REFLEKSI: Melihat korupsi diberbagai lapangan dan tingkat dan semua orang yang 
korupsi adalah orang-orang beragama benar. Pasti dalam logika  pikiran  sehat 
orang-orang atheis bahwa agma  benar tidak mempunyai fungsi apa-apa untuk 
membuat orang menjadi jujur. Asumsi ini tentunya mereka kemukakan dengan 
keterangan tambahan bahwa para koruptor dilindungi penguasa kerajaan langit 
biru dan olehkarena itu keluarga koruptor  hidup pada taraf surga dunia 
kelimpahan dibandingan dengan rakyat jelata yang harus membanting tulang dan 
mereras keringat dari pagi sampai sore hari. Benarkah asumsi tsb dari mereka?


http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2006/9/4/n2.htm


Korupsi di BUMN Rp 100 Trilyun


Jakarta (Bali Post) -
Maraknya praktik korupsi yang terjadi di sejumlah BUMN makin mengkhawatirkan. 
Atas hal itu, Meneg BUMN Sugiharto diminta lebih intensif melakukan 
pemberantasan korupsi di lingkungan BUMN, sekaligus pada kementerian yang 
dipimpinnya itu. Desakan ini disampaikan puluhan Serikat Pekerja (SP) BUMN 
dalam aksi unjuk rasa yang berlangsung di bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, 
Minggu (3/9) kemarin.   

Menurut Ketua Federasi Serikat Pekerja BUMN Abdul Aziz, ketegasan Sugiharto 
dalam memberantas korupsi di BUMN dan lingkungan kementeriannya diharapkan bisa 
dijadikan proyek rintisan pemberantasan korupsi di Tanah Air. 

Berdasarkan catatan, sejak menjabat sebagai Meneg BUMN, Sugiharto telah 
menangani sekitar 90 kasus korupsi di lingkungan BUMN yang jumlahnya hampir Rp 
100 trilyun. Langkah pemberantasan korupsi ini berhasil menyelamatkan uang 
negara puluhan trilyun rupiah. Tindakan itu setidaknya telah menimbulkan efek 
jera dan tingkat korupsi di lingkungan BUMN menurun signifikan.   

Sementara itu, mantan Jampidsus Kejaksaan Agung Chaerul Imam berpendapat, 
pemberantasan korupsi yang dilakukan pemerintahan Presiden Susilo Bambang 
Yudhoyono masih belum optimal. Alasannya, upaya itu masih terpaku pada sisi 
penindakan. Seharusnya, untuk penindakan porsinya cukup 30 persen. Sedangkan 
pencegahan porsinya 70 persen.  

''Kalau para koruptor itu hanya ditindak, tetapi faktor penyebab korupsi tidak 
ditutup, perilaku korupsi sulit diberantas. Pemerintah harusnya juga dapat 
mendeteksi faktor-faktor penyebab orang melakukan korupsi dan menyelidiki 
sistem mana yang berpotensi seseorang jadi korup. Dengan deteksi ini setidaknya 
bisa lebih menekan lebih kecil lagi tindak pidana korupsi,'' jelasnya. (kmb3


[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke