REFLEKSI: Negara kleptokratik yang para petinggi penguasanya mendapat gelar
"akademi" dari pasar rombengan, tentunya tidak mengetahui dan menghargai bahwa
"knowlegde is power".
http://jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=243998
Rabu, 30 Agt 2006,
Ketidakadilan Penghargaan
Oleh Viddy A.D. Daery
Semenjak kemenangan Tim Olimpiade Fisika Indonesia di Forum Olimpiade
Fisika Internasional di Singapura pada Juli 2006, perhatian pemerintah terhadap
para bintang otak agak mulai serius.
Selain mengadakan penyambutan dan mengundang anak-anak asuh Yohannes
Surya, tokoh fisika Indonesia, itu ke Istana Negara, pemerintah memberikan
hadiah-hadiah dan pemuatan beberapa iklan besar-besaran di media massa besar,
yang mengekspos prestasi dan kiprah mereka.
Beberapa acara televisi juga dibikin untuk merayakan kemenangan mereka.
Dengan demikian, di tengah keterpurukan bangsa dalam berbagai hal yang sangat
memprihatinkan, akibat kejahatan dan kedegilan pemimpin bangsa, kemenangan para
juara fisika itu dianggap oase yang menyegarkan, yang menaikkan gengsi bangsa
yang sudah hampir habis.
Dalam iklan-iklan itu terlihat bahwa prestasi anak bangsa ternyata tidak
hanya dalam bidang fisika, tetapi juga banyak yang meraih piala emas dalam
bidang matematika, biologi, kimia, dan astronomi.
Dan, kejuaraan yang diikuti tidak hanya di Singapura, tetapi sudah sampai
di Hongkong, Filipina, Korea Selatan, India, Slovenia, Ukraina, Kazakstan,
bahkan Argentina.
Lebih Dihargai
Mohamad Sobary, budayawan dan peneliti senior di LIPI ( Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia), mengatakan bahwa para ilmuwan, bahkan yang senior,
belum mendapatkan penghargaan yang layak dari pemerintah, sehingga masuk akal
jika Indonesia mengalami kemunduran dan keterbelakangan dalam hal penerapan
teknologi.
Menurut Sobary, seorang juara olahraga yang meraih piala tingkat dunia,
atau bahkan cuma tingkat nasional, sudah dihujani uang hingga miliaran rupiah
oleh pemerintah (pusat maupun daerah). Tetapi, siswa berprestasi yang memenangi
lomba penelitian atau karya ilmiah cuma mendapat hadiah sekitar Rp 1 juta.
Saya juga teringat, ketika anak saya mendapat juara I nasional lomba
desain otomotif tingkat pelajar SMA, hadiahnya cuma Rp 750 ribu. Padahal, yang
menyerahkan hadiah adalah seorang menteri. Betapa tragisnya!
Demikian juga, artis mendapat penghargaan Rp 50 juta hanya untuk tampil
satu jam di pentas. Artinya, dengan demikian, bangsa Indonesia, termasuk
pemerintah, lebih menghargai prestasi otot dan kegenitan daripada prestasi otak
dan ketekunan intelektual.
Karena itu, jangan heran kalau bangsa ini menjadi bangsa yang makin hari
makin biadab, juga semakin ketinggalan dalam prestasi-prestasi positif. Tetapi
sebaliknya, semakin nomor satu dalam hal-hal negatif tingkat internasional.
Kehinaan
Tetapi, semerana-merananya para juara otak, lebih merana lagi bagi
seniman dan budayawan Indonesia. Jangankan hadiah dan penghargaan pemerintah
yang minim, perhatian pun jangan-jangan tidak ada, terutama di banyak
pemerintah daerah.
Berapa banyak seniman dan budayawan yang mendapat penghargaan di luar
negeri, tetapi ketika datang di negeri sendiri tidak disapa oleh pemerintah,
bahkan oleh pemerintah daerah tempat dia lahir.
Kalau di Lamongan, yang bupatinya terkenal mempunyai prestasi besar
sebagai pembangun daerah saja tidak mempunyai secuil perhatian untuk seni dan
budaya, lalu bagaimana dengan daerah lain yang prestasi bupatinya biasa-biasa
saja?
Kasus paling tragis yang termutakhir adalah telantarnya Dewi Ria Agustin,
gadis ajaib dari Banyuwangi yang mampu membaca aksara kuno dari lontar-lontar
sejarah kuno, bahkan mampu mentranskripnya ke dalam bahasa Indonesia.
Gadis yang seharusnya menjadi aset nasional, yang bahkan laku di-"jual"
ke kancah budaya penelitian sejarah kuno Asia Tenggara, itu ternyata
ditelantarkan pemerintah Banyuwangi sehingga tidak mampu melanjutkan kuliah.
(Jawa Pos 13 Agustus 2006 ).
Warisan Sejarah?
Sebuah koran terkenal nasional baru-baru ini mengadakan seminar bekerja
sama dengan lembaga budaya berwibawa, membahas minimnya penghargaan pemerintah
terhadap kebudayaan.
Menurut kesimpulan seminar penting itu, salah satu jalan keluarnya adalah
dibentuknya Departemen Kebudayaan dan Warisan Sejarah, yang memang pernah
dijanjikan Presiden SBY ketika beliau berkampanye dulu.
Dengan adanya Departemen Kebudayaan yang mandiri, masalah kebudayaan akan
menjadi prioritas penting untuk ditangani. Tidak seperti sekarang, yang karena
ditebengkan di Departemen Pariwisata atau Departemen Pendidikan, unsur
kebudayaan hanya diperhatikan sepintas lalu, atau bahkan hanya diperas pajaknya
sebagai objek wisata.
Seperti proyek pemerintah "Memetakan Peninggalan Mojopahit" yang sekarang
dijalankan dan didanai oleh pemerintah Jepang. Tujuan utama hanyalah akan
dijadikan objek wisata yang bisa diperas dan dipajaki. Bukan mencari hikmah dan
nilai-nilai keunggulan tata negara Mojopahit sebagai negara besar, misalnya,
yang dapat dijadikan cermin dan pelajaran pemerintah sekarang yang morat-marit.
Viddy A.D. Daery, budayawan, dosen, sedang terlibat proyek penerjemahan
puisi PM Abdullah Ahmad Badawi selenggaraan University of Malaya, Kuala Lumpur
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/