HARIAN KOMENTAR
04 September 2006 

Peran Gereja dalam Kebuntuan
Oleh: Denni Pinontoan 


Gereja tidak hadir di dunia maya. Ia nyata dan mestinya berpengapa dalam 
kehidupan riil dunia yang kompleks dengan persoalan. Mimbar dan khotbah-khotbah 
manis dan mengecam, mestinya hanyalah salah satu dari banyak instrumen gereja 
untuk komitmen pembebasan dan pemerdekaan yang berujung pada pemanusiaan dan 
pemuliaan hidup manusia dan alam dunia ini. 

Gereja adalah institusi ataupun sistem kepercayaan orang-orang yang mendasari 
aktivitas rohani, politik, sosial, ekonomi dan budayanya dengan kasih Yesus 
yang membebaskan dan memerdekakan: menyelamatkan. Ia mestinya hadir dan 
berpengapa dengan kehidupan manusia-manusia yang memprihatinkan karena dominasi 
kekuasaan politik negara, kapitalisme yang mengeksploitasi dan alam yang 
terancam rusak. Termasuk sebenarnya kritik terhadap kekakuan doktrin dan 
tradisinya sendiri. Harus ada sikap yang dialogis dan konstruktif untuk suatu 
visi. Visinya adalah keselamatan keutuhan ciptaan. 

Tapi dalam usaha pencapaian visi itu, gereja akhirnya harus berhadapan dengan 
persoalan terjebak dan menjebakan diri dalam simbiosis mutualis dengan 
kepentingan penguasa yang cenderung korup dan menghisap. Buntutnya terjadilah 
"pemandulan" peran gereja dalam usaha pemerdekaan dan pembebasan. Yang terjadi 
belakangan adalah sikap gereja yang "memperbudak" diri dalam melayani 
kepentingan penguasa. Gereja kemudian menjadi tumpul dalam kritik. 

Tapi gereja atau Kristen tidak sendiri. Islam di Indonesia juga berhadapan 
dengan persoalan itu. Abdurrahman Wahid, biasa disapa Gus Dur, memetahkan 
persoalan Islam itu dalam artikelnya di Kompas, (Rabu, 30 Agustus 2006) yang 
berjudul Birokratisasi Gerakan Islam. Tesis Gus Dur dalam artikelnya itu bahkan 
lebih luas, bahwa krisis multidimensi yang terjadi hingga sekarang salah 
satunya adalah karena, "gerakan Islam (juga gerakan-gerakan lain) sudah terlalu 
jauh mengalami birokratisasi." Perhatikan kalimat dalam tanda kurung. 
Barangkali yang dimaksud salah satunya adalah juga gereja. Itu kalau kita 
memahami gereja juga sebagai sebuah gerakan. 

"Birokratisasi." Itu yang ditekankan oleh Gus Dur untuk menyebut sumber masalah 
dari "pemandulan" gerakan Islam. Birokratisasi yang dimaksudnya adalah "keadaan 
yang berciri utama kepentingan birokrat menjadi ukuran." Prosesnya panjang. 
Kehadiran Departemen Agama adalah yang disebut oleh Gus Dur sebagai lembaga 
negara yang mempertegas birokratisasi gerakan Islam. Katanya, kehadiran 
Departemen Agama ini membuat "segala hal dicoba untuk 'diagamakan'." 

Dalam konteks Kristen atau Islam, juga agama-agama lain, birokratisasi ini 
seolah-olah sebagai cara pemerintah (khususnya rezim Orde Baru) untuk 
mengontrol dan menjadikan agama sebagai alat kekuasaan. Ke dalam, di 
masing-masing agama itu buntutnya adalah sama, pemandulan gerakan, kritik, dan 
peran memajukan umat yang adalah warga negara untuk berhadap-hadapan dengan 
kekuasaan negara yang cederung ototriter. 

Dalam konteks Kristen di daerah ini misalnya, entah pejabat gereja kita sadar 
atau tidak, yang jelas apa yang disebut oleh Gus Dur itu, tampak di hadapan 
kita sekarang bukan lagi usaha sengaja secara sepihak oleh negara yang memakai 
instrumen pemerintah (yang di dalamnya antara lain ada kaum birokrat). Tapi, 
ini kemudian menjadi seolah-seolah usaha saling mencari keutungan. "Berbaik 
hati" dengan penguasa untuk bantuan uang, semen, pasir, besi, dan lain-lain 
demi kantor Sinode yang megah, harus dilakukan oleh institusi gereja terbesar 
di Tanah Minahasa yaitu GMIM. Tidak pusing bantuan itu halal atau haram, hasil 
keringat sendiri atau korupsi, yang penting kantor sinode sebagai lambang 
kemegahan juga keberhasilan kehadiran GMIM di tanah ini bisa selesai untuk 
dipakai berkantor. Udara sejuk kota Tomohon lebih membuat yang memakainya 
terlena dengan kemegahan. Semenrtara, anggota jemaat yang miskin di desa yang 
jauh, sekolah berlogo GMIM yang hampir roboh karena keadaan bangunan yang sudah 
rapuh, soal keadilan dan kebenaran, harus dilupakan dulu. 

Antara gereja dan penguasa akhirnya menjadi mitra untuk usaha mencapai 
kepentingannya masing-masing. "Saya memberi ini padamu, tapi kau harus berbaik 
hati padaku. Kalau perlu kau juga harus mendoakan uang korupsi ku agar menjadi 
'suci' di hadapan rakyat. Kalau dihadapan Tuhan, itu nanti." Gereja kepada 
penguasa (negara) tidak lagi menjadi mitra kritis. Padahal, Kristen Protetstan 
lahir dan berkembang berawal dari gugatan atas perselingkuhan yang sangat mesra 
antara gereja dan penguasa (negara) di abad-abad pertengahan. Gereja mestinya 
adalah kritik itu sendiri. 

Bukan tidak tahu sejarah, tapi sengaja tidak ingat. 

Persoalan ini sebenarnya kompleks. Antara lain, karena gereja agaknya tidak 
ingin berusaha untuk mandiri secara dana maupun ideologi. Berikut, mental dan 
paradigma berteologi gereja yang cenderung mengarah ke teologi sukses. " Ada 
duit, ada sorga." Gereja akhirnya menjadi seolah manusia yang punya keinginan 
terlalu tinggi; ingin beli mobil, ingin bikin rumah bertingkat sepuluh dan 
lain-lain, padahal dana tidak cukup. Maka, yang dilakukan adalah berhutang di 
sana sini, atau juga gadai ini dan itu. Hasilnya, adalah ketergantungan dan 
pengadaian idealisme. Karena sudah tak mampu mengembalikan hutang, maka diripun 
dijadikan jaminan. Hasilnya adalah penghambaan idealisme dan lembaga. Kini 
derajatnya menjadi sangat rendah. Seperti sapi, tali kekang kanannya di tarik 
ke kanan, maka dia ke kanan, ke kiri, ya dia kiri. Kalau di tarik kedua-duanya, 
maka dia berhenti. Uh, kasihan!!!

Hasil terakhirnya, gereja mengalami kebuntuan dalam usaha pemerdekaan dan 
pembebasan apalagi pencapaian visi keselamatan. Bagaimana tidak, dari segi dana 
dan berteologi sudah tidak merdeka, apalagi ingin memerdekakan dan membebaskan 
ciptaan Tuhan. Gereja sudah sangat lain dari semangat awal lahirnya sebagai 
gerakan spiritual dan moral yang mandiri dan bebas dari pengaruh negara dan 
kepentingan institusi manapun. 

Ini terjadi antara lain karena kita salah menilai orang. Karena, bicara 
paradigma berteologi, sistem dan manajemen institusi kita juga harus bicara 
siapa orang-orang yang berperan di sana . Artinya, antara dua hal ini sangat 
terkait. Hal berikut, karena gereja akhirnya telah melembaga. Beda dengan 
komunitas awal Kekristenan. Bukankah institusi, termasuk gereja juga merupakan 
ladang pertarungan kepentingan? 

Tidak bisakah gereja menjadi gerakan untuk pemanusiaan dan pemuliaan manusia 
dan alam yang independen, bebas dan tidak terikat dengan segala macam 
kepentingan negara? 
Ternyata usaha pemerdekaan dan pembebasan harus mulai dari dalam!

Tomohon, 31 Agustus 2006 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke