"METODE LAN FANG DAN PEMASALAHAN  SENIMAN"


2.


Dalam laporan  Liya dan Pi Chen di dalam    harian berbahasa Mandarin yang 
terbit di Indonesia, Lan Fang disebutkan bahwa Lan Fang mengatakan bahwa "Sejak 
itu, ia bertekad untuk menjadi penulis, meski pun ia tahu betul bahwa profesi 
penulis tidak menentu dan pemasukannya kecil. Namun ia tidak mempedulikan soal 
itu dan tekadnya pun tetap".

Apa yang dikatakan oleh Lan Fang ini sesungguhnya mencerminkan secara obyektif 
tentang keadaan kehidupan para sastrawan Indonesia. Keadaan yang berlangsung 
sudah sejak lama, bukan hanya hari ini. Permasalahan pokok: Bisakah sastrawan 
dan seniman hidup dari karya-karya mereka? 

Yang umum kusaksikan bahwa para seniman, hidup dalam keadaan serba kekurangan 
secara finansil. Ketika masih di Yogyakarta, Rendra dan Mbak Soenarti Soewandi 
alm. [istri pertama Rendra] pernah hanya makan nasi berlaukpaukkan garam. Dalam 
arti harafiah.  Sedangkan para pelukis sanggar Bumi  Tarung, yang umumnya 
adalah mahasiswa-mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia [ASRI], banyak sekali 
dibantu oleh ibu-ibu warung kecil  di sekitar ASRI. Untuk makan sehari-hari,  
para pelukis ini , makan dengan menghutang pada ibu-ibu warung ini, dan baru 
dibayar  setelah lukisan mereka berhasil terjual. Karena itu, kukatakan bahwa 
dalam mengembangkan senirupa di Yogya, ibu-ibu warung sederhana di Gampingan, 
mempunyai peranan besar. Jasa yang tidak pernah dicatat dan dilupakan ketika 
orang menulis sejarah senirupa di Yogyakarta . 

Teguh Karya alm., tokoh penting dunia teater Indonesia,  pun pernah mengalami 
keadaan hidup serba kekurangan  begini. Tentu masih banyak lagi contoh yang 
bisa diketengahkan jika harus dideretkan satu persatu. Tapi contoh-contoh itu 
pada umumnya mengatakan bahwa kehidupan seniman sama dengan kemelaratan 
finansil dengan sementara kekecualian seperti Djoko Pekik, Sapto Hudoyo, dan 
lain-lain nama yang jumlahnya di Indonesia tidak banyak. Dalam keadaan begini, 
maka Motinggo Boesje, ketika pindah ke Jakarta yang garang, demi hidup, mulai 
menulis cerita-cerita yang dikenal dengan serial cerita "Tante Girang". 

Menyimak keterangan Lan Fang kepada harian berbahasa Mandarin di atas, nampak 
bahwa keadaan hidup sastrawan-seniman pada beberapa dasawarsa dahulu, sampai 
sekarang pun masih saja belum mengalami perobahan berarti. Sastrawan-seniman 
masih saja hidup di tengah-tengah serba kekurangan finansil. Sekali pun Lan 
Fang termasuk penulis terkemuka di Jawa Timur, produktif mennulis novel dan 
cerpen, tapi ia masih saja sering mengeluh tentang kebokekannya secara 
finansil. Berbeda halnya ketika ia masih bekerja di perusahaan asuransi dan 
belum penuh berkecimpung di dunia sastra.

Royalties, uang imbalan dari karya-karya yang diterbitkan, untuk mendapatkannya 
pun tidak selancar yang diharapkan.  Apalagi jika berhadapan dengan 
penerbit-penerbit kecil yang tumbuh di mana-mana, terutama di Jawa. Ketika 
berhadapan dengan penerbit dan pemilik kapital, penulis sering diperlakukan 
secara sewenang-wenang.  Penulis sering diperlakukan sebagai sapi perahan oleh 
pemilik kapital dan penerbit.  Atas dasar keadaan begini, maka aku melihat 
adanya gejala bahwa kapital [uang] mempunyai kemampuan memberi corak pada dunia 
sastra-seni kita. Mampu menumbuh-kembangkan satu genre sastra tertentu atas 
nama sastra tapi hakekatnya berangkat dari pendagangan karya sastra-seni jenis 
tertentu tanpa menempatkan "makna", "pesan" dan nilai manusiawi" pada kedudukan 
yang layak. Kalau  pun ada "makna" , 'pesan" dan ",nilai" maka "makna," "pesan" 
dan nilai itu tidak lain daripada "makna", " pesan" dan "nilai uang". Sastrawan 
selain sebagai "koeli" tapi  juga menjadi tambang emas bagi pemilik kapital.

Di tengah keadaan begini, idealisme  seniman gampang luntur dan langsung atau 
tidak langsung, atas nama berbagai nama dan dalih, bertekuklutut di hadapan 
sang raja: uang dan pemilik kapital.  Jika demikian, masih adakah kebebasan 
berpikir dan sastrawan sebagai warga republik berdaulat?! Apakah karya-karya 
begini tidak bisa disebut sebagai karya-karya kapitulasinis? 

Dalam hal ini, aku jadi terkenang akan sikap dua orang teman pelukisku.  Yang 
satu, yaitu Mas G, dengan segala konsekwensi menolak "melacurkan lukisan"nya 
["melacurkan lukisan" adalah istilah Mas G sendiri ]. Untuk hidup sehari-hari, 
Mas G banyak bergantung pada usaha ekonomis istrinya. Istri Mas G, amat paham 
akan sikap keras suaminya dan berkata: "Mas terus saja melukis, biar aku yang 
menangani masalah kehidupan kita sehari-hari". Situasi ekonomi keluarga Mas G 
berobah, setelah karya-karya Mas G sejalan dengan perkembangan waktu dan 
perobahan di Indonesia, mulai laku serta mendapat penghargaan.

Sementara itu teman pelukisku yang lain yaitu S.J. alm.  bersikap lain pula. Ia 
membuat dua macam  lukisan. Yang satu lukisan melayani selera para wisatawan 
dan pasar, sedangkan yang lain, lukisan yang memang mengungkapkan dirinya tanpa 
mengindahkan tuntutan pasar.  "Aku perlu makan dan aku tidak bisa makan dari 
idealismeku", ujar S.J.  Dan S.J. alm. hidup dari lukisan komprominya.

Jalan lain adalah apa yang ditempuh oleh kawan pematung dan pelukis, yang  juga 
teman dekatku. A.N. Ia kaya raya karena lukisan dan patung-patungnya. Mobilnya 
pun dilengkapi dengan lemari es. Mempunyai beberapa rumah yang cukup mewah. 
Dalam melukis dan mematung, A.N. mengembangkan corak tersendiri yang unik tanpa 
"melacurkan lukisan dan patungnya". A.N. berkembang dan besar dengan 
keunikannya. Dan tetap menjadi dirinya sendiri sebagai seniman. Tiga teman 
pelukis ini tadinya berada di satu sanggar. Setelah lolos dari teror Orde Baru, 
 mereka menempuh jalan sendiri-sendiri sebagai seniman.

Tanpa memberikan penilaian kepada jalan yang ditempuh oleh ketiga pelukis ini, 
kecuali pemahaman,  yang jelas terbayang padaku, hanyalah  betapa tidak 
gampangnya menjadi sastrawan dan seniman sama tidak gampangnya menjadi anak 
manusia yang manusiawi. Bahwa akhirnya kita sendirilah yang memberikan nilai 
dan harga pada diri kita sendiri. Kita sendirilah yang menentukan apa-siapa 
diri kita saat kita mesti menjawab kehidupan yang tidak ramah dan tak 
berbelaskasihan.

Laporan pendek  Liya dan Pi Chen di dalam    harian berbahasa Mandarin yang 
terbit di Indonesia tentang Lan Fang,  kukira telah mengungkapkan salah satu 
inti masalah yang dihadapi oleh para sastrawan-seniman kita hari ini.  Menjadi 
sastrawan dan seniman adalah pilihan dan panggilan hidup, jika meminjam istilah 
Syaeful Anwar, wakil dekan bidang kemahasiswaan fakultas film dan televisi IKJ  
[Institut Kesenian Jakarta]. Memilih dan menjawab panggilan hidup, bukannya 
tidak mengandung resiko.  Hanya saja kalau mau menjadi seniman, janganlah takut 
kesulitan. Harus memilih dan menyetiai pilihan dengan sepenuh hati.  Tidak bisa 
dilakukan dengan setengah hati, ujar Koes Hendratmo , yang tadinya penyanyi 
asal Yogyakarta, dalam suatu percakapannya di TVRI. Tekad seperti ini pulalah 
yang menjadi inti kata-kata pelukis-pematung A.N ketika mengatakan bahwa "jika 
selepas keluar dari penjara kita berhenti jadi seniman, berhenti jadi pelukis, 
kita akan lebih rendah dari kerbau" [Percakapan Dalam Temu Seniman di Serua 
Indah, September 2005].

Dengan menggarisbawahi apa yang diajukan oleh Liya dan Pi Chen dalam laporannya 
ini, aku hanya ingin menunjukkan kembali masalah yang dihadapi para seniman  
negeri kita di tengah-tengah kekuasaan kapital. Mempertanyakan bagaimana kita 
menjawab dan memecahkan masalah ini, terutama bagi mereka yang berketetapan 
hidup sebagai sastrawan dan seniman tapi  bukan sekedar menjadi sastrawan 
sastrawanan, seniman senimanan. Hidup menyaring pilihan, tekad,   nilai  dan 
makna diri sesungguhnya.  Juga cinta dan mimpi kita. "Daya tahan seekor kuda 
diuji dalam perjalanan jauh",  ujar ungkapan Tiongkok Kuno.


Paris, Juli 2006.
----------------------
JJ. Kusni


[Selesai]

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke