Sepakat mas, air mata saya membanjir kala membaca ending-nya.. sayang Judul
kedua buku ini belum sempat dibaca. Kelemahannya adalah Fachri sosok pria yang
sempurna di Ayat-ayat Cinta begitu pula , Raihana sosok yang terlalu sempurna
di buku ini...
Habiburaham El Shirazy memang hebat mengagitasi perasaan perempuan. Setelah
ayat-ayat cinta membuat saya menangis dibagian Maria mengetuk pintu surga, buku
ini pun juga sama. Sayang, sinetron Diatas Sajadah Cinta tak lebih bagus
dibanding Buku aslinya. Buku yang bagus untuk mengasah perasaan yang mati dan
kaku.
^(J)^
www.friendster.com/profiles/okberto
-----Original Message-----
From: Gita, Gustina Rahayu
Sent: Tuesday, August 29, 2006 9:05 AM
RAIHANA
(diambil dari buku "Pudarnya Cahaya Cleopatra")
Dengan panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan
kandungan
aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal." Ibunya
Raihana
adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo
dulu"
kata ibu.
"Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan
untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon
keikhlasanmu",
ucap beliau dengan nada mengiba.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku
menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi
mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan
diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun
sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu
saja
dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan
impian
tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa
berhadapan
dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas
kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan
anggun.
Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama sekali.
Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, bisa jadi
bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain,
mungkin
karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra,
yang
tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung indah,
mata
bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari menjelang
pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon
istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.
Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku.
Hari
pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa
tanpa
cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat
Nabipun
terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi
hatiku
terasa teriris-iris dan jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah
mendapat berkah dari Allah SWT atas baktiku pada ibuku yang kucintai.
Rabbighfir li wa liwalidayya!
Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya
sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan
kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir
kota
Malang.
Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah. Betapa susah
hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat bersama
dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit
cintaku
belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang
teduh
tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama
Raihana
mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang
jauh-jauh
rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya
kusayang dan
kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh
tak
acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang
kerja.
Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia,
pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.
Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama,
karena ia
orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab " tidak
apa-apa
koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah
tangga" Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil
'mbak', " kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah
tidak
mencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. "wallahu a'lam"
jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak
lama
kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, "Kalau mas tidak
mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad
nikah?
Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan,
kenapa
mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus
bersikap
bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk
menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia
ini".
Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka
karena
Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi
komunikasi
kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana
tetap
melayaniku menyiapkan segalanya untukku.
Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis
maghrib,
bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi
buatan
Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena ada janji dengan
teman.
Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas tidak apa-apa" tanyanya
dengan
perasaan kuatir. "Mas mandi dengan air panas saja, aku sedang
menggodoknya,
lima menit lagi mendidih" lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang
basah.
"Mas airnya sudah siap" kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun,
aku
langsung ke kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah
berdiri didepan pintu membawa handuk. "Mas aku buatkan wedang jahe" Aku
diam
saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan
cepat
aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit
pundak
dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. " Mas masuk angin. Biasanya
kalau
masuk angin diobati pakai apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?"
Tanya
Raihana sambil menuntunku ke kamar. "Mas jangan diam saja dong, aku kan
tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membantu Mas". " Biasanya
dikerokin" jawabku lirih. " Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana
kerokin" sahut Raihana sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti
anak
kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku
dengan
sentuhan tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana
membawakanku semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan
diri
di tempat tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat
tidur
sambil menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin
menangis, Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan
Cleopatra.
Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku
untuk
makan malam di istananya." Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti
akan
aku perkenalkan denganmu" kata Ratu Cleopatra. " Dia memintaku untuk
mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan berniat
memperkenalkannya denganmu". Aku mempersiapkan segalanya. Tepat puku
07.00
aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian pengantinnya,
cantik
sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi yang berhias
berlian.
Aku melangkah maju, belum sempat duduk, tiba-tiba " Mas, bangun, sudah
jam
setengah empat, mas belum sholat Isya" kata Raihana membangunkanku. Aku
terbangun dengan perasaan kecewa. " Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang
suka, tetapi Mas belum sholat Isya" lirih Hana sambil melepas
mukenanya,
mungkin dia baru selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu
indah
sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia,
dialah
pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah
dia
berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.
Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari
mana
sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar
terpenjara
dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri
belum
pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis
titisan
Cleopatra.
" Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan
datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng,
tidak
enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang" Suara lembut
Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia
letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang
jahe.
Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. " Maâf..maaf
jika
mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak
meninggalkan aku di ruang kerja. " Mbak! Eh maaf, maksudku
D..Din..Dinda
Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. " Ya
Mas!"
sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan
menghadapkan
dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia
dipanggil
"dinda". " Matanya sedikit berbinar. "Te..terima kasih Di..dinda, kita
berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah," ucapku
sambil
menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.
Raihana menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum
bersinar
dibibirnya. " Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju
yang
mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan
ya?".
Hana begitu bahagia.
Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan
bakti
meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum
pernah
melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah
sedihnya
ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku
ini,
kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap
dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan
membasahi
hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana
aku
mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku
sendiri di
dunia ini.
Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana
membawa
sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami
dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga.
"
Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling
ideal
dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan
bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya
berbinar-binar
bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut pasangan ideal.
Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan Raihana lulusan
terbaik
dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku
adalah
seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai
pada
pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan
adanya
pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa
bahagia.
Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki
Raihana.
Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget
oleh
sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata keluarga.
Pada
ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali menyanjung
kebaikanku
sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia mengaku bangga dan
bahagia
menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing dengan sikapku. Lebih pusing
lagi
sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir tentang keturunan. " Sudah satu
tahun putra sulungku menikah, koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal
aku
ingin sekali menimang cucu" kata ibuku. " Insya Allah tak lama lagi,
ibu
akan menimang cucu, doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?" sahut
Raihana
sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.
Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana.
Aku
berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku
hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku
sendiri
aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa.
Kepura-puraanku
memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin
manis.
Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak
kunjung
tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu
aku
semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan
lagi.
Setiap saat nuraniku bertanya" Mana tanggung jawabmu!" Aku hanya diam
dan
mendesah sedih. " Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta" gumamku.
Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan
ke
enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan
alasan
kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya.
Karena
rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh
curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan,
Raihana berpesan, " Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita,
tolong
nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal,
no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita".
Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari
Aku
tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa
sebabnya
bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan
segalanya.
Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di
Mesir.
Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat
aku
pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku
benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan
perut
mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah
menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk
angin
dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi
tubuhku
dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku
terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam
hati,
aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa,
andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak
terlambat sholat subuh.
Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus.
Apalagi
aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu
dosen
mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa
arab
dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mesir.
Dalam
pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa
arab
dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu
pengalaman
hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. "Apakah kamu sudah
menikah?" kata Pak Qalyubi. "Alhamdulillah, sudah" jawabku. " Dengan
orang
mana?. " Orang Jawa". " Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya
pulang
dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan
perempuan
shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari
pesantren?". "Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran". "
Kau
sangat beruntung, tidak sepertiku". " Kenapa dengan Bapak?" " Aku
melakukan
langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir
itu,
tentu batinku tidak merana seperti sekarang". " Bagaimana itu bisa
terjadi?". "
Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank arena terpesona
dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya begini, Saya
seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke Mesir
dengan
biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil, orang
Medan
juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan
predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.
Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah
tempat
saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya yang
bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama saya
jatuh
cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya bersumpah
tidak
akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata perasaan saya tidak
bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh Fadhil. Fadhil
membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu atau
sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua.
Ketika saya menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan
begini,
sama-sama menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al
Azhar yang hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat
dari
pada dengan YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap
teguh
untuk menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi
YAsmin.
Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir.
Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai
S1
saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk
modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di
kota
Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya
Yasmin
mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua
yang
diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah,
anak
kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta
YAsmin
untuk berhemat. Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin
tidak
bisa.
Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak
terpenuhi.
Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai
muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir
yang
hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu
dan
bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan
apa
yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung.
YAsmin
tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.
Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya memanggil suaminya dengan
namanya.
Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan
saya
dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk
menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah membandingkan
dirinya
yang hidup serba kurang dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami
orang
Mesir.
Saya menyesal meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah
diperbudak
dengan kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan
ibu
mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal
di
ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal
itu
cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai
bangkit,
Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah
puncak
tragedy yang menyakitkan. " Aku menyesal menikah dengan orang
Indonesia, aku
minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki
Mesir".
Kata Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia
bercerita
bahwa tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah
jadi
bisnisman, dan istrinya sudah meninggal.
Yasmin diajak makan siang, dan dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku
pukul
dia karena tak bisa menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke
polisi. Yang menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku.
Rupanya selama ini Yasmin sering mengirim surat yang berisi berita
bohong.
Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya
mendapat
surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah Yasmin
dengan
temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung menggigau meminta
ibunya
pulang".
Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan
hidupnya
menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang
dimataku,
tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada
kerinduan
yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah
meminta
apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya
karena
kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku
belum
terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa
yang
sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah
delapan
bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin
agar
aku mencairkan tabungannya.
Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke toko baju muslim, aku ingin
=== message truncated ===
The great job makes a great man
pustaka tani
nuraulia
---------------------------------
Get your email and more, right on the new Yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/