Berikut tulisan Buya Syafii Maarif di Republika yang membuat Islamis 
mencak-mencak seperti diforward oleh Pak Satrio di:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/message/59818

Demi Keutuhan Bangsa

Oleh : Ahmad Syafii Maarif

Republika, Selasa, 11 Juli 2006


Ternyata apa yang dikenal dengan konsep integrasi nasional masih 
labil. Proses nation and character building sama sekali jauh dari 
selesai. Kita semua, terutama para pemimpin formal, sejak proklamasi 
telah lengah dan lalai dalam merawat dan memelihara rasa kekitaan 
anak bangsa ini karena berasumsi bahwa Indonesia adalah sebuah bangsa 
yang sudah mapan, kokoh, dan pasti tahan banting. Perkiraan ini jelas 
ahistoris, tidak berpijak atas fakta sejarah.

Mengapa? Alasannya sangat gamblang. Indonesia sebagai bangsa, bukan
kumpulan suku bangsa, baru muncul awal 1920-an. Sebab itu, pendapat 
yang mengatakan bahwa Indonesia sudah muncul sejak zaman Kerajaan 
Kutai yang Hindu awal abad ke-5 atau sejak kerajaan maritim Sriwijaya 
yang Budis akhir abad ke-7, jelas mengada-ada. Tetapi, bahwa bekas 
kedua kerajaan itu kemudian menjadi bagian Indonesia modern, 
sepenuhnya didukung fakta sejarah.

Sebagai bangsa muda, kita harus ekstra hati-hati merawat Indonesia 
ini. Kecerobohan sentralistik selama empat dasawarsa yang lalu jangan 
diulang lagi pada masa depan, sebab risikonya adalah bahwa doktrin 
bhinneka tunggal ika bisa berantakan, dan bangsa muda ini dapat 
berkeping-keping, sesuatu yang harus dicegah. Kegagalan kita dalam 
upaya pencegahan proses disintegrasi ini pastilah akan berujung 
dengan malapetaka: musnahnya Indonesia dari peta sejarah. Suatu 
tragedi bukan, jika itu terjadi?

Sebab itu, pendekatan yang serba politik-legalistik dalam 
memperjuangkan suatu kehendak atau aspirasi politik hendaklah 
mempertimbangkan kondisi bangsa yang masih muda dan rentan ini. 
Keinginanan untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam perda, 
mengapa tidak diintegrasikan saja dalam perda biasa, tidak dalam 
format Perda Syariah yang dapat melemahkan pilar-pilar integrasi 
masyarakat dan bangsa, dan ini berbahaya sekali. Bukankah perjuangan 
antimaksiat pada hakikatnya adalah perjuangan semua golongan? Dan itu 
semua dapat dilakukan di bawah payung Pancasila, khususnya sila 
pertama.

Selain itu, perlu pula dipertimbangkan kenyataan yang berlaku selama
ini. Berapa banyak undang-undang yang bertujuan melawan maksiat tetapi
kandas dalam proses eksekusinya karena sebagian aparat penegak hukum
merupakan bagian dari dunia gelap itu. Sebutlah misalnya masalah
perjudian dan pelacuran. Sudah menjadi rahasia umum di mana-mana bahwa
tempat-tempat maksiat itu pasti ada yang melindungi. Lingkaran setan
semacam inilah yang harus dikaji betul secara sosiologis dengan kepala
dingin melalui pemikiran dan pertimbangan yang matang. Cara-cara
emosional, demo dengan teriakan 'Allahu Akbar' segala, apalagi
ditunggangi oleh kepentingan politik jangka pendek, pastilah akan
bermuara pada kegagalan yang melelahkan.

Ujungnya Perda Syariah akan menjadi bumerang. Jika kenyataan ini
berlaku, dari sisi dakwah, sungguh merupakan malapetaka. Orang akan
mencibir: ternyata produk yang serba syariah itu tidak membuahkan
kenyamanan dan ketenteraman. Masalah ini jauh dari sederhana. Maka,
otak-otak sederhana harus mau bertanya kepada ahl al-dzikr (para 
pakar) dari berbagai latar keilmuan melalui pendekatan interdisiplin. 
Tengoklah ia dari berbagai sudut pandang. Libatkan para pakar yang 
berkualitas dari UIN/IAIN di samping pakar dari perguruan tinggi 
umum. Hendaklah disadari benar bahwa proyek legalisasi syariah adalah 
sesuatu yang sangat serius. Saya tidak mau menyaksikan sebuah Islam 
yang gagal memperbaiki akhlak bangsa yang sedang rapuh ini, gara-gara 
kedunguan kita.

Secara umum, bukankah isi syariah yang diwarisi sekarang ini sebagian
besar adalah hasil ijtihad abad pertengahan yang pasti terikat dengan
ruang dan waktu? Bukankah kegagalan proyek negara Islam Pakistan yang
sarat dengan korupsi itu adalah karena kegagalan ulama konservatif 
untuk berurusan dengan perkembangan zaman yang bergulir tanpa henti? 
Mereka mengharamkan kaum perempuan jadi pemimpin, sedangkan kaum 
lelakinya juga tidak becus mendaratkan pesan Alquran berupa rahmat 
bagi seluruh alam pada proyek negara Islam yang semula didukung oleh 
seluruh energi bangsa baru itu.

Dalam perspektif di atas, adalah sikap gegabah yang sia-sia bila orang
dengan gampang menuduh orang lain sekuler jika tidak mendukung gagasan
negara Islam, seperti yang kita alami tahun 1950-an. Pengalaman
Indonesia menjelang dan pascaproklamasi tentang masalah dasar negara
cukup kaya untuk kita buka kembali. Janganlah energi bangsa yang sudah
hampir habis terkuras ini digunakan dengan serampangan, semata-mata
karena kebahlulan kita dalam membaca masyarakat Indonesia yang plural,
heterogen, dan rentan ini. "Maka, ambillah pelajaran (secara
sunguh-sungguh), wahai kamu yang diberi penglihatan tajam," seru 
Alquran dalam surat al-Hasyr (59): 2

Sumber http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=255993&kat_id=19







------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Yahoo! Groups gets a make over. See the new email design.
http://us.click.yahoo.com/XISQkA/lOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke