KOMPAS
Senin, 24 Juli 2006 

 

ANALISIS EKONOMI 

Hidup Siaga Bencana 

Djisman S Simanjuntak 

Sepintas lalu tidak dapat dipercaya bahwa bencana alam dan bencana buatan 
manusia menimpa Indonesia secara beruntun. Banjir, gempa tektonik, dan tsunami, 
tanah dan sampah longsor, dan kini musim kering silih berganti memukul 
Indonesia masing-masing dengan kerusakan dahsyat. 

Kemungkinan statistikal runtunan bencana seperti itu adalah hampir nol sehingga 
sebagian pemimpin Indonesia pun mengaitkannya dengan dosa-dosa kolektif, 
dosa-dosa pemimpin, dan nasib sial. Pengaitan seperti itu adalah keliru. 
Kemungkinan statistikal sekecil apa pun tidak memustahilkan sesuatu terjadi, 
sebagaimana kehidupan pun terjadi biarpun kemungkinan statistikalnya adalah 
"hampir nol" empat miliar tahun silam. 

Indonesia yang sering dilukiskan orang sebagai kepulauan yang damai sentosa 
atau "Eden Timur", sebaliknya adalah tanah air yang rawan bencana menurut 
geografi fisikalnya, iklim dan cuacanya, maupun menurut keragaman 
makhluk-makhluk subselular yang dapat menimbulkan pandemik. 

Sejak sejarah manusia modern, Letusan Toba sekitar 75.000 tahun silam adalah 
yang terdahsyat di antara letusan vulkanik. Debunya naik hingga ke atmosfer 
Bumi pun menceritakan "Zaman Es Mini" dan manusia modern didesak hingga hampir 
punah. Ketika permukaan laut naik luar biasa menyusul akhir zaman es terakhir, 
peradaban tua diduga tenggelam di bawah Laut Jawa dan Laut China Selatan. 
Sepanjang sejarah tertulis manusia Letusan Tambora tahun 1815 adalah yang 
terdahsyat. 

Ekonomi bencana alam adalah cabang yang tertinggal dalam ilmu ekonomi. 
Penaksiran biaya bencana adalah lebih kompleks lagi daripada penaksiran 
kemungkinan statistikal bencana itu. Taksiran biaya ekonomi bencana Aceh dan 
Nias tidak membuat bulu roma berdiri karena beberapa alasan. Pertama, biaya 
ditaksir berdasarkan produk domestik bruto (PDB) yang hilang dan karena itu 
ufuk waktunya sangat pendek. 

Kesan orang akan lain jika biaya didasarkan atas PDB yang hilang selama 
misalnya 20 tahun sejak kejadian karena menyusutnya modal alam, modal buatan, 
dan modal nirwujud, serta menurunnya penduduk. Misalnya sekitar 170.000 orang 
berkurang dalam kasus Aceh pada tsunami 2004. Seandainya ada harga pasar 
kehidupan yang sering ditaksir dengan "nilai kehidupan statistikal" (value of 
statistical life) biaya bencana alam pasti akan jauh lebih besar daripada 
kehilangan harta benda. 

Seandainya setiap penduduk dan setiap kekayaan diasuransikan perusahaan 
asuransi akan mengungkapkan betapa biaya yang harus dipikul adalah jauh lebih 
besar daripada yang dilaporkan. Biaya-biaya yang tidak dapat dikuantifikasi 
juga banyak. Biaya besar itu dapat diturunkan melalui pemupukan kesiagaan 
bencana secara berkelanjutan. 

Masyarakat siaga bencana 

Bersama tantangan-tantangan lain transformasi menjadi masyarakat siaga bencana 
juga dihadapi Indonesia sebagai tantangan yang harus dijawab segera. Kesiagaan 
seperti itu memerlukan investasi pada masing-masing masyarakat, perusahaan, 
partai politik, maupun pemerintah. 

Pertama-tama, dalam mindset "rakyat Indonesia perlu ditanamkan kewaspadaan 
bahwa bencana adalah ancaman konstan yang dapat memukul setiap saat. 
Masing-masing dan sebagai kelompok warga negara perlu mempelajari risiko-risiko 
bencana yang mengintai sepanjang hidup. Kedua, kebiasaan melindungi kehidupan 
dan harta benda sendiri dengan fasilitas-fasilitas yang mengurangi kerentanan 
terhadap pukulan bencana dan kebiasaan melindungi diri terhadap risiko-risiko 
itu melalui asuransi bencana perlu ditanamkan. Walaupun asuransi itu sendiri 
adalah solusi yang tidak sempurna. 

Ketiga, institusionalisasi filantropi warga melalui perhimpunan-perhimpunan 
filantrofik yang saling terkoneksi satu dengan yang lain perlu dipacu. Semangat 
saling membantu kiranya masih tinggi di kalangan rakyat Indonesia seperti 
diungkapkan dalam setiap bencana. Kelemahannya adalah fragmentasi berlebihan 
yang dapat bermuara dalam upaya-upaya yang saling menghambat ketika dalam 
setiap krisis kesatuan langkah yang cepat adalah prasyarat. 

Keempat, perusahaan-perusahaan Indonesia, terutama yang besar-besar, baik yang 
swasta maupun BUMN, perlu didorong untuk tampil dengan strategi filantrofi 
sebagai bagian dari tanggung jawab sosial korporat (corporate social 
responsibility). Ketika dunia korporat menyentuh bagian yang semakin besar dari 
kehidupan rakyat karena pertumbuhan organik dunia korporat itu, maka 
korporatisasi dan swastanisasi perusahaan pun harus tampil dengan pokok urusan 
ganda. Berhenti memandang maksimalisasi nilai pemegang saham sebagai urusan 
pokok satu-satunya. 

Kelima, partai politik pun harus memupuk literasi bencana (disaster literacy). 
Masing-masing partai besar harus mampu menginternalisasi kesiagaan bencana ke 
dalam politiknya. Anggota DPD yang mewakili daerah-daerah sekitar gugusan api 
(ring of fire) patutlah menjadi tempat bertanya tentang kesiagaan bencana. 
Akhirnya, peran pemerintah adalah dominan. Biarpun masyarakat kewargaan sudah 
tumbuh, pemerintah masih tetap sentral dalam tata kelembagaan Indonesia. 

Hal itu merupakan tanggung jawab pemerintah untuk menanamkan kesiagaan bencana 
di kalangan rakyat, bisnis, dan masyarakat kewargaan. Sebagai negara yang 
rentan bencana, Indonesia patut mempertimbangkan pelibatan seluruh rakyat dalam 
internalisasi kesiagaan bencana. Misalnya dengan mewajibkan setiap warga negara 
pada usia tertentu mengikuti "Layanan Sosial Wajib" (Compulsory Social 
Service), dengan latihan penyegaran setiap lima tahun. 

Menghadapi bencana alam, yang paling dapat diandalkan segera adalah bantuan 
mandiri (self help). Bantuan pihak ketiga selalu diselingi oleh tenggang waktu. 
Tanggung jawab pemerintah tentu lebih besar daripada fasilitasi. Pemerintah 
negara yang rawan bencana harus mempunyai kebijakan yang transparan tentang 
tata ruang di daerah-daerah rentan bencana. Peringatan dini, peringanan beban 
bencana, dan rekonstruksi pascabencana yang didukung sumber manusia dan 
keuangan yang memadai. 

Kebutuhan sering berperan sebagai "ibu" kemajuan. Setiap kali suatu bangsa 
ditimpa bencana, sesering itu mestinya dilakukan dua hal. Pertama penanggalan 
(unlearning) praktik-praktik buruk seperti praktik korupsi. Kedua, pembelajaran 
praktik-praktik terbaik. Bencana akan datang terus dan sering secara tidak 
terduga. Ia harus ditransformasi menjadi "destruksi kreatif". 


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Something is new at Yahoo! Groups.  Check out the enhanced email design.
http://us.click.yahoo.com/SISQkA/gOaOAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke