MEDIA INDONESIA Selasa, 22 Agustus 2006
Menyelamatkan BUMN untuk Kepentingan Publik SEMAKIN lama semakin luas persepsi bahwa semua badan usaha milik negara (BUMN) harus mencari keuntungan. Semuanya, tanpa kecuali, harus mampu bersaing dengan perusahaan swasta karena memang dipandang sama. Dalam pandangan yang liberal itu tidak lagi dibedakan bahwa ada BUMN yang dilahirkan semata untuk melayani publik. Itulah BUMN yang didirikan bukan untuk mencari keuntungan, melainkan demi kemaslahatan umum. Namun, sekarang, BUMN macam itu cenderung merana, bahkan dibiarkan semaput, sambil terus dikecam habis karena rugi. Sebab, alasan kelahirannya telah dilupakan, bahkan ditiadakan, karena semuanya dilihat dengan kacamata yang sama, yaitu kapitalisme. BUMN adalah milik pemerintah. Namun, sebagai pemilik, setelah negara ini mengalami krisis ekonomi, pemerintah lebih banyak melakukan privatisasi alias menjual sebagian pemilikannya untuk mengisi kantung APBN. Padahal, terdapat sejumlah BUMN yang 'ditakdirkan' untuk melayani publik, dan seharusnya mendapat tambahan modal agar bisa melayani lebih baik sesuai dengan perubahan zaman, malah dibiarkan sekarat. Hidup segan, mati pun enggan. Yang lebih ironis ialah berkembang pula pandangan bahwa memang tidak sepatutnya pemerintah sebagai pemilik menyuntikkan modal. Sebuah pandangan yang kemudian berakibat jauh, yaitu diabaikannya kepentingan pelayanan publik, juga dipinggirkannya kepentingan strategis negara. Karena itu, amatlah menggembirakan bahwa pemerintah akhirnya berani mengambil keputusan menyuntikkan modal untuk menyelamatkan 11 BUMN, di antaranya PT Garuda Indonesia, PT Merpati Nusantara, PT Kereta Api Indonesia, PT Industri Kereta Api, PT Pupuk Iskandar Muda, PT Kertas Kraft Aceh, PT Kertas Leces, serta PT Sang Hyang Seri. Dengan suntikan modal total hampir Rp2,6 triliun selama dua tahun anggaran ini, banyak hal mestinya berubah. Perusahaan penerbangan milik negara kembali bisa melayani penerbangan perintis ke berbagai penjuru Nusantara, serta mengepakkan sayap ke mancanegara sebagai flag carrier Republik. Rakyat pun dapat menikmati jasa kereta api yang murah, aman, dan nyaman. Dengan harga pupuk dibikin murah dan mudah diperoleh petani, disertai pengembangan bibit unggul yang berkelanjutan, negeri ini mestinya bisa berhenti menjadi pengimpor beras. Dan sudah tentu, secanggih apa pun teknologi informasi tidak ada peradaban yang berkembang tanpa kertas. Sangat jelas, tidak semua BUMN harus diperlakukan sebagai saingan swasta, yaitu semata mencari keuntungan. Harus ada BUMN yang memang dilahirkan dan terus dipelihara untuk melayani publik berapa pun ongkos yang harus dibayar pemerintah. Tak bisa lain, BUMN dengan tugas melayani publik dan peranan strategis itu harus diselamatkan sedini mungkin. [Non-text portions of this message have been removed] *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

