Saya tahu, paling tidak ada seseorang yang sangat dekat di hati (cuah...
cih...) yang menyukai ceritacerita isapan jempil seperti fowardan Satrio di
bawah ini. Boleh saja sih, cuma eman... sayang karena kreativitas barang
putih-abuabu di bawah rambut kepala itu jadi muspro - redundant nggak
terpakai.

Sering kita melarikan diri dari mind boggling - keruwetan kenyataan, dengan
menyambar penjelasan sederhana yg tersedia yg sesungguhnya amat sangat
terlalu sederhana untuk level kedahsyatan megabrain kita. Dalam perspektif
ini saya cenderung melihat fenomena penyederhanaan masalah ini sebagai
pelecehan intelektual.

Maksud baik pendidikan moral tetapi disampaikan dengan melecehkan
intelektualitas. Ya itulah. Sayangnya, ceritacerita begini inilah yang
mendominasi pendidikan moral anakanak. Bila saja dalam perkembangannya
ceritacerita ini bisa diubah penyampaian dan kualitas analisisnya
disesuaikan dengan derajat kemampuan cognitive orang dewasa tentu saya tidak
akan nyinyir berkomentar. Dengan semua ini, bagaimana mungkin kekritisan
berpikir bisa tumbuh?

Komentar ini bukan karena pengirimnya Satrio ya. Walau sering kheki sama
belio, komentar ini bebas dari unsur SARA iri atau benci.

yk

On 8/25/06, Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    Uang Korupsi Itu Merusak Anak Saya
>
> *) Jamil Azzaini (16/08/2006 - 12:58 WIB)
>
> Jurnalnet.com <http://jurnalnet.com/> (Jakarta): Presiden Susilo Bambang
> Yudhoyono mengatakan bahwa korupsi di Indonesia sudah
> terlalu besar dan diluar kontrol. Korupsi sudah
> merasuki semua sendi kehidupan dan telah terjadi baik
> di eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Pernyataan
> presiden yang disampaikan pada acara
> Presidential Lecture di Istana Negara pada Rabu, 2
> Agustus 2006, itu mengisyaratkan bahwa pemberantasan
> korupsi di Indonesia masih jauh dari harapan.
>
> Kendati pelaku korupsi tampak tak terjamah, tapi
> yakinkah kita bahwa mereka benar-benar lolos dari
> jerat hukum? Ngomong-ngomong soal korupsi saya ingin
> berbagi cerita.
>
> Suatu hari, saya diundang untuk berbicara di depan
> staff dan pimpinan sebuah perusahaan ternama. Pada
> kesempatan tersebut saya berbicara tentang "hukum
> kekekalan energi", yang intinya, menurut hukum
> kekekalan energi dan semua agama, apapun yang kita
> lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita di
> dunia. Dengan kata lain, apabila kita melakukan
> "energi positif" atau kebaikan maka kita akan mendapat
> balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula
> bila kita melakukan "energi negatif" atau keburukan
> maka kitapun akan
> mendapat balasan berupa keburukan pula.
>
> Ketika sesi tanya jawab, salah seorang pimpinan di
> perusahaan itu mengkritik pedas "hukum kekekalan
> energi". Walau saya sudah menjelaskan dengan beragam
> argumen ilmiah dan contoh-contoh dalam kehidupan
> nyata, dia tetap tidak yakin. Sampai kami berpisah,
> kami masih pada pendapat masing-masing.
>
> Tujuh bulan berlalu, pimpinan itu tiba-tiba menelpon
> saya. "Pak Jamil, saya ingin bertemu anda," ujarnya
> singkat.
>
> Karena penasaran, undangan dari beliau saya
> prioritaskan. Singkat kata, pada
> waktu dan tempat yang telah disepakati kami bertemu.
>
> Rupanya beliau tiba lebih dulu di tempat kami janjian.
> Begitu saya datang, beliau segera menyambut dengan
> sebuah pelukan erat. Cukup lama beliau memeluk saya.
> "Maafkan saya pak Jamil. Maafkan saya," ucapnya,
> sambil terisak dan terus memeluk saya. Karena masih
> bingung dengan kejadian ini saya diam saja.
>
> Setelah kami duduk, beliau membuka percakapan. "Saya
> sekarang yakin dengan apa yang pak Jamil dulu katakan.
> Kalau kita berbuat energi positif maka kita akan
> mendapat kebaikan dan bila kita berbuat energi negatif
> maka pasti kita akan mendapat keburukan," ujarnya.
>
> "Bagaimana ceritanya sekarang kok bapak jadi yakin?"
> tanya saya.
>
> "Selama saya menjabat pimpinan di perusahaan itu, saya
> menerima uang yang bukan menjadi hak saya. Semuanya
> saya catat. Jumlahnya lima ratus dua puluh
> enam juta rupiah," katanya.
>
> Sembari menarik napas panjang beliau melanjutkan
> bercerita. Kali ini tentang anaknya.
>
> "Anak saya sekolah di Australia. Karena pengaruh
> pergaulan, dia terkena narkoba. Sudah saya obati dan
> sembuh. Ketika liburan, dia ke Amerika dan
> Kanada. Tidak disangka, disana dia bertemu dengan
> teman pengguna narkobanya ketika di Australia. Anak
> saya sebenarnya menolak menggunakan lagi. Namun
> dia dipaksa dan akhirnya anak saya kambuh lagi, bahkan
> makin parah, pak."
> Selama bercerita, beliau tak henti mengusap pipinya
> yang basah dengan air
> mata yang terus meleleh seperti tak mau berhenti.
>
> "Pak Jamil tahu berapa biaya pengobatan narkoba dan
> penyakit anak saya?"
> Tanpa menunggu jawaban saya, lelaki separuh baya itu
> berkata lirih, "Biayanya lima ratus dua puluh enam
> juta rupiah. Sama persis dengan uang
> kotor yang saya terima, pak!"
>
> Beliau tertunduk dan menggeleng-gelengka n kepala
> disertai isak tangis yang makin keras. Dengan terbata
> lelaki itu berkata, "Uang korupsi itu telah
> merusak anak saya, pak. Saya menyesal. Saya bukan
> orang tuayang baik. Saya
> telah merusak anak saya, pak!"
>
> Saya peluk erat lelaki itu. Saya biarkan air matanya
> tumpah.
> Tangisnya semakin keras....
>
> Wahai saudara, haruskah menunggu anak kita menjadi
> pengguna narkobadan sakit
> untuk berhenti korupsi?
>
> Keterangan Penulis:
> Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku
> Best Seller.
> KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan
> Kemuliaan Hidup.
> .
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke