http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/082006/14/11lapsus03.htm
Cibogo tak Seramai Dulu
Oleh WAKHUDIN
Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Melu edan ora tahan
Yen tan melu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Dilalah kersaning Allah
Begja-begjaning wong kang lali
Luwih begja kang eling lan waspada
(Ranggawarsita 1802-1873)
CIPATAT memiliki potensi alam yang luar biasa. Perbukitan kapur Masigit
selain dapat ditambang batu kapurnya juga dikembangkan menjadi objek wisata
yang unik. Dengan meningkatkan kesejahteraan warga Citatah, diharapkan
prostitusi di daerah ini dapat dihilangkan.*WAKHUDIN/"PR"
BAIT macapat di atas merupakan karya pujangga Keraton Surakarta, Jawa Tengah,
Ranggawarsita. Karya tersebut sangat terkenal, karena memiliki nilai prediksi
yang sangat aktual dengan kondisi zaman sekarang. Syair yang disusun dua abad
lalu itu mengungkapkan bahwa suatu saat akan datang zaman gila. Zaman gila ini
sangat membingungkan masyarakat. Kalau ikut gila, rakyat benar-benar tidak
tahan. Tapi, kalau tidak ikut gila, rakyat tidak kebagian. Bahkan pada
gilirannya akan mengalami kelaparan. Tapi- bagaimanapun, seharusnya semua tetap
berada di jalan Allah. Sebab, semulia-mulianya orang yang lupa akan lebih mulia
orang yang selalu ingat dan waspada.
Zaman yang dilukiskan Ranggawarsita disebut zaman Kalabendu. Masa seperti ini
dapat dirasakan nyaris di semua sendi kehidupan oleh masyarakat modern.
Masyarakat kini sering dihadapkan berbagai dilema yang dramatis, antara pilihan
salah atau benar, jujur tapi miskin dengan kaya tapi culas, korupsi dan karier
melejit atau bersih tapi karier mentok, dan sebagainya. Sayangnya, tidak
sedikit di antara kita yang memilih alternatif ikut gila ketimbang eling dan
waspada.
Yang paling ironis adalah masyarakat yang memilih ikut gila, namun tidak juga
sejahtera. Norma-norma kemasyarakatan dan agama sudah terlanjur diterjang,
namun harta benda yang diidamkan tidak kunjung tiba. Alih-alih mereka semakin
sejahtera, tapi justru semakin hina dina di mata sesama, namun kalau mati dan
tidak sempat bertobat, dijamin masuk neraka.
Nasib wanita tuna susila (WTS) di Cibogo, Desa Citatah, Kecamatan Cipatat,
Kabupaten Bandung, Jawa Barat, saat ini dapat dimasukkan dalam kategori yang
ironis ini. Tidak seorang perempuan pun ingin menjadi WTS. Hanya karena kondisi
yang luar biasa menyeret mereka terjun ke dalam dunia pelacuran. Meskipun
segala hal sudah dijualnya, termasuk menjual dirinya sendiri, namun nasib
mereka secara materi tidak kunjung membaik. Hari demi hari, lokalisasi di
Cibogo semakin sepi. Satu demi satu, warung remang-remang ini tutup. Beberapa
tempat hiburan sebagai induk daya tarik masyarakat untuk datang pun satu demi
satu gulung tikar. Dibangunnya jalan tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang
(Cipularang) semakin membuat Cibogo sepi.
Meskipun para pelacur setiap saat melakukan perzinaan, namun semua menyadari
bahwa perzinaan bukanlah perbuatan bermoral dan bermartabat. Bahkan lebih jauh,
para WTS sesungguhnya ingin meninggalkan dunia prostitusi itu secepatnya, jika
problematika hidup mereka telah terselesaikan. Sayangnya, batasan problem hidup
mereka tidak pernah jelas sebagaimana adanya garis antara hitam dan putih,
melainkan selalu samar-samar. Itu pula sebabnya, setiap pelacur yang terjun
dalam dunia prostitusi tidak mudah untuk mentas dari lembah hitam tersebut.
Meski demikian, penelitian membuktikan banyaknya perempuan pelacur yang berani
meninggalkan dunianya untuk meraih masa depan mereka yang lebih jernih. Proses
penyadaran dari wanita pelacur menjadi wanita baik-baik ini bersifat unik.
Antara satu perempuan dengan perempuan yang lain memiliki proses
sendiri-sendiri.
Meski demikian, terdapat kecenderungan yang sama yakni bagi para WTS untuk
meninggalkan dunia pelacuran, yakni (a) Proses penyadaran bersifat represif.
Proses penyadaran wanita pelacur menggunakan cara-cara represif memang bukanlah
cara yang ideal. Sebab, para pelacur ditangkap oleh aparat Satuan Polisi Pamong
Praja. Meskipun bersifat represif, namun cara-cara tersebut selama ini terbukti
relatif efektif. Para pelacur yang tinggal di panti rehabilitasi dipaksa untuk
hidup normal dan hidup sehat. Mereka diajarkan bagaimana cara mencari nafkah di
luar melacurkan diri, yakni dengan berbagai usaha wiraswasta atau belajar
bekerja kepada orang lain dengan cara halal. Apalagi setelah keluar dari panti
mereka dibekali modal kerja, pada umumnya dapat digunakan untuk menghidupi diri
sendiri.
(b) Habis "masa produktifnya". Perempuan yang menjadi pelacur pada saatnya akan
meninggalkan dunianya. Salah satu jalannya adalah jika pelacur tersebut
kehabisan "masa produktifnya". Artinya, kondisi fisik dan psikisnya tidak
memungkinkan lagi untuk tetap bertahan menjadi pelacur. Usia yang semakin tua,
dengan kulit yang semakin keriput, disertai rambut yang beruban, serta gigi
ompong, akan memaksa seorang perempuan menghentikan kegiatannya sebagai
pelacur.
Aktivitas melacur dalam banyak kasus kemudian diikuti dengan langkah-langkah
melakukan degradasi kelas pelacuran. Misalnya, perempuan pelacur yang tadinya
menjadi primadona, suatu saat kemudian turun menjadi pelacur biasa. Pelacur
biasa yang sebelumnya cukup menunggu di lokalisasi, lama kelamaan turun ke
jalan secara agresif menyambut para lelaki hidung belang yang lewat di
jalan-jalan. Sementara pelacur jalanan yang semakin tua, bisa jadi kemudian
mengalami degradasi menjadi pelacur di pasar-pasar dengan melayani para
pedagang atau masyarakat kecil di gubuk seadanya dengan tarif antara Rp
10.000,00 hingga Rp 25.000,00.
Habisnya "masa produktif" bagi pelacur dapat juga disebabkan oleh berbagai
penyakit yang menggerogoti dirinya. Sebagai kelompok yang berisiko tinggi
(risti) terhadap berbagai penyakit menular seksual, para pelacur sangat rentan
mengidap berbagai penyakit berbahaya, bahkan tidak sedikit yang kemudian
mengidap virus HIV/AIDS yang sangat mematikan. Dalam kondisi sakit seperti itu,
pelacur dengan sendirinya kehabisan "masa produktifnya" sehingga berhenti
melakukan perzinaan.
(c) Tersentuh hati dan sanubarinya. Peluang lain pelacur mengalami proses
pencerahan, dari menjadi pelacur menjadi wanita baik-baik adalah jika merasa
tersentuh hati sanubarinya. Berbagai upaya yang dapat menyentuh kalbu mereka,
apalagi dilakukan secara humanis, merupakan terobosan terbaik untuk menyadarkan
pelacur untuk kembali menjadi manusia yang beradab dan bermartabat. Dalam soal
ini, Rasulullah Muhammad saw. telah mengantisipasi peluang itu dengan
mengatakan bahwa wanita terbuat dari tulang rusuk laki-laki. Jika dibiarkan ia
akan tetap bengkok, namun jika diluruskan dengan cara paksa, tulang tersebut
akan patah. Maka, melakukan proses penyadaran dengan cara menyentuh hati mereka
adalah pilihan yang paling baik di antara pilihan lainnya.
Rupanya, kasus pelacuran di Cobogo cukup unik, tidak masuk dari tiga
kemungkinan di atas. Sebab, pelacuran di wilayah Cipatat ini justru satu demi
satu tutup bukan karena ditangkap, bukan karena kehabisan WTS, atau bukan pula
karena sadar, melainkan ditinggalkan pelanggannya. Zaman sebelum jalan tol
Cipularang dibangun merupakan masa keemasan Cibogo. Para awak truk dan trailer
setiap saat mampir di warung remang-remang ini. Namun kini mereka tidak lagi
melewati jalur ini, karena melewati jalan tol lebih mudah dan efektif.
Maman (35), sebutlah namanya demikian, seorang penunggu warung remang-remang
(warem) di Cibogo pekan lalu menuturkan, jumlah warem remang-remang di Cibogo
sekira 50. Yang masih beroperasi berjumlah 30-an. Setiap warung dihuni oleh
seorang, dua orang, hingga lima orang WTS. Dengan demikian, jumlah WTS di
Cibogo yang masih bertahan sekira 200 orang.
"Di sini para pemilik warung tidak ada yang mengoordinasikan. Semua berjalan
sendiri-sendiri. Setiap orang juga boleh membuka usaha di sini, asalkan mampu
membayar sewa warung tersebut. Harga sewa warung di sini Rp 600.000,00 per
bulan. Kenyataannya, banyak pengusaha yang tidak tahan lama berusaha di sini,
sebab makin hari makin sepi," kata Maman.
Ia menunjuk tiga tempat hiburan yang menjadi "induk" dari lokalisasi ini yang
mulai tutup. Tinggal dua tempat yang masih beroperasi, itu pun terseok-seok
dalam perjalanannya, karena para pelanggan meninggalkan tempat hiburan ini.
Saat malam Sabtu atau Minggu, pengunjung yang datang dapat dihitung dengan jari
tangan.
Cibogo kini dalam persimpangan jalan. Mau diteruskan untuk maksiat, toh semakin
ditinggalkan pelanggan. Bukan keuntungan materi yang didapat, melainkan rugi
dan terus merugi. Kalau begitu, mengapa tidak sekalian ditinggalkan saja dunia
esek-esek itu dan pindah kepada dunia yang lebih cerah, lebih bermartabat, dan
sekaligus mendatangkan rezeki?***
Penulis, wartawan Pikiran Rakyat
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/