Mau berkomentar tapi kok artikel ini luas banget, and bahasanya banget-banget tinggggi (tuh 'g'nya sampe 4). Tapi saya cuma mau bilang dalam adabtasi Islam dengan budaya, tentunya nilai yang negatif dalam budaya seyogyanya yang ditiadakan karena kita telah memilih Islam sebagai tolok ukur/nilai hidup. Namun saya yakin, nilai positif dalam budaya akan bisa terus hidup berdampingan dengan Islam. Jadi, gak usah khawatir dengan dekulturalisasi sealma yang di 'de' kan yang negatif.
Pada jaman pra-Islam, kultur Arab sangat merendahkan wanita. Wanita tak berhak sama sekali mendapatkan hak waris. Namun ketika Tuhan memerintahkan untuk memberikan hak waris bagi wanita (dalam syariat Islam), sebagian besar kaum laki Arab degil pada saat itu keberatan dengan akulturalisasi (?) tsb. Dengan berjalannya waktu, sekarang ada yang menuntut hak waris wanita biar sama dengan laki2...:-) Pada jaman kini, di Indonesia, jika masih terjadi pada salah satu kultur dimana dalam menghadapi upacara adat (pesta) kematian seseorang harus menghabiskan uang ratusan juta rupiah, inipun sudah harus ditiadakan, demi akulturalisasi dan demi nilai2 yang islami...:-). Begitu juga dengan yang menikah hingga milyaran rupiah karena ingin menjunjung adat-istiadat. wassalam, --- In [email protected], ". Pradana Boy Ztf" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Dekulturalisasi Islam > Demikian halnya dengan sejarah penyebaran Islam di Jawa. Dominasi ajaran> Hindu Budha yang menempatkan budaya pada proporsi yang cukup besar dalam> ajaran mereka, menjadikan para generasi awal pendakwah Islam di Jawa> menggunakan strategi kebudayaan untuk menyebarluaskan ajaran Islam.> Tradisi wayang kulit adalah contoh populer yang sering dihadirkan. Dalam> tradisi Jawa, konon wayang kulit juga sering disebut sebagai ringgit yang> diderivasi dari ungkapan Sunan Giri sing nganggit (Sunan Giri yang> menciptakan). Artinya, tradisi wayang kulit sebagai media dakwah yang> lebih sering dilekatkan dengan sosok Sunan Kalijaga itu, sebenarnya tidak> lepas dari proses kreatif sunan-sunan lainnya, yang itu juga bermakna> bahwa proses penyebaran Islam tidak dengan sendirinya mematikan> sensitivitas terhadap kebudayaan. > > Maka dengan sendirinya, dekulturalisasi Islam merupakan pengingkaran> terhadap konteks kesejarahan Islam yang semacam ini. Karena satu alasan> mendasar mengapa Islam mampu bertahan dan bahkan berkembang lebih dari> empat belas abad lamanya adalah karena kelenturannya dalam melakukan> adaptasi dengan kebudayaan. Menimbang konteks lahirnya Islam yang berasal> dari tanah Arab, maka ketika berhubungan dengan konteks budaya lokal,> seringkali lahir kategori the great tradition dan the little tradition. > Islam yang berdimensi budaya Arab sering dipersepsi sebagai great > tradition dan karena itu memiliki nilai kesahihan yang lebih tinggi,> dibanding dengan Islam Jawa, misalnya, yang kemudian dikategorikan sebagai> little tradition dan dengan sendirinya menjadi tidak lebih murni. Padahal> baik the great tradition maupun the little tradition sama-sama berhak> untuk disebut sebagai Islam yang sah. > > Maka dekulturalisasi Islam menjadi satu kecenderungan yang teramat > mengkhawatirkan, karena dengan dalih agama, budaya kemudian tampil sebagai> musuh yang absah untuk ditiadakan. Kecenderungan ini memang menjadi ciri> khas gerakan Islam puritan, tetapi belakangan ini, fenomena> dekulturalisasi Islam ini justru bisa dibaca sebagai praktik Islam yang> berlawanan dengan apa yang tengah berlangsung di kalangan Islam puritan> dan moderat, setidaknya dalam konteks Muhammadiyah dan NU. > > Praktik Islam murni yang dijalankan Muhammadiyah, misalnya, belakangan> juga menuai kritik sebagai miskin budaya, terlampau kering dan culturally> insensitive. Entah karena kritik itu atau tidak, Muhammadiyah kemudian> mengubah orientasi gerakannya dengan lebih banyak memberikan sentuhan pada> aspek budaya. Lahirnya konsep dakwah kultural, tidak bisa dilepaskan dari> perdebatan ini. Dalam hal akomodasi budaya ini, NU bahkan jauh melampaui> Muhammadiyah. Karena proses akulturasi ajaran Islam dan budaya sebagaimana > yang disintesakan NU ternyata telah menjadikan NU lebih survive di > kalangan masyarakat rural dibanding Muhammadiyah. > > Maka, menempatkan Islam vis-à-vis budaya sebagaimana yang dikehendaki> melalui gerakan dekulturalisasi Islam tersebut hanya akan menjadi daftar> panjang preseden buruk Islam, ketika agama ini lebih sering dihubungkan> dan difahami sebagai kekerasan dan terorisme dan bukan sebagai agama yang> ramah dan cinta kedamaian dalam berbagai implementasinya. > > *) Pradana Boy ZTF, presidium JIMM dan dosen FAI-UMM. Sedang menyelesaikan> tesis di the Australian National University (ANU), Canberra, Australia. > *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

