REFLEKSI: Pasti dibalik lumpur panas ada uang pendingin dan pelicin ke kantong 
penguasa.

http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=242801

Rabu, 23 Agt 2006,



Gengsi Lumpur Panas


Oleh Haidar Aji Kalbuadi 

Ruwetnya penanganan lumpur panas Lapindo adalah potret betapa gengsi lebih 
dipentingkan oleh sebagian kalangan di negeri ini. Gengsi merupakan suatu nilai 
yang dianggap sangat penting di Indonesia. Meski tidak berprestasi, asal saja 
penampilannya penuh gengsi. Ukuran gengsi di kalangan atas adalah pemilikan 
pengaruh, di samping yang berupa materi.

Di kalangan bawah ukurannya lebih berupa materi. Karena ukuran materi lebih 
kelihatan, lebih mudah menimbulkan iri hati dan konflik. Di kalangan atas, 
ukuran gengsi yang berupa pengaruh politik bersifat nonmateriil sehingga lebih 
sulit diketahui. Gengi itu ditutup dengan pelbagai macam slogan untuk 
menjatuhkan pihak lain dengan dalih membela yang lemah. 

Gengsi
Menurut teori, orang senang bergengsi jika tujuan tidak jelas, padahal 
sarananya tersedia. Untuk menutupi kekurangannya, berupa kurangnya konsep dalam 
pemikiran, digunakanlah gengsi. Karena itu, mereka yang mengalami mobilitas 
vertikal (termasuk pengusaha yang menemukan potensi gas berjuta kubik di 
Porong), ada kecenderungan berbuat berlebih-lebihan memamerkan gengsi.

Mau bertindak seperti dalam keadaan statusnya yang lama dirasa tidak pantas, 
tetapi berbuat sesuai kedudukannya barunya belum tahu. Teori ini berbunyi, 
kalau orang tidak mempunyai tujuan yang jelas, tetapi sarananya tersedia, 
timbul apa yang disebut ritualisme, yaitu upacara-upacara demi gengsi untuk 
menyelubungi kekurangan percaya diri. 

Teori ini berlaku dalam di bidang ekonomi. Ucapan banyak dilontarkan untuk 
mempertahankan gengsi dan memperoleh pengakuan antara lain juga dalam bidang 
ekonomi. Pemikiran konsepsional mencakup keadaan mendatang dan mencerminkan 
pemikiran yang terkait satu dengan yang lain, sedangkan gengsi hanya berlaku 
sekejap dan terputus-putus.

Elitis 

Ada dua macam aliran di ranah ekonomi. Aliran pertama memandang segala sesuatu 
ditentukan para elite, dan lapisan bawah hanyalah sarana untuk melaksanakan 
rencana para elite. Aliran ini disebut aliran elitis. Di dalam manajemen juga 
terdapat aliran semacam ini yang disebut teori X, yang menganggap lapisan bawah 
pemikirannya sangat lamban dan hanya akan menurut jika digerakkan. Biasanya 
penganut aliran ini tidak terlalu tahu keadaan masyarakat lapisan bawah yang 
sesungguhnya, tetapi justru mengaku mempunyai pemikiran kerakyatan. 

Dalam praktiknya, dasar yang dipergunakan adalah kepentingan para elite itu 
sendiri, karena sikap seseorang atau golongan berkaitan erat dengan 
kepentingannya. 

Lain halnya dengan aliran populis yang memandang bahwa tanpa bantuan lapisan 
bawah tidak dapat dicapai keberhasilan. Cara bekerja aliran ini mempergunakan 
"sistem makan bubur panas". Dimulai dari pinggir yang sudah dingin, untuk 
kemudian sedikit demi sedikit bergerak ke tengah, untuk mencegah penghancuran 
total.

Politik populis ini tidak disukai aliran elitis. Aliran elitis berpendirian, 
segala sesuatu harus diselesaikan dengan segera dari pusat meskipun buburnya 
masih panas. Dengan serta-merta dilontarkan aneka wacana pendapat yang sebagian 
sebenarnya lebih berfungsi untuk mempertahankan gengsi berupa kekuasaan dan 
pengaruh. Aliran ini bersifat patrimonialistik atau penguasa tunggal, yang 
selalu menganggap dirinya benar.

Soal gengsi dan aliran elitis terus berkembang melalui upaya memperdalam jurang 
antara para elite dan lapisan bawah. Salah satu caranya dengan mempertahankan 
sistem ekonomi dualisme, yaitu ekonomi tradisional yang bermodal tenaga kerja 
(warga petani sekitar semburan lumpur) dan ekonomi yang bermodal uang 
(eksplorasi gas bumi). 

Dalam persaingan pun ekonomi tradisional akan kalah karena tenaga kerja 
tersedia dalam jumlah yang tidak terbatas, lebih-lebih dengan banyaknya 
pengangguran sekarang ini. 

Di pihak lain ekonomi modern mempunyai modal berupa uang yang jumlahnya 
terbatas. Kalau bersaing, tentu ekonomi tradisional akan kalah berdasarkan atas 
dalil permintaan dan penawaran.

Ketir-Ketir

Konflik yang merambah beberapa daerah sekarang ini lebih banyak bermotifkan 
perbedaan antara kedua sistem ekonomi ini, yang kemudian dikobar-kobarkan 
pihak-pihak tertentu dengan dalih tertentu. Kalau aliran elitis ingin 
memperkuat gengsinya dan mempertahankan dualisme dalam bisnis, keadaan krisis 
seperti sekarang ini akan tetap berlanjut.

Contoh mutakhir adalah kasus luberan lumpur panas Lapindo. Berbagai wacana 
menghentikan semburan digembar-gemborkan oleh pejabat lokal dan pusat tanpa 
hasil.

Akibatnya, warga yang tinggal di dekat sumber semburan lumpur panas kian ruwet 
pikirannya. Saat memasuki musim hujan ini, kekhawatiran begitu kuat melintas, 
menatap tanggul buatan penahan lumpur yang sudah dibangun dengan ketebalan dan 
ketinggian masing-masing lebih lima meter. Tanpa hujan saja sebagian tanggul 
itu sudah jebol, maka bisa dibayangkan bila musim hujan tiba. Bisa saja jebol 
sewaktu-waktu karena bertambahnya beban.

Di tengah realita semburan jutaan meter kubik, warga masih disodori berbagai 
rencana, berbagai skenario ilmiah, sebagai unjuk kemampuan sekaligus gengsi 
kapasitas intelektual ekonomi uang, sekaligus memelorotkan partisipasi warga 
setempat. Sebutan ilmiah elitis ala mengebor tegak lurus dengan alat snubbing 
unit, mengebor dari samping dan menjebol chasing, serta relief well terbukti 
gagal menjinakkan semburan lumpur panas asin yang terus keluar hingga masuk 
bulan ketiga. Warga yang kini ketir-ketir kecepatan lumpur mengubur desa dan 
menggusur keluarganya tidaklah cukup dijawab dengan gengsi politik dan ekonomi 
bisnis pejabat dan pemilik yang tinggal nun jauh dari Porong.

Gengsi seperti itu terbukti hanya menyulut luapan emosi kalangan bawah yang 
telah dipermainkan oleh parade jebolnya tanggul. Lebih celaka lagi bila gengsi 
itu nanti berujung pada gaya manajemen lepas tangan.


Haidar Aji Kalbuadi PhD, memperoleh doktor tentang Humaniora dari Universitas 
Berlin Jerman 



[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke