refleksi: Merdeka? Merdeka untuk dibodohkan, ditipu dan dimiskinkan! KOMPAS Rabu, 16 Agustus 2006
Merdeka, untuk Apa? Limas Sutanto Bangsa Indonesia telah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Kini, 61 tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan, kita bertanya, merdeka, untuk apa? Pada perspektif kemerdekaan sebagai proses tumbuh kembang keberadaban manusia dan bangsa, kita menegaskan bahwa kita merdeka untuk: (1) menjadi makin pandai dan arif; (2) bekerja makin efektif dan efisien; (3) mengalami hidup yang makin bahagia; (4) menjadi insan dan bangsa yang makin beradab. Kini, sudahkah keempat hal itu terejawantah? Di sana-sini keempat hal itu telah terejawantah sebagai titik-titik kecil di tengah hamparan luas kehidupan nyata insan dan bangsa Indonesia, tetapi pada hamparan luas kehidupan itu tertebar pula bercak-bercak besar kebodohan dan ketidakarifan, kekurangmampuan bekerja secara efektif dan efisien, kesengsaraan dan penderitaan, dan kekurangberadaban. Pada ulang tahun ke-61 Proklamasi Kemerdekaan, bentangan kehidupan nyata insan dan bangsa Indonesia masih berupa mosaik yang tersusun oleh titik-titik kecil kemerdekaan dan bercak-bercak besar ketidakmerdekaan. Agenda penting kita terwakili oleh pertanyaan: bagaimana kita mengusahakan pelebaran titik-titik kemerdekaan dan penciutan bercak-bercak ketidakmerdekaan, lewat upaya-upaya pada perspektif individual, budaya, dan struktural secara sekaligus? Keempat ciri insan dan bangsa merdeka (pandai/arif; kerja efektif/efisien; hidup bahagia; beradab) akan kian bertumbuh kembang lewat pendidikan individual multifokus untuk memberdayakan individu mendayagunakan kepiawaiannya dalam berkata-kata/berbahasa; berpikir logis dan berhitung; mewujudnyatakan gerak ragawi yang produktif, efektif, dan menyehatkan; menyatakan pikiran, perasaan, dan mewujudnyatakan pemecahan masalah lewat gambar dan musik; menggalang hubungan antarmanusia yang empatetik, adil, saling menguntungkan, saling menumbuhkembangkan, dan damai; menumbuhkembangkan dan mengejawantahkan keandalan diri (pengenalan diri, disiplin diri, kontrol diri, dan kejujuran diri yang baik); menumbuhkembangkan dan mengejawantahkan hubungan yang sehat dan harmonis dengan alam, dunia hewan, dan dunia tumbuhan; menumbuhkembangkan dan mengejawantahkan hubungan yang penuh makna dengan dunia pemikiran mendalam dan Tuhan. Demi tumbuh kembang keempat ciri insan dan bangsa merdeka, kita niscaya mengejawantahkan pendidikan multifokus secara lengkap (holistik) dan menyeluruh (komprehensif), tanpa kecuali. Upaya pada perspektif individual itu perlu dan niscaya didukung oleh budaya prokemerdekaan dan struktur kekuasaan prokemerdekaan, yang menjadi tempat hidup yang sehat untuk individu-individu merdeka. Budaya dan struktur kekuasaan yang prokemerdekaan adalah budaya dan struktur kekuasaan yang menghargai, mengutamakan dan mengejawantahkan: (1) komunikasi yang adil dan jujur lewat pendayagunaan kata dan bahasa; (2) pendayagunaan proses berpikir yang logis, rasional, transparan, dan akuntabel; (3) pendayagunaan gerak ragawi yang produktif, efektif, dan menyehatkan; (4) ekspresi seni yang mencerahkan, menggelitik introspeksi dan perbaikan, serta memberikan pengalaman keindahan; (5) hubungan antarmanusia (antarwarga bangsa) yang empatetik, adil, harmonis, damai, saling menguntungkan, dan saling menumbuhkembangkan; (6) pendidikan dan pelatihan disiplin diri, kejujuran, dan kontrol diri yang andal; (7) hubungan yang sehat, harmonis, dan adil dengan alam, dunia hewan, dan dunia tumbuhan; (8) hubungan yang mendalam dan penuh makna dengan dunia pemikiran mendalam dan Tuhan. Pendidikan individual multifokus yang memerdekakan dan budaya serta struktur kekuasaan yang prokemerdekaan jelas tidak sejalan dengan praktik kekerasan; penindasan; ketertutupan; ketidakjujuran; patgulipat; proses berpikir tidak logis, tak rasional, tak akuntabel; praktik penghambatan ekspresi seni; pemanfaatan gerak ragawi untuk praktik kekerasan dan penindasan; hubungan antarmanusia (antarwarga bangsa) yang tidak adil, penuh prasangka, diskriminatif, dan rasistik; kualitas diri insani yang tak jujur dan tidak disiplin; hubungan eksploitatif dengan alam, fauna, dan flora; praktik religius dan spiritual yang dangkal dan miskin makna. Semoga beberan singkat gambaran individu, budaya, dan struktur kekuasaan yang merdeka itu menggelitik kita untuk benar-benar merdeka. Dirgahayu Republik Indonesia! LIMAS SUTANTO Psikiater Konsultan Psikoterapi, Lulusan Pascasarjana Konseling; Tinggal di Malang [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

