Terima kasih infonya mas. Meski saya awam dunia statistik (dan paling pusing 
tentang metode-metode statistika). Tapi kebetulan dulu penelitiannya tentang 
survei. Memang benar sekali kevalidan dan dan rasionalitas hasil survei 
tergantung dari.
   
  1. jumlah sampel (apakah sudah mewakili dari populasi). Ada rumus 
matematikanya sendiri. Sepahaman saya sampel minimal 10 persen dari jumlah 
total populasi itu artinya agar datanya valid korespondennya MINIMAL 22 juta 
orang. Dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia 220 juta. Sedangkan sampel LSI 
700 orang.
   
  2. Kevalidan dan  realilbilitas pertanyaan kuesioner (untuk melihat tingkat 
kesonsistenan responden menjawab). Ini pun perlu diuji dulu. Pengujian diulang 
dua kali dengan jumlah sampel minimal 10 persen dari total sampel. Disamping 
apakah responden benar-benar tah dan paham makna pertanyaan yang diajukan dan 
tidak bias. dalam pengertian pemahaman yang diinginkan penanya sama dengan 
pemahaman responden.
   
  3. Siapa respondennya. Latar belakang responden berpengaruh terhadap hasil 
penelitian.
   
  4. Tingkat galatnya
  5. Metode penelitian dan metode penghitungan  pakai metode parametrik atau 
non parametrik? Dan didalam metode itu banyak sekali metode penghitungan lagi 
wah pusing saya...
   
  Seperti yang pernah mas Satiro posting terdahulu juga. 
  Lebih dari semuanya, menurut hemat saya, penelitian ini penuh dengan muatan 
kepentingan ^_^.
   
   Jadi selayaknya Kompas (media yang sangat teruji akan kevalidan 
informasinya) menghindarkan diri dari informasi ini karena belum teruji 
kevalidannya, tapi sayang Kompas malah memuatnya. Tapi tak apalah sebagai bahan 
informasi yang lumayan.
   
  salam,
  aris
   
  

Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Tanpa bermaksud mengecilkan arti Survey LSI DEnny ini,
tetapi rekan saya Denny Januar Ali ini dulu pernah
terlibat konflik dengan rekan saya juga, Saiful
Mujani, ketika masih sama-sama di LSI (bukan LSI yang
dipimpin Denny sekarang).

Saiful menganggap, Denny melakukan KESALAHAN
METODOLOGI YANG MENDASAR ketika melakukan survey di
Aceh menyangkut "nasionalisme keindonesiaan." Saiful
yang mengetuai bagian Riset LSI, anehnya waktu itu
tidak tahu-menahu dan tidak diajak konsultasi oleh
Denny, ketika melakukan riset Aceh.

Sejak itu, mereka pecah kongsi. Denny mendirikan
lembaga riset sendiri, tetapi dengan singkatan yang
sama: LSI (jadi sekarang ada dua LSI).

Mudah-mudahan, kali ini Denny tidak dituduh melakukan
kesalahan metodologi mendasar.... 


--- aris solikhah wrote:

> 
> Postingan yang menarik... Saya teringat dengan
> perkataan Bupati Bulukumba yang pernah berdialog
> dengan Musdah Mulia di sebuah teve dan sebuah
> diskusi tentang hasil prestasinya dalam perda
> syariah yang sekarang dilanjutkan bupati baru.
> 
> Bupati itu mengatakan, sejak Perda syariah
> diterapkan maka nilai kriminalitas menurun. Para
> laki-laki tak perlu lagi tidur di luar rumah dan
> menunggui sapinya agar tak dicuri. Hal itu di dukung
> warga yang non muslim, kata beliau, kehidupan
> keluarga makin harmonis karena suaminya setiap malam
> sering tidur di rumah ^_^.Pencurian menurun pesat.
> 
> Beliau juga mengisahkan waktu dandan istrinya
> yang salon dan menghabiskan banyak uang yang diikuti
> para istri bawahannya. Sejak pakai kerudung, (yang
> hanya lima menit) semua serba efektif dan menurunkan
> uang pergi ke salon. Walhasil para suami juga tak
> perlu tertekan mencari uang tambahan untuk biaya
> menomboki performa sang istri (baca cari sambilan
> uang apalagi korupsi) ^_^. Dan terakhir anak-anak
> muslim tak malu-malu lagi pergi sekolah karena
> alasan dia tak memakai anting-anting . iya lah
> dipakaikan kerudung. 
> 
> Saat Ibu Musdah mengkritisi bukankah banyak hal
> lain yang perlu dipikirkan dibandingkan Perda
> syariah yaitu misalnya kemiskinan di Bulukumba yang
> menurut data bu Musdah sangat banyak. Lagi, lagi
> data statistik. Bupati itu bertanya : " Berapa?
> Berapa? Berapa? Mana datanya? Lha saya lebih tahu
> kondisi daerah saya di banding Anda yang tinggal di
> Jakarta"
> 
> Saya Berpikir, akan lebih bermanfaat LSI
> menggunakan kemampuannya untuk membantu BPPS
> memberikan infomasi akurat data kemiskinan dan
> pengangguran yang dalam Pidato Presiden dikatakan
> menurun. Atau data dari BPPS itu berasal dari
> bantuan LSI juga?
> 
> salam,
> aris
> 
> 
> Nugroho Dewanto wrote:
> 
> >From: "R. Husna Mulya" 
> >
> >www.kompas.com
> >Kamis, 24 Agustus 2006 - 12:01 wib
> >
> >LSI: Mayoritas Publik Idealkan Pancasila
> >
> >
> >JAKARTA, KAMIS--Lingkaran Survei Indonesia (LSI)
> menyebutkan 
> >mayoritas publik Indonesia dari Sabang sampai
> Merauke tetap 
> >mengidealkan Indonesia mengembangkan sistem
> kenegaraan berdasarkan 
> >Pancasila dan hanya sebagian kecil yang
> menginginkan Indonesia 
> >seperti negara demokrasi di Barat maupun negara
> Islam di Timur Tengah.
> >
> >Menurut Direktur Eksekutif LSI, Denny JA, saat
> memaparkan hasil 
> >survei LSI tentang "Respon Publik atas Perda
> Bernuansa Syariat 
> >Islam" di Jakarta, Kamis (24/8), mayoritas publik
> juga setuju 
> >penerapan hukum nasional yang menjamin keberagaman,
> dan bukan hukum 
> >Islam. LSI melakukan survei di 33 provinsi mulai 28
> Juli - 3 Agustus 
> >2006 dengan responden sebanyak 700 orang. Metode
> yang digunakan 
> >adalah multistage random sampling dan wawancara
> tatap muka dengan 
> >"margin of error" sekitar 3,8 persen.
> >
> >Berdasarkan survei itu, 69,6 persen publik tetap
> kokoh mengidealkan 
> >Indonesia mengembangkan sistem kenegaraan
> berdasarkan Pancasila, dan 
> >hanya 3,5 persen yang menginginkan Indonesia
> seperti negara 
> >demokrasi Barat, dan 11,5 persen menginginkan
> seperti negara Islam 
> >di Timur Tengah.
> >
> >Idealisme sistem kenegaraan Pancasila, bukan
> demokrasi ala Barat 
> >atau ala Timur Tengah, ternyata menyebar rata di
> mayoritas rakyat 
> >Indonesia. Bahkan 67,4 persen publik yang beragama
> Islam 
> >berpandangan yang sama tentang sistem kenegaraan
> berdasarkan 
> >Pancasila, walau tidak sebesar rakyat yang beragama
> Kristen (81,7 
> >persen) dan agama lainnya (90,9 persen).
> >
> >Persepsi yang mengidealkan Pancasila ternyata juga
> merata di 
> >berbagai latar belakang politik, termasuk di
> kalangan pemilih partai 
> >yang berbasiskan Islam seperti PPP (55,2 persen),
> walau tidak 
> >sebesar di parpol yang berbasiskan kebangsaan
> seperti PDIP (79 
> >persen), Golkar (74,1 persen) dan Partai Demokrat
> (71,4 persen).
> >
> >Mayoritas publik mengidealkan sistem kenegaraan
> Pancasila karena 
> >66,7 persen publik merasa bahwa Pancasila adalah
> ideologi simbolik 
> >yang lebih cocok dengan keberagaman yang ada, baik
> dari suku, agama, 
> >adat, ras maupun golongan.
> >"Idealisme terhadap Pancasila bisa pula dianggap
> pilihan mayoritas 
> >rakyat Indonesia agar negara kita mengembangkan
> sistem yang berakar 
> >dari kultur, tradisi, dan sejarah Indonesia
> sendiri," kata Denny.
> >
> >Survei LSI itu juga menunjukkan 64,3 persen publik
> menyetujui 
> >penerapan hukum nasional yang menjamin keberagaman,
> dan bukan 
> >penerapan hukum Islam. Mayoritas publik yang
> beragama Islam (61,7 
> >persen) lebih memilih hukum nasional yang menjamin
> keberagaman 
> >dibandingkan hukum Islam. Mayoritas publik yang
> beragama Kristen 
> >(78,5 persen) maupun agama lainnya (90,9 persen)
> juga mendukung 
> >penerapan hukum nasional.
> >
> >Perjudian dan pelacuran
> >
> >Survei LSI itu juga menunjukkan mayoritas publik
> setuju 
> >diterapkannya UU Anti Kemaksiatan. Lebih dari 80
> persen publik 
> >setuju diterapkannya aturan yang melarang peredaran
> minuman keras, 
> >perjudian, dan pelacuran. Namun, mayoritas (53
> persen) setuju agar 
> >aturan maksiat itu diatur dalam KUHP, sehingga
> tidak perlu dibuat 
> >perda. Sebanyak 61 persen publik setuju bahwa
> kesusilaan dan moral 
> >ditegakkan melalui penerapan hukum yang konsisten,
> dan bukan dengan 
> >perda yang bernuansa syariat Islam.
> >
> >Publik memberikan respon berbeda atas 3 jenis hukum
> Islam, yakni 
> >perdata, pidana, dan tata negara. Mayoritas setuju
> atas hukum 
> >perdata Islam, seperti warisan (58,5 persen),
> perwakafan (59,5 
> >persen), dan aturan haji sebanyak 75,5 persen.
> Mayoritas publik 
> >tidak setuju atas penerapan hukum pidana Islam,
> seperti menghukum 
> >yang tidak mengenakan busana muslim (tidak setuju
> 77,3 persen), 
> >potong tangan untuk pencuri ( tidak setuju 77,3
> persen), hukum 
> >cambuk untuk pemabuk ( tidak setuju 56,4 persen),
> rajam untuk orang 
> >berzinah (tidak setuju 63,3 persen), dan hukum mati
> untuk murtad ( 
> >tidak setuju 71,2 persen). Selain itu, mayoritas
> muslim (54,9 
> >persen) tidak setuju dengan penerapan hukum tata
> negara Islam.
> >
> >Survei itu juga menunjukkan bahwa 61,4 persen
> publik Indonesia 
> >mengkhawatirkan perda bernuansa syariat Islam akan
> mendorong 
> >perpecahan. Kekhawatiran itu bahkan menjadi
> mayoritas (59,7 persen) 
> >di kalangan warga Indonesia beragama Islam. Menurut
> Denny, hasil 
> >survei LSI itu memperkuat dugaan bahwa mayoritas
> muslim disini 
> >memang moderat, dan berbeda dengan mayoritas muslim
> di Timur Tengah. 
> >"Sejak Bung Karno hingga era Susilo Bambang
> Yudhoyono, mereka 
> >dipimpin oleh Presiden yang memiliki komitmen kuat
> sekali 
=== message truncated ===


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]

Yahoo! Groups Links









The great job makes a great man
  pustaka tani 
  nuraulia

                
---------------------------------
 All-new Yahoo! Mail - Fire up a more powerful email and get things done faster.

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke