http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=153204


DUKUNGAN POLITIK
Golkar Hanya Dijadikan  "Pemadam Kebakaran" 


Kamis, 24 Agustus 2006
JAKARTA (Suara Karya): Partai Golkar tidak memperoleh kompensasi politik yang 
memadai atas dukungan yang mereka berikan terhadap pemerintahan Presiden 
Yudhoyono. Bahkan Golkar hanya dimanfaatkan pemerintah sebagai "pemadam 
kebakaran". 

"Selama dua tahun pemerintahan SBY-JK, posisi Golkar selalu dipinggirkan dan 
tidak pernah diberi peran atau pun posisi yang layak sebagai partai pendukung 
pemerintah. Wajar saja kalau kemudian ada ketidakpuasan dan desakan agar Golkar 
mengevaluasi atau bahkan menarik dukungan terhadap pemerintah," kata pengamat 
politik J Kristiadi di Jakarta, Rabu kemarin. 

Menurut Kristiadi, Golkar sudah menempatkan diri sebagai partai pendukung 
pemerintah -- antara lain diwujudkan dengan sikap Fraksi Partai Golkar di DPR 
yang selalu mendukung setiap kebijakan pemerintah. Tapi posisi tersebut lebih 
banyak dimanfaatkan pemerintah. 

Kristiadi berpendapat, peran dan posisi kuat Golkar di DPR cenderung 
dimanfaatkan pemerintah sebagai "pemadam kebakaran". Posisi Golkar cenderung 
dimanfaatkan untuk mengamankan kebijakan-kebijakan. Padahal bagaimana kebijakan 
itu muncul, Golkar sebagai institusi partai tidak pernah dilibatkan. "Dengan 
kondisi seperti itu, secara politik Golkar jelas dirugikan," katanya. 

Kristiadi melihat desakan agar Golkar mengevaluasi atau bahkan menarik dukungan 
pada pemerintah pada dasarnya merupakan tekanan agar pemerintah lebih 
memerhatikan Golkar. "Elite Partai Golkar ingin posisi benar-benar jelas. 
Apakah Golkar dianggap sebagai 'pemadam kebakaran' atau sebagai aset penguasa? 
Kalau sebagai aset, tentu elite-elite Partai Golkar harus diberi posisi 
penting," ujarnya. 

Desakan agar Golkar menarik dukungan terhadap pemerintah juga mencerminkan 
kerancuan struktur politik. Indonesia menganut sistem pemerintahan 
presidensial, tapi menghadapi praktik-praktik parlementarian. "Wacana ini 
dijadikan pintu masuk untuk memikirkan struktur pemerintahan," kata Kristiadi. 

Sementara itu, mantan Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais 
meminta Presiden Yudhoyono agar lebih memperbaiki model kepemimpinannya sebelum 
memikirkan perombakan (reshuffle) kabinet. "Dilaksanakan atau tidak reshuffle, 
itu bukan persoalan. Yang terpenting saat ini adalah memperbaiki model 
kepemimpinan," katanya. 

Amien menuturkan, Presiden harus bersikap lebih lurus dan berani ambil risiko 
serta punya semangat. Dia memberikan ilustrasi soal perombakan kabinet dengan 
gaya kepemimpinan dalam militer. 

"Tidak ada prajurit yang keliru, tapi komandan yang salah. Artinya, yang harus 
diperbaiki adalah komandan. Bukan prajurit yang harus diganti," katanya. 

Dengan begitu, andai Presiden melakukan perombakan kabinet, itu tetap akan 
tidak berarti jika gaya kepemimpinan Presiden tidak diubah. "Kalau model 
kepemimpinan masih maju mundur dan hanya sebatas berwacana, pemerintahan tetap 
tidak akan berjalan," kata Amien. 

Dia juga mengatakan, kalau ada menteri yang tidak mampu menjalankan tugas, maka 
tugas-tugas itu seharusnya diambil-alih agar tidak mengganggu pemerintahan 
secara keseluruhan. 

Sementara itu, Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring 
mempersilakan Presiden mengganti menteri-menteri asal PKS. Selama proses 
reshuffle tersebut objektif, katanya, PKS tetap siap membantu pemerintah dari 
dalam maupun luar kabinet. 

Di lain pihak, Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng mengatakan, evaluasi 
Presiden terhadap kinerja menteri-menteri tidak hanya dilakukan satu tahun 
sekali, melainkan bisa dilakukan setiap saat. Itu, katanya, untuk memantau 
efektivitas kinerja menteri-menteri. (M Kardeni/Novi/Agus

++++
http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=153147


KINERJA PEMERINTAHAN 
AS Hikam: Menteri KabinetTerpecah di Bawah SBY dan JK 


Kamis, 24 Agustus 2006
JAKARTA (Suara Karya): Wakil Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa Muhammad 
AS Hikam berpendapat, kinerja menteri di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) harus 
dibuat solid dan jangan terpecah. 

"Saat ini sebagian tim (menteri di) kabinet ada yang berada di bawah kendali 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, sementara yang lainnya ada di bawah kendali 
Wapres Jusuf Kalla. Nah, dua tim ini harus disatukan dulu," kata AS Hikam 
kepada wartawan di Jakarta, kemarin. 

Hikam yang juga anggota Komisi I DPR itu melanjutkan, Presiden Yudhoyono 
merupakan sosok pemimpin yang memiliki tipe mengandalkan kerja sama tim. Dengan 
demikian, katanya, ia membutuhkan sebuah tim kabinet yang solid. "Persoalannya, 
sejak awal tim ini sudah terbelah dua," katanya. 

Hikam mencontohkan kasus dugaan korupsi yang dilakukan Menteri Hukum dan HAM 
Hamid Awaluddin semasa menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai 
salah satu imbas dari manajemen pemerintahan yang kurang tertata baik. 

Terkait kasus itu Presiden Yudhoyono memerintahkan agar pemeriksaan jalan terus 
dan berkali-kali menyatakan pemerintah berkomitmen untuk memberantas korupsi 
dan tidak ada tebang pilih. Sementara Wapres justru menyatakan secara terbuka 
bahwa Hamid tidak bersalah dalam kasus korupsi di KPU. 

"Publik nasional maupun internasional akan melihat bahwa manajemen pemerintah 
tidak jalan," kata mantan Menristek di era pemerintahan Presiden KH Abdurrahman 
Wahid (Gus Dur) tersebut. 

Hikam menambahkan, jika pemerintah tetap ingin melakukan perombakan menteri di 
kabinet maka yang dilakukan sebaiknya bukan sekadar aksi ganti orang, melainkan 
diarahkan pada upaya perampingan kabinet. Hikam usul sejumlah kementerian 
negara dihilangkan. 

"Kementerian negara yang tidak ada gunanya dihilangkan saja, seperti 
Kementerian Negara Daerah Tertinggal dan Kementerian Negara Pemuda dan 
Olahraga. Sebagai kementerian negara, kementerian itu menyuruh tidak bisa, duit 
tidak punya. Saya pernah menjadi menteri negara, jadi saya tahu," katanya. 

Dikatakannya, karena memang tidak jelas perannya maka tidak jelas ukuran 
keberhasilan atau kegagalannya. Bahkan, Tim Indonesia Bangkit- tim yang terdiri 
atas para ekonom yang menilai kinerja masing-masing kementerian, sulit menilai 
kinerja kementerian negara tersebut. 

Menurut Hikam, setelah kementerian negara dihilangkan, tugas dan fungsinya 
selanjutnya cukup diserahkan kepada pejabat setingkat direktur jenderal 
(dirjen). (Victor AS)

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke