RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR Komentar: ======== No Comment . . . RedTOLERANSI.RRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR
The Little Angels from Terminal Tiga Cengkareng Oleh Anwari Doel Arnowo 12 Desember, 2004 Seseorang tersentak karena melihat sebuah band kecil memainkan sebuah lagu Blue Danube, belum tuntas dan berhenti mendadak. Tak lama kemudian berbunyi lagu lain, belum selesai dan berhenti lagi. Maka terpaksalah diperhatikan band tersebut mengapa berbuat demikian. Band terdiri dari para pemain yang dilengkapi dengan alat musik tiup dan gesek yang bisa mobile. Mereka ini sedang berada di apron dan terminal Lapangan Terbang Benigno Aquino di Manila, Philippine. Mengapa lagunya terputus? Rupanya band kecil ini tugasnya hanya memberi selamat datang kepada penumpang yang baru disembark (turun dari pesawat terbang) dari Luar Negeri, dari Singapore, Hong Kong, dari Amerika Serikat dan dari Canada dan lain-2. Sekali lagi mengapa lagunya terputus? Ternyata mereka membunyikan lagu apabila disembarking passengers (penumpang yang turun dari pesawat terbang) tadi adalah seorang atau serombongan yang mereka sebut The Little Angels. Siapakah The Little Angels ini? Yang disebut The Little Angels ini kalau di Indonesia adalah para T K W (Tenaga Kerja Wanita). Itu di Philippine. Presiden Gloria Macapagal Arroyo sendiri sering tampil didepan para The Little Angels ini baik di Philippine sendiri maupun diluar negeri dimana mereka sedang bekerja. Menunjukkan simpati, Presiden Arroyo dengan tegar membela kaumnya yang sama-2 perempuan dan sesama bangsa Philippine, dan yang paling penting mereka ini disebut sebagai penghasil devisa yang dihargai tinggi oleh Pemerintahannya. Beginilah cara Negara yang diwakili Pemerintah menunjukkan rasa terimakasih kepada rakyatnya, karena telah berjasa, sekecil apapun tetapi banyak. Menurut catatan lebih dari delapan juta orang Philippine berada dan bekerja di Luar Negeri, satu setengah juta di Timur Tengah dan +/- 6000 orang di Irak. Bagaimana keadaannya di Indonesia? Cerita dibawah ini berlangsung pada tanggal 10 Desember, 2004. Pembantu dirumah kami bernama C. menjemput kakaknya yang perempuan dari Abu Dhabi. Karena kabar yang dia terima beberapa hari yang lalu, kakaknya akan berangkat dengan Gulf Air dari Abu Dhabi pada tengah malam tanggal 9 Desember, dicarilah melalui Website Airline Schedule. Diperoleh keterangan bahwa pesawat ini ETA (Estimate Time of Arrival)nya adalah tanggal 10 Desember sekitar pukul 13.30. Si C bertemu dengan ibunya dan keluarga besarnya yang berangkat ssetelah Subuh dari Cianjur, menyewa charter mobil milik tetangganya dengan biaya sewa sebesar Rp.500.000,-- Cianjur-Cengkareng vise versa. Semua penjemput berjumlah 14 orang termasuk anak-2. Si C berangkat pada pk 10.00 ke stasiun Gambir dan naik bus airport dengan biaya Rp.10.000,-- ke Cengkareng. Karena bus ini tidak melalui Terminal Tiga, maka pengemudi Bis menganjurkan kepadanya supaya melanjutkan perjalanan dari Terminal Dua ke Terminal Tiga dengan mengunakan ojek. Dia menurut dan membayar sewa ojek sebesar Rp.20.000,-- Melalui Hand Phonenya kami diberi tahu bahwa dia telah tiba di Terminal Tiga dan mengatakan kepada kami hal-2 seperti berikut: Tidak ada tempat yang biasa disebut Informasi, untuk menanyakan keterangan mengenai flight schedule Tidak berhasil menemui seorang petugaspun yang bisa menerangkan/menjawab pertanyaan yang bisa timbul Tidak ada ruang tunggu yang beratap bagi penjemput. Beruntunglah keluarga si C mencharter mobil dari desa, jadi bisa dipakai sebagai tempat berteduh dari hujan dan panas. Penjemput diwajibkan menyerahkan Photo Copy KTP yang untuk membuatnya dikenakan biaya sebesar Rp.2.000 karena harus bolak balik (dua muka) per KTP Harga makanan dan minuman rata-2 empat kali harga diluar Cengkareng. Si C bertemu seseorang lain yang menurut keterangannya telah dua hari berada disitu karena menunggu Pada waktu berhubungan telephone lagi pada pukul 16.45 si C memberitahukan bahwa dia belum tahu pesawat sudah tiba atau belum, karena petugas yang ditanya bungkam tidak mau menjawab apapun. Pada pukul sekitar 18.30 si C menelpon dan mengatakan sudah berhasil berbicara dengan kakaknya yang menelepon dari Wartel didalam Terminal Tiga. Si C mengatakan akan bertemu dengan kakaknya nanti sekitar pk 19.00. Kira-2 pk 20.30 kami hubungi si C mengatakan bahwa sudah didalam mobil semuanya dan sedang berada didalam jalan tol menuju Cianjur. Tanggal 11 Desember, 2004 si C datang kembali dirumah kami tempat dia bekerja. Cerita kakaknya yang datang dari Abu Dhabi adalah sebagai berikut. Mendarat di Terminal Dua di Cengkareng pada pukul 13.30 dengan pesawat Gulf Air dan dipindahkan kedalam Bus Penumpang didalam airport untuk dibawa ke terminal Tiga Di Terminal Dua dia berusaha meminta pinjam Telepon Genggam seorang petugas, dia tidak jadi meminjam, karena sipemilik telepon minta bayaran sebesar Rp.50.000,-- Di Terminal Dua semua porlep (pengangkut barang) minta uang sebesar Rp.10.000,--dan untuk mendapatkan trolley juga membayar Rp.10.000,-- Diatas bus tersebut dimintai biaya sebesar Rp.10.000,--. Ini masalah, karena tidak semua TKW membawa Rupiah. Bagaimanapun harus membayar. Yang mempunyai Dinar, Dirham maupun Riyal membayar sekecil mungkin dengan mata uang yang dimilikinya. Ada yang takut, membayar dengan mata uang asing yang dibawanya yang dirupiahkan menjadi Rp.100.000,-- bahkan ada yang Rp.250.000,-- Pada waktu turun di Terminal Tiga juga diharuskan membayar Rp.10.000,-- Ada tulisan besar-2 di bus : Tidak Dipungut Bayaran Sejak turun dari Terminal Dua pada pk 13.30 sampai keluar dia hanya disuruh antre dan diperiksa barang-2nya (?). Pada waktu sudah sore hampir semua TKW yang antri sudah tidak kuat berdiri dan duduk bersimpuh dilantai sambil menunggu barang-2nya yang diatas trolley. Menelepon melalui Wartel didalam terminal Tiga dengan tarip sekali telepon Rp.5.000,-- dan disetujui. Setelah selesai telepon diminta membayar Rp, 15.000,-- Dia diharuskan oleh seorang anggota Polisi, dan beberapa orang dari money changer didalam Terminal Tiga, ditarik-tarik tangannya untuk menukarkan uangnya dari Dirham United Arab Republic ke Rupiah, meskipun tidak membutuhkan. Ternyata dengan perusahaan money changer diluar bandara di Jakarta nilai tukar per Dirham berbeda sekitar Rp.130,-- lebih tinggi. Entah apa yang sebenarnya telah terjadi, karena yang bersangkutan tidak bersedia untuk bercerita lebih lanjut, karena terlalu amat kecapaian disebabkan banyak kejadian yang menjengkelkan hatinya. Demikian pula dengan ratusan bahkan ribuan para rekannya yang lain yang datang pada hari itu. Para Petugas terutama yang Pegawai Pemerintah baik dari PT Angkasa Pura termasuk Polisi agar mendalami yang tergambar di halaman 1 mengenai The Little Angels di Philippine. Pada waktu keluar dari tempat parkir, setelah membayar parkir resmi, petugas parkir (preman?) minta uang parkir dan diberi uang Rp.2.000,--, akan tetapi bereaksi marah dan berteriak sambil melemparkan kembali uang tersebut. Terjadi perang mulut sebab Preman minta Rp.50.000,--. Karena salah satu anggota keluarga ada yang berani adu nyali, akhirnya preman mau menerima Rp.20.000,-- meskipun dia juga sambil mengatakan bahwa mobil yang lain membayar Rp.100.000,-- Pertanyaan-pertanyaan: * Dengan rincian pengeluaran bagi seorang T K W yang baru tiba di Tanah Airnya kembali seperti itu, kita ini tidak bisa tahu berapa uang yang diperas (extortion) oleh petugas dan oleh bukan petugas terhadap "The Indonesian Little Angels"? * Kita bisa saja mengatakan karena timbul perasaan curiga, bahwa preman memang dipelihara oleh petugas, yang melakukan extortion kembali terhadap para preman sendiri? Tanpa adanya "kerja sama" antar petugas dan preman, maka mereka tidak akan beroperasi sebebas itu di Cengkareng. * Karena jumlah T K W yang datang pada hari itu tidak ada datanya, maka sulit untuk dapat membuat perhitungan asumsi kira-kira berapa uang extortion yang telah mengalir. Yang jelas hari itu telah datang jumlahnya mencapai ratusan bahkan mungkin ribuan T K W. Para TKW ini memang sudah diperas sejak keberangkatannya dari desa tempat tinggalnya masing-2. Ada yang diminta menunggu selama tiga bulan dipenampungan dan berangkat dengan menggunakan paspor atas nama orang lain. Bekerja selama sekitar dua tahun dengan identitas palsu. Saudara TKW ini minta photocopy paspor yang dipergunakanpun, tidak diperbolehkan. Pergi bekerja kenegara manapun saudaranya ini tidak diberitahu. * Kita tidak perlu minta maaf kepada siapa-2 terhadap masalah diatas, karena perbuatan seperti ini telah mewabah dan menyebar kemana-mana, terutama sejak Terminal selesai dibangun. (?) * Untuk maksud apa sehingga harus ada Terminal Tiga? * Apa gunanya, karena kenyataannya pelayanan lebih lambat (sejak mendarat di Terminal Dua sampai keluar dari Terminal Tiga dibutuhkan enam jam) dan tidak professional? * Gulf Air tersebut disembark saja penumpangnya di Terminal Tiga secara langsung atau bukankah lebih baik apabila diturunkan saja di Terminal Dua. SAYA TIDAK MENANTIKAN JAWABAN APA-2. Anwari Doel Arnowo ---oooOOOooo--- [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

