http://www.lampungpost.com/buras.php?id=2006080100535115
Selasa, 1 Agustus 2006
BURAS
Pendapatan Per Kapita!
H.Bambang Eka Wijaya:
"MASAKNYA jangan lagi tahu-tempe melulu, Bu!" ujar Adi. "Kata Pak Jusuf
Kalla kita sudah keluar dari krisis, pendapatan per kapita kini 1.500 dolar
Amerika!"
"Oke!" jawab ibu. "Besok kita potong gudel!"
Esoknya, makan siang, Adi mengaduk-aduk sayur gori--nangka muda--yang
disajikan ibunya, lantas menanya, "Mana daging kerbau mudanya? Gudel kan anak
kerbau!"
"Mana ada kerbau!" jawab ibu. "Karena tak mampu menyembelih kerbau,
dibuat padanan menghibur, gori disebut gudel!"
"Iya geh..! Kita santap hidangan 1.500 dolar Amerika ini!" sambut Adi.
"Kan bangsa kita jadi makmur kalau nilai gori jadi setinggi itu!"
"Jangan sinis!" tegas ibu. "Pak Kalla benar, dengan PDB--pendapatan
domestik bruto--Rp3.000 triliun, pendapatan per kapita kita 1.500 dolar! Cuma
distribusinya timpang, antara steak dan sayur gori!"
"Ya, kita keluarga berlima dengan UMK ayah sebagai buruh Rp509 ribu
sebulan ditambah tunjangan keluarga jadi Rp700 ribu, setahun Rp8,4 juta dibagi
lima jiwa, hasilnya di bawah 200 dolar per kapita!" sambut Adi. "Angka nyata di
bawah 200 dolar per kapita itu, jelas mencerminkan segala macam krisis!"
"Artinya, dilihat dari sisi Pak Kalla dan elite umumnya yang
berpendapatan tinggi, krisis memang sudah berakhir!" tukas ibu. "Tapi dilihat
dari mayoritas rakyat yang pendapatan per kapitanya masih di bawah 200 dolar,
bahkan angka resmi pendapatan per kapita Lampung 2005 masih 565 dolar, jauh di
bawah 700 dolar yang menurut Pak Kalla sebagai puncak krisis, jelas kondisi
nyata mayoritas rakyat jauh lebih buruk dari kondisi puncak krisis standar
beliau itu!"
"Kenapa beliau bisa pastikan krisis telah berlalu?" kejar Adi.
"Dari satu dimensi, PDB, bisa diasumsikan begitu!" jelas ibu. "Tapi yang
dialami bangsa kita krisis multidimensi! Ternyata, pada berbagai dimensi
lainnya yang justru lebih kronis, krisis bahkan tambah parah! Tapi ini hanya
bisa dirasakan mayoritas rakyat miskin yang serba kekurangan! Sedang mereka,
elite yang hidup serba berlebihan dan selama krisis penghasilannya justru
meningkat berlipat ganda, tak pernah merasakan krisis! Justru jumlah rumah,
mobil mewah dan depositonya terus bertambah!"
"Kalau PDB alias pendapatan nasional kotor sudah sedemikian besar tapi
mayoritas warga bangsa menerima bagian amat kecil begitu, di mana kesalahan
distribusinya?" tanya Adi.
"Pada kemauan politik penguasa untuk bisa menciptakan sistem berbagi
lebih adil atas pendapatan nasional!" tegas ibu. "Pertama meningkatkan upah
buruh, seiring dengan mengurangi tekanan terhadap harga beras sebagai produk
mayoritas petani! Kedua, mengurangi bagian asing atas lebih 80 persen tambang
minyak, gas dan mineral yang hasilnya mereka bawa ke luar negeri! Ketiga,
mengurangi ekonomi biaya tinggi, terutama di jalanan, agar rakyat produsen
menikmati harga lebih baik hasil panennya!"
"Ibu curang!" timpal Adi. "Menyebut syarat-syarat yang tak pernah bisa
dipenuhi rezim mana pun di negeri ini!" ***
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/