http://www.gatra.com/artikel.php?id=96993

Zionis Bengis Kobarkan Jihad

Dua truk membelah keramaian kota Pontianak, Kalimantan Barat, yang panas 
terbakar terik matahari musim kemarau. Lajunya melambat, kemudian berhenti di 
Alun-alun Kapuas, Jalan Rahadi Oesman, tepat di depan Markas Korem 
121/Alambhana Wanawai. Dalam gerakan cepat, dari dalam perut truk berhamburan 
sekitar 200 lelaki berpakaian serba hitam. Kepalanya tertutup kupluk. Hanya 
bagian mata, hidung, dan mulut yang tebuka. Mereka langsung membentuk barisan.

Dalam waktu sekejap, kehadiran mereka Sabtu siang pekan lalu itu berhasil 
membetot perhatian massa. Ratusan orang berkerumun menyaksikan polah pasukan 
serba hitam itu yang mulai unjuk gigi. Gerakan-gerakan bela diri diperagakan. 
Mulai olah pernapasan hingga atraksi kekebalan tubuh. Sedikit pun tubuh mereka 
tak terluka ketika sebuah gada menumbuk dan sebilah golok dibacokkan ke badan 
mereka.

Beres unjuk kabisa, mereka kembali ke formasi barisan. Tak lama kemudian 
kembali masuk truk yang membawanya lari ke arah barat Pontianak. Namun, sebelum 
menghilang, Sueb Didu, juru bicara mereka, sempat menyebar ancaman, "Kami beri 
waktu 4 x 24 jam sejak sekarang. Kalau batas waktu terlewatkan, kami akan 
membombardir objek-objek vital."

Ancaman itu dilontarkan secara terbuka. Di hadapan ratusan orang, bahkan 
puluhan wartawan, baik dalam maupun luar negeri. Namun pernyataan keras itu tak 
berdampak. Didu bisa tenang meninggalkan alun-alun tanpa harus berurusan dengan 
aparat keamanan. Tak berkutikkah polisi? Ternyata tidak. Didu tak diutak-atik 
karena ancaman itu tertuju pada Israel yang biadab membombardir Palestina dan 
Lebanon. Mengejar gerilyawan Hizbullah dijadikan dalih. Tapi yang terjadi 
justru terbunuhnya kaum perempuan dan anak-anak.

Pasukan yang nongol di siang bolong itu menamakan diri Pasukan Bom Jihad (PBJ). 
Mereka merupakan hasil perasan dari 3.117 orang yang sudah menyatakan siap 
berjihad ke Lebanon. Tak hanya berasal dari Kalimantan, mereka ada yang datang 
dari Batam dan Jawa Barat. Sebagian sudah tertempa di medan pertempuran 
Afghanistan.

Karena itu, menurut Didu, pihaknya tak perlu menggelar latihan militer. Apalagi 
sampai dilengkapi dengan senjata segala. Senjata-senjata itu, kata Didu, baru 
akan mereka terima setelah ke luar Indonesia. Mereka berangkat ke medan 
pertemuan dengan berbagai cara. Baik legal maupun penyusupan. Kalimantan Barat 
dijadikan titik pemberangkatan karena berdekatan dengan perbatasan 
Indonesia-Malaysia. Perihal dana, Didu mengaku mendapat bantuan dari donatur 
perorangan di Indonesia dan Malaysia.

Hingga saat itu, Didu mengklaim, ada 47 anggotanya yang sudah lebih dulu 
berangkat. Mereka bergabung dengan 217 relawan Gerakan Pemuda Muslim ASEAN. 
"Kami punya jaringan rapi sehingga mereka dapat melewati negara-negara yang 
bersahabat," tutur Didu.

Kebengisan kaum zionis tak hanya memantik api kebencian para pemuda anggota PBJ 
di Pontianak. Tapi menyebar hingga ke seluruh pelosok Tanah Air, dan tak 
sebatas di kalangan muslim. Di Jakarta, misalnya, ratusan ribu orang dari 
beragam agama yang berhimpun dalam wadah Rakyat Indonesia Bersatu untuk 
Perdamaian (RIB-UP) turun ke jalan, Ahad kemarin. Dengan berpakaian serba 
putih, mereka melakukan long march dari bundaran Hotel Indonesia menuju Gedung 
Perwakilan PBB, Silang Monas, dan berakhir di depan kantor Kedutaan Besar 
Amerika Serikat.

"Agresi Israel ke Palestina dan Lebanon hanya menimbulkan kekisruhan global. 
Untuk itu, kekejaman Israel harus segera dihentikan," seru Din Syamsuddin, 
Ketua Umum PP Muhammadiyah yang sekaligus Ketua RIB-UP. Aksi sejuta umat ini 
diikuti Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, pimpinan Daarut Tauhid dan Gema Nusa Aa 
Gym, pimpinan umat Katolik Kardinal Darmaatmadja, tokoh umat Hindu Nyoman 
Suwandha, dan Bikkhu Vidya Sasana dari Buddha.

Dua hari berselang, giliran Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang bereaksi. 
Mereka secara resmi membuka posko pendaftaran laskar perang. Keberangkatan kaum 
mujahidin ini tinggal menununggu waktu. Lobi-lobi dengan pihak Kedutaan 
Palestina dan Lebanon sudah dijalin. "Nantinya akan ada pemberangkatan yang 
gratis," kata Irfan S. Awwas, Ketua Lajnah Tanfidziyah MMI, kepada Mukhlison S. 
Widodo dari Gatra.

Namun Irfan belum bisa menyebut berapa laskar MMI yang akan berangkat. 
Setidaknya, seperti diutarakan Fauzan Al Anshori, Ketua Divisi Informasi dan 
Data MMI, tersedia 500 laskar yang sudah siap berangkat. Mereka terkumpul sejak 
10 Mei lalu.

Dari kantong Front Pembela Islam (FPI), dilaporkan 2.000-an anggotanya siap 
berjihad. Mereka sudah terbiasa melakukan latihan perang sejak empat tahun 
silam. Di antara mereka, 20 orang sudah berangkat sejak sepekan lalu. "Kabar 
terakhir, mereka sudah sampai di Kuala Lumpur, bergabung dengan 1.500 mujahid 
lainnya dari berbagai negara," kata Ustad Sholeh Mahmud, Sekretaris Dewan 
Pimpinan Pusat FPI. Dari Kuala Lumpur, mereka akan terbang ke Damaskus untuk 
selanjutnya masuk Lebanon. Untuk pengiriman relawan itu, dibutuhkan ongkos Rp 
15 juta hingga Rp 20 juta per kepala.

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), LSM yang fokus pada misi bantuan 
medis di daerah gempa dan konflik, tak mau ketinggalan. Mereka sedang 
berancang-ancang mengirim delapan anggotanya. Dipimpin langsung oleh dr. 
Joserizal Jurnalis, SpOT, Ketua MER-C. Mereka terdiri dari dokter ahli bedah 
tulang, ahli bedah umum, spesialis bius, dokter umum, dan tenaga perawat. 
Mereka pernah sukses menjalankan misi serupa di kancah perang Afghanistan dan 
Irak.

Untuk kelancaran pemberangkatan, MER-C telah menjalin koordinasi dengan 
Pemerintah Indonesia. Selain itu, mereka juga sudah melayangkan surat ke 
Kedutaan Lebanon, Palestina, Suriah, dan Yordania. "Cuma Suriah yang belum 
memberikan konfirmasi," kata Joserizal kepada Luqman Wibisono dari Gatra. Tak 
lupa pula minta rekomendasi dari panglima perang kedua pihak yang bertikai, 
Israel dan Hizbullah. "Guna menghindari kecurigaan," katanya.

Ketika banyak pihak berlomba-loma memberangkatkan relawannya, eks Laskar Jihad 
malah bereaksi sebaliknya. Mereka sangat hati-hati menyikapi gejolak yang 
terjadi di belahan Timur Tengah itu. Padahal, selama ini, kelompok ini dikenal 
militan. Banyak anggotanya yang veteran perang Afghanistan. Di dalam negeri 
sendiri, mereka aktif menerjunkan anggotanya ketika Ambon dan Poso dilanda 
konflik berbau SARA.

Ja'far Umar Thalib, eks Panglima Laskar Jihad, punya alasan kenapa hingga kini 
belum berniat mengirim pasukannya. Baginya, Hizbullah tidak layak dibela karena 
mereka dari kalangan Syiah. Alasan itu pula yang selama ini membuat 
negara-negara Arab yang mayoritas kaum Sunni lambat bereaksi. Hanya saja, 
Ja'far menyayangkan, "Yang jadi korban justru kaum muslimin."

Atas alasan itu pula, menurut Ja'far, Laskah Jihad hanya akan mengirim 
peninjau. Mereka akan melakukan pemantauan, sejauh mana masyarakat Lebanon 
butuh bantuan. "Kasihan nanti, sudah jatuh korban ternyata tak efektif," 
katanya kepada Puguh Windrawan dari Gatra.

Hidayat Gunadi
[Nasional, Gatra Nomor 39 Beredar Kamis, 10 Agustus 2006]

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke