http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/082006/11/0901.htm


Keanehan Ekonomi Pangandaran 
Oleh SOEROSO DASAR  
BANYAK yang berpendapat, pertumbuhan ekonomi Pangandaran Ciamis akan sulit 
bangkit pasca-tsunami. Atau paling tidak memerlukan waktu yang relatif lama 
guna menata kembali ekonomi yang porak poranda tadi. Hal ini dikarenakan 
prasarana yang hancur, serta perhatian pemerintah yang terbelah. Pada saat yang 
sama, begitu banyak bencana yang terjadi di negeri ini, sehingga dana dan daya 
tersedot habis. Bantuan sosial mengalir deras ke Kalimantan, Sulawesi, Jawa 
Tengah, Jawa Timur, dan lainnya. 

Program-program pembangunan yang dirancang demikian indah ketika SBY-JK mulai 
memerintah negeri ini, terpaksa harus dibongkar habis untuk mengatasi masalah 
kekinian. Bantuan luar negeri pun diminta, padahal budaya berhutang hendaknya 
harus ditinggalkan. Mahbub Ul-Haq, ekonom jenius dari Pakistan mengatakan, 
barang barang bantuan luar negeri itu sudah dinaikkan sekira 40 persen 
harganya. Sedangkan Franklin B Weinstein dalam, "Indonesia Foreign Policy And 
The Dillema Of Dependence : From Soekarno to Soeharto", mengatakan, pinjaman 
luar negeri merupakan suatu dilema yang harus dipecahkan oleh negeri ini. 
Karena pinjaman merupakan ketergantungan (dependence) antara memanfaatkan modal 
asing, atau sumber daya tidak disentuh.

Ekonomi Pangandaran Ciamis sudah jelas. Membangun kembali ekonomi di sana 
memerlukan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Matarantai ekonomi yang terputus 
di bagian akhir, harus dibangun kembali dengan motivasi yang tinggi. Kalau 
tidak, pembangunan ekonomi Pangandaran akan tertatih dan menyedihkan bagi 
masyarakat di sana. Matarantai ekonomi yang paling akhir yakni pemasaran, 
itulah yang dibangun. Produksi, distribusi, relatif tidak terganggu. Produksi 
yang terganggu paling hanya nelayan (produksi ikan). Namun itu sebentar, saat 
ini nelayan Pangandaran sudah melaut seperti biasa. Yang mungkin agak lama 
mampu dikembalikan adalah image masyarakat penggemar pantai (turis) menghapus 
bayang-bayang tsunami Pangandaran. Padahal, segmen ini merupakan pasar 
potensial sekali.

Penulis agak berseberangan dengan pendapat-pendapat yang selama ini mengemuka 
bahwa pembangunan ekonomi Pangandaran Ciamis relatif sulit bangkit. Atau dengan 
kata lain, ekonomi Pangandaran dalam waktu dekat perlu dibantu secara 
terus-menerus. Dari data-data yang penulis punyai, justru Ciamis termasuk 
Pangandaran merupakan daerah yang tingkat penganggurannya relatif rendah. 
Bahkan, Kabupaten Ciamis merupakan kabupaten yang paling rendah tingkat 
penganggurannya di Jawa Barat. Kabupaten Ciamis merupakan daerah yang paling 
tinggi tingkat partisipasi angkatan kerja wanita. Kabupaten Ciamis ekonominya 
bertumbuh pada potensi-potensi daerah yang didukung oleh UKM. Tumbuh dan 
berkembangnya UKM di sini didukung oleh berbagai data silang baik dari Perum 
Pegadaian, Bapeda Jawa Barat, dan data-data yang dikemukakan oleh Kantor Sensus 
dan Statistik. Efek multiplier (ekonomi ikutan : meminjam istilah teman-teman 
dari Universitas Gajah Mada), berdampak sangat signifikan terhadap pembangunan 
daerah Ciamis. Di sinilah diparsitas pendapatan atau gap (jurang pemisah) 
antara yang kaya dan papa relatif kecil. Tidak seperti pembangunan dibelahan 
Jawa Barat yang lain yang didukung oleh sektor industri padat modal, pengiriman 
TKI ke luar negeri, atau ekonomi perkotaan yang tumbuh oleh sektor perdagangan 
modern. 

Kegelisahan penulis tentang keanehan dan keajaiban ekonomi Ciamis ini sudah 
sejak dahulu. Untuk itu satu observasi dilakukan guna mencari jawab kenapa 
bangun ekonomi Ciamis mempunyai keanehan. Hasilnya cukup mencengangkan. Mulai 
memasuki kawasan Ciamis partisipasi wanita baik di warung-warung pinggir jalan, 
terminal Bis antar kota, pedagang asongan di Pangandaran atau perajin makanan 
ringan di perdesaan Ciamis, sangat tinggi. Dengan demikian tenaga kerja wanita 
di Ciamis memberi warna yang terhadap proses pembangunan di sana. Diskusi kecil 
dilaksanakan bersama teman-teman Unpad yang berasal dari Ciamis. Ternyata ada 
semacam budaya lokal yang cukup kental di lingkungan masyarakat Ciamis, di mana 
wanitanya mempunyai kewajiban untuk membantu ekonomi keluarga. Budaya lokal 
inilah yang memberikan motivasi tinggi terhadap budaya kerja, budaya usaha, 
wanita-wanita Ciamis. Motivasi yang tinggi dan tidak mengenal menyerah itulah 
sebenarnya yang menjadi modal dasar pembangunan daerah. Membangun motivasi, 
bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Dengan pertimbangan inilah penulis 
cenderung berpendapat bahwa pembangunan ekonomi Pangandaran Ciamis dalam waktu 
dekat bisa bangkit seperti semula. Mereka punya segalanya, terutama tekad yang 
tidak mengenal menyerah. Dalam bisnis, ini kunci utama keberhasilan.

Sisi lain yang menarik dari masyarakat Ciamis adalah bukan merupakan masyarakat 
perantau sejati. Kendati ada segelintir kelompok masyarakat Ciamis (Panjalu) 
yang menjadi perantau. Berbeda dengan perantau-perantau sejati seperti 
Tasikmalaya, Majalengka, Luragung Kuningan, Mandirancan Kuningan, atau yang 
lainnya. Masyarakat Ciamis cenderung bergelut dengan UKM di wilayahnya, 
membangun berdasarkan potensi daerah. Di sinilah strategi pembangunan yang 
mampu menopang keseimbangan ekonomi, dengan kekuatan yang mengakar pada potensi 
lokal. Karena UKM sangat strategis dalam upaya penyerapan tenaga kerja di Jawa 
Barat. Sekira 84,60% tenaga kerja di Jawa Barat terserap oleh UKM. Pengalaman 
penulis yang membina ribuan UKM di Jawa Barat, kunci keberhasilannya adalah 
motivasi yang tinggi. Bukan modal, bukan potensi daerah. Sebaliknya, kehancuran 
suatu UKM juga oleh motivasi. Maka tidak heranlah budaya lokal masyarakat 
Ciamis yang memberikan kontribusi besar terhadap motivasi, dan disinergikan 
dengan pembangunan ekonomi kerakyatan (UKM), tingkat ketergantungan pun rendah. 
Suatu strategi pembangunan dalam skala kabupaten yang cukup menarik untuk 
dikaji lebih jauh.

Musibah yang terjadi di Pangandaran Ciamis merupakan salah satu ujian dari 
Allah. Manusia harus melalui beberapa fase ujian yang beragam dan 
berkesinambungan. Jika dia dapat melewati ujian, maka dia terus melangkah pada 
tahapan ujian selanjutnya, yang mungkin berbeda dengan dimensi dan tipe ujian 
yang pertama. Seperti yang dikatakan Syaikh Gazali : Manusia terkadang di uji 
oleh suatu yang berlawanan, seperti besi yang dipanggang di atas bara api yang 
menyala-nyala, lalu dibuang kedalam jurang atau sungai dengan air yang melimpah 
ruah. (Lihat : Muhammad Mahir Al-Bakhiri: Surga balasan orang yang sabar). 
Sepertinya masyarakat Pangandaran atau Ciamis secara keseluruhan, cukup tabah 
menerima musibah ini, karena mereka terkenal agamis. Pada sisi lain ekonomi 
akan bangkit karena mempunyai motivasi yang tinggi. Dua kombinasi tadi 
merupakan jaminan untuk bangkitnya Pangandaran dari puing-puing kehancuran 
karena tsunami. Semoga. *** 

Penulis, peneliti senior pada PPKSDM Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke