http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/082006/14/11lapsus02.htm


Mencoba "Menikmati" Paniknya Dikejar Aparat 

SETELAH berkeliling menelisik warung-warung di Kampung Cibogo, Cipatat, 
Kabupaten Bandung, dari mulai rumah makan khas Sunda hingga sepanjang lima 
ratus meter ke arah Cianjur beberapa kali, saya akhirnya singgah di sebuah 
warung yang tidak terlalu ramai. Warung yang satu ini hanya dihuni dua orang 
penjaga laki-laki dan seorang perempuan. Sebutlah namanya Pualam. Cewek yang 
kira-kira berusia 26 tahun tapi mengaku berumur 21 tahun ini seperti merajuk.

     
      Pualam dan Viruz bermain kartu "merahan". Mereka bermain kartu sambil 
berjudi, baik untuk membuang waktu maupun saat menunggu para tamu. Uang hasil 
jerih payahnya sebagai wanita tuna susila (WTS) bahkan habis di meja 
judi.*WAKHUDIN/"PR" 
Saya kemudian duduk di atas salah satu kursi dari lima kursi yang tersedia yang 
sudah mulai sobek dan bolong-bolong. Untuk meyakinkan bahwa saya tidak akan 
pergi lagi, Pualam menawarkan minuman. Saya langsung menyebutkan teh dingin 
dalam botol. Ia kelihatan tidak puas dengan jawaban saya. "Nggak minum bir?" 
katanya.

"Saya tak suka mabuk, juga tak merokok," kata saya.

"Tapi suka cewek?" sergah Pualam.

"Ya, itu saja," jawab saya.

Sembari mengambilkan minuman untuk saya, Pualam meminta satu botol bir 
berwarna hitam. Saya mengiyakannya. Kemudian ia membuka dua botol di depan 
saya. Saya meminum jatah saya langsung dari botol, sedangkan Pualam menuangkan 
minumannya dalam gelas besar. Sebelum meminumnya, ia kembali meminta saya 
membelikan untuknya sebuah minuman energi. Setelah saya mengiyakan, Pualam 
menuangkannya dalam gelas yang nyaris penuh. Setelah minuman dicampurkannya, 
Pualam pun menyeruputnya dengan rasa nikmat.

Meski kelihatan puas dengan minuman oplosannya, Pualam kelihatan masih kurang 
sesuatu. "Bagaimana kalau sekalian saya dibelikan rokok?" katanya. Saya pun 
mengangguk. Kemudian ia buru-buru datang ke counter rokok mengambil sebungkus 
rokok filter yang isinya 20 batang. 

Pualam memang akhirnya menawarkan saya untuk melakukan hubungan seks. Tarifnya 
Rp 150.000,00 untuk short time, dan Rp 500.000,00 untuk long time, ditambah 
uang cabutan (untuk mucikari) Rp 50.000,00. Saya menyanggupi membayarnya Rp 
150.000,00 untuk sekadar berfoto-foto di kamar-kamar yang biasa dia gunakan 
untuk melayani para tamunya. 

Sembari mengajak Pualam bercerita tentang perjalanan hidupnya, saya mencoba 
memotretnya dalam beberapa pose. Tapi baru mendapatkan dua kali jepretan, 
tiba-tiba lampu di kamar kami padam. Pualam pun berteriak, "Aa...! Ada apa, kok 
lampunya dimatikan?" 

Penjaga warung yang dari tadi tengah minum bir sembari setengah berbisik 
berteriak, "Ada razia...!" 

Mendengar kabar adanya penertiban, Pualam segera bergegas. Matanya melihat ke 
segala arah, kemudian tertuju ke tas miliknya dan menyambarnya. Penjaga warung 
yang memadamkan lampu kamar tersebut menyarankan kami untuk meneruskan kencan 
di rumah kontrakannya di belakang warung tersebut. Tanpa banyak bicara, Pualam 
pun menarik tangan saya ke rumah kontrakan yang disebutkan penjaga warung.

Kami menyelinap dari pintu samping, kemudian menuruni jalan yang begitu terjal 
dan gelap. Pualam sudah begitu hafal jalan ke arah jurang ini, sehingga 
meskipun jalannya terjal dan berbatu ia dapat melewatinya dengan sigap. 
Sebaliknya, saya yang baru malam itu melewati lereng ini gelagapan. Bahkan 
sesekali kaki terpeleset sehingga nyaris terjatuh. Sebetulnya saya tidak perlu 
tergesa-gesa seperti Pualam yang lari dari tempat praktiknya, tapi saya harus 
solider kepadanya dan sekaligus "menikmati" dramatisnya dikejar aparat. 

Kami berjalan dengan bergegas sekira 100 meter dari warung yang letaknya jauh 
di bawah dari warung remang-remang itu. Kami masuk ke dalam rumah petak yang 
menurut Pualam rumah kos milik penjaga warung. Setelah meletakkan tas miliknya, 
Pualam kemudian pergi ke kamar mandi yang letaknya di luar. Ia sengaja 
membersihkan semua make up yang menempel di wajahnya. Ia khawatir aparat yang 
tengah melakukan razia mendatangi tempat kosnya. Dengan keadaan wajah yang 
polos ia dapat berkilah bahwa dirinya bukanlah WTS.

Meskipun semua make up sudah dibersihkan dan kemudian mengganti pakaian 
rumahan, Pualam masih kelihatan panik. Ia kembali mengecek dompetnya, KTP-nya 
ternyata aman. Kemudian ia mengambil dokumen berwarna merah. Ternyata itu 
adalah kartu keluarga (KK). Ia mengaku, namanya sudah tercantum dalam daftar 
sebagai anggota keluarga pemilik warung. Melihat bebe- rapa dokumen yang 
dimaksudkan sudah lengkap, Pualam kelihatan tenteram.

Meski Pualam sudah mulai tenang, justru kegaduhan terjadi di luar. Kali ini 
teman Pualam bernama Viruz justru tengah mengalami kepanikan. Ia melihat tiga 
buah mobil aparat melintas di depan warungnya yang biasa ia gunakan untuk 
mangkal. Saya menyarankan agar Pualam mengajak Viruz untuk bergabung di kamar 
kami. Tapi sebelum bergabung, Virus pun pergi ke kamar mandi terlebih dahulu. 
Ia membersihkan semua make up yang menempel di wajahnya sebagaimana dilakukan 
Pualam. 

Begitu kumpul bertiga di kamar kos itu, Pualam kemudian melontarkan ide untuk 
bermain kartu. Ia menyebutnya dengan istilah bermain "merahan". Mereka terbiasa 
tidur sekira pukul 3.00 atau 4.00 dini hari, padahal malam itu baru menunjukkan 
pukul 23.00 WIB. Kembali ke warung bagi mereka tidak mungkin, Pualam dan Viruz 
tidak mau mengambil risiko ditangkap aparat, sementara untuk tidur sore belum 
bisa, karena kantuk belum kunjung datang. Bermain kartu adalah alternatif untuk 
membunuh waktu, sebagaimana mereka selalu lakukan saat-saat menanti para 
pelanggan.

Saya sebetulnya siap ikut bermain kartu, namun saya tidak paham sistem 
"merahan" yang mereka mainkan. Apalagi, Pualam menyarankan agar saya tidak 
perlu ikut bermain kartu, karena cukup dilakukan dua orang. Saya hanya diminta 
menjadi donatur, siapa pun yang kalah untuk membayarinya. Sebelum mereka 
bermain, uang receh yang ada di kantung saya dimintanya, sebagai modal. Dua 
perempuan ini pun kemudian tenggelam dalam permainan kartu. Sesekali Pualam 
mengocok kartu, namun kadang-kadang Viruz yang mengocoknya.

Selama kedua perempuan ini bermain kartu sambil berjudi, saya kembali mengajak 
mereka mengobrol. Pualam tidak banyak menjawab pertanyaan saya, ia lebih 
memilih tenggelam dalam kartu yang tengah dipegangnya. Justru Viruz yang lebih 
mudah untuk bercerita. Meskipun usianya sekarang sudah 35 tahun, ia masih 
beroperasi sebabagi pelacur. Ia memulai menjadi WTS di Cibogo setelah 
diceraikan suaminya. Wanita yang mengaku berasal dari Garut ini baru terjun ke 
dunia esek-esek setelah usianya 30 tahun.

Sejak tidak memiliki suami dan harus menghidupi seorang anaknya, ia memang 
ingin bekerja. Namun, meskipun sudah melamar ke sejumlah pabrik, ia tidak 
kunjung diterima sebagai karyawan. Makanya saat ada seorang menawarinya untuk 
menjadi penunggu warung, ia menyanggupinya. Pada mulanya ia tidak menyangka 
bahwa menunggu warung sekaligus menjual dirinya untuk berbuat mesum. Itulah 
sebabnya setelah beberapa bulan di Cibogo ia kembali ke Garut. Namun karena 
terus didera kemiskianan, Viruz kembali ke Cibogo. Kali ini ia datang sendiri 
dengan kemauan sendiri, sehingga dijalaninya selama dua tahun.

Pualam maupun Virus saat ditanya kapan akan berhenti menjadi WTS, tidak tahu 
harus menjawabnya. "Nggak tahu, kapan. Terserah. Apa yang akan terjadi 
terjadilah," kata Viruz. Pualam pun mengamininya. Kami mengobrol hingga pukul 
1.00 dini hari. Penjaga warung tiba-tiba datang, dan menyodorkan bon minuman 
yang diminum Pualam dan dirinya sendiri ratusan ribu rupiah. Saya pun 
membayarnya sekalian pamitan. 

Setelah menaiki tebing yang begitu terjal, saya pun sampai di depan warung 
remang-remang itu kembali. Sebagian besar warem tersebut sudah tutup. Rupanya 
beberapa mobil aparat yang lewat hanya mampir di dua warung tidak bermaksud 
melakukan razia. Tapi para WTS telanjur lari tunggang langgang. 
(Wakhudin/"PR")***


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke