(Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak.)









17 Agustus : revolusi belum selesai!





Ketika kita semua akan memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus yang ke 61,
patutlah kiranya, kita sama-sama merenungkan,  dengan dalam-dalam,  berbagai
hal yang berkaitan dengan  hari yang bersejarah bagi bangsa kita ini.
Tulisan kali ini merupakan ajakan kepada para pembaca untuk secara jujur,
jernih, terus terang, berani tanpa tedeng aling-aling, mengupas berbagai
soal mengenai bangsa, negara dan rakyat kita ini, pada masa yang lalu, masa
kini dan masa depan. Karenanya, mohon ma’af terlebih dulu, kalau  dalam
tulisan kali ini terdapat ungkapan-ungkapan yang kasar, atau yang terlalu
“tajam”, dan bisa menyakitkan hati sebagian orang, atau membikin marah
sebagian lainnya lagi.



Marilah sama-sama lihat  - dengan hati yang tulus dan fikiran yang bersih
! -  betapa terpuruknya negara, bangsa dan rakyat kita dewasa ini, yang
sebagian terbesar sebagai akibat banyaknya kesalahan monumental, dan
kerusakan atau pembusukan yang amat parah di berbagai bidang, yang dibikin
oleh Orde Barunya Suharto, dan yang diwarisi pemerintahan Habibi, Abdul
Rahman Wahid, Megawati dan sekarang ini diteruskan oleh pemerintahan
Sby-Jusuf Kalla.



Pertama-tama , perlulah hendaknya sama-sama kita ingat bahwa dari umur
Republik Indonesia yang 61 tahun ini, lebih dari separuhnya telah dirusak
atau dibusukkan oleh rejim militernya diktator Suharto beserta para
pendukung setianya. Artinya, selama 32 tahun pimpinan TNI, di bawah Suharto,
telah menjerumuskan  negara dan rakyat Indonesia ke dalam jurang yang gelap
sekali. Jiwa revolusi 45 di bawah pimpinan Bung Karno telah dihancurkan oleh
jenderal-jenderal dan kolonel-kolonel di bawah Suharto yang mengkhianati
Bung Karno. Jiwa revolusioner perjuangan 45 telah dimatikan oleh
persekongkolan pimpinan militer dengan kekuatan nekolim (neo-kolonialisme
dan imperialisme), terutama AS, beserta sekutu-sekutunya di dalam negeri.





Kerusakan dan pembusukan oleh pimpinan TNI dan Golkar



Kiranya, setiap orang yang bersih hati nuraninya akan bisa mengakui bahwa
sejarah Orde Baru telah menunjukkan dengan jelas  bahwa pimpinan TNI-AD dan
para tokoh Golkar telah melakukan perusakan-perusakan yang besar sekali dan
pembusukan yang sangat parah terhadap kehidupan bangsa dan republik kita.
Bukan saja mereka ini telah mengkhianati pemimpin besar rakyat Indonesia,
Bung Karno, dan menghancurkan kekuatan pendukungnya yang utama, yaitu
golongan kiri yang dimotori oleh PKI, tetapi juga kemudian merusak moral
bangsa secara parah sekali. Kerusakan moral sangat parah yang kita lihat
dewasa ini di banyak bidang adalah akibat dihancurkannya jiwa revolusioner
bangsa dan rakyat kita melalui pengkhianatan terhadap Bung Karno dan
kekuatan kiri pendukung utamanya.



Selama lebih dari separuh umur Republik kita yang 61 tahun itu (dan itu
adalah jangka waktu yang lama sekali !) pimpinan TNI-AD dan Golkar telah
menjadikan negara Republik Indonesia sebagai alat untuk mengkerangkeng
rakyat banyak, untuk, memupuk kekayaan dan hidup dalam kemewahan di
tengah-tengah penderitaan rakyat karena kesengsaraan dan kemiskinan.
Buktinya dapat banyak sekali kita saksikan dewasa ini dari  kehidupan yang
serba mewah mereka atau kekayaan mereka, sedangkan sebagian terbesar sekali
rakyat kita hidup menderita dalam serba kekurangan.



Dengan  terus-menerus – dan selama puluhan tahun pula !  -  mengibarkan
panji-panji anti Sukarno dan anti-PKI, mereka menindas sebagian terbesar
rakyat sambil bergandengan tangan erat-erat dengan kekuatan-kekuatan
pro-imperialis AS. Demi melindungi kepentingan mereka yang bathil dan haram,
dan untuk melindungi persahabatan dan kerjasama dengan fihak imperialisme AS
dan kapitalisme internasional ini mereka selalu  (sekali lagi, ingat :
selama separuh umur Republik kita !  ) bersikap sangat kejam dan biadab
terhadap golongan kiri dan pendukung Bung Karno, dan terhadap yang bernai
menentang politik rejim militer Orde Baru.



Mengingat besarnya kerusakan dan parahnya pembusukan yang sudah dilakukan
rejim militer Orde Baru-nya Suharto (artinya : oleh segolongan TNI-AD dan
Golkar) yang dilakukan selama lebih dari separuh umur Republik Indonesia,
maka patutlah kiranya bagi kita untuk selanjutnya meragukan tentang bisanya
ada perbaikan besar-besaran atau perubahan radikal di Republik kita tercinta
ini selama TNI (terutama TNI-AD) dan Golkar belum memperbaiki secara total
dan radikal kesalahan-kesalahan besarnya di masa lalu yang banyak sekali
itu.





Kekosongan kepemimpinan sejak dijatuhkannya Bung Karno


Adalah omong kosong saja (atau,  adalah munafik saja !, ) kalau ada orang
merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus tetapi sambil tetap bersikap
anti-Sukarno dan anti-pendukung utamanya, yaitu PKI. Sebab, pada dasarnya ,
orang-orang yang anti-Sukarno tidaklah akan bisa sepenuhnya menghayati arti
yang sebenarnya  Hari Peringatan 17 Agustus 45. Atau bisalah  kita katakan,
bahwa pada hakekatnya, para pengkhianat terhadap Bung Karno itu juga adalah
juga pengkhianat revolusi 45 adanya. Sebab, Bung Karno adalah bukan saja
tokoh besar yang punya peran penting dalam proklamasi 17 Agustus, bahkan
sudah mencurahkan banyak tenaga dan fikirannya dalam perjuangan menentang
kolonialisme Belanda, jauh sekali sebelum 17 Agustus !



Sejarah rejim militer Orde Baru dan empat pemerintahan yang menggantikannya
menunjukkan dengan jelas sekali kepada kita semua bahwa sejak dijatuhkannya
Bung Karno secara khianat oleh pimpinan TNI-AD yang bersekongkol dengan
kekuatan nekolim (terutama AS), maka Republik Indonesia sudah kehilangan
panutan politik dan moral revolusioner, yang dibutuhkan oleh bangsa dan
negara kita.  Terasalah benar-benar bahwa sejak itu ada kekosongan
kepemimpinan yang berwibawa, yang dihormati dan dicintai oleh rakyat banyak.
Karenanya, sebagian besar bangsa kita juga menjadi loyo, rusak moralnya, dan
seperti bingung kehilangan arah.



Berdasarkan pengalaman  selama puluhan tahun yang telah kita lewati bersama,
sudah bisalah kiranya kita ambil kesimpulan bahwa Republik kita tercinta ini
akan selalu menghadapi  banyak persoalan-persoalan yang rumit,
masalah-masalah yang parah, dan kesulitan-kesulitan yang besar, selama
Golkar dan sisa-sisa rejim militer Orde Baru (antara lain: TNI-AD) masih
bisa memainkan peran penting dalam pengurusan negara dan bangsa, seperti
sekarang ini.



“Track-record” TNI-AD dan Golkar selama 32 tahun Orde Baru, ditambah
kurang-lebih 8 tahun pasca-Suharto, membuktikan dengan gamblang sekali bagi
kita bahwa justru TNI-AD dan Golkar-lah yang merupakan sumber utama dari
berbagai penyakit berat atau borok parah yang dihadapi negara dan bangsa.
Jadi, sama sekali tidak mungkinlah kiranya diharapkan dari mereka perbaikan
kerusakan atau  penyembuhan penyakit parah bangsa kita. Kalau sudah selama
sekitar 40 tahun mereka justru menjadi sumber dari segala penyakit parah
bangsa, mana pula bisa kita harapkan bahwa di kemudian hari mereka akan bisa
berubah  - begitu saja dan dengan mudahnya ! - menjadi  pengobatnya.



Kita harus berani melihat dengan jujur - dan juga mengatakan terus-terang
  – bahwa kemerosotan moral dan pembusukan hati nurani di kalangan pimpinan
TNI (terutama TNI-AD), dan Golkar beserta para simpatisan Suharto lainnya,
sudah sedemikian parahnya  dan sudah pula begitu dalamnya, sehingga kita
bisa meneriakkan dengan lantang : Republik tercinta kita bersama ini sama
sekali tidaklah  membutuhkan mereka!!!  Sebab, mereka-mereka yang sudah
membusuk dengan parah ini malahan menjadi penyakit berbahaya yang
terus-menerus merusak tubuh bangsa kita.





Keadaan Negara dan rakyat yang menyedihkan


Padahal, negara dan bangsa kita ini sedang menghadapi puluhan ribu, bahkan
ratusan ribu, persoalan rumit, atau kesulitan besar , atau masalah-masalah
yang parah sekali di berbagai bidang. Dalam rangka ini perlu sekalilah
selalu sama-sama kita ingat bahwa negara kita ini berpenduduk besar sekali
(lebih dari 215 juta). Tetapi, sekitar 65 juta (artinya :seperempat dari
seluruh penduduk !) dari rakyat kita hidup dalam kemiskinan. Di antara
mereka terdapat kira-kira 40 juta penganggur dan setengah penganggur. Mari
sama-sama kita bayangkan betapa banyaknya orang yang tiap harinya menderita
berkepanjangan.



Itulah sebabnya, maka kriminalitas menjadi amat tinggi angka-angka di banyak
daerah, dan banyak orang menjadi frustasi (termasuk di kalangan muda). Lebih
dari 5 juta orang terpaksa jadi TKI atau TKW di berbagai negeri . Memang,
menjadi TKI atau TKW di luar negeri bukanlah pekerjaan yang hina, tetapi ini
menunjukkan bahwa karena berbagai salah-urus dalam mengatur negara maka di
Indonesia mereka sulit mencari hidup. Tidak sedikit di antara rakyat kita
yang  menjadi pengemis, orang gelandangan, dan pelacur.



Dapatlah  diperkirakan bahwa puluhan juta orang dari rakyat kita tiap
harinya sulit untuk makan dengan cukup, di samping sulit mendapat pengobatan
kalau sakit.  Ditambah dengan banyaknya bencana alam yang bertubi-tubi
menimpa bangsa kita (banjir, kekeringan, hama wereng, gempa bumi di Jogya,
gunung Merapi yang meletus, tsunami di Pengandaran dan di Aceh), maka
sebagian besar dari rakyat kita betul-betul terpaksa hidup sengsara. Yang
membikin banyak sekali orang marah  dan muak adalah bahwa di tengah-tengah
puluhan juta orang terpaksa hidup dalam kesengsaraan dan kemiskinan yang
memedihkan itu, sebagian golongan  bangsa kita tega-hati untuk rame-rame
melakukan kejahatan korupsi berjamaah secara besar-besaran. Atau, tidak
segan-segan menghambur-hamburkan uang rakyat untuk plesir di luarnegeri
dengan dalih “studi banding” segala.





Kejahatan korupsi dan kebejatan moral


Yang melakukan kejahatan korupsi jutaan, milyaran, bahkan ratusan milyaran
Rupiah ini terdiri dari pejabat-pejabat tinggi negara, menteri, gubernur,
bupati, hakim, jaksa, polisi, jenderal dan kolonel, anggota DPR dan DPRD,
dari tingkat pusat di Jakarta sampai ke daerah-daerah. Mereka adalah
penjahat-penjahat besar yang berkedok pejabat, tokoh partai, intelektual,
pemuka agama, dan tokoh terkemuka masyarakat. Melakukan kejahatan korupsi
uang publik (kasarnya : maling !) ketika puluhan juta orang menderita kurang
makan adalah benar-benar suatu kejahatan yang maha besar.



Dosa kejahatan mereka menjadi berlipat-ganda kalau mengingat bahwa
kebanyakan korupsi (sekali lagi : maling atau pencurian uang rakyat ! ) ini
justru dilakukan oleh orang-orang yang sudah kaya, bahkan sudah kaya-raya !
Moral rendah atau budi nista-lah yang  membikin mereka tanpa segan-segan dan
tega-hati berbuat haram dengan merugikan kepentingan orang banyak. Mereka
melakukan kejahatan terkutuk semacam ini bukan  karena didesak untuk
memenuhi kebutuhan dasar untuk  hidup, melainkan karena ketamakan dan
keinginan hidup mewah dan senang-senang atas penderitaan orang banyak.



Mereka yang tidak segan-segan  atau tega-hati melakukan korupsi
besar-besaran ini biasanya juga tidak segan-segan  dan tega-hati untuk
mempermainkan atau menyalahgunakan hukum, dengan menyuap hakim, jaksa,
polisi, dan pejabat-pejabat. Penegakan hukum sering sekali dilumpuhkan oleh
para penjahat kaliber kakap yang bisa membeli segala-galanya dengan uang,
termasuk apa yang mereka namakan “keadilan” dan “kebenaran”,  atau kata-kata
muluk lainnya.  Fenomena demikian inilah yang dewasa ini sering kita baca
atau kita saksikan sendiri, dengan rasa muak dan gregetan. Sebab, kebejatan
moral dan pembusukan akhlak ini sudah bisa katakan menyeluruh di “kalangan
atas” masyarakat dan pemerintahan. Contoh gamblang dari puncak kerusakan
akhlak yang menimpa sebagian besar kalangan atas ini adalah korupsi
besar-besaran di Departemen Agama (bahkan Menteri Agama-pun harus diperiksa
di pengadilan !).



Pengalaman dari  32 tahun pemerintahan Orde Baru, ditambah dengan 8 tahun
berbagai pemerintahan sesudahnya,  mengajarkan kepada kita bahwa pimpinan
militer type Orde Baru dan jenis tokoh-tokoh Golkar yang masih mempunyai
simpati terhadap Suharto bukanlah orang-orang yang bisa diharapkan memiliki
sikap benar-benar pro-rakyat dan  menjunjung kepentingan  negara dan bangsa.
Di samping itu,  kebanyakan di antara mereka bukanlah pula orang-orang yang
benar-benar menghormati demokrasi dan menjunjung tinggi-tinggi hak-hak azasi
manusia. Berbagai penderitaan  pedih selama 40 tahun yang ditanggung oleh
para eks-tapol dan jutaan para korban peristiwa 65 beserta keluarga mereka
(sampai sekarang !!!)  adalah bukti yang menyolok sekali dari rendahnya
kualitas moral para pendukung Orde Baru ini..



Itu semua berarti bahwa dengan orang-orang yang moralnya sudah bejat dan
sikap politiknya  masih seperti Orde Baru atau rejim militer Suharto, maka
kehidupan Republik Indonesia kita akan tetap terus dipenuhi kebusukan moral
dan kerusakan akhlak , dan akan terus dihinggapi banyak dan berbagai
masalah. Tegasnya, atau jelasnya, dengan orang-orang yang  moralnya sebejat
tokoh-tokoh rejim militer Suharto, Republik Indonesia kita akan tetap terus
dalam keadaan yang serba menyedihkan seperti sekarang ini, walaupun  bangsa
kita akan merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus yang ke-100, atau  bahkan
yang ke-200 kalinya di kemudian hari.





Perubahan besar lewat kekuasaan politik pro-rakyat


Republik kita yang terkasih ini membutuhkan pimpinan orang kuat dan
berwibawa, yang sekaliber atau setaraf pemimpin besar Bung Karno, yang
betul-betul mengabdikan diri untuk kepentingan rakyat terbanyak, yang dapat
mempersatukan semua golongan dari berbagai suku, golongan etnis, agama, dan
aliran politik, yang bisa jadi panutan dalam perjuangan bersama untuk
masyarakat adil dan makmur, dan yang bisa benar-benar menjiwai dan
melaksanakan Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Republik kita tercinta ini
tidak bisa dan tidak boleh terus-menerus dikelola orang-orang korup,
reaksioner, bermoral rendah, seperti yang terjadi selama 40 tahun yang sudah
lewat ini.



Negara yang amat luas dan besar dengan penduduknya yang begitu banyak ini
sedang menghadapi banyak sekali masalah-masalah besar di berbagai bidang.
Banyak sekali pembusukan atau degenerasi  yang sudah terjadi selama 40 tahun
harus dihentikan,  dan reformasi di segala bidang - yang sedang macet
sekarang ini - harus diteruskan. Banyak sekali hal-hal yang harus dibongkar,
dibangun kembali, atau diganti, demi kepentingan rakyat banyak dan demi anak
cucu kita di kemudian hari.



Pengalaman rakyat di berbagai negeri di dunia, antara lain di Venezuela,
Bolivia dan Kuba, menunjukkan bahwa untuk bisa mengadakan
perubahan-perubahan besar demi kepentingan rakyat banyak, haruslah lebih
dulu direbut kekuasaan politik, melalui berbagai cara dan jalan, terutama
jalan demokratis. Kiranya, kita bisa dan perlu belajar dari perebutan atau
perubahan kekuasaan politik di berbagai negeri Amerika Latin yang makin
bergeser ke kiri. Juga di Indonesia, perubahan-perubahan besar yang bisa
menguntungkan kepentingan rakyat banyak, hanya bisa tercapai kalau kekuasaan
politik dipegang oleh orang-orang yang benar-benar pro-rakyat, dan bukannya
oleh orang-orang bermoral rendah dan reaksioner sejenis pendukung-pendukung
setia Suharto beserta Orde Barunya. Sebab, 40 tahun (artinya dua pertiganya
umur Republik kita) sudah menunjukkan dengan jelas siapa-siapa mereka itu
semuanya dan bagaimana sepak-terjang mereka. Karena itu, janganlah lagi
tertipu oleh mereka, dan hilangkan segala ilusi.





Revolusi belum selesai !!!


Jadi, perubahan kekuasaan politik ke arah yang betul-betul mementingkan
kepentingan rakyat banyak adalah satu-satunya jalan yang akan bisa
mengentaskan Republik kita dari segala bahaya, kesulitan dan penyakit.
Kiranya, masalah inilah salah satu di antara berbagai soal penting yang
perlu direnungkan bersama dalam memperingati Hari Kemerdekaan 17 Agustus.
Dalam rangka ini perlu diingat pula bahwa  untuk menuju ke perubahan
kekuasaan politik yang benar-benar pro-rakyat itu kita bersama harus
berusaha meneruskan apa-apa yang sudah diperjuangkan oleh Bung Karno.
Singkat-padatnya, seperti yang sering dikatakan Bung Karno : revolusi belum
selesai !!!



Paris, 11 Agustus  2006



(Mengharapkan pendapat/tanggapan  Anda mengenai tulisan ini, yang dapat
disampaikan kepada [EMAIL PROTECTED])

















































--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.405 / Virus Database: 268.10.9/416 - Release Date: 10/08/2006


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke