Mohon kebenaran dari informasi dibawah ini ...
TIA,

^(J)^
www.friendster.com/profiles/okberto

-----Original Message-----
From: Ummy Kusmawati 
Sent: Tuesday, August 15, 2006 12:47 PM
To: Sigit Setiawan; Biwodorukmi Pradiptowati; Tutut Wulandari; Sri Taji 
Subarkah; Bayu Saptorini; Sri Murtini
Subject: FW: [Griya_Bintara_Indah] Si Manis Peracun Anak

 

 
Katanya... *sekedar menyampaikan..
 
Kamis, 10 Agustus 2006

Si Manis Peracun Anak 
Nyaris 1 juta dolar AS uang riset digelontorkan, sementara lebih dari 1.900 
ekor tikus dilibatkan. European Ramazzini Foundation on Oncology and 
Enviromental, lembaga riset terkemuka di Italia itu, ingin membuktikan, apakah 
betul Aspartam sejenis pemanis buatan itu berbahaya bagi kesehatan. 
Ramazzini tidak keliru. Bahkan, fakta yang mereka kantongi jauh lebih lebih 
mengerikan ratusan tikus telah siap menunggu ajal. Aspartam, pemanis nonkalori 
yang memiliki tingkat kemanisan 200 kali gula itu, membikin tikus-tikus tadi 
langsung dihajar kanker mematikan. Riset yang digelar pertengahan 2005 lalu itu 
membuat Uni Eropa kian yakin dengan keputusan mereka melarang penggunaan 
pemanis buatan pada produk makanan. Jajanan anak-anak, terutama. Jepang, 
Malaysia, Brunei, Vietnam, langsung mengekor langkah Uni Eropa. Mereka haramkan 
pula Siklamat, jenis pemanis buatan yang diduga dapat memicu kanker. Bagaimana 
Indonesia? 
Alih-alih dilarang beredar, produk-produk ini sejak lama menjadi kawan akrab 
anak-anak SD. Mudah ditemui di warung-warung, bahkan dijajakan secara 
besar-besaran di supermarket. Survei Lembaga Konsumen Jakarta (LKJ) sepanjang 
Juni hingga Juli di sejumlah titik di DKI Jakarta membuktikan hal itu. 
''Dari 49 sampel yang kami ambil, lebih dari separuhnya mengandung pemanis 
buatan dalam konsentrasi tinggi,'' kata Lies Permana Sari. Anggota tim peneliti 
LKJ itu, kemarin (9/8), membeberkan temuan mereka yang telah dikonfirmasi 
laboratorium Sucofindo. 
Disebut berkonsentrasi tinggi, sebab produk ini memuat kadar gula 
berlipat-lipat. Selain mengandung gula murni, produk tadi juga ditambahi 
pemanis. Padahal Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) jelas-jelas mengatakan, 
pemanis buatan hanya digunakan pada pangan rendah kalori dan pangan tanpa 
penambahan gula. Adapun sampel-sampel yang disisir LKJ meliputi produk jelly, 
permen, dan minuman. Ini produk jajanan anak-anak. ''Kami sengaja memilih jenis 
itu,'' dia menambahkan. Ada 25 merek jelly, 16 merek minuman serbuk, dan 
delapan merek permen. Kelebihan zat pemanis ditemukan bukan hanya pada 
merek-merek tak terkenal, tetapi juga brand-brand yang sering nongol di layar 
televisi. 
Bukan cuma mengandung konsentrasi pemanis tinggi, produk itu juga seperti 
berupaya menyembunyikan sesuatu. Beberapa produk, seperti Okky Jelly Drink, 
Okky Bolo Drink, Happydent White, Yulie Jelly, Donna Jelly, Lotte Juicy Fresh, 
Vidoran Freshdrink, Naturade Gold, dan Mariteh Instant, tidak mencantumkan 
batas maksimum penggunaan pemanis buatan Aspartam. 
Ini, menurut Lies, menyangkut perkara cukup penting. Riset European Ramazzini 
Foundation tahun silam membuktikan bahwa pemanis buatan Aspartam berisiko 
memicu kanker dan leukimia pada tikus percobaan bahkan pada dosis pemberian 
Aspartam hanya 20mg/kg BB. 

''Secara anatomis tikus mirip dengan manusia. Apa yang terjadi tikus amat 
mungkin terjadi pula pada manusia,'' kata dr Nurhasan, anggota tim riset LKJ. 
Karena itu pencantuman komposisi pemanis pada produk amat penting, sebab ada 
acceptable daily intake (ADI) atau batas jumlah pemanis yang boleh dikonsumsi 
seseorang sepanjang hidup. 
Bahkan, kata dia, jauh-jauh hari riset BPOM pada November-Desember 2002 sudah 
menunjukkan bahwa konsumsi Siklamat sudah mencapai 240 persen ADI, sementara 
Sakarin pemanis buatan pemicu kanker kemih sebanyak 12,2 persen nilai ADI. Tak 
pelak, kata Lies, anak-anak merupakan konsumen yang paling rentan terhadap 
dampak negatif dari pemanis buatan. ''Otak mereka masih berkembang,'' terang 
dia. Beragam riset menunjukkan bahwa pemanis buatan, terutama Aspartam, 
berpotensi memicu keterbelakangan mental akibat penumpukan Fenilalanin menjadi 
Tirosin pada jaringan syaraf.
Berbeda dengan tikus, efek dari pemanis buatan pada manusia memang tak mewujud 
seketika. Ia terus berakumulasi dan akan dipanen setelah si anak beranjak 
dewasa. ''Karena itu, ini boleh dibilang silent disease,'' tutur Lies seraya 
mengutip riset di Italia yang menunjukkan bahwa sudah ada bukti serangan kanker 
akibat konsumsi pemanis buatan. 
Apa alasan produsen menaburi pemanis makanan? Sulit dipungkiri, terang Lies, 
ini terkait dengan upaya mereduksi ongkos produksi. ''Kalau dengan sedikit 
pemanis saja sudah bisa menggantikan konsentarasi gula, kenapa tidak 
dipakai?,'' kata Lies seraya mengatakan bahwa Aspartam, Sakarin, dan Siklamat 
memiliki tingkat kemanisan dari 30 hingga 300 kali gula, 
Menurut tim LKJ, As'ad Nugroho, BPOM hingga saat ini berkeras pemanis buatan 
masih aman dikonsumsi umum asalkan memenuhi komposisi. Apalagi ada 50 negara 
yang masih memperbolehkan meski soal aman tidaknya pemanis buatan masih 
diperdebatkan hingga detik ini. Pada kenyataannya, terang dia, soal komposisi 
aman ini banyak produsen yang membandel. 
''Saat minta izin BPOM, mereka memberikan produk yang komposisinya tepat. Ke 
pasar, mereka meluncurkan produk yang lain,'' kata dia. imy 
( ) 
 

Marilah kita berbagi info dan solusi demi kebersamaan kita.
"Jangan tanya apa yg telah POCI-GBI-BLI berikan kepadamu, tetapi bertanyalah, 
apa yg telah kau perbuat kepadanya." (disitir dari JFK) 




YAHOO! GROUPS LINKS 

 





***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke