http://www.jawapos.co.id/index.php?act=detail_c&id=241938

Kamis, 17 Agt 2006,


Meludahi Perjuangan Sendiri 
Oleh Kuswaidi Syafi'ie 




"Setiap perjuangan selalu melahirkan
sejumlah pengkhianat dan para penjilat 
Jangan kau gusar, Hadi."

Sudah berpuluh kali Agustus lewat di negeri ini. Sudah berpuluh kali pula kita 
seakan dipaksa oleh sejarah untuk menekurkan kepala sembari menimang-nimang apa 
sesungguhnya arti sebuah perjuangan, terutama yang dipersembahkan para leluhur, 
baik jauh sebelum pekik proklamasi disemburkan maupun pada detik-detik ketika 
negeri ini sudah siap mau belajar untuk berdaulat sendiri. 

Setiap Agustus datang, setiap itu pula mata batin kita seolah digedor 
keras-keras untuk membaca gemuruh makna di balik bendera-bendera, untuk membaca 
filosofi upacara-upacara, untuk membaca murad dari berbagai seremoni yang 
selalu riuh-rendah dan gegap-gempita. 

Agustus yang memergoki kita kali ini, sebagaimana yang sudah-sudah, adalah juga 
Agustus yang tiba di depan batang hidung kita dengan membawa serta 
kewajibannya: melepas berbagai potret perlawanan terhadap berbagai modus 
penjajahan dari kerangkeng masa silam yang kemudian menjelma naga raksasa yang 
meraung-raung di angkasa: bacalah, bacalah, bacalah, dengan pedih atau tertawa.

Tapi, siapakah yang sanggup menyimak raungan naga sejarah itu secara seksama 
dengan penuh kesungguhan dan ketulusan? Orang-orang yang dulu pernah mengalami 
atau menyaksikan sengitnya perlawanan terhadap para penjajah sekalipun belum 
tentu sanggup dan bersedia meletakkan diri mereka pada posisi yang ideal serta 
bersih sebagaimana yang ditempati naga sejarah itu. 

Mungkin hanya sedikit orang, apalagi dari kalangan para penguasa, yang hingga 
kini masih berdiri kukuh di atas garis perjuangan demi tetap berupaya, seberapa 
pun redupnya, menyingkirkan berbagai tindakan bejat yang menyerimpung dan 
merongrong sejatining kemerdekaan. 

Selebihnya tak lain adalah bagian dari involusi centang-perenang tak bernilai 
yang tidak hanya menyesakkan dan membuat suasana jadi gemuruh oleh kepengapan, 
tapi lebih dari itu juga menebar kemarung serta racun di jalan-jalan dan 
berbagai kesempatan: sebentuk penjajahan internal yang biadab dalam 
pengertiannya yang terbentang luas.

***

Dengan menatap dan menganalisis episode sejarah yang durhaka seperti itulah, 
seorang penyair kawakan Indonesia, Taufiq Ismail, dengan murung kemudian 
menarik seutas konklusi sebagaimana termaktub dalam sebait puisinya di atas 
bahwa perjuangan itu tidak selamanya menjadi penyebab bagi lahirnya hal-ihwal 
yang suci, seperti yang mungkin diharapkan para pejuang yang bertempur 
habis-habisan antara hidup dan mati di garis depan. 

Seperti halnya setiap ibu yang sangat mungkin melahirkan anak-anak yang saleh 
dan berengsek, perjuangan juga begitu berpeluang untuk tidak hanya mencetak 
para pahlawan, tapi juga sejumlah pengkhianat dan para penjilat. 

Bahkan, idiom selalu dalam bait di atas itu dengan lantang mengindikasikan 
adanya peristiwa yang rutin, yang terus-menerus menguntiti berlangsungnya 
perjuangan, baik dalam merebut kemerdekaan dari tangan orang-orang seberang 
yang jahat maupun dalam rangka mengusir kezaliman yang dicekikkan orang-orang 
dari kalangan bangsa sendiri.

Pengkhianatan adalah perampokan dari dalam terhadap cita-cita agung perjuangan 
yang ditempuh secara kolektif. Penjilatan merupakan tindakan tidak tahu malu 
yang dilakukan orang-orang yang tidak memiliki harga diri demi mengendus-endus 
"prestasi" yang dekil serta jorok.

Dengan demikian, siapa pun yang meyakini perjuangan sepenuhnya hanya sebagai 
permulaan dari babak sejarah yang mulia dan luhur, mereka akan menenggak ludah 
kekecewaannya sendiri yang pahit, sebagaimana corak kekecewaan yang bergema di 
antara sela-sela berbagai idiom pada bait di atas. Sebagian pejuang di sekitar 
1945 yang kemudian berongkang-ongkang kaki di atas kursi-kursi kekuasaan 
terbukti telah dengan sewenang-wenang menabuh genderang pengkhianatan terhadap 
idealisme perjuangan mereka semula. 

Bukan lantaran apa-apa: kekuasaan itu, kapan saja dan di mana pun, memang 
gampang mengalami pembusukan dan penyalahgunaan. Sehingga, tidaklah perlu heran 
kalau jauh-jauh hari Lord Acton pada 1887 dengan geram berucap: Power tends to 
corrupt, and absolute power corrupts absolutely. 

***

Di Indonesia, pengkhianatan yang dilakukan sebagian pejuang di sekitar 1945 
memasuki puncak klimaksnya pada 1960-an yang memancing lahirnya gelombang 
demonstrasi mahasiswa dan orang-orang yang melek politik. Termasuk, puisi 
Taufiq Ismail yang ditulis pada 1966 berjudul Memang Selalu Demikian, Hadi yang 
bait pertamanya saya kutip di atas. Dengan nada yang gundah dan sedih, dia 
tampil sebagai bagian penting di antara barisan para demonstran yang 
mendesak-desak kekuasaan.

Tapi, tidak setiap orang yang menjadi saksi terhadap keculasan para penguasa 
itu lantas serta-merta bertekad menggabungkan diri dengan letupan-letupan 
kritik yang digelindingkan orang-orang yang merasakan apa artinya dibohongi dan 
diinjak. Di antara mereka ada yang hanya setengah hati memberikan respons, ada 
pula yang gemetar karena digerus ketakutan. 

Berbagai "pertimbangan" pragmatis yang menciutkan nyali menggocoh-gocoh mereka. 
Karena itu, mengapa pada bait berikutnya Taufiq Ismail menulis: "Setiap 
perjuangan selalu menghadapkan kita/Pada kaum yang bimbang menghadapi 
gelombang/Jangan kau kecewa, Hadi." 

Imbauan agar tidak gusar atau kecewa pada dua baris tersebut sama sekali 
bukanlah dorongan untuk mempersembahkan toleransi yang lapang terhadap 
kekeruhan perilaku para penguasa, tapi sepenuhnya tak lain merupakan upaya 
mengangkasakan batin agar sanggup menampung serta melampaui berbagai antologi 
kebejatan para tiran dan kroni-kroninya. Sehingga, kita tidak linglung dan 
pingsan di tengah medan perjuangan.

Betapa pentingnya mengolaborasikan kesadaran berbangsa dan bernegara dengan 
semangat profetik yang menyala dalam puisi Taufiq Ismail tersebut. Bukan tanpa 
alasan, puisi semacam itu telah terbukti tidak hanya kontekstual pada zamannya. 
Hingga hari ini atau bahkan mungkin sampai kapan pun, puisi semacam itu akan 
senantiasa menemukan relevansi ketika dihadapkan pada kekuasaan yang dikomando 
oleh ambisi dan angkara murka, seberapa pun takarannya, meski sebelumnya 
kekuasaan tersebut juga lahir dari niat dan iktikad yang paling suci sekalipun.

Ketika berkuasa, angkatan 1960-an yang bernama rezim Orde Baru akhirnya 
meludahi perjuangan mereka sendiri. Lalu, angkatan reformasi naik panggung 
dengan sejumlah kehendak serta harapan yang besar bagi terciptanya kehidupan 
berbangsa dan bernegara yang ideal. Tapi, hingga kini, kita tidak (belum?) bisa 
keluar dari pusaran kabut yang mereka ciptakan.

Kini, Agustus datang lagi. Dan, kita semoga tetap jernih dalam mengevaluasi, 
memaknai ulang, dan menakar langkah-langkah perjuangan kita ke depan. Wallahu 
ma'akum aynama kuntum. 


Kuswaidi Syafi'ie MAg, penyair; juga staf pengajar tasawuf di PP UII Jogjakarta

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke