http://sumeks.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=14922&Itemid=30
Jumat, 01 September 2006
Persoalan Teologi Konservasi Ekologi
Mahmudi Asyari
Pemerhati masalah sosial keagamaan
Sudah merupakan rutinitas tahunan jika di beberapa tempat di Kalimantan
dan Sumatera diliputi asap tebal yang sangat berpotensi bagi bagi masyarakat
untuk terkena penyakit infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) sebagai akibat
dari praktik pembakaran lahan pertanian oleh petani yang akan memulai cocok
tanam. Namun, sebenarnya praktik itu tidak hanya dilakukan oleh petani saja,
tapi juga oleh perusahan yang bergerak di bidang perkebunan yang ingin
menghindari biaya tinggi. Untuk itu, perlu keadilan dalam menyoroti masalah
asap tersebut. Janganlah petani yang berjuang untuk memenuhi priuk nasinya
di-blow up besar-besaran, sementara perusak hutan dan lingkungan dalam sekala
besar tidak disorot secara luas.
Menurut sejumlah pakar seperti Lynn White Jr dan Graham Parkes praktik
merusak alam terjadi akibat masyarakat dengan disokong oleh modal besar dalam
melakukan eksploitasi hutan dan alam tidak lagi mengindahkan kearifan lokal
yang senantiasa menjaga keseimbangan dengan alam. Lebih lanjut keduanya
mengatakan, tindakan rakus itu justru dilakukan oleh orang-orang beragama yang
merasa mendapatkan legitimasi dari doktrin: manusia sebagai pemegang kekuasaan
atas alam (dalam Islam dikenal dengan istilah khalifah fi al-'aradl).
Pemicunya, menurut mereka, ketika agama menempatkan alam lebih rendah dari
manusia, eksploitasi sekehendak manusia menjadi sah.
Pendapat kedua pakar itu memang tidak sepenuhnya salah, mengingat para
pemegang modal yang mendorong terjadinya eksploitasi secara besar-besar adalah
orang-orang moderen beragama. Namun, perlu diingat bahwa kenapa kearifan lokal
dilanggar, karena orang-orang di sekitarnya sudah mengenal uang sehingga
kearifan itu dianggap sebagai pengekang mendapatkan kekayaan. Dengan kata, lain
menurut saya bawa ketamakan itulah yang menyebabkan eksploitasi bukan karena
dorongan agama yang dianutnya.
Berkaitan dengan bagaimana seharusnya alam diperlakukan, Allah dalam
firman-Nya menegaskan bahwa apa saja yang Ia ciptakan memang diperuntukkan bagi
manusia. Hanya perlu diingat hal itu tetap kepunyaan-Nya segala sesuatu yang
ada di dunia. Untuk itu, sejumlah kalangan menekankan agar tokoh umat beragama
merevitalisasi sejumlah pandangan keagamaan dalam konteks hubungan manusia
dengan alam dalam rangka mereposisi kedudukan manusia yang absolut terhadap
alam dan menggantinya dengan doktrin saling ketergantungan, sehingga nafsu
eksploitasi yang cenderung merusak bisa dicegah.
Dalam pandangan teologis, segala jenis musibah alam seperti banjir,
tsunami, gempa bumi, dan lainnya merupa-kan azab Allah, Tuhan alam semesta bagi
manusia yang belum juga jera dalam melakukan perbuatan zalim. Padahal dalam
agama (Islam), dampak dari kezaliman melampaui segala strata sosial, suku,
agama, pelaku zalim dan pelaku kebaikan. Jika orang beragama menghayati agama
yang dianutnya, semestinya mereka bisa menahan diri dari mengeksploitasi alam,
karena kerugian yang ditimbulkannya akan menyengsarakan semua pihak.
Alquran dalam konteks ini menegaskan agar siapa saja menjauhi perbuatan
zalim dan fitnah, karena akibatnya tidak hanya menimpa orang yang berbuat zalim
(QS: 8, 25). Oleh sebab itu, Allah melalui QS Ibrahim ayat 7 mengatakan: "Jika
kamu bersyukur, niscaya Aku tambahnikmat Ku dan apabilakamu kufur (tidak
bersyukur), maka sesungguhnya siksa Ku sangat pedih."
Ayat tersebut mengisyaratkan, manusia memang cenderung tamak. Guna
menghindarinya harus memperbanyak syukur, karena tindakan akan menyebabkan
kesadaran bahwa eksploitasi alam harus dilakukan dengan memperhatikan ekologi
agar tidak menimbulkan dampak yang menyengsarakan orang banyak.
Mengingat Allah telah memperingatkan manusia agar tidak tamak dalam
mengelola alam semesta ini, semestinya semua umat beragama khususnya umat Islam
yang menjadi penghuni mayoritas negeri ini memberikan pemahaman perihal itu
sekaligus menekankan, pengelolaan alam sudah semestinya dikaitkan dengan aspek
spiritalitas agama.
Berkaitan dengan hal itu perlu ditekankan bahwa memelihara alam sama
halnya dengan menjaga aspek yang terkait al-usul al-khamsah dalam usul al-fiqh
yaitu hifz al-din (memelihara agama), hifz al-nafs (memelihara jiwa), hifz
al-`aql (memelihara akal), hifz al-mal (memelihara akal), dan hifz al-'ardl
(memelihara kehormatan). Bahkan jika perlu ditambahkan dengan hifz al-bi 'ah
(memelihara li'ngkungan), mengingat kelang-sungan hidup menusia tidak mungkin
terlepas dari alam dan lingkungannya.
Mengingat kerusakan alam dan lingkungan sudah semakin parah serta telah
mengancam kelangsungan manusia di masa akan datang, sudah sepatutnya tokoh
agama melakukan rekonstruksi terhadap doktrin keagamaan di mana dengan doktrin
khalifah fi al-'aradl terkesan manusia bebas berbuat sesukanya agar nilai dalam
agama tetap relevan dengan situasi jika ingin menjadikan nilai agama sebagai
penggerak utama dalam menciptakan kesadaran terhadap alam dan lingkungan.
[Non-text portions of this message have been removed]
***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:
1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/