh lembaga > yang hebat. Tetapi harus disertai karakter semangat altruistik atau > pengabdian sosial yang tinggi (sense of social responsibility) dan rasa > kesejawatan (corporateness) dan ketaatan kepada kode etik yang berlaku dalam > profesinya yang pada akhirnya berlaku positif yang secara teratur diterapkan > akan menumbuhkan kebiasaan dan karakter yang kondusif untuk mencapai tujuan > nasional seperti yang diamanatkan. > > Rasa percaya diri (self confidence) seorang pemimpin akan sangat > dibutuhkan untuk membangun ketahanan nasional masyarakatnya. kehebatan > seorang pemimpin seperti motivasi untuk maju,bijak, profesional tidak > sombong, hidup sederhana, jujur (honesty is the first chapter of wisdom), > sadar akan pentingnya team work, suka bekerja keras (every great achievement > is the story of flamming heart), berani mengambil resiko secara terukur > (calculated risk), penuh dengan imajinasi dan selalu menjaga kualitas > kerjamya serta kesediaan untuk keunggulan seseorang termasuk keunggulan anak > buahnya, tidak dapat hanya diperoleh melalui pendidikan formal, tetapi juga > melalui proses penghayatan yang empiris mulai dari tahap-tahap (stages); > mengnenal (acquaintance), menyadari lebih dalam (awareness) kemampuan > menilai (attitude) dan membentuk perilaku (behaviour). > > Para peserta seminar yang terhormat, > > Selain permasalahan diatas telah terjadi masalah lokal yang dapt mencuat > keluar dan juga dapat dimanfaatkan oleh kepentingan2 nasional negara lain > adalah dampak dari permasalahan lama yang belum terselesaikan secara tuntas, > antara lain manyangkut warisan benturan antara > spitualisme-feodalisme-sosialisme, latar belakang sejarah dari kelompok2 > sosial dalam masyarakat majemuk serta proses sosial dalam masyarakat majemuk > serta proses komitmen nasional yang belum disepakati secara menyeluruh, > seperti benturan etnis yang terjadi di Kalbar, Maluku, mataram serta masalah > tanah ulayat di timika, sumatra barat dll. > > Bertolak dari pokok2 permasalahan diatas kedepan perlu adanya konsepsi > untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang sedang kita hadapi antara > lain melalui : > > a. Pemerataan dan keadilan dibidang sosial dan ekonomi > Kebutuhan dan tuntuan fundamental pertama yang harus dipenuhi dalam > menemukan kembali jati diri bangsa adalah masalah pemerataan dan keadilan > sosial serta ekonomi. untuk itu diharapkan kebijakan pemerintah pusat sampai > ke pemerintah daerah memerlukan adanya pemerataan pembangunan dan keadilan > di bidang sosial dan ekonomi. > > b. menciptakan sistem budaya nasional yang mantap > Jati diri bangsa agar terwujud, membutuhkan filter diri bangsa untuk > menolak pengaruh budaya negatif baik yang bersumber dari nilai- nilai asing > maupun dari perkembangan kehidupan bangsa Indonesia sendiri. Diharapkan > adnya wadah filter budaya, mampu menyaring nilai-nilai universal mana yang > dapat diadopsi dan memisahkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan > kepribadian bangsa yang akan merusak budaya dan jatidiri bangsa. > > Untuk menggugahnya sosialisasi jati diri bangsa diharuskan menjadi > sebuah "gerakan nasional" dengan melibatkan pemerintah dan seluruh komponen > bangsa. Mengkampanyekan dan menggugah kesadaran masyarakat akan jati diri > bangsa yang luhur dengan mengedepankan dan menanamkan nilai-nilai > nasionalisme dan wawasan nusantara merupakan salah satu pintu sebagai > fundamental yang penting dan strategis. Dalam pembentukan jati diri bangsa > ke depan jalur non formal yaitu pendidikan individu dalam keluarga dan > kelompok merupakan cara efektif selain cara-cara formal dalam lingkungan > pendidikan nasional. Diharapkan pendidikan nasional Indonesia dapat > mengenalkan ulang dan memberikan pencerahan mengenai sejarah bangsa > Indonesia, kebesaran nama pahlawan bangsa, makna pentingnya bela negara dan > bangsa sebagai bangsa Indonesia. > > c. Kepastian dan rasa keadilan dalam hukum dan pemerintahan > Hal mendasar yang menjadi kelemahan bangsa Indonesia adalah > ketiadaan kepastian hukum dan rasa keadilan dalam hukum dan pemerintahan. > Selama perjalanan reformasi telah banyak hadir UU yang mengatur > penyelenggaraan pemerintahan dalam upaya untuk membangun bangsa antara alin > UU nomor 32/2004 tentang pemerintahan daerah. Kondisi obyektif dalam > implementasinya di lapangan mengalamibanyak hambatan antara lain aturan > turunan dari UU berupa PP belumwadahi budaya, adat istiadat lokal sehingga > daerah merasa kebutuhan dan kepentingan masyarakatnya dirasakan sebelum > terakomodasi. > Oleh sebab itu dimasa yang akan datang turunan dari UU berupa PP atau > yang lainnya harus terlebih dulu dilakukan uji materi dengan daerah-daerah > agar sesuai dengan aspirasi dan kepentingan masyarakat. > > d. Adanya moral dan etika dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan > bernegara > Sebagai masyarakatnya yang masih berbudaya paternalistik maka > kedaulatan setiap pemimpin dalam setiap berfikir, bersikap dan bertindak > tingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara > diharapkan mampu menjadi tauldan dan panutan yang baik yang mengcu kepada > nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sebagaimana yangn telah tertuang dalam > pancasila dan UUD 1945. > > Disamping itu sebagai seorang pemimpin yang memadai di era yang penuh > tubulemsi perubahan dan globalisasi saat ini paling tidak harus memenuhi > standard2 sebagai berikut : > > *. "change leadership" yang dapat melakukan sinergi positif antara > "enthusiasism, energy and hope" yang slalu menjaga optimisme, pantang > menyerah dalam mengejar tujuan, disertai rasa percaya diri di satu pihak > dengan "moral pupose" understanding change. coherence making, relationship > building and knowledge creation and sharing" di lain pihak . dalam "culture > of change" seorang pemimpin akan mengalami atau menikmati ketegangan yang > merupakan kesatuan dalam beratnya memecahkan masalah. Disitulah sebenarnya > kebersihan tersebar terletak. "effective leaders make people feel that even > the most dificult problems can be tackled productively" > > *. "global leadership" yangn konsepnya dilandasi oleh keyakinan sosila yang > komplek dan bersifat global, tifak ada model khusu (singel model) yang > cocok terhadap situasi yangs sangat laus mengahdapi seorang pemimpin apapun > juga. Dalam hal ini paling tidak terdapat 5 karakterisrik yang muncul dalam > kerangka keopemimpinan global yaitu ; > > a) Thingking globally, yang mengnandung pesan agar pemimpin selalu > berusaha untuk memahami keaneka ragaman sistem ekonomi budaya hukum dan > politik sebagai bagian dari warga negara dunia dengan visi dan nilai-nilai > yang open ended. a home centric view will not be torated. gobal leaders need > to have a global level when making decisions (think globaly adt locally) > > b) appreciating cultutral diversity diversitas dalam hal ini diartikan > sebagai diversity of leadership style, indutries style, individual behaviors > and values race, religion and sex " Hal ini akan merupakan "a key to > competing successfully in the furure' > > c) developing technologycal savy tanpa hal in mas a depan kemitraan dan > jaringan global yang terpadu tidak mungkin terjadi > > d) building partnerhip and alliances kepemimpinaan di masa depan akan > mensyaratkan tim2 kepemimpinan yang kolaboratif setiap tim menguiasai > pelbagai ketrampilan yang diisyaratkan oleh kepemimpinan global. > > e) Sharing leadership untuk membuat kepitusan2 yang efektif. tidak > seperti kepemimpinanan individual saat ini seorang pemimpin yang berhasil di > masa depan akan bergerak secara terintegrasi > > Hadirin peserta seminar yang berbahagia. > > Demikianlah sambutan saya semoga dari seminar kita semua dapat memetim > dan menyerap manfaat hakiki dalam upaya menggugah ulang bahwa kita adalha > bangsa yang memiliki jati diri. > > > Wabillahi Taifikwal Hidayah > Wassalamu'alaikum WR.WB > Salam sejahtera bagi kita semua. > > > Jakarta 8 juni 2006 > Gubernur Lembaga ketahanan nasional RI > Prof. DR. Muladi. SH > > > > > > > -- > ---------------------------------------- > I am using the free version of SPAMfighter for private users. > It has removed 738 spam emails to date. > Paying users do not have this message in their emails. > Get the free SPAMfighter here: http://www.spamfighter.com/len > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design. http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

